Pantai Slamaran dan Ular!

2719 Kata
‘Tempat ini....’ Wildan merenung sejenak memandang situasi familiar. Hamparan luas hutan terpampang di bawah gunung. Ia menemukan dirinya tengah berpegangan erat pada salah satu batu dari tebing yang cukup terjal dengan bebatuan berjajar tak rapi. Otot dan pembuluh darah lengan kanan dan kiri tampak jelas. Pemuda berbadan kekar yang hanya berbalut celana hitam panjang, mengejam menahan agar tak jatuh ke bawah jurang curam. Pasalnya ia berada setinggi puluhan meter di atas permukaan tanah. Sesosok gadis dengan kerudung putih memeluknya erat dari belakang, dari wajahnya terlihat jelas ia takut pada ketinggian. “Wildan?” panggilnya lirih dengan tubuh gemetaran. “D-Diana?” Wildan yang mulai sadar pernah dalam keadaan serupa, mulai curiga pada apa yang ia alami saat ini. “T-tunggu! Di-Diana! Apapun yang terjadi, jangan lepaskan aku!” serunya panik dengan hati berdebar. Air mancur nan keruh secara tiba-tiba menyembur keluar dari tanah yang ada pada kaki gunung, terus terangkat naik dan membentuk parit yang melingkari gundukan tanah penuh bebatuan. Sebagian air menyapu – menumbangkan pohon-pohon sekitar. “Wildan, kau naik saja sendiri. Aku tak sanggup lagi,” keluhnya lirih dengan dekapan tangan yang mulai kendur. Cet! “Aku sudah bilang! Apapun yang terjadi, jangan lepas!” Wildan spontan melepas pegangan dari batu di atas, memilih mencengkam erat tangan gadis berbusana putih yang ia gendong. “Bertahanlah!” serunya mengejam. “Wil... dia hanya menginginkanku,” ucapnya lirih. “A-apa maksudmu! Siapa yang mengingin-” Shhhssssh! Sepasang mata merah menyala dari parit air keruh terlihat makin besar diiringi dengan desisan sesuatu yang terdengar disusul seonggok kepala ular hitam raksasa mencuat dari sana sembari membuka mulut. Lidah ularnya menjulur-julur keluar sebelum membuka mulut lebar hendak melahap mereka. ‘Dejavu?’ Wildan memijakkan kaki kanan kuat-kuat tuk melejit ke atas. “Huuungh!” Nahas, batu di tebing yang ia pijak justru lepas – terguling jatuh ke bawah dan masuk pada mulut sang ular raksasa. Srraaaaag! “Haaargh!” Pemuda kekar bercelana hitam panjang terperosok dengan Diana pada gendongan. Tangan kanan-kiri lelaki bermata coklat itu mencengkam kuat tebing – tak peduli meski kukunya berdarah-darah. “Huuuurgh!” “Wil, tetaplah hidup demi mereka yang memerlukanmu,” ujar si gadis berbibir tipis lemas sebelum melepas dekapan – memilih terjun bebas meninggalkan Wildan yang bergelantung pada batu tebing. Sadar bila beban berat yang ia bawa tak lagi terasa, ia terbelalak dan cepat-cepat menoleh ke belakang. “Tidak!” serunya keras.   * (Gerbong Kereta Jurusan Jawa Timur-Jawa Barat.) “Diana!” Wildan terbangun dari mimpi buruk yang persis seperti beberapa waktu lalu. Akibat jerit histeris pemuda berkaos hitam, orang-orang di dalam gerbong pun menoleh heran. “Eh?” Ia menyapukan pandang pada para penumpang lain. ‘Mimpi itu lagi?’ “Perhatian, perhatian. Pemberhentian berikutnya, Stasiun Pekalongan. Next Station, Pekalongan Station. Harap bagi para penumpang untuk memperhatikan barang bawaannya, terima kasih.” Mendengar suara pengumuman pemberhentian, membuat Wildan celingukan. “Duh! Ya Alloh!” gumamnya menepuk jidat. ‘Kok bisa kelewatan! Kan aku disuruh Simbah berhenti di Stasiun Jogja!’ ‘Sebaiknya kau pulang dan beristirahat, Wildan. Ragamu sepertinya kelelahan setelah menghadapi pertarungan bertubi-tubi. Belum lagi, jiwamu. Meski kau punya Cakar Putih Pajajaran, tetapi bukan berarti kau tak punya batasan,’ ucap Sayf yang baru saja muncul dalam keadaan tembus pandang. Lelaki bermata coklat berdengus kesal, beranjak dari kursi guna menuruni gerbong kereta. ‘Ah! Kau kebiasaan! Kenapa kau tak bangunkan aku saat tiba di Jogja!’ sahutnya sebal. ‘Raden Panca mengingatkanku untuk tak mengganggu tidurmu jika tak ada bahaya,’ tanggap sang khodam harimau seraya melangkah mengekor. “Hilih! Apa kau tak tahu bagaimana bahayanya kalau Simbah tahu aku tidak langsung pergi ke Markas Pusaka Nusantara!” gerutunya lirih sembari menuruni gerbong. ‘Meskipun dia galak dan kadang memukulmu, bukan berarti dia tak menyayangimu.’ Wildan menghela napas, menggaruk-garuk rambut belakang. “Hadeh! Iya deh, iya!” keluhnya berjalan keluar. ‘Eh, sebentar!’ Laju langkahnya melambat saat sesosok pria familiar tengah duduk menikmati secangkir kopi di teras mushola dekat pintu masuk stasiun. “Ngger!” Ki Panca dengan busana putih lengan panjang, memanggil seraya melempar senyum. Mendekat dan menempelkan bibir pada punggung tangan sang guru saat menjabat tangan, Wildan tersenyum semringah. “Di sini, Mas?” “Sini, duduk sebentar,” pintanya menepuk pelan lantai putih di hadapan. “Mas Panca... menunggu saya?” terkanya. ‘Kalau iya, berarti beliau tahu aku bakal ketiduran dan blabas ke Pekalongan, kan?’ Manggut kecil, Ki Panca bertanya, “apa masih lelah?” “Heheh... sedikit, Mas. Ada apa, ya?” “Istirahatlah dulu. Besok, kau masih meliburkan diri ke sekolah, kan?” “Mmmm... besok, kebetulan minggu sih, Mas. Apa... ada hal yang bisa saya lakukan?” “Besok, kamu ke Pantai Slamaran, ya?” pintanya lembut. * (Kediaman nenek Laras, Kabupaten Garut, Jawa Barat.) “Tumben sekali kamu mampir pagi-pagi sendirian, Teh?” tanya sang nenek pada gadis berkerudung coklat. Laras yang dibalut gamis dan rok hijau panjang, tersenyum memandangi secangkir teh yang sang nenek sajikan. “Muhun, Nek. Anu...” Wanita sepuh berkerudung warna krem tersenyum sejenak menatap sang cucu. “Semalam, Nenek mimpi ketemu mendiang Kakek.” “Terus, ada apa, Nek?” tanya si gadis sawo matang penasaran. “Berapa usiamu sekarang, Teh?” cegat sang nnek sebelum menjelaskan. “Mmmm, masih enam belas tahun, Nek. Beberapa bulan lagi baru tujuh belas tahun,” jawabnya lembut. Menghela napas, sang wanita berkulit putih dengan keriput dan kantung mata, mulai menjelaskan, “ketika seseorang menginjak usia tujuh belas tahun, biasanya akan ada peningkatan secara spiritual atau kebatinan.” Sang nenek menoleh pada dinding di sisi kiri, di mana sebuah foto mendiang suaminya berdiri mengenakan kemeja lengan panjang dengan sarung putih. Kepalanya dibalut sorban putih. “Almarhum Kakekmu, sudah secara turun-temurun menjadi pelatih bela diri di daerah Garut. Ayahmu, sebenarnya juga mempelajari hal-hal begitu. Tapi karena suatu hal, Ayahmu membuang sebagian anugerah yang dititipkan Kakekmu.” Dahi Laras mengerut. “Titipan apa, Nek?” “Sudah dari zaman penyerangan bangsa Belanda dan Jepang, leluhur-leluhurmu ikut serta dalam peperangan mempertahankan tanah air.” Ia kembali menatap wajah gadis berhidung mancung. “Tapi setelah peperangan berhenti, tidak ada keturunan dari leluhurmu yang mengamalkan semua ilmu itu.” “Anu... terus apa kaitannya sama mimpi Nenek semalam?” Napas berat ia buang, ada rasa tak tega tuk mengatakan, “beliau berpesan, kalau kau sudah siap untuk meneruskan apa yang seharusnya diteruskan.” “Mmmm... maksud Nenek?” Laras masih dipenuhi tanda tanya – tak mengerti apa yang sang nenek maksudkan. “Keula,” ucapnya beranjak dari duduk – berjalan menuju kamar meninggalkan Laras seorang diri di ruang tamu depan. Laras meminum teh hangat manis yang sudah dibuatkan. ‘Ngomong-omong soal mimpi... aku juga semalam bermimpi, sih!’ Duduknya bungkuk condong ke depan. ‘Aku berjalan seorang diri di hutan. Kemudian, ada seseorang menggandeng tanganku. Anehnya, hutan yang semula gelap jadi terang. Dan tanaman di sekitar juga bermekaran. ’ Ia menghela napas. ‘Tapi, hutan itu kembali gelap saat orang itu meninggalkanku, dan menggandeng perempuan lain. Padahal aku tak kenal siapa mereka.’ Perempuan sepuh berkerudung krem, muncul membawa sebuah buku tipis berwarna coklat. Ia duduk dan menyodorkan benda tersebut pada sang cucu. “Bacalah,” pinta sang nenek. “Ini, buku apa, Nek?” Laras membuka lembaran demi lembaran buku berisikan gambar gerakan kuda-kuda bela diri serupa silat. “Namanya Kitab Cidewa Hideung. Kitab itu, tidak boleh disalin dan diambil gambarnya. Tadinya, kitab itu dipegang oleh Ayahmu,” ungkapnya. “Kitab Cidewa Hideung?” Gadis berkerudung coklat terus membuka lembaran demi lembaran. “Tapi, kenapa Ayah kembalikan ini ke tempat Nenek?” “Ayahmu... dulu sempat dipalak oleh preman-preman pasar. Dia dikepung oleh sepuluh orang,” jelasnya mengingat-ingat wajah sang putra sulung. “Ayahmu yang nyaris ditikam, mau tak mau melawan. Dan satu pukulannya, membuat preman paling besar terpental belasan meter hingga muntah darah. Beruntungnya, dia masih selamat – tidak sampai tewas. Dan sejak itu, ia berhenti melatih bela diri dari kitab tersebut.” Laras manggut-manggut, memahami apa yang sang nenek sampaikan. ‘Tapi... apa Bapak benar-benar sudah lupa semuanya? Waktu di Bali kemarin, kenapa Bapak tidak melawan orang dengan gada itu?’ * (Pantai Slamaran, Pekalongan, Jawa Tengah.) Wisata dengan panorama pantai memukau, jadi tempat yang ramai oleh muda-mudi di hari libur. Tak hanya padat oleh pasangan muda-mudi, ibu-ibu rumah tangga pun turut menikmati sepoi angin pantai bersama sanak keluarga. Teriknya sang surya justru membuat mereka riang bermain di air asin. Dita, atlit Karate dari SMA Kota Pekalongan memakai celana panjang bahan jeans dan kaos merah muda. Rambut ala kuncir kudanya tertiup-tiup angin pantai. Tawanya begitu riang saat bermain air bersama pemuda berkaos hitam – Alif. “Alif! Dih! Hentikan!” seru Dita tersenyum ketika pemuda bercelana jeans dengan kulit gelap mencipratkan air laut ke wajahnya. “Katanya kau suka yang aisn-asin! Nih air laut!” sahutnya girang. Sudah berminggu-minggu ia tak menghabiskan waktu bersama perempuan yang ia taksir itu. “Rasanya sudah lama tidak bermain air,” gumam Dita menatap ombak, pasrah ketika Alif terus menerus menyiram badannya. Berhenti dan turut memandang cakrawala pertemuan laut dan langit, Alif menghela napas. ‘Aku harap ini bisa membuat kita lupa pada malam mencekam di Gunung Lawu.’ “Sepertinya aku memang butuh healing.” Celetuk Dita menunduk malu. Pria mancung hitam menatap ombak. Ia tersipu malu, tak menoleh pada gadis yang sudah ia suka sejak awal berjumpa. ‘Yah, aku juga lama tidak bersenang-senang begini.’ “Apa luka di lenganmu sudah sembuh?” Dita menoleh pada pemuda berkaos hitam dengan gambar puma di punggung. Memegang anggota badan yang dimaksud, Alif tak tersenyum. “Tidak apa, kau sendiri bagaimana?” “Syukurlah.” Dita meraba lengan yang sempat digores oleh sang dukun. “Lukaku masih sedikit sakit, sih. Tapi sepertinya bakal sembuh cepat.” Canggung karena sentuhan pemuda sepantaran, Dita balik badan. “Ayo, cari tempat teduh. Di sini sudah panas.” * (Kediaman Diana, Kota Pekalongan.) Wildan berdiri di depan pintu rumah kekasihnya. ‘Rasanya sudah lama aku tak mampir ke sini. Padahal, dulu pas awal jadian hampir tiap hari aku mampir ke sini,’ pikirnya memejamkan kedua mata. ‘Tapi, apa perlu menceritakan semuanya? Dia memang sudah mengalami hal berbahaya akibat orang-orang itu...’ Dalam wujud tembus pandang, Sayf sang harimau bermata menyala, muncul di samping kanan pemuda bercelana training hitam. ‘Gadis itu ada di dalam, Wildan. Kenapa kau bingung begini? Apa alasanmu bertemu dengannya?’ “Aku hanya ingin melihat keadaannya saja.” Di depan rumah yang besar dan megah, pemuda berkaos putih diterpa rasa ragu. ‘Kalau begitu, kenapa ragu?’ sahut sang khodam seraya menjilat-jilat telapak kaki depan. “Kau benar.” Memantapkan hati, pemuda beralis lebat melangkah maju bermaksud mengetuk pintu. Kriiet... Belum sampai Wildan mengetuk pintu, seorang bocah berkaos kuning membuka pintu dari dalam. Matanya mengamati wajah Wildan. Wajahnya yang semula kaget, berganti jadi sebal hanya dalam beberapa detik. “Cari siapa?” Ia tak menyangka bila adik kecil yang biasanya ramah menyambut, memasang wajah ketus. “Eh? Anu... Mbak Diana, ada?” “Nggak! Mbak Diana nggak ada! Mas Wildan bikin Mbak Diana nangis terus! Pulang saja sana!” teriaknya jengkel. Deg! Wildan diam membisu mendengar kata-kata bocah berusia delapan atau sembilan tahunan di depannya. ‘Diana... menangis?’ Drap... drap... drap... drap... drap... Derap langkah kaki seseorang terdengar dari tangga turun. “Heee! Ada apa sih! Kamu teriak-teriak kena-” Kalimat Diana terpotong setelah menuruni tangga. Gadis dengan rambut panjang berbalut piyama, termangu melihat kemunculan lelaki yang ia nanti. Melirik tajam pada sang kakak, bocah berambut cepak itu berkata, “awas aja kalau Mbak Dian nangis gara-gara Mas Wildan lagi!” celetuknya kesal sebelum pergi ke kamar. “Wildan?” sebutnya lirih. “H-hai,” sapanya lesu. Ucapan menohok adik Diana benar-benar mengena. “Mmmm... mau masuk dulu?” tawar Diana ragu. Wildan manggut. Ia berjalan di belakang gadis yang masih ia suka dari belakang – menuju sofa ruang tamu. Sayf sang harimau bermata menyala pun, ikut masuk mengikuti Wildan. Kepalanya mendongak ke atas, ke lantai dua di mana kamar Diana berada. Setelah duduk, gadis bermata jernih menatap Wildan yang malu-malu. “Wildan... a-apa kau sehat?” Pemuda berkaos putih menghela napas panjang – tetapi berniat menyampaikan sebagian rahasia tanpa pikir panjang, “aku terpaksa bilang begitu, karena permintaan Kakek. Entah sudah seberapa banyak hal berbahaya yang kau alami, tapi yang jelas... hidupku sekarang sudah tidak akan sama lagi,” jelasnya menunduk setelah duduk. Gadis berpiyama mendekati pemuda berambut lebat, menatapnya penuh iba. “Apa yang membuat orang-orang LHA mengejarmu? Dan... apa yang sebenarnya terjadi di Gunung Lawu?” Laki-laki berkaos putih menunjukan tangan kanan. Ia memanggil pusaka legendaris guna membalut tangan. “Benda ini,” jawabnya lirih. Diana terbelalak melihat sebuah pusaka yang mirip seperti gambar di buku tua pinjaman Anisa. “I-itu...” “Aku tak memaksamu percaya, tapi benda inilah yang membuatku diincar oleh orang-orang dari luar negeri. Tak hanya itu, aku juga terlibat dengan makhluk yang menimbulkan kehancuran di Kota Jakarta.” “Wildan...” Diana kehabisan kata-kata. ‘Apa mungkin... pendekar yang diramalkan oleh buku itu, adalah dia?’ “Sejujurnya, aku merasa cinta dan sayangku makin besar. Aku ingin selalu bersama denganmu. Tapi... keadaan membuatku un-” Grep! Diana memeluk Wildan cepat-cepat. Sepasang matanya berkaca-kaca. “Kau tidak perlu berkata gombal agar aku tetap menyayangimu.” Wildan tergerak memeluk balik gadis itu. Bukan nafsu, melainkan rasa sayang dan takut kehilangan yang membuatnya tergerak. “Diana, aku benar-benar menyayangimu.” “Aku memang tidak mengerti banyak. Yang jelas kau harus bertanggung jawa karena sudah membuatku benar-benar sangat menyayangimu,” ungkapnya mengeratkan dekapan. ‘Aku terlalu bucin untuk melepasmu, Wil,’ batinnya. Ia mengelus rambut panjang di ubun-ubun kekasihnya. “Aku juga menyayangimu.” Ia menghela napas. “Setelah dari sini, aku akan langsung berangkat,” bisik Wildan seraya melepas pelukan perlahan. “Ke mana pun kau pergi, di mana pun itu, jangan lupa untuk memberikan kabar padaku,” pinta Diana. Wildan mengangguk kecil. “Tentu.” “Janji?” Nada Diana manja. Wildan menarik napas panjang. “aku tidak berani berjanji, tapi akan aku pastikan itu.” Gadis berpiyama tersenyum semringah dibuatnya. “Kalau begitu....” Diana melepas jam tangan silver yang mengikat pergelangan kiri, sejurus kemudian menyodorkannya pada pemuda yang masih ia anggap sebagai kekasih hati. “Pakai ini, ya?” Wildan dengan ragu menerima benda tersebut. “I-ini... ta-tapi, Di-” “Lihat aku saat kau merindukanku, agar kau tahu kalau aku di sini juga selalu memikirkanmu,” ucapnya tersenyum manis. * (Pantai Slamaran, Kota Pekalongan.) “Sepertinya hanya ada dua pemuda berdarah pendekar saja, ya?” Pria berjubah hitam muncul dari samping Dita dan Alif yang tengah duduk di kursi kayu dekat pepohonan pinggir pantai. Deg... Menoleh akibat rasa ketakutan misterius mencuat, Dita dan Alif menoleh serentak. Wajah sosok tersebut tertutup bayangan penutup kepala – hanya mulutnya saja yang sedikit tampak. Pemuda berkulit gelap merasakan nuansa berbeda dari sosok berjubah hitam misterius tersebut. Langkah sosok berjubah hitam agaknya pincang. Ia terus melangkah, meninggalkan Dita dan Alif.  “Kalian mau jadi penonton pertunjukan, atau pemeran pertunukan?” Ia melangkah ke arah deburan ombak. Menjadi pusat perhatian karena penampilan, sosok tersebut terlihat masa bodo. Senyumnya diiringi kekehan, “heh, eheheh....” “Kalian para manusia banyak lupa pada sejarah negeri berjuluk Nusantara! Kalian berlindung di ketiak sebuah perjanjian leluhur tanpa menjaganya! Kalian bahkan lupa pada adat menghargai semesta dengan tindakan-tindakan kalian!” Ia berhenti ketika air laut merendam lutut. “Maka sudah seharusnya, kalian menerima karma!” Pria berjubah hitam mencabut keris dari balik kain hitam penutup badan. Jlep! Ia menancapkan senjata tersebut ke arah pasir di bawah. Suara yang keluar dari tenggorokan, bernada seperti dalang pagelaran wayang. “Ooo dedemit ibu laut! Tangio! Murko! Panganen kabeh manungso!” Ia seolah merapalkan mantra. Dita, Alif dan beberapa pengunjung pantai terus memperhatikan sosok itu, hingga gemuruh petir bersama awan gelap, melayang menyelimuti langit. Angin yang tadi menyapa lembut, kini berganti berat. Entah bagaimana, suara cekikikan terdengar dari dekat. Suara itu seolah menjauh. Makin samar, dan lalu terlihat seperti benda putih melayang-layang dari atas langit – berseliweran kian mendekat. Alif beranjak dari kursi kayu. ‘Rasa ini... mirip seperti saat kejadian di Gunung Lawu!’ pikirnya cemas. “Hihihihih!” Puluhan kuntilanak terbang ke arah pantai, disusul dengan munculnya ular-ular sepanjang lima belas meter dengan ukuran badan raksasa, muncul dan merayap menuju daratan. Selain ukuran beberapa sosok yang begitu besar, beberapa ular di sana memiliki kepala dan badan manusia. Dita menelan liur, terpana pada apa yang mata kepalanya saksikan. “Si-siluman?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN