Rahasia

2492 Kata
(Wilayah Hutan, Jawa Tengah.) Wildan menutup sepasang mata beriris coklat seraya memperlambat deru napas. Dirasa waktu telah berhenti, ia mengeratkan gigi seraya membuka netra. Jelas dilihatnya sebuah mobil yang berisikan beberapa manusia – melayang mengambang di udara akibat lemparan Menggala agar menuju jurang. Pemuda bercelana panjang hitam, lekas-lekas berlari menuruni tebing terjal menuju jalan beraspal yang mana rusak oleh pendaratan Menggala tadi. ‘Mereka benar-benar manusia kejam!’ ‘Kalau kau mengejar Menggala, maka manusia-manusia di dalam sana bisa tewas!’ Dlap! Wildan memijakkan kaki kiri kuat-kuat di tebing saat waktu terhenti. Luncurannya terbilang cepat. “Aku sudah tahu!” balasnya kesal. Ia melalui jalan beraspal dengan satu terjangan. Cet! Tangan kanannya berhasil menggapai roda kanan belakang mobil. ‘Kena!’ tubuhnya masih terus terjatuh membawa mobil berisikan Laras sekeluarga. ‘Nuansa keberadaan ini... sepertinya kau mengenali siapa yang ada di dalam kendaraan ini, Wildan.’ “Siapapun itu, kalau aku terjatuh begini ya sama saja mobil ini terjatuh tanpa aku tolong! Apa yang harus aku lakukan! Sayf!” ucapnya panik. ‘Aku akan melakukan Ajian Raga Separuh. Tapi setelah itu, aku mungkin tak bisa berbicara untuk beberapa waktu ke depan.’ Wildan teringat bila sang khodam telah berkali-kali menggunakan kekuatan demi membantunya. “Ta-tapi-” ‘Kau mau Laras selamat, kan?’ potong Sayf. “Laras?” Mata Wildan kembali terbelalak dalam keadaan membawa mobil di awang-awang. Sepersekian detik setelah bisik suara Sayf terdengar, pupil mata Wildan berubah jadi mirip harimau – begitu pula dengan taring dan cakar tangan-kaki, membuat sepatu sport-nya jebol. Bammm! Wildan berhasil mendarat dengan mobil berisikan empat manusia di dalamnya. Kedua kaki yang tertekuk mulai gemetaran. “Hnghhhh!” Ia menurunkan mobil perlahan ke permukaan tanah hutan. Tepat setelah mobil mendarat dengan aman, Wildan bernapas lega. Ia menunduk, bertekuk lutut merasakan pegal pada sekujur badan. ‘Aaagh... hahh.... hah... hah... hah....’ Jerit histeris dari penumpang mobil, teredam dua detik kemudian. “Laras? Laras si bocah Garut?” gumamnya berdiri bungkuk. Ia masih ingat jelas jerit histeris si gadis manis yang kerap terdengar saat bahaya menjelang. Si gadis remaja bernama Sukma yang duduk dan melongok lewat jendela mobil, menjerit histeris sebelum jatuh pingsan. Melihat reaksi gadis yang sekilas ia kenal, membuat Wildan memandangi tangan kiri yang bercakar. ‘Duh! Apa dia lihat keadaanku yang begini?’ Sluuuwb! Sebuah cahaya putih nan menyilaukan, membuat Wildan menutup wajah menggunakan lengan. ‘Siapa lagi ini!’ Cahaya yang begitu menyilaukan – bahkan membuat pingsan seisi penumpang mobil, menyusut – berubah jadi figur seseorang yang Wildan kenal. Cahaya menyilaukan barusan muncul bersama aura menyejukan. ‘Ini...’ “Wehh...” Ki Panca tersenyum semringah melihat pemuda bercelana hitam. Lelaki mancung berkemeja hijau mulai berjalan maju mendekati Sang Titisan Cahaya. “Syukur, alhamdulillah...,” ucapnya lega. Tak lagi mendengar teriakan dari penumpang mobil, membuat Wildan panik. Tetapi kepanikannya segera beralih saat melihat sosok tak asing di depan. “M-Mas Panca?” Lelaki bercakar dan bersarung tangan logam melangkah ragu. Matanya menyipit, memastikan wajah teduh sang guru. Ki Panca manggut-manggut, berdiri di hadapan Sang Titisan Cahaya. “Iya, iya, iya. Baru ditinggal sebentar, tapi kemajuanmu lumayan pesat,” pujinya tersenyum. Wildan diam membisu, tak kuasa berkata-kata. Batinnya yakin – tanpa menceritakan segala yang terjadi pun, sosok di depannya itu mengerti. Pupil netra, serta cakar di tangan-kaki, kembali jadi seperti semula. “Mas...” “Duduklah, Nak.” Ki Panca duduk bersila di sebelah mobil keluarga. Usai menjabat tangan lengkap dengan menempelkan bibir pada punggung tangan sang pembimbing, Wildan duduk bersila. “A-anu-” “Menghentikan kecelakaan pesawat, membebaskan sukma orang-orang di gunung, dan berhasil menyelamatkan menggagalkan ritual dukun. Setelah semua itu, apa kau masih jadi pemuda pesimis? Atau masih jadi pemuda berwatak ragu demi menolong nyawa sesama?” “Bolehkah... saya jujur, Mas?” tanya Wildan menunduk. Pusaka Cakar Putih Pajajaran seketika lenyap – tak tampak. Laki-laki berusia tiga puluh tahunan lebih tersebut mengangguk memperbolehkan, menyahut lembut, “silahkan.” “Jujur saya tidak tahu kenapa – saat ada nyawa orang dalam bahaya, batin saya seperti tidak rela membiarkannya. Padahal kalau dipikir – semua tindakan yang tadi njenengan sebutkan tadi, tidak akan saya lakukan kalau benar-benar sadar.” “Lah, terus, kalau kamu ndak sadar, berarti kamu kerasukan, dong? Heheheh...” Pemuda bermata coklat garuk-garuk rambut – bingung merespon candaan sang guru. ‘Ya ndak begitu juga sih, Mas,’ tanggapnya dalam benak. “Akal manusia bisa saja ragu untuk melakukan kebaikan sebab terhalan berbagai macam alasan. Wajar. Tapi, barangkali jiwamu yang tua itu, tidak tega melihat adanya jiwa-jiwa lain yang teraniaya.” ‘Jiwa tua?’ Wildan melirik ke kanan-kiri, mencari makna terselubung dari kalimat sang guru. “Ngger... apa yang hendak saya sampaikan ini, sesuatu yang perlu perenungan berat. Dengar baik-baik! Kalau lupa, yah rejekimu.” Wildan memasang wajah serius, memasang kedua telinga, siap menyimak. Ia sedikit memajukan badan atas ke depan. “Nggih, Mas.” Ki Panca menarik napas dalam-dalam, membuat Wildan bila sosok tersebut hendak memberi petuah. “Udud dulu!” celetuknya disusul kekehan. Tangan Ki Panca mengeluarkan sebungkus lisong. Ia menyulut tembakau tersebut hanya menggunakan jari telunjuk. Melihat Ki Panca pernah melakukannya, tak membuat Wildan jadi kaget. “Sebagian manusia, diberikan kesempatan untuk kembali hidup demi menuntaskan suatu tanggung jawab yang Sang Maha Pencipta berikan, meski tidak semua. Dan kesempatan itu, kerap disebut sebagai reinkarnasi. Kau di masa lalu, bukanlah orang yang akan membiarkan keburukan merajalela. Itu sebabnya, dirimu yang sekarang merasa tersiksa jika melihat sesama – berada dalam bahaya. Lalu bagaimana dengan mereka yang justru bahagia melihat orang lain kesusahan? Artinya, ada penyakit hati di jiwanya. Itu yang harus disingkirkan dengan beribadah serta berbuat baik.” ‘Ah!’ Matanya terbuka lebar – menerka sesuatu yang ia harapkan bisa keluar dari bibir sang guru. “M-Mas, sebenarnya... siapa saya di masa lalu? Kenapa saya diutus? Dan siapa orang-orang mengerikan yang saya temui akhir-akhir ini?” Ki Panca mengisap lisong, sosok berambut cepak itu tersenyum menatap langit cerah. “Dalam konteks kebaikan, jawaban yang ditemukan lewat sebuah perjalanan, akan jauh lebih berharga ketimbang jawaban yang kau dapatkan lewat kata orang-orang,” jawabnya menatap muka sang santri. ‘Tidak berbeda dari ucapan Sayf dong...,’ pikirnya lemas. Ki Panca kembali memasang wajah serius. Ia mengisap tembakau kemudian berkata, “jadilah seseorang yang  polos. Polos di sini, artinya selalu merasa bodoh agar terus haus untuk belajar. Senantiasa merasa bila diri ini, bukanlah siapa-siapa. Selalu memandang sifaf Maha Besar-Nya tanpa melibatkan atau mengakui bila diri inilah yang sanggup melakukan sesuatu. Jika tidak begitu, dikhawatirkan rasa ke-Aku-an dalam jiwa akan tetap melekat.” Pemuda bercelana hitam membungkam bibir, mencoba mencerna kalimat sang guru. ‘Merasa bukan siapa-siapa?’ “Sudah, sekarang bersiaplah berangkat ke Pulau Bali,” ucap Ki Panca usai mengisap udud di tangan. “Tunjukan Mustika Naga Biru itu pada Kakekmu sebagai tanda keberhasilan awalmu,” jelasnya setelah meniup asap lisong ke depan. Sebagian asap tersebut, menerpa – mengenai wajah pemuda beralis hitam. “Hee? K-ke Bali?” celetuknya terkejut. Ki Panca mendongak menatap tebing dekat jalan raya di atas. “Di dekat hutan yang hancur karena pertarunganmu tadi, ada sesuatu yang mungkin masih berfungsi dan bisa mengantarmu ke tujuan. Naiklah!” perintahnya. “Soal si Utel, tidak perlu dicari. Biar dia yang tangani lawannya sendiri,” imbuhnya berdiri. “He? Utel siapa, Mas?” Wildan ikut beranjak. “Mandala. Dia berasal dari seberang, dari wilayah bernama Utel.” Wildan cengar-cengir mendengar hal tersebut. ‘Ada-ada saja Mas Panca.’ “Soal keluarga gadis ini, kau mau tetap mereka mengingatnya, atau mau agar mereka lupa saja? Tadi sekilas, sepertinya mereka sudah meihat wajahmu.” “Eh? Benarkah? Ka-kalau begitu, tolong buat lupa saja, Mas!” Lirih melirik muka panik Wildan, Ki Panca berucap sembari melempar senyum, “yakin ndak? Benar, mau aku buat lupa ingatan mereka? Kalau begitu, nanti kamu susah deketi mertuanya loh! Hahaha!” “Heee? Lah, kok mertua?” gumam Wildan bingung. “Hmmm, ya sudah. Segeralah berangkat. Orang-orang Pusaka Nusantara sedang bergerak ke sini. Biar kami yang urus mereka,” ucapnya menoleh pada Ayah Laras yang pingsan di bangku mobil depan. “Baik, Mas!” tanggapnya balik kanan. “Eh, Ngger!” Ki Panca memanggil. “Ya, Mas?” sahutnya balik badan, batal untuk melompat – memanjat tebing. “Kalau benda yang sekiranya bisa mengantarmu ke sana, tidak bisa dipakai lagi, nanti kamu langsung lari ke jalan raya, ya? Ada motor merah plat-nya DK. Belakangnya angka sebelas. Kalau lihat, langsung sikat saja! Ambil dan bawa motor itu buat kamu berangkat ke Bali. Oke?” ‘Lah? Aku disuruh begal motor?’ pikir Wildan heran. “Aaaishhh! Sudah, Sudah lakukan saja. Jangan banyak tanya! Nanti tahu jawabannya!” * Beberapa menit Diana lalui dengan duduk di bangku tengah sebuah mobil hitam. Wajah gadis bermata jeli itu lesu – mencemaskan keberadaan Wildan sekarang. Dita justru sudah terlelap seraya menyandarkan kepala di pundak kiri Diana. ‘Wildan... apa yang bisaku bantu? Apa yang sedang kau alami?’ Raut gelisahnya berubah kesal karena ponsel di saku celana tak henti-hentinya bergetar. “Ini lagi! Grup lagi rame bahas apaan, sih!” gerutunya sebal seraya merogoh ponsel. Netra jernihnya mulai menyimak obrolan grup – yang mana sedang membahas soal buku. Perhatiannya mulai benar-benar teralih pada layar ponsel ketika mengetahui topik bahasan di grup kelas, membahas mengenai sebuah buku berusia ratusan tahun di perpustakaan sekolah. Tak hanya itu, beberapa deskripsi kejadian yang teman kelasnya bicarakan, mirip dengan situasi yang sedang terjadi di bumi pertiwi. ‘Ini serius? Buku apa?’ Dahinya mengerut, sementara jari lentik gadis tersebut mulai menuangkan kebingungan lewat chat. Belum lama ia mengirim pesan, nomor tanpa nama memanggil – menelepon. “Ini nomor siapa lagi?” gumamnya menekan tombol terima. ‘Halo, bawel? Kau masih belum pulang?’ Suara Anisa membuat Diana lega. “Hiih! Kamu gonta-ganti nomor terus! Iya, aku belum pulang! Ini lagi di jalan tadi dijemput Ayah.” ‘Yah gimana nggak ganti, Di! HP juga ganti gara-gara kejadian itu!’ ‘Oh, iya. Ponsel Anisa rusak karena terbentur batu saat ia terguling malam itu,’ pikirnya. “Nanti kalau sudah sampai rumah, aku kabari lagi.” ‘Eh, Di! Sebentar!’ cegat sang sahabat agar Diana tak memutus sambungan telepon. “Kenapa? Ada apa?” Diana berdengkus. ‘Tumben kamu nongol di grup selain karena topik mata pelajaran.’ “Nggak. Aku penasaran aja,” sahutnya. ‘Sama bukunya? Nih, aku yang lagi minjem bukunya,’ lapor Anisa. “Eh? Serius? Buku yang lagi ramai dibahas anak-anak, ada di kamu?” ‘Yoi, Bre! Tapi tulisannya kebanyakan aksara Jawa Kuno. Saduran sih, yang aku baca. Di bukunya, ada kertas-kertas berisi terjemahannya.’ “Mmmm... apa saja yang sudah kau baca?” ‘Ini buku tebel banget, Di! Baru baca sedikit sih! Tapi, isinya rada-rada mirip kaya novel, deh!’ Selain suara Anisa, terdengar lembaran kertas yang sedang digerakan. “Novel? Maksudnya, gimana?” “Ya mirip novel. Kaya buku dongeng anak-anak. Ada pendekar berkekuatan alam, ada pendekar penunggang harimau, pendekar bersayap hitam, bahkan jenis-jenis bangsa Buto juga ada.” “A-apa katamu? Pendekar bersayap?” tanyanya memastikan, teringat pada Mandala yang masuk paksa lewat jendela rumah sakit. ‘Nanti, deh! Kalau sampai rumah, aku langsung ke sana, ya?’ “Memangnya kau sudah mendingan, Nis?” ‘Eeeetttdah! Anisa gitu, loh! Ya udah, hati-hati di jalan ya! See you soon!’  * (Hutan Wilayah Jawa Tengah.) Wildan berhenti melangkah saat menjumpai belasan pohon hutan yang ambruk. ‘Di sini?’ Kepala pemuda berbadan kekar celingukan – mencari sesuatu yang Ki Panca maksudkan. “Sayf, di ma-” Wildan batal bertanya, teringat bila sang khodam telah meminjamkan kekuatan untuknya. ‘Arah kiri, Wildan. Terus lurus, aku merasakan tekanan energi gaib di sana,’ sahut Sayf dari dalam badan. “Lah? Heh! Kok?” Dahi pemuda berambut lebat mengerut. “Sayf?” ‘Asap dari lisong Ki Panca yang menerpa wajahmu, mengandung energi spiritual yang memulihkanku. Walau belum bisa mewujud ke alam manusia, tapi aku masih bisa menuntunmu untuk sekarang.’ ‘Syukurlah,’ sahutnya dalam batin. Ia lanjut mengayuh kedua kaki menuju arah yang Sayf sampaikan. ‘Kalau tidak salah, ini arah si manusia bergada datang, kan?’ Pohon-pohon di jalur Wildan semuanya ambruk – remuk pada bagian tengah akibat lemparan Gada Wesi Kuning. Seett.... Pemuda tanpa kain pada badan bagian atas, lagi-lagi berhenti memandang sebuah rumah berdinding lempeng. Tak hanya itu, beberapa mayat orang-orang berseragam tuksedo hitam tergeletak tak sadarkan diri di depan halaman rumah nan sederhana tersebut. Mayat mereka begitu mengenaskan, sebagian hanya tersisa kulit dan tulang. Sebagian lagi termutilasi, tercabik-cabik oleh serangan sesuatu yang tajam. ‘Monster bersayap tadi... membunuh mereka semua?’ ‘Buto Angkoro datang untuk mengambil beberapa pusaka Buto. Pusaka keramat haus darah yang diperuntukkan para Buto di kehidupan lalu.’ ‘Pusaka haus darah? Buto? Bukan Buto Ijo dari cerita Timun Mas, kan?’ Wildan berjalan pelan menghampiri rumah berdinding kayu. ‘Ya, Wildan. Buto Ijo, adalah satu dari tujuh makhluk yang dahulu pernah dibangkitkan oleh Buto Angkoro.’ Melirik ke kanan-kiri, Wildan menyipitkan mata. “Jangan bilang, dia sedang mengumpulkan pusaka Buto, dan selanjutnya bermaksud membangkitkan Buto-Buto lain di masa lalu?” ‘Pada pertempuran di masa lalu, kita berpisah cukup jauh. Kau mengutusku untuk melindungi Gusti Raden Ajeng Ayu Mayang Sari – dan memutuskan menghadapi tujuh Buto itu bersama tiga Titisan lain. Kau juga yang telah mengubur pusaka-pusaka Buto seorang diri.’ “Hadeh! Baru aku ingin bertanya di mana keberadaan pusaka-pusaka yang tersisa itu!” gerutunya berdiri di depan rumah kayu. Atap seng bangunan tersebut berlubang cukup lebar – bisa diperkirakan sebagai lubang keluar makhluk bersayap tadi. Wildan memasuki bangunan sederhana tanpa jendela. Lantai tanahnya becek oleh genangan darah para anggota LHA. “Memangnya, ini bangunan apa, Sayf? Kau bilang makhluk itu mengambil pusaka dari tempat ini? Apa ini semacam rumah penelitian? Atau gudang?” ‘Sepertinya ini markas persembunyian orang-orang asing. Aku masih merasakan keberadaan beberapa benda pusaka di dalam sana.’ Sampai di ruang tengah tanpa sedikit pun perabotan, Wildan mengerutkan dahi. “Dalam mana?” Rumah sederhana berdinding lempeng itu benar-benar kosong. Tak ada meja, jendela, lemari, atau hal lainnya. ‘Coba periksa kamar mandi,’ anjur Sayf. “Mana ada benda berharga di simpan di kamar mandi!” Sahutnya tak percaya. “Kalau benih-benih manusia yang dibuang, baru betul,” imbuhnya lirih menghampiri pintu kayu. Krriieet... Di dekat bak mandi tanpa air, hanya terdapat sebuah mesin cuci usang memepet tembok. “Tuh! Kan? Mana pusakanya, Bambang!” ‘Ada lubang yang tertutup oleh benda itu. Dan, namaku bukan Bambang!’ Wildan terkekeh sejenak, merasa asyik meledek sang khodam. “Iya, iya, iya....” Brraak! Wildan melempar – membanting mesin cuci usang hanya dengan tangan kanan. Netranya lebar terbuka melihat sebuah lubang di lantai dengan diameter selebar dua meter. ‘Ini... mengarah ke mana?’ ‘Ada ruangan di dalam sana. Masuklah, Wildan. Usahakan kau mendarat menggunakan pusaka Cakar Putih Pajajaran,’ usul Sayf dari dalam tubuh. Lelaki beralis lebat menghela napas panjang. Ia merangkak mendekati lubang, kemudian memasuki lubang dengan tangan kanan lebih dulu – membiarkan badan bagian bawahnya masih berada di lantai. “Seberapa dalam lubang ini memangnya?” tanyanya sebelum memaksa diri masuk. Tubuhnya jatuh ke bawah. ‘Tidak dalam, Wildan. Hanya tiga puluh meter.’ “Hiiiiii! Sayf! Kau!” Jeritnya kesal memejamkan kedua mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN