(Wilayah Bali nan sepi.)
Tepat di sebuah saung bambu ujung bukit, Sayf memiringkan badan guna menjatuhkan pemuda yang sudah beberapa menit tertidur pulas di punggung kekarnya. “Apa kau masih lelah, Wildan?” tanyanya dengan wujud yang kembali tembus pandang – tak bisa disentuh oleh manusia.
“Ahhh... sepertinya masih agak pegal,” keluhnya membuka mata beriris coklat.
‘Apa kau sudah terbangun dari tadi?’
“Aku tak akan bangun kalau kau bisa menaruhku lebih pelan!” omelnya menghela napas.
Saat Sayf tak lagi terlihat, Wildan memandang sekitar. Hamparan hijau bukit yang dihiasi sawah-sawah nan indah membentang sejauh mata memandang. Hanya ada satu gubuk beratap rumbia di tengah tempat tanpa manusia tersebut. “Sayf? Ini di mana?” tanyanya beranjak dari duduk.
Braall!
Wildan spontan membalik badan, mengangkat lengan kanan guna menangkis sesuatu yang jatuh menjebol atap dari rumput kering. Sarung Tangan Gadil Pajajaran sudah membalut tangan kanannya. Ia mengerjapkan mata sebelum memandang baik-baik sosok lelaki berblangkon hitam. Lelaki misteris berbusana serba hitam ala dukun tersebut mengenakan topeng putih motif Arjuna. “Siapa!”
Mundur tiga langkah, sosok bertopeng dengan blangkon mengulurkan tangan kanan. Ia berkata dengan sebuah suara mirip robot, “serahkan Mustika Naga Biru padaku secara baik-baik.”
Wildan tak bisa lagi mundur sebab berada di ujung saung bambu – terpojok oleh pembatas saung. ‘Sayf, siapa orang ini? Kenapa aku tak asing dengan keberadaannya?’
“Kau mau pakai kekerasan?” tanyanya lagi.
“Aku tak tahu kau siapa! Aku juga tak perlu tahu bagaimana kau bisa tahu soal benda yang aku bawa! Tapi kalau kau memaksa....” Wildan mengambil kuda-kuda ala Karate-ka. “Ayo aja!”
Melayani pemuda berambut lebat, lelaki bertopeng Arjuna memasang kuda-kuda Silat Cimande. “Aku sudah pasang peledak di perkampungan terdekat. Aku akan memberi tanda pada bawahanku kalau kau menggunakan pendamping harimaumu untuk menyerangku.”
‘Dia juga tahu soal Sayf? Apa mungkin dia komplotan lelaki bernama Menggala?’ Pemuda beralis tebal menghitung menggunakan jari kiri. ‘Satu, dua, tiga... baru tiga orang penjaga makhluk itu yang aku jumpai.’
“Jika kau berhasil mengalahkanku, akan aku biarkan kau membawa Mustika Naga Biru. Bagaimana?”
Wildan memejamkan kedua mata bermaksud menghentikan waktu. Netranya justru terbelalak ketika desir angin, burung-burung, katak, dan bunyi serangga sawah masih terdengar. ‘Duh! Sepertinya aku terlalu lelah sampai-sampai tak bisa menghentikan waktu!’ pikirnya mengeratkan gigi. ‘Sayf! Apa yang harus kulakukan! Sayf!’
Brrraakk!
Manusia bertopeng Arjuna putih melayangkan tendangan dorong – membuat Wildan menghancurkan pembatas saung bambu kemudian terlontar keluar. “Huugh!” Pemuda bercelana hitam panjang berpijak pada sawah kering tanpa padi. ‘Sayf! Tendangan kakinya tidak asing! Siapa orang bertopeng ini!’
Dlap!
Lawannya melompat menerjang dengan tendangan ala satria baja hitam. “Kerahkan kemampuanmu, Kisanak!”
Dap!
Wildan menangkap pergelangan kaki pria berbusana hitam menggunakan tangan kiri. “Haaagh!” Ia membalik badan seraya membanting badan lawan – menghantamkannya pada tanah gambut di bawah kaki berkali-kali.
Blaakk! Blaakk! Blaak! Blaak! Blaak!
Ketika badannya yang sudah bernoda lumpur hendak dibanting untuk ke-enam kalinya, sosok bersuara robot berbisik, “Aji welut putih!”
Sluuwp!
Entah karena mengendurnya cengkaman Wildan, atau tubuh lawan yang jadi licin, tubuhnya lolos dari genggaman kuat sang pemuda bersarung tangan besi. Sosok bertopeng Arjuna memutar-mutar badan di udara sebelum mendarat pelan di tanah beralas rumput. “Apa kau hanya mengandalkan kekuatan saja untuk menang?”
“Haaaaah!” Ia melesat menghampiri lawan, bermaksud menghantamkan tangan kanan berlapis Sarung Tangan Gadil Pajajaran.
“Kau dianugerahi pusaka legendaris. Tapi kau tak bisa menggunakannya dengan benar.” Lelaki bertopeng Arjuna geleng-geleng. “Sungguh disayangkan, bukan?” imbuhnya meledek. “Aji Lembu Sekilan,” bisiknya lirih saat tinju Wildan sudah berada lima sentimeter darinya.
Swuuung!
Wildan terbelalak. ‘Tidak kena!’ pikirnya heran setelah amat yakin bila hantamannya mendarat.
Sosok berbusana hitam masih diam dalam kuda-kuda Silat Cimande. “Itu saja? Apa kau tak bisa serangan lain?”
“Ck!” Laki-laki beriris mata coklat kembali melesat dengan serangan tinju bertubi-tubinya. Dalam satu detik Wildan melancarkan tiga tinju lurus menggunakan tangan kanan kiri selama satu menit. Tetapi semuanya sama sekali tak menggores busana lawan. ‘Bagaimana bisa! Sayf! Apa yang terjadi!’
“Tidak semua manusia diberi anugerah sepertimu. Sangat disayangkan kalau kau tak bisa memanfaatkannya, benar!” Lelaki bercelana hitam kini membalas sang pemuda berbadan kekar. Dari tinju, tendangan, bahkan tamparan ia luncurkan guna melumpuhkan lawan.
Blak! Blak! Blak! Blak! Blak! Blak! Blak! Blak! Blak! Blak! Blak! Blak! Blak! Blak!
Semua serangannya dilakukan dengan indah, berhasil memukul mundur pemuda berpusaka legendaris. Melihat Wildan nyingir menahan sakit sembari berdiri bungkuk, sosok tersebut melesat melayangkan tendangan putar ke perut Wildan.
Blaaakk!
Tubuh pemuda berusia delapan belas tahunan terlempar – terkapar di sawah penuh pari hijau. “Uhuukh!” Ia terbatuk saat tak sengaja menghirup air sawah. Mengeratkan gigi seraya bangkit, Wildan melotot. Kuku tangan kirinya memadat seraya memanjang jadi tajam. “Cukup!”
Pyak! Pyak! Pyak! Pyak! Pyak! Dlap!
Wildan berlari di sawah, merusak tanaman padi yang masih hijau. “Hrraaaagh!”
‘Bocah ini... kenapa tangannya jadi bertenaga siluman!’ renungnya sejenak.
Pemuda bercakar tajam melompat – mengarahkan kuku tajam dari bawah ke atas agar mengenai dagu lawan. Tetapi serangannya meleset meskipun sosok bertopeng Arjuna tersebut hanya diam tanpa mengelak. Wildan yang sudah menerka hal tersebut, mengarahkan tinju berlapis Sarung Tangan Gadil Pajajaran ke tanah gambut di bawah.
Blaaaaass!
Sang lelaki misterius bersuara robot terperosok jatuh sebab tanah yang hancur berlubang. Belum sempat ia bergerak, Wildan menangkap pergelangan kaki lelaki bertopeng Arjuna, sejurus kemudian mendaratkan kepalan tangan ke perut lawan. “Haaaaaah!”
Sosok berbusana hitam panjang lekas-lekas menepukkan kedua tangan. “Aji saipi angin!”
Tlap!
Lelaki bersuara robot lenyap dari pandangan Wildan. Alhasil tinjunya pun hanya menghantam udara hampa di sana. Sadar bila lawannya menggunakan teleportasi, Wildan balik badan masih dengan wajah seriusnya.
“Yohhh, yohh, yoh...” Lelaki bertopeng Arjuna putih bertepuk tangan. “Otakmu jalan berarti,” ucapnya menanggalkan topeng.
Deg!
Wildan terbelalak memandangi wajah lelaki sepuh yang sangat ia kenali. “Si-Simbah?”
“Yo wis, simpanlah Mustika Naga Biru. Meski masih bodoh dan sembrono saat bertarung, tapi otakmu masih jalan,” ujarnya tegas. ‘Padahal bocah ini belum menggunakan kemampuannya untuk menghentikan waktu. Siapa sangka bocah sepolos ini – yang tadinya sangat takut pada kuntilanak, bisa jadi semengerikan ini,’ pikirnya.
“Simbah... ini beneran Simbah?” tanyanya ragu sambil berjalan mendekat.
Ctuuuwk!
Mbah Abdul Karim menjitak kepala sang cucu. “Yo iyo Simbah! Siapa lagi!” sahutnya galak. “Balasan gara-gara mukul Mbahmu sendiri!”
“Aduh! Aduh!” Wildan mengelus-elus bekas pukulan sang kakek. “Dih! Lagian siapa suruh mau bunuh cucu sendiri!” gerutunya lirih.
“Mbah Sayf! Silahkan keluar!” ucapnya keras-keras.
“Heee? Sayf!” Melihat sosok harimau putih bermata menyala putih muncul dalam wujud tembus pandang, Wildan paham bila mereka berdua telah bersekongkol.
*
(Hotel Gilimanuk, Bali)
Laras duduk di kasur hotel. Di sampingnya Sukma sang adik bungsu sudah terlelap. Laras yang baru saja melaksanakan ibadah, masih mengenakan mukena guna menenangkan diri setelah insiden yang terjadi. Melirik kemudian menggapai ponsel di atas bantal, Ia membuka internet, penasaran pada berita yang muncul.
‘Dunia maya dan media massa kembali gempar membahas fenomena yang terjadi. Jika beberapa waktu lalu, auman harimau yang dibahas, kini muncul banyak pemberitaan tentang pria sakti dengan gada besar. Tidak ada korban jiwa, namun ada beberapa korban yang shock, termasuk kami.’
Laras perlahan menanggalkan mukena – hanya terlihat mengenakan celana hitam dan kaos putih. "Orang berhelm tadi itu... apa benar, dia Kak Wildan?" Gadis manis berkulit sawo matang masih terus bertanya-tanya. Meski mengenali suara dan aroma keringatnya, namun wajahnya tak terlalu jelas karena helm. “Tapi kalau itu benar-benar Kak Wildan, apa dia baik-baik saja?" gumamnya dengan raut wajah panik.
Laras menghela napas dalam-dalam. “Semoga saja dia baik-baik saja,” gumamnya lirih.
*
Pada malam bertabur bintang di pinggir pantai, sang pendekar kekar berhidung pesek duduk kesakitan di bawah rindang pohon. Tubuhnya yang kekar basah kuyup, begitu pula celana hitam dan ikat kepala bermotif batiknya. Di sebelah kanan lelaki berperu six-pact, pusaka Gada Wesi Kuning tergeletak. “Padahal dia masih bocah! Dia juga belum menguasai Ajian sakti! Tapi kenapa kekuatannya lebih besar dari kekuatanku!” Bekas luka akibat pukulan sang Titisan Cahaya masih membekas jelas – hitam melingkar pada bagian tubuh yang terpukul.
Sesosok pria berjubah hitam basah kuyup, berjalan mendekat setelah mendengar keluh kesah rekannya. "Jika Titisan Cahaya bertemu dengan Titisan Alam, bencana bagi kita para pelindung Buto Angkoro akan terjadi.” Wajah sosok yang berbicara tertutup gelap bayangan kain kepala serupa tudung. "Gada Wesi Kuning adalah senjata keramat kuat. Ia mampu menciptakan gempa yang sangat besar," jelasnya melirik Pria gada besar sepanjang satu setengah meter di dekat Menggala.
Lelaki berjubah hitam misterius melanjutkan, "tapi benda ini amatlah berat. Dan itu yang membuat gerakanmu lambat."
"Padahal aku hampir berhasil membunuh si Titisan Alam!" keluh Menggala kesal.
"Yang lebih mengerikan lagi, adalah jika Titisan Cahaya bersatu dengan Sang Titisan Petir. Meski dua yang lain tak ikut membantu, kita bisa hancur dibuatnya.”
Menggala menyipitkan mata, sembari menikmati desir angin pantai. “Lalu di mana dia?”
Lelaki berjubah hitam tersenyum dari balik bayangan. “Bocah petir itu, sedang tidak bersama Rakyan si penjaga Keris. Sebisa mungkin, kita buru dia sebelum takdir mempertemukannya dengan abdi setianya itu."
Teringat pada Wildan, ia memegangi bekas luka gigitan di leher. "Aku tidak akan mengampuni bocah tengik dan kucing itu!”
"Sang Titisan Cahaya belum menguasai ilmu kanuragan apapun. Dia baru menguasai cara untuk memusatkan tenaga dalam. Bagaimanapun, Sarung Tangan Gadil Pajajaran yang legendaris itu, ditambah oleh Khodam dari Saba’, membuatnya begitu kuat dan sulit untuk dikalahkan."
"Lalu apa yang bisa kita perbuat untuk menghancurkan mereka?" Menggala masih terus memegangi luka.
"Kita belum mencoba menghadapi mereka dengan kekuatan kita berempat sepenuhnya, benar?" Si pria berjubah hitam bertanya.
"Maksudmu?" Menggala menghadapkan wajah, mengaitkan alis.
"Satukan kekuatanmu, Agna dan Sadewa. Balaskan dendam ini, tapi mereka juga harus memegang pusaka mereka terlebih dulu."
“Cuih!” Menggala meludah ke depan. "Agna terlalu keras kepala! Sadewa pun sedang menghilang di Kalimantan!"
"Tak apa, bila sementara kita bergerak pelan. Aku tak menyangka bila Titisan Cahaya bisa menghajarmu sampai seperti ini. Lagi pula, Beliau Prabu pun masih bertapa guna memulihkan kesaktian," jelasnya bangkit.
Menggala teringat pada Dasa – pria bercincin akik yang bertarung melawan Narti. “Lalu bagaimana soal para manusia yang menyebut diri mereka sebagai Dewata Nawa Sanga?”
“Jangan hiraukan mereka. Lagi pula, meski tak satu jalan – mereka juga berjasa membuat kekacauan,” jawabnya balik badan, melangkah masuk ke dalam hutan.
*
(Hotel Gilimanuk, Bali.)
Pada ruangan hotel serba putih, Wildan duduk di atas ranjang empuk. Masih merasakan pegal membuatnya menyandarkan badan ke belakang. Pemuda berkaos hitam dan celana pendek, menggapai remot guna mengatur AC kamar menjadi 23 derajat celcius. Netra beriris coklatnya tertuju pada sebuah koran yang ada di meja.
Menjembreng koran di kedua tangan, Wildan mulai membaca tajuk utama berita, “terjadi penyerangan oleh lelaki misterius di Pulau Bali! Dua orang siswa interlokal dan beberapa turis luka-luka!”
Baru Wildan hendak membaca lagi, Mbah Abdul Wahid membuka pintu kamar sembari berkata, "beberapa minggu lalu, muncul di koran Kota Pekalongan. Sekarang Koran Bali. Kau ini pansos biar jadi artis dadakan?"
‘Lah? Kan, tidak ada media yang menyebut namaku? Masa iya, dari Mas Panca?’ Ia menelan ludah. "Kakek... tahu dari Sayf?" tebaknya ragu.
"Kau ini Cucu sembrono! Punya rahasia sebesar itu tapi ndak mau cerita ke Simbah!" omelnya sembari duduk bersila di atas lantai.
“Cucunya siapa dulu?” Wildan meringis.
“Gemblung! Wis! Matikan semua lampu kamar!" pintanya galak.
Tanpa bertanya, Wildan mematikan lampu lewat remot di dekatnya. Ia turun, lalu duduk menghadap sang kakek.
"Wil, panggil mbah Sayf," perintah si kakek lagi.
“Sayf?” Sedetik setelah Wildan memanggil, sang harimau putih bermata menyala muncul dari sudut ruangan. Sepasang mata menyalanya terang dalam gelapnya ruangan kamar.
Dalam kegelapan kamar, pria sepuh berjenggot putih merogoh saku celana hitam. ditunjukannya buntalan kain putih seperti kain kafan. Mbah Abdul Wahid mulai memejamkan mata seraya merapal mantra.
“E-eh, Mbah? I-ini mau main jelangkung?” tebak Wildan spontan.
Melotot pada sang cucu, Mbah Abdul Wahid berhenti merapal sesuatu kemudian menanggap, “jelangkung gundulmu! Wis! Diam dulu!”
Hawa kamar hotel mendadak berubah aneh, membuat bulu kudu pemuda berkaos hitam berdiri. ‘Helah, merinding disko!’
“Ini, namanya Wiji Gligen.” Selesai merapal doa, Mbah Abdul Wahid membuka bungkusan kain kafan tersebut. Di sana terdapat bulatan bening sekecil kelereng. "Nah, Wildan. Ikuti aba-aba Simbah," pintanya mendekatkan batu itu pada Wildan.
"Baik.” Wildan menarik napas dalam-dalam.
"Pertama-tama, tenangkan pikiranmu. Tapi jangan niatkan untuk menghentikan waktu," ucap si kakek.
Wildan kembali membuka mata. "Kakek tahu tentang kemampuanku?"
Cet!
Mbah Abdul Wahid menjewer telinga pemuda beralis tebal. "Sampingkan hal itu!” serunya melepas jeweran. “Sekarang dengarkan aba-aba kakekmu ini!"
"Nggih, Mbah...." Wildan menutup mata. Pemuda berusia delapan belas tahunan terus terpejam sebelum mendengar aba-aba pria sepuh di hadapannya.
"Setelah merasa tenang, dan tiba-tiba kau berada di tempat lain, jangan terlalu terkesima, jangan terlalu kaget, jangan terlalu takut, dan jangan terlalu senang," jelas si kakek. "Sekarang, genggam tangan kakek dengan tangan kananmu."
Wildan mengangguk dan menempelkan tangannya ke telapak tangan pria tua yang sedang membawa batu bening, atau yang disebut Wiji Gligen. Mulut si kakek berkomat-kamit, membaca doa, lirih. Ia tetap membuka mata. Sementara itu, tubuh Wildan bergetar, ia mulai mendengarkan dengungan seperti suara lebah – bergemuruh di kedua telinga. Ada pertempuran batin, untuk membuka mata dan memastikan dirinya baik-baik saja.
‘Tenangkan dirimu, Wildan. Tak apa, tenanglah,’ ucap Sayf lewat telepati bermaksud menenangkan pemuda berkaos hitam.