Kitab Legenda

2858 Kata
Blammm! Pada ruangan gelap tanpa cahaya, Wildan Alfatih mendarat keras di lantai menggunakan tangan kanan yang dibalut Cakar Putih Pajajaran. “Aduh, Ya Alloh!” Ia meringis, berdiri pelan-pelan dalam gelapnya ruangan. “Lah, ini... tidak ada lampu ya?” Saat berjalan maju, paha kanannya menyentuh meja kayu. “Duh! Ya bagaimana bisa lihat!” ‘Hmmmm... Sarung Tangan Gadil Pajajaran bisa menyala dalam gelap, kan?’ tanya Sayf dari dalam badan. Wildan tersenyum, terkekeh menertawakan keluputannya sendiri. Tatkala pusaka besi yang membungkus lengan menyala, ia terkesima melihat pusaka-pusaka yang terpajang pada dinding bangunan dari beton. Keris, kujang, clurit, cambuk, golok, dan beberapa jenis katana, berjajar di sana. Wildan mendekati barang-barang seraya menyipitkan mata. “Ini benda pusaka milik negara kita, kan?” ‘Aku yakin ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan benda yang mereka ambil dari negeri ini, Wildan.’ “Hmmm... bagaimana mereka mendapatkan ini semua? Walau aku tak terlalu mengerti soal tenaga dalam, tapi aku yakin benda-benda ini berumur cukup tua.” ‘Usia benda-benda ini berkisar ratusan tahun. Semuanya pernah digunakan para pribumi untuk melawan orang-orang asing.’ “Lah! Kalau begitu bukankah harusnya semua pusaka ini ada di museum!” ‘Sebaiknya segera telusuri ruangan ini, Wildan. Aku merasakan sesuatu di depan sana. Mungkin, itu yang beliau Raden Panca maksud bisa mengantar kita ke tujuan.’ “Kau benar,” tanggapnya kembali berjalan lebih cepat – menelusuri ruangan nan berantakan. Sepatu sport yang membalut kedua kaki Wildan sudah rusak, lembap oleh genangan darah lain. ‘Dia sama sekali tak ragu untuk membunuh manusia, ya? Apa dia ini jenis siluman, atau bangsa jin?’ ‘Yang jelas, dia bukan bangsa jin.’ Masih dengan satu-satunya penerangan berasal dari pusaka yang membalut tangan kanan, Wildan memperlambat langkah. Perhatiannya tertuju pada lukisan figur seseorang – sesosok pria berambut gondrong agaknya gimbal, mengenakan jubah kebesaran bangsawan eropa, dengan syal putih seperti bulu rubah putih. Terukir nama di bawah lukisan tersebut. ‘Hudson Van eeuwig paradijs? Sebentar....’ Wildan mengamati wajah yang familiar di lukisan. “Ini... bukannya salah satu petinggi LHA, ya?’ Tak mau ambil pusing, Wildan lanjut melangkah melewati sebuah pintu yang sudah hancur. Kakinya menginjak ke dalam ruangan, hingga tiba-tiba... Tlap! Lampu-lampu yang terpasang di langit-langit ruangan menyala begitu terang – membuat Wildan menutup wajah menggunakan lengan. ‘Listrik bangunan ini... masih berfungsi?’ Dalam sebuah ruangan yang didominasi warna biru terang, bola besi dari kaca, melayang-layang tepat di tengah ruangan. Berbeda dari ruang sebelumnya, tempat di mana Wildan berada berdindingkan logam. Beberapa layar monitor komputer terpasang di dinding besi. “Sayf? Bola apa itu? Kenapa bisa terbang begitu?” ‘Coba sentuhkan tangan kananmu pada benda itu, Wildan.’ “Hmmm... tidak! Nggak mau! Wegah!” tolaknya mencibirkan bibir. ‘Ada apa, Wildan? Aku tak merasakan bahaya dari benda itu.’ “Moh! Nggak! Katakan dulu, apa yang terjadi kalau aku sentuh benda ini!” ‘Bola ini, mirip seperti benda yang ada pada kerajaan Baginda Raja Sulaiman. Seperti tuas dari sesuatu,’ jelasnya. “Hmmm... awas saja kalau berakibat fatal!” gerutunya memegang bola kaca tersebut. Tlaap! Sebuah suara terdengar dari benda yang Wildan sentuh, “siapa utusan dari surga?” “Hee? Utusan dari surga?” gumamnya bingung. “Akses ditolak...” Benda yang Wildan sentuh seolah merespon ucapannya. Laki-laki bermata coklat masih mengerutkan kening. ‘Ini semacam password?’ “Siapa utusan dari surga?” benda tersebut kembali bersuara. “Malaikat?” jawabnya harap-harap cemas. “Akses ditolak....” Jawaban dari benda misterius di hadapannya masih tetap sama. “Healah! Lah utusan dari surga? Siapa? Moyangmu! Dasar mesin ngawur!” ujarnya kesal. “Siapa utusan dari surga?” ‘Kalau kau tak tahu, sebaiknya segera pergi dan cari kendaraan yang Raden maksud tadi, Wildan.’ “Hudson Van eeuwig paradijs?” jawabnya setelah mengingat nama yang ada pada lukisan petinggi Legacy Hunter Association. “Akses diterima....” Setelah suara pembenaran jawaban dari benda tersebut terdengar, sinar cahaya lampu ruangan berubah putih layaknya lampu neon pada umumnya. “Apa yang ingin Anda cari?” Bola yang Wildan pegang tersebut menyorotkan sebuah layar proyektor ke dinding. Terdapat beragam menu pilihan dengan nama seperti; files, project, four ascendant, SLO Project, Legacies, Indonesian Cryptid, seven armagedon, dan targets. “Seven armagedon? Artinya tujuh kiamat, kan?” ucapnya lirih. “Membuka data, seven armagedon.” Tampilan pada proyektor di dinding berubah. Di sana menampilkan beberapa pilihan lain seperti; Buto Terong, Buto Rambut Geni, Buto Bajang, Buto Cakil, Buto Ijo, Buto Jathilan, Buto Ireng. “Lah? Ini... nama-nama Buto?” Wildan melepas pegangan dari bola kaca, mendekati dinding. ‘Itu, adalah nama dari tujuh makhluk yang dahulu pernah kau hadapi, Wildan.’ “Buto Terong? Ahahah! Buto pemakan terong, apa Buto wujud terong!” “Menampilkan file, Buto Terong.” Gambar sebuah prasasti berukirkan makhluk seperti Buto, terpampang di proyektor. Terdapat pula penjelasan detil mengenai makhluk tersebut. Wildan memandang serius tulisan berbahsa Inggris di sana. Ia membaca sekaligus menterjemahkannya dalam hati, ‘Buto Terong adalah makhluk dengan kekuatan mengendalikan unsur-unsur tumbuhan. Sama seperti tujuh buto lain, ia konon disegel oleh Sacred Legacy Object – Sang Titisan Cahaya. Tidak adanya detil sejarah maupun catatan dari para pribumi, membuat semua personil di bawah komando Nyonya Elizabeth kesulitan melacaknya. Makhluk berbadan besar dengan perut buncit ini, berperan penting dalam perkembangan kekuatan SLO 04 – Sang Putri Pengendali Empat Unsur bumi. Meski dia bukan yang terkuat di antara tujuh Buto, tetapi ia mampu menaklukan belasan kerajaan kecil pada masanya. Membunuh tidak hanya laki-laki, perempuan, anak-anak, tapi juga bayi-bayi yang baru lahir, menjadi santapan kegemarannya. Itu sebabnya, kelak akan dikumpulkan bayi atau janin sebagai umpan. Pada Juli tiga tahun silam, dicurigai bila makhluk ini dikurung di Pulau Dewata – Bali. Dan setelah pusaka keramat haus darah berhasil dikumpulkan, maka seratus personil dibawah komando Nyonya Elizabeth akan melakukan pencarian sekaligus pembangkitan.’ Pemuda kekar bercelana hitam terbelalak, sama sekali tak menyangka bila keberadaan makhluk yang terkubur itu berada di destinasi selanjutnya. “B-Bali! Jadi... makhluk ini dikurung di Bali? Dan... LHA merencanakan untuk menggunakan bayi-bayi tak berdosa sebagai umpan! Keterlaluan!” ujarnya jengkel. ‘Tapi rencana mereka, sepertinya gagal karena pusaka haus darah yang dimaksud, telah direbut paksa oleh Buto Angkoro, Wildan.’ “Tidak. Jika dia dikurung, atau terbelenggu, artinya dia masih hidup. Benar?” Wildan balik badan. “Aku harus mencarinya bagaimana pun caranya, sebelum makhluk itu menemukannya lebih dulu!” * (Beberapa jam kemudian, Rumah makan Gilimanuk, Bali.) Pada keramaian orang-orang yang tengah lahap menikmati menu makanan rumah makan, Laras malah menatap kosong nasi berlauk pauk ayam di meja sembari memain-mainkan sendok-garpu. Gadis mancung berkulit sawo matang tersebut masih merasakan keganjilan atas apa yang telah terjadi. Hal terakhir yang ia ingat, adalah mobil keluarganya yang masih melaju di jalan antar provinsi kawasan Jawa Tengah. ‘Kami secara tiba-tiba tersadar dan sudah berada di Gilimanuk, Bali. Kalau ini perampokan, atau kasus hipnotis, harusnya benda-benda atau uang yang ada, hilang dibawa pelaku... aneh memang. Yang lebih mengherankan, mobil Ayah tiba-tiba saja rusak di bagian depan! Apa jangan-jangan, kami tak ditabrak sesuatu, dan akhirnya kami serentak dihipnotis agar kami tak menuntut apapun?’ renung si gadis berkerudung. “Teteh, dimakan heula atuh makanannya. Buruan... kan kita mau ke penginapan,” ucap sang wanita berkerudung biru usai menyantap habis makanan di piring. “Iya,” jawabnya singkat masih sambil memikirkan keanehan yang dialami. “Laras, sudah tidak usah dipikirkan. Yang penting kita semua selamat. Lagi pula mobil depannya cuma rusak sedikit,” ucap sang Ayah menenangkan. “Hmmm... iya,” sahutnya lagi. Karena napsu makannya yang pudar, gadis berjari lentik tersebut hanya sedikit memasukan makanan ke dalam mulut, berbeda dari adik berusia remajanya yang lahap-lahap saja menghabiskan makanan. Drrrrrggg.... Muka bumi dalam radius beberapa kilometer bergetar – gempa. Kejadian tersebut sontak membuat orang-orang celingukan sejenak, sebelum menjerit panik akibat getaran yang kian lama kian bertambah. Dua orang satpam lekas-lekas mengkomando pada para pengunjung untuk tiarap – bersembunyi di bawah meja. Tapi tak jarang yang saling berdesakan demi berlari keluar rumah makan. Ayah dan Ibu Laras panik. Keduanya beranjak bermaksud menggandeng putri-putrinya berlari keluar rumah makan nan padat. Nahasnya, mereka terdorong oleh puluhan pengunjung retoran dan meninggalkan dua anak kesayangannya.  Sukma si remaja SMP yang melihat orang tuanya terhalang, berdiri berupaya menggapai tangan sang Ayah. Tetapi rombongan ramai para pengunjung yang keluar membuatnya terpental ke bawah. “Kyaaaaaa!” Sesaat sebelum belasan kaki manusia tak dikenal hendak menginjak si gadis malang, muncul sesosok perempuan bergamis hitam – memeluknya dari belakang sembari tengkurap. Perempuan tak dikenal itu, membiarkan punggung dan badannya diterjang para pengunjung yang panik. “Sukma!” Laras tanpa pikir panjang ikut memeluk adik kecilnya. * (Beberapa jam yang lalu, kawasan hutan Jawa Tengah.) Lelaki berambut tebal sepanjang leher dengan tato kepala kambing di bagian leher, tersenyum puas sambil menyetir motor bebek merah. “Enak tha, Jo? Dari pada kerja capek-capek! Masih mending kalau begini saja, lah!” ucapnya pada lelaki kurus berambut cepak. Busana keduanya kemeja rapi, beraroma wangi. Mereka melaju kencang di sebuah jalan besar. Di sisi kanan, sebuah bentangan jurang terlihat, sedangkan di sisi kiri, tebing terjal kokoh menjulang. “Yah lagian! Sekarang mau apa-apa kudu pakai duit! Urus KTP biar cepet pakai duit! Urus surat nikah biar cepet kudu pakai duit! Lamar kerja juga kalau nggak ada orang dalam, kudu keluar duit! Duit! Duit! Duit! Duit aja terus!” “Hahahahah! Bener koe, Dul! Entah pemerintah yang salah, apa memang orang-orang kita sendiri yang gemar jajah! Rakyat yang mau cari duit malah diperas! Kaya sapi Pak Dodo aja!” sahutnya menoleh ke tepi jalan ketika pemuda tanpa kaos berdiri di pinggir jalan. “Ya makanya! Besok-besok kita targetkan, cari dan incar kendaraan DPR atau pejabat lagi saja! Kita ambil hak kita! Hahahah koclok!” “Kau ndak lihat itu kemarin, muka anak pejabat yang punya ini motor? Rengekannya itu, loh! Kaya bayi tua! Hahaahah!” Dari kejauhan, lelaki berambut lebat mulai mengurangi laju kecepatan motor. Pasalnya, seseorang terlihat berdiri – menghadang di tengah jalan. “Eh! Dul! Dul! Dul! Di depan, Dul! Itu siapa?” tanyanya bingung. ‘Bukannya itu cowok aneh yang ada di jalan barusan?’ pikirnya menoleh ke belakang. Tetapi tak ada siapa-siapa di belakang mereka – bahkan kendaraan pun tak ada. Lelaki cepak berkemeja biru memperhatikan wilayah sekitar – mencari orang-orang yang mungkin sedang bersembunyi. ‘Dia begal? Tapi sendiri? Sebelah sini jurang, sebelah situ tebing? Masa iya komplotannya mau lompat dari tebing?’ Ia menyipitkan mata, melihat baik-baik pemuda berbadan kekar tanpa baju – hanya mengenakan celana. “Halah! Terobos aja lah!” tanggapnya meremehkan. Dari kejauhan, Wildan masih berdiri tegap. “Hmmm... aku sempat ragu tadi.” Ia meregangkan jemari kanan-kiri. “Aku tak tahu kenapa aku harus mengambil motor kalian,” ucapnya lirih sembari memejamkan mata beriris coklat. “Tapi kalau kalian orang baik-baik, bukankah harusnya memperlambat laju motor!” Saat Wildan membuka mata, motor merah bebek yang melaju di sana benar-benar berhenti bersama semua pergerakan alam sekitar. Jaraknya dengan kendaraan yang dikendarai dua orang pemuda itu, hanya berkisar satu setengah meter. “Maaf loh, ya!” serunya menjatuhkan kedua pria tak dikenal secara bergantian. * (Pukul 20.20 WIB, Kediaman Diana, Kota Pekalongan.) Diana mengerjapkan mata tiga kali setelah tertidur begitu saja usai merebahkan diri di kamar. Dering ponselnya memancing si gadis berambut panjang itu menoleh. “Uhmmm... siapa sih?” gumamnya menarik ponsel yang tergeletak di dekat bantal bersarung biru. “Nisa?” Ia hanya melihat nomor belakang sang sahabat karena belum sempat ia simpan. “Halo, Nis?” ‘Weee, baru datang langsung merem! Ini bukunya gimana? Jadi nggak?’ “Aduh... Nis, besok saja deh di sekolah. Aku ngantuk parah,” ucapnya lemas. ‘Jahat ih! Aku sudah berdiri di depan kamarmu loh, Di!’ “Heh? Serius?” Diana bangkit, menarik kerudung hitam di ujung kasur. “Sebentar,” ucapnya membalut kepala dengan kain kerudung. Sejurus kemudian ia berjalan membuka daun pintu. “Yahaha! Masih lesu aja yang jenguk Mamas Wildan!” celetuk si gadis berkaca mata bening tersenyum memperlihatkan deretan gigi.  Gadis bersweater merah dan celana jeans tengah berdiri menenteng sebuah buku tua bersampul coklat. Lembaran kertas di dalamnya tampak usang. “Nih! Bukunya!” imbuhnya menyodorkan benda di tangan kanan. Diana menerima buku tersebut, berjalan kembali ke ranjang bersprei biru. Entah mengapa, bulu kudu gadis berkerudung hitam berdiri hanya dengan menyentuh buku itu. “Tidak ada daftar pustaka ataupun pencetaknya. Sepertinya memang buku bersejarah,” gumamnya membolak balik buku di tangan. Setelah duduk, Diana mulai membuka lembaran kertas di sana. “Apa yang buatmu penasaran, Di? Tumben loh, bocah yang cuma gemar buku pelajaran jadi mendadak antusias,” ucap Anisa menutup pintu, sebelum melompat dan mendarat di kasur empuk Diana. “Kan ini juga buku sejarah, Nis.” Netra gadis berhidung mancung mulai mengamati kata demi kata yang tertuang di sana. Alisnya terangkat naik, tatkala sebuah paragraf menjelaskan suatu hal yang tidak asing. Pada lembaran tengah, tertulis sebuah gambar disertai deskripsi mengenai makhluk bersayap yang menghancurkan Kota Jakarta beberapa bulan lalu. Diana mulai membaca dalam hati, ‘dia bukan berasal dari bangsa lelembut, siluman, maupun jin. Setelah terbuang dan diasingkan karena kekejian yang dia lakukan, dia dibelenggu dalam sebongkah batu jernih sejernih embun, tetapi keras melebihi besi. Karena tekadnya yang ingin melampaui sang makhluk terkutuk, ia disiksa dalam kesunyian demi perenungan. Tetapi api di dalam sekam, justru kian menggelora – mengharapkan seisi bumi terbakar oleh angkara murkanya.’ Anisa merangkul pundak si gadis berkerudung hitam, turut fokus pada tulisan. Bibirnya bergerak turut membaca lirih, “kelak setelah ditimpakannya kesunyian tanpa ujung, dia bangkit ke muka bumi demi memberi ketakutan, sebagai perwujudan kehancuran. Meski jajaran manusia tetap melihat dan tak bertindak secara langsung, sejatinya mereka mengawasinya dengan amat hati-hati. Sebab yang digariskan untuk menghancurkannya dari muka bumi, adalah empat sosok manusia berhati mulia. Para manusia yang memberikan hidup demi Sang Maha Tunggal, dan hidup hanya mengabdikan diri pada-Nya.” Anisa membuka lembaran selanjutnya. “Bahasanya, agak sulit dimengerti, ya?” “Pssstt!” Diana mendesis. ‘Saat pasar hilang ramainya, saat banyak anak lelaki mencari-cari Ayah mereka, di saat muka bumi mulai ditimpakan marabahaya dan bala bencana, manusia berwujud Iblis akan bangkit dan menghancurkan apa yang pertama dia lihat. Tetapi setelah sadar bila kesaktiannya jauh berkurang, dia berupaya untuk mengulang sejarah – membangkitkan bala bantuan dari bangsa-bangsa gaib, khususnya tujuh makhluk terkutuk yang amat membenci keberadaan golongan manusia.’ “A-anu, Di... ini... ini deskripsi monster yang menyerang kita pas wisata ke Jakarta, kah” terka Anisa ragu. ‘Buto Angkoro, adalah nama kutukan yang diberikan para manusia sebab watak dan wujudnya seperti Buto, serta menebarkan angkara murka.’ * (Keesokan hari, Pantai Karang Sewu, Gilimanuk, Bali.) Rombongan wisatawan lokal dan interlokal memenuhi daerah pinggiran pantai berselimut rumput hijau nan segar. Tak seperti bagian pantai berpasir kebanyakan di Pulau Dewata, pantai tersebut didominasi warna hijau dari rumput, bahkan terdapat beberapa pepohonan di pinggiran dekat perairan. Angin di waktu itu berembus lembut, seolah menyapa para wisatawan yang sedang menikmati suasana alami di sana. Anak-anak berusia lima hingga delapan tahunan, riang bermain dikawal ibu-ibu. Muda-mudi dan remaja, sibuk mengaktifkan kamera ponsel sembari merekam panorama alam di sana. Tak sedikit juga yang berjoget-joget tanpa malu di depan kamera – padahal mata lelaki di sana memandangnya, menjadikan pusat perhatian selain dari latar alam nan indah di sana. Jauh dari kerumunan manusia – tepatnya di bawah naungan pohon rindang dekat perairan, seorang gadis manis dengan rambut lurus lebat agak bergelombang, duduk menekuk kedua lutut. Di samping perempuan pesek dengan tahi lalat di dahi, seorang laki-laki mancung berkulit putih mengenakan busana putih adat tradisional Bali. Lelaki dengan ikat pinggang motif kotak-kotak hitam-putih buka suara, membuka obrolan, “Narti, apa kamu masih marah?” tanyanya pada gadis berbusana jingga lengan panjang. Perempuan berusia enam belas tahunan menoleh kecil. “Karena kamu pergi bersama Dinda malam itu?” Ia kembali menatap lurus di mana air asin menghampar. “Tidak.” “Hmmm... aku minta maaf, Ti. Aku hanya mengajaknya karena-” Tep! Gadis pesek nan manis bernama Narti memegang tangan lelaki berbusana putih. “Diam,” bisiknya lirih. “Diam kenapa? Aku kan hanya menje-” “Rama! Diam!” serunya kesal sebelum berdiri. Mata jernihnya menyapu lingkungan sekitar karena merasakan sesuatu yang mencurigakan. Pemuda bernama Rama turut berdiri celingukan. “Ada apa, Narti?” ‘Mereka datang?’ Narti menyipitkan mata, masih mencari-cari sesuatu yang membuat batinnya gusar. ‘Dari mana?’ Hanya kerumunan manusia penuh kegembiraan yang ada di hadapannya. Di tempat yang sama, tetapi agaknya berada jauh dari posisi Narti berada, Laras berdiri dan merekam keindahan alam sekitar. Ayah, Ibu, dan gadis kecil bernama Sukma, duduk di atas karpet yang sudah dibentangkan. Tersaji beberapa lauk pauk serta buah-buahan segar di gelaran karpet warna biru bergambar daun. “Yah! Bu! Selfie! Selfie, Sukma!” pinta Laras mengambil posisi di depan ketiga anggota keluarga. Di saat Laras menekan tombol ambil gambar, ia tak mempeerhatikan munculnya tiga pemuda berbusana adat Bali – melangkah melewati mereka. Salah satu di antara mereka, mengenakan sepuluh batu akik warna-warni . Dua oria lain berusia dua puluh tahunan, membawa keris – disematkan pada ikat kain seperti sabuk pada pinggul. Raut muka lelaki paling depan berhias senyum, melihat ke arah pohon rindang yang Narti gunakan untuk berteduh. “Semua sudah di posisi?” “Sudah, Tuan Dasa,” sahut si pemuda di sisi kanan belakang. Pria bercincin akik warna-warni tersenyum lebar. “Kalau begitu, kita mulai ritualnya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN