Pendekar Gada Wesi Kuning, Menggala!

2751 Kata
(Rumah sakit Kota Magetan, Jawa Timur.) Blaag! Alif meluapkan amarahnya dengan memukul dinding ruang rumah sakit. “Sebenarnya apa yang sedang kita alami ini! Siapa orang-orang itu dan apa sebenarnya yang terjadi pada Senpai Wildan!” Dita hanya bisa menghela napas, memaklumi emosi yang menguasai remaja yang ia paling dekat di hatinya. ‘Aku juga tak percaya kalau ini semua bukan mimpi,’ renung si gadis berkuncir. Diana angkat bicara, menunduk lesu, “semua hal buruk ini, sepertiya berkaitan dengan legenda penumbalan Syekh Subakir di Tanah Jawa.” Pemuda keriting berkulit gelap menoleh. “Maksudnya?” tanyanya mengaitkan alis. “Dahulu, di Tanah Jawa... Tidak, maksudku Nusantara, terdapat berbagai jenis makhluk dari golongan jin dan siluman. Mereka tidak ragu-ragu menyakiti bahkan memangsa manusia yang datang ke sini. Adapun perjanjian yang telah beliau jalankan, sebagian merupakan perjanjian supaya bangsa gaib tidak melewati batasan seperti tadi,” ungkapnya menghela napas. “Yang aku dengar, ada perkumpulan ahli supranatural yang melakukan upaya untuk menghancurkan perjanjian tersebut.” Alif tersenyum skeptis. “Tidak masuk akal! Kalau pun benar begitu, lalu apa tujuan-” Dita bangkit mencengkam kerah baju remaja berhidung mancung sembari menyela, “kau pikir orang yang bisa mengeluarkan api tanpa peralatan itu tidak aneh! Jelas-jelas kita hampir jadi tumbal dukun kejam di Gunung Lawu!” “Aku rasa... Legacy Hunter Association, makhluk bersayap yang mengamuk di Jakarta, serta Wildan, memiliki keterkaitan erat – meski aku tak tahu apa itu,” gumam Diana. Alif berjalan menjauhi Diana dan Dita. “Semua ini membuatku muak!” “Alif! Kau mau kemana!” panggil si gadis berkuncir. Terus berjalan tanpa menoleh, ia menjawab, “aku mau cari ddan tanyakan langsung pada dia!” * (Hutan Wilayah Jawa Tengah.) Dlamm... dlamm... dlam... dlam... dlam.... “Lihatlah! Dua manusia yang dahulu dipuja-puja karena kesaktiannya, kini terlahir kembali dengan wadah baru yang lemah! Aku yakin, pengetahuan kalian tentang kehidupan masa lalu kalian seperti kabut – nyata tetappi tak bisa digenggam!” Buto Angkoro berjalan santai mendekati Mandala dan Wildan yang sudah siap siaga. Mandala menajamkan tatapan. ‘Dia sudah tak seberingas sebelumnya... artinya dia sudah lebih berbahaya!’ “Ramalan konyol yang leluhur kalian sebutkan, adalah tewasnya diriku di malam tanpa bintang – serta kalian berempat yang bersatu mencoba menghentikanku! Bukan di siang bolong begini! Hahahahah!” ujarnya membuka mulut, melahap habis kepala manusia tanpa daging di tangan kirinya. Kraauukkk! Ia menggigit-mengunyah kepala pria bule yang tinggal kulit dan tulang. Sisa anggota badan manusia malang tersebut, ia lempar ke hadapan Wildan dan Mandala. “Apa kalian tidak sabar ingin jadi seperti itu?” Blaaak! Wildan dan Mandala melompat mundur mengatur jarak dari mayat tanpa kepala. Tetapi yang agaknya membuat mereka terkejut adalah ucapan makhluk tersebut. ‘Dia... dia sekarang bisa bicara? Tapi bukankah, di saat makhluk ini buat gara-gara di Jakarta, dia sama sekali tak bicara apa-apa?’ renung Wildan sejenak. ‘Dan lagi... apa yang monster itu lakukan sampai-sampai orang ini tinggal tulang dan kulit begini!’ Pemuda beralis lebat tanpa sadar menelan ludah. Lelaki mancung berambut gondrong melirik ke kanan dan kiri bergantian. Beberapa kali melakukan meditasi di bawah guyuran air terjun selama berhari-hari tanpa henti, membuatnya mampu merasakan tekanan energi dari sosok lain – tengah mendekat menghampiri mereka. ‘Siapa lagi? Para Buto masih belum dibangkitkan. Apa jangan-jangan dukun bawahannya?’ “Tapi tenang saja,” ucap sang monster seraya berhenti melangkah. “Aku tidak percaya pada ramalan konyol leluhur kalian! Itu sebabnya, akan aku nantikan kehadiran kalian berempat pada waktu yang leluhur kalian maksudkan!” imbuhnya membentangkan sayap di punggung lebar-lebar, daun-daun yang berserakan di tanah, serta yang melekat di ranting pepohonan tertiup dibuatnya. Sejurus kemudian, makhluk berbulu hitam bergegas mengepakan sayap guna membumbung tinggi ke awang-awang. “Woy!” Wildan melesat tak ingin membiarkan monster tersebut kabur. Mandala yang merasakan sosok lain mendekat dalam kecepatan tinggi – mengarah pada pemuda bercelana hitam, menjerit memperingatkan, “Wildan! Awas!” Swuung! Sebuah gada kekuningan seperti emas, melesat cepat dengan keadaan berputar-putar layaknya bumerang. Benda sepanjang satu meter nan padat tersebut, menumbangkan pohon-pohon pinus dan jati yang ada di jalur lurus lemparannya. Braak! Braak! Braak! Braaak! Braak! ‘Sebelah kanan! Wildan!’ seru Sayf dari dalam badan – memperingatkan. Daaaaammm! Meski Wildan sempat bereaksi – menutupi kepala dengan Cakar Putih Pajajaran, gada keemasan tersebut menghantam keras, memaksa Sang Titisan Cahaya terdorong mundur belasan meter. Kedua kakinya menahan daya dorong dari laju benturan benda besar yang dilempar oleh seseorang tak dikenal. “Huuuugh!” Setelah badannya berhenti dan pusaka berwujud gada penuh ukiran naga melayang ke arah awal datang, Wildan memegangi pergelangan kanan menggunakan tangan kiri. ‘Tanganku... bukan, tapi pusaka ini sampai bergetar begini! Apa... atau siapa yang menyerangku!’ “Hai, Kisanak!” Suara berat menggelegar dari arah pepohonan. ‘Siaga, Wildan! Aku merasakan nuansa energi sukma yang tak asing di sana.’ Dlap! Sesosok pria berbadan kekar dengan rambut lebat sepanjang leher, melompat-mendarat tujuh meter di hadapan Wildan. Pria pesek berpipi chubby dengan ikat kepala dari kain berbatik coklat, baru saja menangkap gada logam besar yang tadi ia lempar. “Aku tak sangka, ada manusia seusiamu di zaman ini yang mampu menahan seranganku!” ‘Sayf? Siapa orang berbadan kekar ini?’ tanyanya pada sang khodam lewat batin sembari memandang baik-baik lelaki bertubuh binaragawan. ‘Orang ini, adalah penjaga ketiga Buto Angkoro. Pusaka yang ada di tangannya itu, adalah pusaka milik Minak Jinggo!’ “Siapa namamu, Kisanak?” tanyanya angkuh, memanggul gada berukiran naga pada pundak kanan. Tanpa menjawab, Wildan mengambil kuda-kuda ala Karate-ka. Pusaka yang membalut tangan kanannya kembali bersinar begitu terang. “Hikaru no...” “Hooo, kau tak mau menyebut namamu, ya?” Ia berdengkus. “Dengar baik-baik sebelum aku menghancurkan tengkorakmu jadi debu! Namaku, Menggala!” Blaaaammm! Wildan mendaratkan tinju usai memperlambat waktu. Laju kecepatannya teramat gesit sampai-sampai tak mampu Menggala antisipasi. “Gyaku Tsuki!” “Uhaaawgh!” Menggala terlempar belasan meter hingga terguling-guling di tanah hutan. Ia tak mampu bernapas barang sejenak sebab hantaman pemuda berambut lebat yang begitu kuat mendarat di ulu hati. Tetapi masih saja, Gada Wesi Kuning erat dalam genggaman tangan kanan. “Haaakh!” Wildan menyipitkan mata. ‘Dia masih bisa bergerak?’ ‘Cepat bereskan dia dan bantu Mandala, Wildan. Anak itu masih belum memegang tombak laut seperti di kehidupan lalu.’ “Mandala?” Alis Wildan naik, ia melengos ke kanan belakang di mana seharusnya pemuda berambut panjang dengan kuncir berdiri. “Lah? Kok ilang?” ‘Menggala datang bersama satu orang lain. Aku yakin orang itu adalah sosok yang sama – yang menyelamatkan Agna sebelum kau berhasil menghabisinya,’ lapor Sayf dari dalam badan. ‘Anak ini... apa dia Titisan Cahaya? Dia masih semuda itu?’ pikirnya mengatur deru napas tak beraturan. Ia mulai bangkit, dengan tangan kiri masih memegangi bekas pukulan Wildan. Sementara tangan kanan, membiarkan gadanya terseret di tanah. “Hwaaaaaaaaaargh!” Ia meraung – mendongakkan kepala ke langit. Kabut tebal di sekitar hutan seketika tertiup – tersingkir akibat embusan angin kencang yang menyeruak dari badan Menggala. ‘Sayf?’ Wildan menghadapkan badan pada lawan. “Menurutmu, aku bisa mengalahkannya?” ‘Tugas kita, bukanlah untuk berhasil. Tugas kita, adalah untuk mencoba, sebab dalam mencoba, terdapat titik-titik celah menuju keberhasilan. Bukankah Raden Panca pernah mewejangkannya padamu?’ Dlam dlam dlam dlam dlam dlam dlam dlam dlam! Menggala berlari dengan menghentakkan kedua kaki kuat-kuat ke tanah – membuat bumi dalam radius puluhan meter serasa bergetar. Sementara Gada Wesi Kuning di tangan kanan – terus saja ia arak di tanah. “Jangan pikir kau sudah berhasil mengalahkanku! Wahai Titisan Cahaya!” Krekkk... Wildan meregangkan jari kanan dan kiri bersamaan. “Entah kenapa, tapi aku yakin dia tak sekuat kelihatannya!” serunya menaruh tinju kanan pada pinggul. Kaki kirinya di depan – ia tekuk sebagai ancang-ancang melesat. Barulah ketika lelaki berbadan kekar dengan gada berada dalam jarak tiga meter di depan, Wildan melesat mengarahkan tinju berbalut pusaka logam. Blaaammm! Dentuman keras berasal dari tinju kanan Wildan melawan Gada Wesi Kuning milik Menggala, beradu. Angin disertai tenaga dalam dari hantaman barusan, meniup – mencabut beberapa pohon dari akarnya. Tangan kedua pendekar tersebut bergetar hebat, tetapi masih saling membiarkan pusaka mereka bertempelan – mengadu dorongan. “Hnnnngh!” Menggala menyipitkan mata – menatap tajam wajah pemuda berusia delapan belas tahun. ‘Pusaka yang bocah ini pegang... adalah pusaka keramat yang sudah diramalkan akan menghancurkan seluruh Pusaka Buto! Beruntung Baginda Prabu sudah lebih dulu mengamankan pusaka-pusaka itu!’ “Kekuatanmu tak lebih besar dari badanmu, Nak!” ledeknya. Pendekar berikat kepala melotot mendengar ucapan lawan. “Haaargh! Beraninya kau!” serunya mengutus tangan kiri guna menghantam lawan. Wildan mengubah posisi tangan yang mengepal jadi terbuka, sejurus kemudian ia menarik – menyodokkan Gada Wesi Kuning pada dagu lawan. “Kena kau!” Blaaag! “Huugh!” Ia terbelalak sembari mundur tiga langkah – tak menyangka akan datangnya serangan Wildan. ‘Bocah ini, sengaja memancing amarahku!’ Srring! “Hyaaaaaaaargh!” Kuku pada tangan kiri Wildan memanjang layaknya cakar berwarna putih. Ia mengibaskannya pada perut six-pact Menggala, sejurus kemudian memutar badan guna menghantam lawan memakai siku kanan. Tonjolan kecil pada Sarung Tangan Gadil Pajajaran, mengenai ulu hati lawan dengan keras. Blaaag! “Ohhoogh!” Ia terlempar – terarak di tanah belasan meter, sebelum akhirnya tertelungkup lemah. ‘Aaargh! Aku tidak dalam keadaan terbaik untuk melawan bocah itu!’ pikirnya kesal menghantam tanah dengan tinju kiri. Area pendaratan tinjunya barusan jadi cekung seketika. Tap tap tap tap tap tap tap! Pemuda bersarung tangan logam putih-hitam mengayuh kedua kakinya cepat pada lawan. “Bangun kau!” serunya melakukan tendangan ke perut lawan seperti gerakan pesepak bola. Daaag! Namun siapa sangka – tubuh Menggala tak tergeser sedikit pun setelah kaki pemuda bersepatu sport menghantamnya keras. “Hee?” Wildan mengaduh kesakitan sembari melompat mundur – jingkrak-jingkrak meringis. “Uhhhhg!” Tanpa dilihatpun, ia yakin bila mana tulang jempolnya terluka akibat serangannya barusan. ‘Jangkrik! Rasanya seperti menendang besi!’ ‘Kau gegabah, Wildan. Perlu diingat, kau hanya bisa menyerangnya menggunakan tinju berlapis Sarung Tangan Gadil Pajajaran dan cakar kirimu saja. Orang yang kau hadapi ini, memiliki ajian ketahanan leluhur Jawa luar biasa,’ jelas Sayf dari dalam badan. Menggala bangkit, menatap heran sang lawan. ‘Kakinya sama sekali tak bisa melukaiku?’ pikirnya bingung. “Ck! Kau ini! Selalu menjelaskan kalau sudah terlanjur!” celetuknya kesal. “Hmmm... sepertinya kau hanya bergantung pada pusaka dan cakar kirimu saja ya, Kisanak?” Wajah lelaki pesek berikatkan kain batik kembali berhias seringai. Ia berdiri, menekuk kaki depan – bersiap melesat maju. “Kalau begitu, aku hanya perlu menyerang anggota badanmu yang lain, bukan!” Wildan menarik napas dalam, memasang kuda-kuda Karate-ka. “Kau tahu hal apa yang salah satunya aku benci, Sayf?” Netranya menajam bak elang, bersiap menyambut lawan kapan saja. ‘Entah,’ sahut Sayf dengan nada tak acuh. Dlap! Menggala meluncur mengayunkan gada berwarna keemasan ke kaki depan lawan. “Hyaaaagh!” “Aku tak suka diremehkan!” ujar Wildan melompat – mengayunkan pukulan dari atas ke bawah hingga mengenai ubun-ubung lawan. Blaaag! Menggala mau tak mau menunduk akibat daya dorong serangan pemuda berpusaka sarung tangan. Tanah yang ia pijak turut retak menerima beban pukulan. “Guuugh!” “Aku masih bisa melawan tanpa tendangan!” Wildan mulai meluncurkan tinju kanan-kiri bergantian pada badan lawan. Tangan kirinya yang kini memiliki kekuatan lebih besar dari manusia dewasa, turut menyumbang rasa sakit pada Menggala. “Hrryaaah!” Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Selain warna kulit cerah di perut Menggala yang jadi membiru – memar, bunyi tulang rusuk yang remuk ikut terdengar. Bekas luka dari cakar kiri Wildan tadi, tanpa henti mengalirkan darah segar. Bukan enggan menghindar, tetapi Menggala terpaku sebab rasa sakit yang ia terima secara beruntun. Kaki lelaki kekar itu pun, sudah mulai kelelahan untuk melesat menjauh. Usai mendaratkan puluhan tinju kanan-kiri bertubi-tubi, Wildan kembali pada kuda-kuda pamungkas. “Hikaru no... Ura tsuki!” Ia melakukan tinju upper-cut dari bawah ke atas – mendarat dan mendorong keras dagu lawan. Blaaammm! Menggala terlontar jauh – membumbung tinggi ke awang-awang seraya memuntahkan darah. “Gwaaaaahaakh!” Tubuhnya gemetar sekaligus lemas. ‘Aku tak mungkin bisa mengalahkannya tanpa pusaka legendaris Tanah Jawa!’ pikirnya seraya terlontar. ‘Menggerakan Gada Wesi Kuning dalam kondisi lemahku setelah terbangun pun, cukup menguras tenaga sukma!’ Blaaag! Punggung Menggala dengan keras menghantam sebuah pohon damar besar. Tangan kirinya reflek menusuk – masuk ke dalam batang pohon besar di belakang.  “Ingatlah, Kisanak! Aku masih belum selesai denganmu!” Dengan sisa tenaga, Menggala mencabut pohon damar besar dari akar hanya menggunakan tangan kiri. Ia lantas melempar sebongkah besar pohon tersebut pada Wildan yang masih berlari mendekati. Swwuuuung! “Haaaagh!” Wildan menghantamkan tinju tangan kanan yang berlapis pusaka guna menghancurkan pohon yang tengah melayang ke arahnya. Braalll!  “Harusnya aku yang bilang begitu!” seru Sang Titisan Cahaya usai menghancurkan batang pohon yang dilempar lawan. Melihat lawannya berpaling dan berlari menuju jurang, pemuda beralis lebat segera melesat mengejar pria bergada kekuningan. ‘Daya tahannya benar-benar kuat – melebihi orang berkekuatan api malam itu! Tapi untungnya dia lambat!’ Mendengar derap kaki Wildan yang terus terdengar, laki-laki berikat kepala batik segera memutar badan sedetik – sembari mengayunkan gada keemasan ke belakang. ‘Dia tak mau membiarkanku pergi, ha?’ Swuung! Pusaka gada berukirkan naga, melesat bagai bumerang pada Wildan. Benda pusaka beraura gaib itu berputar-putar cepat di udara, melesat cepat ke arah pemuda beralis lebat. Sebuah pohon pinus pun hancur – ambruk dibuatnya. Braaak! Wildan mengeratkan tinju kanan, sejurus kemudian mengutusnya tuk menghantam benda tersebut. “Jangan kabur kau!” serunya geram. Tubuh atletisnya mulai dibanjiri keringat. ‘Sayf, apa Mandala baik-baik saja?’ ‘Aku tak merasakan keberadaannya di sekitar hutan ini, Wildan. Sepertinya seseorang yang datang bersama Menggala, menggiringnya menjauh agar kalian terpisah.’ Daang! Hanya dengan satu pukulan, Wildan berhasil memukul mundur pusaka keemasan. Ironis, pusaka milik Menggala masih saja berputar-putar layaknya bumerang dan melayang kembali pada si pelempar. Padahal serangan Sang Titisan Cahaya cukup kuat, mengacaukan gerakan benda itu. ‘Aku akan cari dia setelah selesai dengan orang berbahaya satu ini!’ Tap! Kembali menangkap Gada Wesi Kuning tanpa menolehkan kepala ke belakang, Menggala tersenyum melihat ujung jurang. Ia merasakan sesuatu, yang ia terka akan sangat menghambat Sang Titisan Cahaya dalam melanjutkan pengejaran. “Sampai jumpa lain waktu, Kisanak!” serunya melompat terjun ke jurang, di mana sebuah jalan raya beraspal yang merupakan jalur lintas Provinsi berada. Braaalll! Aspal yang lelaki berblangkon kain pijak seketika hancur seperti kawah kecil berdiameter lima meter. Lelaki bergada kekuningan tersenyum seringai, tatkala melihat sebuah mobil tengah melaju kencang dari arah kanan. Ia terkekeh lirih, kekehannya berubah jadi tawa menggelegar yang menggema di sana. Menggala mengatur keluar-masuknya napas sembari mengalirkan energi yang tersisa pada tangan kanan di mana Gada Wesi Kuning berada. Sang sopir yang tidak lain adalah Ayah dari Laras, mulai menginjak rem. Dia dan sang istri terbelalak melihat manusia bercelana panjang kain, membawa gada besar malah tersenyum seperti sedang menanti mereka untuk menabraknya. Darah dari perut sosok tersebut terus mengucur – membasahi perut sampai celana. “H-heh! A-apa itu!” Laras, gadis berkerudung hitam dengan kulit sawo matang, terbangun oleh suara sang Ayah dan Ibunya yang panik. Matanya yang semula fokus pada kawah kecil di tengah jalan beraspal, beralih pada sosok manusia kekar mirip juara binaragawan. “Ya Alloh! A-apa itu!” Dlap! Wildan yang melompat terjun, terbelalak melihat Menggala berdiam di tengah jalan. Belum lagi kemunculan mobil yang tengah melaju di jalan curam tersebut. “Hentikan!” serunya jengkel. Menggala tersenyum setengah. Ia melempar Gada Wesi Kuning pada pemuda yang sedang terjun turun hendak menerjang. “Makan ini!” teriaknya melempar benda pusaka pada Wildan sampai-sampai aspal yang ia pijak makin cekung akibat daya tenaga saat ia melempar gada barusan. Swuuung! ‘Celaka!’ Wildan sadar, bila memerlukan sepersekian detik untuk mengalirkan energi ke Cakar Putih Pajajaran untuk memantulkan pusaka lawan. Karena waktu yang terlalu singkat dan kelalainnya, ia menangkis Gada Wesi Kuning – membuatnya terdorong ke atas olehnya. “Huuugh!” “Agna bilang, kau bisa menangis kalau ada orang-orang tak berdosa tewas di hadapanmu, kan!” jelasnya sebelum lanjut tertawa, “ahahahahahah!” Menggala menoleh pada mobil yang melaju, bersiap menangkap kendaraan tersebut. “Pak! Rem atuh, Pak! Bapak!” Laras panik merengek pada sang sopir. Grrraut! Jemari Menggala menangkap – masuk menembus moncong mobil. Tawanya makin menggelegar tatkala Laras beserta anggota keluarga di sana, menjerit ketakutan. “Kalian datang di waktu yang tepat!” Menggala melempar mobil tersebut menggunakan kedua tangan ke arah jurang. Swuuung! Setelah kendaraan berisi anggota keluarga terlontar jauh ke sana, Menggala bergegas melompat – menyusul menuruni jurang. “Sampai jumpa! Sang Titisan Cahaya!” serunya puas. Wildan menjerit setelah gada kekuningan milik Menggala melesat – mengejar si pemilik. “Tidak!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN