Mengerjapkan mata tiga kali, Wildan tebelalak mendapati dirinya tengah duduk bersila di tengah hutan belantara. Bukan sekedar perubahan tempat yang membuatnya heran – tapi juga tanaman-tanaman di sekitar tampak asing dan indah. ‘Aku... di mana?’
‘Wildan? Kau dengar?’ suara sang kakek menggema di kepala serupa telepati jarak jauh.
‘Ya, Mbah? A-aku di mana, Mbah?’ sahutnya berdiri.
‘Ingatlah, Nak. Apapun yang kau lihat di sana, tetaplah berjalan dan cari sebuah candi! Lurus dan ikuti saja jalan setapak di dekatmu! Kau dengar?’
‘Nggih, Mbah!’ sahutnya setelah melihat sebuah jalan setapak di antara pepohonan. Pemuda berkaos hitam itu terpana pada beragam jenis kupu-kupu yang bersayap menyala layaknya lampu hias. ‘Eh? Itu... kelinci, ya? Ta-tapi kok...’ Wildan berhenti sejenak memandang seekor kelinci bertanduk unicorn yang tengah menyantap buah jengkol.
‘Wildan! Jalan!’ seru sang kakek lagi.
‘Ya Alloh, nggih, Mbah! Wong cuma lihat sebentar kok ya...’ gerutunya tanpa buka mulut.
‘Waktumu terbatas! Kau ini! Dibilangin sama Simbah sendiri kok ngeyel! Mau kau Simbah kutuk jadi batu biar kaya si Malin Kundang! Ha!’
Mendengar sang kakek yang membentak, membuat pemuda bercelana hitam panjang lanjut menyusuri jalan setapak di tengah hutan. ‘Nggih, Mbah... mboten...’
Udara di tempat Wildan berada benar-benar sejuk. Angin pun berembus lembut, membuatnya betah berada di sana. ‘Kupu-kupunya... kelincinya... dan pohon-pohon ini... sebenarnya ini di mana, Mbah?’
‘Jalan saja cepat! Tanyakan nanti kalau sudah kembali!’
‘Hmmm... punya Simbah yang jomblo kok bawelnya lebih-lebih dari pacar, ya,’ gerutunya dalam hati tak berniat mengutarakannya langsung.
‘Heh! Awas kau ya! Dikira Simbah ndak dengar!’
‘A-ampun, Mbah!’
*
(Parkiran mobil Hotel Gilimanuk, Bali)
Mendengar seseorang mengucap salam dari belakang, gadis saro matang berkerudung hitam terkejut terkejut ketika lelaki berbusana putih lengan panjang berdiri tepat di belakangnya. “Wa-waalaikumsalam?”
Ki Panca, dengan balutan sarung putih di bagian bawah, melempar senyuman pada gadis asal Sunda. "Apa saya membuatmu kaget, nduk?"
"Ti... tidak, Pak," balasnya ragu dengan senyuman.
"Kamu sudah mau balik?" Ki Panca bertanya.
Laras mengangguk. “I-iya, Pak.”
"Tadi pagi ada ribut-ribut apa ya, di pantai?" Dengan mimik penasaran, Ki Panca bertanya.
Laras terdiam sejenak – bingung. Haruskah ia menjelaskan yang sebenarnya, ataukah pura-pura tidak tahu. ‘Ngomong-omong ini orang... siapa, ya?’
"Katanya, banyak orang-orang melihat pria kekar bawa besi besar? Apa ada korban?" tanyanya lagi.
"Iya,” jawabnya manggut. “Satu orang warga lokal sudah dibawa ke rumah sakit, dan sisanya hanya pingsan karena terkejut saja,” jelasnya.
"Sekarang, keadaan lagi ngeri, ya? Banyak musibah di mana-mana.”
"I-iya, Pak." Laras mengangguk kecil.
"Siapa namamu, Nduk?" Ki Panca bertanya.
"Rengganis Adistya Larasati," jawabnya tersenyum ramah.
"Wuih, namanya mirip istrinya Raden Kian Santang!" celetuk pria berhidung mancung. “Kalau jadi istrinya sahabat Raden Kian Santang, mau ndak?”
Entah bagaimana, wajah Laras jadi merah merona. Benaknya teringat wajah Wildan saat itu juga. ‘Kok... aku deg-degan ih!’
“Hahaha... ngomong-omong Laras punya saudara?”
"Iya, adik satu," jawab Laras tersenyum.
"Dua saudari manis-manis ya?" Ki Panca turut tersenyum.
‘Eh, apa aku bilang semua saudaraku perempuan?’ pikir Laras bingung.
“Benar, kan? Perempuan semua?" tanya Ki Panca memastikan.
Laras mengangguk ala malu-malu kucing. “B-betul, Pak.”
Ki Panca menghirup napas dalam-dalam. Raut wajahnya berubah serius. "Nduk, jika boleh saya beri saran, sepulang dari sini, pergilah ke tempat Nenek. Ambil jalan agar kau bisa membantu laki-laki yang kau anggap berjasa. Mungkin, sebentar lagi dia membutuhkan bantuan," sarannya.
Laras melirik ke kanan dan kiri, memikirkan apa yang dimaksudkan oleh sosok di sampingnya itu. Hingga gemuruh langkah kaki orang lain terdengar. Menoleh ke belakang, Laras melambai pada Ayah, Ibu, dan Adiknya.
Sukma berlari menghampiri sang kakak. "Si Teteh mah teu sabaran pisan! Dari tadi sendirian di sini, berani?"
"Tidak, Teteh ditemani...." Menghadap ke sisi kanan, gadis berkerudung hitam sama sekali tak menemukan sosok yang baru saja ia ajak berbincang. ‘Loh? Kok ilang?’
*
Setelah berjalan dan menikmati keindahan alam selama belasan menit, Wildan berdiri di depan hamparan tebing batu berlumut nan kokoh. Tanaman serta serangga-serangga unik, turut menghiasi bentangan batuan tersebut. ‘Ini...’
Drrreeeggg....
Batu besar yang ada di ujung jalan setapak, terbuka bagaikan ruang lift. ‘Lah? Terbuka? Sudah mirip pintu rahasia di film-film saja!’
‘Wildan! Apa lagi yang kau tunggu! Lekas masuk!’
‘I-iya, Mbah!’ Mendengar bentakan sang kakek, membuat Wildan melangkahkan kaki masuk ke dalam lubang gelap serupa gua. Pemuda berkaos hitam melangkah dalam kegelapan tanpa sedikit pun penerangan.
Tap... tap... tap... tap... tap... tap...tap... cet....
Langkah kakinya berhenti dikala kerumunan kunang-kunang bercahaya hijau toska berkumpul di sekitar tubuhnya. ‘He? Kunang-kunang?’
‘Di sini kau tidak memiliki kekuatan apa-apa, hanya kau seorang diri. Terdengar suara kakek menggema. Wildan Al Fatih, pilihlah jalan yang akan kau lewati. Biarkan nuranimu yang menuntun.’
Dlap!
Dalam sebuah ruangan serupa candi dari batuan tanah liat, cahaya para kunang-kunang hijau toska menerangi segenap penjuru ruang di mana Wildan berada. ‘Woaaah! Sughoi! Anime banget!’ celetuknya kagum.
‘Heh! Jangan terlalu kagum!’ omel sang kakek lagi.
‘I-inggih, Simbah Abdul Wahid yang tampan,’ sahutnya lesu.
Tap... tap... tap...
Wildan, ia kini mencermati empat buah gerang seperti pintu batu yang tertutup. Masing-masing pintu, memiliki ukiran berbeda dari satu yang lainnya. ‘Ini... apa?’ pikirnya menyipitkan mata.
Pada pintu paling kanan dariya, sebuah pintu berpahatkan kepala harimau berada. Sementara di dekatnya, pintu berelief laut, berada. Di sebelahnya lagi, pintu berukir api dan ular, sama seperti yang lain – masih tertutup.
‘Ingat, Cucuku! Biarkan nuranimu yang menuntun! Camkan itu!’
Menghela napas, Wildan mendorong pintu batu bergambar harimau. ‘Hngggh!’
Dddreeeggg...
Ketika pintu batu tersebut terbuka, dilihatnya hamparan padang rumput nan luas di dalam sana. Tak hanya itu, sesosok harimau jingga besar seolah tertidur dan menghadang di dekat pintu masuk. ‘Lah? Ma-macan?’ Baru ia maju satu langkah, sosok harimau belang sebesar gajah membuka mata dengan raut tidak senang.
Glek...
Wildan menelan ludah, teringat pesan sang kakek bila dirinya tak punya kekuatan apa-apa. Menoleh ke samping, Wildan mendekat dan langsung membuka pintu bergambar lautan.
Dreeeggg...
Tatkala pintu lebar terbuka, tampaklah bentangan laut dengan ombaknya. Angin pun dengan jelas meniup tubuh pemuda berkaos hitam beserta kunang-kunang di dalam ruangan candi ia berada. ‘Lah? Itu... lautan? Tapi kok...’ Ia menoleh pada pintu bergambar harimau di mana bentangan padang rumput menanti. ‘Arrgh! Jangan gampang heran! Wildan! Fokus!’ pikirnya menampar wajah sendiri.
Sadar bila melawan harimau maupun masuk ke dalam lautan bukanlah pilihan aman, ia menoleh pada pintu selanjutnya – pintu berpahatkan gambar api. Pemuda beralis lebat mulai mendorong pintu tersebut.
Drrrrreegg....
Blaaaarrr!
Di balik kobaran api tersebut, terhampar pepohonan rindang. Tapi hawa panas dari api yang menyala di dekat pintu, sangat jelas terasa bahkan membuat keringat Sang Titisan Cahaya bercucuran. Melirik ke bawah kaki, Wildan mengambil sebongkah batu, sejurus kemudian melemparnya pada kobaran api.
Swwuung!
Wildan tercengang tatkala batu tersebut hancur berkeping-keping sebelum menyentuh api di dalam sana. ‘Healah! Belum tersentuh batunya hancur!’ Dengan keraguan dan keterpaksaan, ia melirik pintu terakhir. Pintu berukirkan gambar ular.
Drreeeg!
Setelah ia membuka pintu paling ujung, badannya gemetaran melihat sesosok ular besar di tengah belantara hutan. Tanpa ia melangkah maju pun, si ular mendesis mewaspadai kehadirannya. ‘Aku benci ular!’ gerutunya dalam batin.
Drrreegg....
Memilih mundur, Wildan terdiam menatap empat gerbang yang masih terbuka bergantian. Ke-empat pintu di hadapannya serentak bergerak hendak menutup. Kejadian itu disusul oleh bentakan sang kakek, ‘Wildan! Waktumu sepuluh detik! Tenagkan dirimu! Cepat putuskan!’
Mengeratkan gigi, Wildan mulai menimbang, ‘bila aku maju ke arah sana, lautan itu terlalu luas. Aku tak melihat ujungnya. Jika aku menerobos ke arah api, mungkinkah aku bisa selamat? Sedangkan batu pun jadi abu sebelum menempel apinya!’ Ia menghela napas. ‘Aku juga tak bisa memperlambat waktu di sini!’
Pintu batu semakin menutup. ‘Di arah sana, ular besar itu menghadang. Lebih lagi... aku benci ular!’ Wildan bingung. ‘Apa yang akan di pilih oleh orang-orang lain jika ada di posisiku?’ Ia mengatur napas. Terdiam sejenak sebelum memantapkan langkah.
Dlap!
Ia melesat menuju salah satu pintu. ‘Saat tadi aku melihat harimau menghalangi jalanku, aku sempat ingin menerobosnya! Walau harus bertarung sampai mati, sepaling tidak aku berusaha!" Wildan melesat – berlari menerobos pintu batu.
Sang harimau pun mengambil posisi siaga mengetahui seorang manusia memasuki pintu batu yang dijaga. Ketika Wildan mendekat, ia pun turut berlari dan menerkam Wildan. “Grrrraaaaaaaar!”
Jlap!
Wildan menjerit kesakitan – merasakan nyeri tatkala taring tajam sang harimau belang menancap bahkan menembus paha kanannya. Makhluk itu mengayun-ayun tubuh Wildan sembari mendaratkan tapak bercakar hingga menggores wajah pemuda beralis lebat.
Pemuda berkaos hitam balik menyeringai jengkel. “Haaaargh!” Ia mulai menghantam-hantamkan kepalan tangan kanan pada wajah sang harimau jingga belang sebesar gajah.
Blaaaaag!
Wildan dilempar ke padang rumput lebar. “Haaargh!” Ia memaksakan diri berdiri.
Grrooaaaam!
*
(Hotel Gilimanuk, Bali.)
“Hwaaaa!” Yang Wildan ingat hanyalah taring tajam harimau jingga besar yang ia tantang. Setelah menjerit histeris dan membuka mata, yang ia saksikan adalah sebuah bola kelereng kecil yang memancarkan sinar terang putih hingga menerangi ruangan kamar tanpa pencahayaan lampu itu. Bola kelereng yang ia pegang hangat. Benda yang sama – Wiji Gligen. ‘Heee?’
Sang kakek segera menarik benda bulat tersebut seraya tersenyum setengah. "Sifat macan. Ganas pada lawan, jinak pada kawan. Sosok yang setia pada orang yang berjasa dalam hidupnya. Sulit melupakan pengorbanan dan jasa orang-orang yang pernah menolongnya. Mudah memaafkan, namun cenderung sulit mengampuni." Sang kakek menjelaskan.
Wildan terdiam dalam memahami kalimat kakek. ‘Eh? Kok... tapi ya... iya sih, ya?’
"Seorang pendekar yang siap mengabdi," lanjut sang kakek tegas. Mbah Abdul Wahid kembali membungkus bulatan tersebut dengan kain kafan. Cahayanya pun seketika padam. “Nyalakan lagi lampunya, Wil.”
Menoleh kemudian menggapai remot di sebelah, Wildan menekan tombol on untuk lampu ruang kamar. ‘Yang barusan itu... apa aku meraga sukma?’
"Mbah Sayf, Wildan, senjata apa yang ada pada benak kalian?" Mbah Abdul Wahid bertanya masih dengan berdiri.
"Pedang," seru mereka serempak.
"Tidak salah lagi, kalau sudah tumbuh keserasian pada diri kalian," ujarnya tersenyum.
"Kakek, sejak kapan Kakek tahu kalau aku mempunyai kemampuan itu? Dan sejak kapan kakek tahu tentang hal seperti ini?" Wildan segera bertanya ketika ia merasa mendapatkan kesempatan.
"Apa kau sungguh ingin tahu hal itu?" Sang kakek bertanya balik.
"Tentu!" jawabnya lantang.
"Kalau begitu, pergilah ke Keraton Pusat – Markas Pusat Pusaka Nusantara di Yogyakarta. Kau akan dapat jawabannya nanti," jawabnya.
Wildan terdiam. Ingin ia lontarkan seribu pertanyaan, namun apa daya. Sang kakek telah berucap. Ia tentu paham jika nekat bertanya, paling-paling kepalanya jadi sasaran pukul si kakek. “Hmmm....” Sejenak, mereka terdiam.
Sayf bangkit, mundur ke pojok ruangan. "Aku pamit dulu," ujar sang harimau. Ia melangkah menjauh. Menembus tembok. Kakek mengangguk.
‘Bukannya kau memang biasa datang dan pergi sesukamu tanpa pamit,’ pikir Wildan.
"Oh iya nak, bagaimana hubunganmu dengan si gadis sawo manis itu?" Sang kakek menggoda.
"Sawo? Maksudnya?" Wildan memastikan.
“Mendiang Ibumu itu juga orang Sunda, loh! Kakek Buyutmu juga istri pertama, kedua, ketiganya juga orang Sunda.” Si kakek tertawa kecil.
“Heh? Lah? Maksudnya... La-Laras? Apa Simbah kenal dia? Lah, kan aku belum pernah cerita?”
“Heh! Simbahmu ini mudanya dijuluki dukun! Wong sudah tua begini saja masih bisa hajar kamu, kok!”
Wildan mengerutkan pipi dekat bibir. ‘Hmmm... kalau tadi bisa hentikan waktu, bisa-bisa aku kelepasan hentikan waktu dan tusuk Simbah pakai cakar!’
Mbah Abdul Wahid yang mendengar apa yang sang cucu pikirkan, langsung ambil kuda-kuda silat. “Hee? Masih berani kamu?”
“Ti-tidak! Ndak, Mbah! Ndak! Suer tekewer kewer!” sahutnya panik. “Hmmm... Laras, sepertinya sehat,’ jawabnya lagi. ‘Semoga,’ pikirnya mengingat gadis tersebut pagi tadi.
"Lalu, kabar gadis cantik, pendek genit itu, bagaimana?" Sang kakek kembali menggoda.
"Diana?" Wildan memastikan.
"Tentu, kan cuma dia perempuan yang berani memelukmu terang-terangan, selain yang dulu." Sang kakek tertawa sedikit.
‘Simbah benar tahu kalau aku berpelukan! Padahal aku tidak memberitahunya! Ahh! Apa jangan-jangan gara-gara pas itu aku mau ciuman, ya?’ Gerutu Wildan dalam hati. "Diana, sehat juga. Tapi sudah lama aku hilang kabar dengannya. Ponselku kan rusak," jawab Wildan lirih.
Mbah Abdul Wahid menjewer telinga kanan lelaki berkaos hitam seraya berkata, “dasar ganjah! Sukanya rusak barang! Boros! Duit saja masih minta kok suka rusak barang sendiri!”
“A-aduh! Mbah! Ampun! Mbah! Aduh!”
“Hmmm... dasar cucu mbeling!” celetuk sang kakek.
Setelah beberapa detik berlalu dalam keheningan, Wildan teringat pada tempat indah yang begitu memikat. “Mbah, ngomong-omong tempat yang tadi itu... di mana?”
“Kenapa? Kau pengen ke sana?” Alis kanan Mbah Abdul Wahid naik.
“Eh? Emangnya bisa, Mbah?” tanyanya kaget. “Atau jangan-jangan, itu alam gaib?”
“Pulau tadi itu bukan ada di dimensi alam jin.” Sosok berjenggot tersebut menghela napas. “Yang tadi itu, adalah sebuah tempat bernama...”