Pemuda berhelm putih tanpa kaos sedang melaju kencang di jalan tol menggunakan motor merah hasil rampasannya. Spedometer kendaraan roda dua yang ia tunggangi kala itu menyentuh angka 160 km/jam. Para pengendara mobil roda empat di jalan tol pun geleng-geleng dibuatnya. Tak hanya itu, beberapa penumpang di jalan lebar tersebut mengarahkan kamera guna merekam si pengendara telanjang berhelm putih.
Sayf yang masih berada di dalam tubuh Wildan angkat suara, ‘kau memakai pelindung kepala, tapi tidak mengenakan baju. Bukankah itu tidak lazim dilihat manusia pada jamanmu ini?’
‘Aku memakai helm hanya untuk menutup wajahku agar tak terlihat saja,’ tanggapnya dalam hati. “Yang terpenting sekarang, aku tak mau gagal menangkap orang-orang itu lagi!” Ia memejamkan mata, lalu kembali membukanya. Semua kendaraan bergerak dengan sangat lambat. ‘Dan lagi, setelah aku memberikan benda itu pada Kakek, aku akan mencari keberadaan makhluk bernama Buto Terong, mau bagaimana pun caranya!’ Hanya dirinya dan motornya yang melaju sangat cepat ketika waktu terhenti.
Sebuah bola putih bersinar melayang keluar dari tubuh Wildan, wujudnya kemudian membesar –berubah seperti wujud harimau putih tembus pandang. ‘Hati-hati, jangan terlalu berambisi,’ ujar sang kucing besar sembari berlari di samping si pemuda berhelm putih.
“Lahh! Kau sudah pulih lagi?” Wildan bertanya sambil menyetir.
‘Saat kau tertidur di masjid yang semalam, aku banyak mendengar lantunan dzikir dari orang-orang di sana. Hal itu jadi lantaran cepatnya pemulihan tenagaku,’ jelasnya menatap truk yang berdiam akibat terhentinya waktu.
Tidak seperti Wildan yang menghindar dari kendaraan-kendaraan lain, Sayf justru berlari menembus kendaran apapun yang ada di hadapannya. Wildan mulai mengurangi kecepatan laju motor sebab padatnya jalan tol di depan. Tentu saja ia tak mau menabrak kendaraan lain.
‘Aku baru tahu, rupanya kau sudah paham bagaimana membuat kendaraan itu bergerak secepat dirimu.’
Dari balik helm putih yang ia kenakan, mata Wildan mulai menajam. Fokusnya tertuju pada antrean mobil yg ada di gerbang tol. “Jika aku dalam kecepatan seperti ini....” Ia sedikit membungkukkan badan ke depan. “Harusnya cara ini bisa berhasil!” Sebelas meter dari jarak kendaraan yang mengantri, Wildan memijakkan keras kaki kirinya, sembari mengangkat stang motor.
Dlak!
Motor merah yang ia pacu pun melesat di udara saat waktu kembali normal. “Berhasil?” gumamnya semringah.
Namun, motor bebek warna merah yang ia kendarai justru terpelanting tak terkendali – berputar-putar meski sang penunggang masih erat memegang stang motor. “Aduh Ya Alloh!” Ia berhasil melewati gerbang tol dengan loncatan motor berkecepatan tinggi. Bagaimana pun, ia tak akan berhasil melakukan pendaratan yang mulus. “Celaka!” seru Wildan memejamkan mata kembali – pasrah akan benturan keras yang menanti.
“Wildan!” Sayf meluncur, ia merasuk ke dalam motor sang majikan. Benturan pendaratan cukup keras, bisa dipastikan motor tersebut hancur kalau saja Sayf tak masuk dan memperkuat kendaraa roda dua tersebut.
Draall!
“Wuuuuuhhuuuuw!” Widan berteriak girang usai melewati gerbang tol, melaju mulus dengan motor merah.
‘Sejak kapan kau terbiasa nekat begini, Wildan?’ Sayf menanggap bernada kecewa.
“Heheheh! Lah ya mau bagaimana lagi! Ngomong-omong berapa lama kita sampai di ujung pulau, Sayf?”
‘Sepertinya, sebentar lagi. Aku sudah bisa merasakan getaran sukma Eyang Besukih dari sini,’ jawabnya.
“Eyang Besukih itu siapa lagi?” tanya Wildan masih dengan badan agak maju ke depan – erat memegang stang.
‘Makhluk sepuh berwujud naga yang menjaga suatu wilayah – sebuah pulau yang kalian sekarang sebut Bali.’
*
(Beberapa jam kemudian, Pantai Karang Sewu, Gilimanuk, Bali.)
Drrrrrggggh...... Drrrrrrrrrttt... Drrrrrrrr......
Gempa bumi yang terjadi pada pantai penuh manusia, membuat orang-orang sekalian berteriak panik seraya berlarian. Retakan bumi merambat begitu cepat – asalnya dari sebuah keris yang tertancap pada tanah berlapis rumput hijau. Tak seperti para pengunjung lokasi wisata lain, Narti si gadis manis berhidung pesek justru berdiri tegap dengan kedua mata terpejam. Rambut panjangnya terurai angin yang menerpa dari perairan. “Rama, lari sekarang,” bisiknya lirih.
Cet!
Abirama yang panik, memegang erat tangan kanan gadis bertahi lalat di dahi. “Apa maksudmu! Ayo lari!”
“Aku akan menyusul! Sekarang, lari!” bentak Narti kesal – menahan tangan agar tak tertarik.
“Dan meninggalkanmu di sini? Tidak!” tolaknya tegas.
Pemuda berbusana putih ala adat Bali, melangkah mendekat bersama dua pemuda lain. “Kalian masih mau pacaran? Padahal mereka lari menjauh, loh?”
Gadis berbusana jingga balik badan, menatap sumber suara. Mata Narti seketika tertuju pada batu-batu akik di tangan lawan bicara. “Kau... orang yang waktu itu!”
“Itu pacarmu... tidak kau suruh lari saja? Dia bisa tewas, loh!” celetuknya menyeringai memandang wajah pucat Abirama.
“Rama! Pergi sekarang!” bentak Narti kesal.
Abirama melangkah maju dan menarik gadis berbusana jingga agar berdiri di belakangnya. “Siapa kalian!”
Pemuda pesek dengan udeng putih di kepala mengacungkan keris pada Abirama. “Kau tidak bisa ilmu kanuragan. Sebaiknya cepat pergi! Ini urusan kami dengan gadis di belakangmu!”
“Psstt...” Dasa sang pria bercincin akik merapatkan telunjuk ke bibir. Ia menaikan alis kanan. “Di zaman kerajaan, lelaki haruslah lebih kuat dari kekasihnya. Aku mau lihat, apa lalat ini bisa memukulku?”
Gret!
Mengeratkan gigi seraya mengepalkan kedua tinju, Abirama melesat melayangkan bogem kanan pada wajah lawan. Narti menjerit memanggil pemuda berbusana putih, “Rama!”
Blaaaawk!
Hanya denga satu ayunan kaki, pemuda yang turut bersama Narti terlempar ke samping. Meski serangan itu cukup kuat, tetapi tak sampai mengenai rusuk kiri. Tubuh Abirama tergeletak di dekat retakan tanah, tak sadarkan diri.
“Hmmm... bocah ini beruntung,” gumamnya memandang tubuh si pemuda berhidung mancung. “Padahal kalau kakiku agak naik sedikit, sudah pasti rusuknya pasti hancur! Ahahah!”
Blaaar!
Api merah menyala menyelimuti kedua telapak tangan Narti. “Kalian sudah melampaui batasan!”
Dua pemuda berpusakakan keris langsung siaga dalam kuda-kuda. Berbeda dengan Dasa yang justru melebarkan senyum melihat api di tangan gadis pesek bertahi lalat. “Aku penasaran, kenapa bisa kau dibandrol harga jutaan dolar oleh organisasi luar negeri itu. Tapi kalau cuma bisa mengeluarkan api saja, aku juga bisa!” Cincin akik merah di tangan kirinya menyala, kemudian disusul api berkobar membungkus lengan – tanpa membakar sandangannya. “Api dilawan air?” tanyanya geleng-geleng. “Api dilawan api?” tanyanya manggut-manggut.
Narti si gadis berbusana jingga melesat menghampiri lawan lebih dulu. “Banyak omong kau!”
Dasa si pemuda bercincin akik mulai melempari terjangan bola api di tangan pada sasaran seraya berkata, “kalian berdua mundur dan amati saja!” perintahnya melompat maju – menghantamkan tinju kanan pada gadis berbusana jingga. “Biarku tunjukan apa itu anggota utama Dewata Nawa Sanga!”
Blaaaam!
Tatkala tinju Narti dan pemuda bercincin akik bertemu, jilatan api menyeruak – membakar rumput dan pohon besar terdekat. Keduanya mulai beradu serangan kaki dan tangan. Walau gerakan si gadis bertahi lalat di dahi cukup cepat, tetapi pemuda beralis tajam dengan mudah mengelak sesekali menangkis pukulannya.
Narti melompat mundur dengan kedua tapak tangan mengadah ke tanah. Sedetik kemudian, api menyembur kencang laksana roket, membuatnya melayang agak tinggi. “Haaah!” tatkala berada di awang-awang, Ia menyatukan kedua tapak tangan – menghadapkannya pada kepala lawan.
Blaaaarrr!
Cincin akik abu-abu di kelingking kirinya menyala. Ia tersenyum dan berdiam dikala semburan api panas Narti menerjang badan. “Ahahah! Kau bukan apa-apa bagiku, anak manis!”
Braalll!
Lelaki berikat kepala batik coklat mendarat di dekat mereka. Sosok yang tidak lain adalah Menggala, tersenyum lebar melihat pertarungan antara Narti melawan laki-laki bercincin akik. “Hahahah! Hoy! Bolehkah aku ikut bertarung?” tanyanya mengayun-ayun Gada Wesi Kuning seperti bocah yang bermain dengan kayu.
Kedua pemuda si pengawal petinggi anggota Dewata Nawa Sanga, tercengan merasakan nuansa energi yang menyeruak dari tubuh kekar Menggala. “S-siapa orang ini! Gada itu... kekuatan gaib apa ini!”
Narti dan laki-laki beralis tajam berdiri menatap lelaki bercelana hitam. Keduanya terdiam akibat kekuatan besar sosok tersebut. Mereka sama-sama merasakan tekanan gaib kuat dari gada sekaligus si pemegang pusaka.
Brall! Kretak! Kretak!
Menggala menancapkan gada ke tanah, lanjut meregang-regangkan tangan da leher – melakukan peregangan. “Hoy! Kenapa kalian diam saja? Boleh ndak?”
“Sade! Kula! Cepat mundur!” seru Lelaki beralis tajam. Cincin akik warna hitam di telunjuk kirinya menyala, membuat si pemakai beserta dua pengawalnya lenyap dari pandangan saat itu juga.
“Cuih! Pengecut!” gerutu Menggala kesal. “Hoy, gadis manis!” panggilnya menunjuk dagunya sendiri. “Kau masih ingat aku?”
Perempuan berbusana jingga melirik ke kanan-kiri. ‘Orang ini... orang yang muncul saat gempa kemarin terjadi, kan?’
“Sekarang katakan! Ngomong yang jujur! Kau ini, reinkarnasi Cakembang, kan!” serunya mengacungkan gada pada Narti.
“K-kalau... kalau iya, kenapa!” tanggapnya gugup.
Blaaaggg!
Menggala mengayun pusaka di tangan kanan keras-keras pada si gadis berhidung pesek – membuatnya terlontar puluhan meter – masuk ke dalam pepohonan rimbun. “Gyahahahah! Lemah!” ledeknya tersenyum. Kaki belakangnya ia tekuk, berancang-ancang sebelum melesat. “Gusti Prabu pasti akan memujiku setelah membawa kepalamu pada beliau!”
Dlap!
Hanya dengan satu kali pijakan, ia melompat jauh melampaui puluhan meter hanya dengan satu kaki. “Kau milikku! Cakembang!”
*
(Satu hari lalu, Kediaman Diana, Kota Pekalongan.)
“Memang dasar kutu buku ih, si Diana!” keluh Anisa sembari merebahkan badan pada ranjang biru nan empuk. “Kamu udah baca berapa jam itu, Di!” Anisa kembali membuka ponsel, menggulir-gulir layar untuk mencari hiburan lewat medsos.
“Shhhht! Bawel berisik aja!” sahut Diana yang fokus membaca buku berusia ratusan tahun. Ia tak bergeming dari duduknya semenjak tadi.
Wajah si gadis berkaca mata berubah ceria melihat sebuah video yang baru saja diunggah oleh page gosip. “Eh! Di! Di! Di! Di! Lihat ini deh! Di!”
“Apa?” tanggapnya cuek – terus sibuk membaca buku.
“Di! Ini, Di!” Anisa duduk, menyodorkan layar ponsel pada Diana. “Lihat, deh!”
Menghela napas, Diana memperhatikan ponsel sang sahabat. “Si Adit? Adit anaknya DPR?”
“Iya! Si ganteng! Kasian banget kemarin itu motornya dibegal pas di daerah hutan! Untung dianya nggak apa-apa!” ucap Anisa dengan garis bibir ditekuk. Jarinya menekan tombol tambah volume suara.
“Hmmm...” Diana memonyongkan bibir. Mau tak mau ia menyaksikan video si anak DPR yang girang karena motornya mendadak muncul tepat di hadapannya.
‘Alhamdulillah! Atas keajaiban Sang Maha Kuasa! Motor saya kembali lagi ini di sini, Guys! Sungguh, Guys! Nih! Plat nomornya sama! Warna dan jenisnya juga sama, Guys!’
Tep!
Diana menyentuh jari Anisa. “Nis, putar ulang...”
“Hee?” Anisa tersenyum iseng. “Ganteng, kan? Gantengan dia ketimbang Wildanmu! Weeek!”
“Putar ulang!” pinta Diana serius.
“Iyaaa! Iyaa! Nih!” sahutnya menekan tombol putar.
‘Alhamdulillah! Atas keajaiban Sang Mah-’
“Stop!” seru Diana menekan tombol pause. Netra jernihnya memperhatikan sosok lelaki berambut lebat yang ada di belakang si anak DPR. “Wi-Wildan?” gumamnya ragu menatap layar.
Anisa mengerutkan kening. “Apaan! Wildan dari mananya! Hilih!”
Menyipitkan mata sambil mendekatkan layar ponsel, Diana fokus pada wajah blur lelaki yang memegang helm putih. “I-itu Wildan!”
*
(Gilimanuk, Bali.)
Swuuuung!
Narti yang terlempar akibat serangan Menggala terlempar jauh mengarungi puluhan meter tanpa sadar. Tubuhnya yang ramping berbalutkan busana jingga, melaju kencang di awang-awang pada ketinggian tujuh meter di atas hutan.
Blaaarrk!
Tubuh Narti tergolek di hadapan Laras dan anggota keluarga lain, membuatnya terdiam bingung sejenak. “Bapak!” Gadis sawo matang berkerudung hitam menghampiri perempuan yang tak lebih tinggi darinya. “Ayo gendong dia!”
Blaaam!
“Hai manusia lemah! Menyingkir! Larilah kalau kau tak mau tewas!” Baru sang Ayah hendak mendekat bersama yang lain, Menggala si lelaki pesek berbadan kekar mendarat keras di jalan yang mereka akan lalui. Melihat retakan aspal yang diinjaknya saja, membuat para warga terpaku ketakutan.
“Ras! Laras!” Sang Ayah mendekap tubuh putri sulungnya erat-erat. Menggunakan bahasa Sunda, sang Ayah memberi saran, “apa yang kau lakukan! Ayo minggir!”
Jantung gadis berkulit sawo matang terpompa kencang. Ia menelan ludah tanpa sadar. ‘Tidak... kalau bocah itu ada di sini, dia juga pasti akan nekat menolongnya!’
Wanita paruh baya berkerudung biru mendekat dari belakang seraya berkata, “kenapa diam saja! Ayo lari!” serunya panik sambil menggandeng Sukma.
“Ya!” sahut Laras. “Ayo!” imbuhnya menunduk – melepaskan diri dari dekapan pria paruh baya berkumis lebat, sejurus kemudian menarik kaki kiri gadis berbusana jingga.
Menggala tersenyum setengah melihat keberanian perempuan yang tak ia kenali. “Hmmmm... kau berani juga, gadis kecil!”
Blaammm!
Pendekar berikatkan kain batik di kepala mengayun kuat gada keemasan ke depan. Empasan angin kencang meniup, melempar Ayah, Ibu, dan Adik Laras menjauh. Mereka serentak terguling beberapa meter seraya mengaduh kesakitan.
Dlap!
Menggala melompat, berdiam diri di hadapan perempuan berkerudung hitam – yang masih saja memegangi kaki Narti. “Haaagh!” Tanpa berkata-kata, Menggala mengayunkan Gada Wesi Kuning dari atas ke bawah guna meremuk kepala remaja yang tak dikenalinya. Jerit histeris dari para keluarga menyelingi dentuman keras – seperti bunyi besi membentur besi.
Daaang!
Laras sejenak bengong, sementara orang-orang yang berlalu lalang di sana jatuh pingsan – mungkin akibat takut saat Gada itu mengarah kepada gadis berkerudung hitam, atau karena empasan kuat angin mengandung energi gaib.
Gada Wesi Kuning yang diayun oleh pendekar berbadan kekar, tertahan oleh sesuatu yang tidak kalah keras. "Laras, menjauh! Pokoknya jauhkan mereka semua! Segera!" Wildan Alfatih, pemuda tanpa kaos yang hanya mengenakan celana hitam, muncul menahan pusaka lawan dengan Cakar Putih Pajajaran membalut lengan. Kepalanya masih berlapis helm putih. “Cepat!”
‘Aroma keringat ini... suara ini...’ Laras samar mencium aroma keringat yang tak asing. Aroma yang persis seperti saat dirinya dipeluk oleh pemuda asal Jawa Tengah – Wildan Alfatih. “K-Kak Wildan?”
“K-kau!” Menggala melotot melihat pemuda yang menghajarnya beberapa waktu lalu, muncul dan mengacaukan rencana. ‘Bagaimana dia bisa di sini!’
Sarung tangan gadil Pajajaran menyala terang. "Sekarang!" Wildan mendorong gada besar lawan, lalu menyusulkan bogem kanan tepat ke perut six-pact Menggala.
Blaammm!
Musuhnya terpental sejauh belasan meter ke dalam pepohonan – menjauh dari jalan beraspal. ‘Huuurgh! Bisa-bisanya dia datang di saat begini!’ pikirnya kesal setelah menabrak beberapa batang pohon. “Ugh!” Tubuhnya terkapar di antara semak belukar hutan.
“Grrraaaawgh!” Sayf sang harimau putih bermata bersinar menerkam dari belakang, dan menggigit leher sang pendekar bergada.
Setelah Wildan berlari masuk menyusul sang sosok misterius, Laras segera menyeret tubuh Narti dan yang lain. Ia merogoh ponsel guna menghubungi petugas penginapan untuk memberitahu pihak berwenang.
Sementara di dalam hutan, sang pendekar gada meraum kesakitan. Ia mencengkeram leher sosok khodam yang sedang menggigit lehernya sampai berdarah. "Enyah kau!" serunya melempar makhluk berbulu lebat.
Tap!
"Sayf!" Wildan menangkap partnernya menggunakan tangan kanan. “Kau tak apa?" Wildan pun perlahan melepas helm putih sebab sedikit mengganggu pandangan. Ia sengaja memakainya untuk menyeberangi lautan tadi agar tak dikenali saat berhenti.
‘Wildan, dia memiliki ajian ketahanan tingkat tinggi. Dia hanya bisa terluka oleh seranganku dan tinju sarung tanganmu.’ Sayf menampakan taring tajam nan panjangnya.
"Aku sudah menggunakan kemampuanku untuk menyeberangi selat tadi. Aku tak yakin memiliki cukup tenaga sukma sebagai baterai untuk menggunakannya lagi dalam jangka lama," bisiknya lirih setelah menimbang. "Tapi kalau aku tak segera mengurus orang ini, media massa dan polisi akan merekam kami. Bukan hanya identitasku yang akan segera dikenal, tapi juga mereka yang mendekat kemari justru bisa terbunuh oleh orang ini!"
“Hai Sang Titisan Cahaya! Kenapa kau menyerangku lebih dulu! Bukankah aku tak menyerangmu!” seru Menggala seraya mengusap leher yang terluka.
“Kau menyerang manusia! Artinya kau harusku singkirkan! Apa belum cukup aku hajar kau kemarin!” sahut Wildan.
‘Tenaga orang ini tak sekuat kemarin! Tapi harimau itu... bukankah itu khodam legendaris yang dulu menemaninya?’
Wildan terus berpikir, melirik ke kanan dan kiri. Bermaksud mencoba sesuatu, ia menatap rekannya. "Sayf kau bisa berjalan di permukaan air seperti waktu itu, kan?”
"Tentu," jawabnya melangkah maju.
"Kalau begitu, ayo buat dia ke tengah laut, di sana kau bisa gunakan jurus terlarangmu tanpa membahayakan orang-orang," usul Wildan.
"Hai Kisanak, aku tak akan buat gara-gara lagi di sini! Jadi, biarkan aku pergi!" Pria bergada mulai mengatur napas.
"Kata-katamu tak bisa dipercaya!" jawabnya lantang.
‘Aku tak bisa mengalahkannya di sini! Tapi jika aku bergerak, dia bisa saja menghentikan waktu dan menyerangku!’
Sayf melangkah perlahan. “Menyerahlah! Sejarah selalu terulang!”
“Aku sudah menyerah! Aku akan pergi dan tak buat gara-gara lagi!” sahutnya mengangkat kedua tangan – masih dengan memegang gada di tangan.
Wildan melompat ke punggung Sayf. "Sayang sekali hatiku berkata tidak!" Wildan memusatkan segenap energinya pada tangan kanan. "Sayf, terkam dia pada aba-abaku,” bisiknya menggenggam erat bulu leher belakang sang khodam dengan tangan kiri.
Menggala memegang gada menggunakan kedua tangan. "Sialan bocah ini! Dia benar-benar ingin membunuhku!"
Jarak Sayf dengan target berkisar belasan meter. “Grrrr....”
"Kalau begitu rasakan ini!" Gada di tangannya bersinar kuning keemasan.
"Wildan, itu jurus bumi gonjang ganjing! Jika dia memukul tanah, akan ter...."
"Terkam dia sekarang!" potong Wildan cepat. Ia pernah mendengar dongeng tentang jurus tersebut dari sang Kakek.
Groamm!
Sayf menerkam lawan sebelum musuh sempat mengayunkan gada. Sigap, sang harimau putih menerkam menutupi wajah musuh.
"Menyingkir!" seru si pria berblangkon.
Wildan sudah berada di samping target setelah menghentikan waktu sebentar. "Sayf! minggir!" Pemuda bercelana hitam bersiap memukul. Posisinya sudah dalam kuda-kuda, sarung tangan tinjunya memancarkan cahaya yang lebih terang dari sebelumnya. “Hikaru no... Gyaku tsuki!”
Blammmmm!
Bunyi pukulan itu bagai bom. Begitu keras, menggema. Sang Titisan Cahaya mendaratkan tinju berbalut Cakar Putih Pajajaran tepat di rusuk pria kekar setelah Sayf menyingkir. Dengan satu pukulan, musuhnya terpental dengan kecepatan tinggi, melayang keluar dari hutan dan masih terus melesat di atas perairan laut.
Saat Menggala terpental pun, banyak darah menyembul keluar dari mulutnya. “Guuhhhhookh!”
Usai memukulkan serangan pamungkas, sang Titisan Cahaya terduduk lemas. Dalam kondisi setengah sadar, sepasang telinganya jelas menangkap suara sirine mobil polisi. "Ayo kejar dia, Sayf!"
"Apa kau yakin, Wildan? Dia sudah terpental sejauh puluhan kilometer." Sayf menatap sosok yang sudah tak terlihat.
"Kalau begitu, tolong bawa aku pergi dari sini," pintanya lemas. Pusaka di tangan kanannya menghilang perlahan.
"Apa kau yakin kau tidak ingin berpura-pura jadi korban saja agar sekalian mereka rawat?" Sayf menoleh ke arah suara – di mana sirine polisi terdengar semakin dekat.
"Tidak perlu, aku hanya perlu beristirahat sebentar. Aku juga tidak membawa kartu pelajar." Wildan tersenyum bodoh dengan wajahnya yang kluwus penuh minyak-keringat.