Pantai Slamaran dan Ular! (Bag. 2)

2004 Kata
(Pantai Slamaran, Pekalongan.) Histeria masal pecah akibat kemunculan belasan kuntilanak dan siluman-siluman ular. Para pengunjung pantai berteriak, lari berhamburan menjauhi pantai. Beberapa jatuh pingsan, termasuk para wanita dan balita. Alif spontan mengangkat tubuh salah satu gadis kecil yang tak mau di mana keluarganya, seraya berteriak, “Dita... lari!” serunya tanpa banyak berkata-kata sembari mengayuh kedua kaki menjauhi pantai.  Bukan jawaban iya yang ia dengar, justru jerit ketakutan penuh teror yang menggema di kedua telinga. Setelah beberapa meter berlari, ia menoleh ke belakang. “D-Dita...” Netra pemuda mancung berkulit gelap terbuka lebar.  Dita, gadis berkaos merah muda dengan balutan celana jeans tengah dililit sesosok ular phyton raksasa. Melata itu membuka mulut dan bersiap melahap kepala mangsa. “Dita!” teriak Alif spontan. Ia masih menggendong gadis kecil yang terkapar pingsan. Tep! Seorang pemuda berjaket coklat dengan rambut terikat karet ala Mikey sang tokoh film jepang, menepuk pundak Alif dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya erat memegang keris. “Mas, larilah! Biar kami yang urus situasi ini!” anjurnya melempar keris berluk lima ke kepala sang hewan melata.  Jlap! Keris tajam tersebut berhasil mengurungkan niat sang siluman ular mematuk Dita. Ia menggelepar kesakitan dengan keris yang terpaku di salah satu mata. “Shhhaassh!”  Pemuda berjaket coklat mulai berlari mendekati ular besar di dekat Dita. ‘Kang Raihan! Kau di mana! Aku rasa sesuatu yang muncul di Gunung Cikuray Garut, ada di sekitar sini!’ serunya bertelepati.  ‘Lah, Gusti! A-aku sedang mengejar... argh! Baiklah, Nji! Tolong tahan mereka sebentar, Nji! Aku segera datang!’  Panji Pradita Pranadipa, sang petinggi Pusaka Nusantara tersenyum seraya berkomat-kamit membaca doa. Ia menghantamkan tinju kanannya pada kepala ular raksasa hingga terdiam tak bergerak.  Blaaaag! Tubuh sang siluman berubah jadi hitam, sejurus kemudian tertiup oleh sepoi angin pantai. ‘Kau akan melewatkan kesenangan ini, dan membiarkan aku berkeringat sendiri?’ tanyanya lewat telepati. Mata belonya menyapu pada para siluman dan dedemit. “Baiklah!” serunya meregang-regangkan tangan saat para siluman dan dedemit mendekat.  Alif mulai memanggil gadis kecil di pundak kanan. Ia berlari menghampiri Dita yang tergeletak lemas untuk membawanya pergi. “Apa-apaan ini! Kenapa siluman dari chanel ikan terbang bisa sampai di sini!” gerutunya panik. Brraaalll! Dari dalam pasir di dekat bibir pantai, sesuatu mencuat – melompat keluar dari dalam bumi. Sesosok manusia bermahkota dan berperhiasan emas ala kerajaan, muncul dan mendarat di sana. “Mana manusia yang baru saja menghabisi prajuritku!” serunya geram. Rambut sosok tersebut digelung seperti sanggul. Tubuhnya kekar padat berisi.  Para siluman dan dedemit yang berkumpul, terdiam dan menatap Panji si pemuda berjaket coklat, seolah mengisyaratkan siapa yang membunuh sosok siluman barusan.  Mencabut keris dari kepala ular yang tinggal seperti abu hitam, Panji mengacungkan keris pada sang pria berbadan kekar. Tersenyum sampai-sampai menutup mata, ia berkata, “aku yang barusan menghabisinya! Salah kalian sendiri ingin menyantap manusia, kan?” Alif gemetar hebat hanya mendengar bentakan sang pria berbadan kekar. Ia bersusah payah menggendong badan Dita di bahu satunya. ‘Dia ini... siluman paling tua di sini, kah?’  “Mas keriting?” Panji berbisik lirih pada Alif yang ada di dekatnya. “Segera lari saat aku serang mereka. Paham?’  “I-iya! P-paham!” jawabnya gugup. Blusss! “Tebarkan ketakutan pada manusia-manusia!” Lelaki bermahkota emas masuk ke dalam bumi berlapis pasir.  Grap! Sebuah tangan nan kekar mencengkam kuda kaki Panji dari dalam tanah. Pemuda bermata belo lekas menoleh dan memerintah Alif, “Mas! Lari seka-” Kalimatnya terpotong saat tubuhnya ditarik paksa – masuk ke dalam bumi, meninggalkan Alif yang membopong Dita dan balita seorang diri.  Blaaak! Sesosok siluman ular berbadan atas manusia, dengan bagian bawah berupa ular, menyabetkan ekor pada punggung Alif. “Huuugh!” Ia terpental dan hanya memeluk balita yang tak sadarkan diri. “Dita!” Alif menjerit saat tubuh Dita hendak kembali jadi santapan sesosok manusia ular.  Dap! Wildan dengan kaos putih dan celana hitam muncul. Ia jongkok, menepuk bahu kanan Alif. Raut wajah Sang Titisan Cahaya serius. “Bawa anak itu pergi dari tempat ini! Aku yang akan selamatkan Dita!” ucapnya memejamkan kedua mata beriris coklat.  Ketika ia membuka mata, segalanya seolah mematung. Bahkan ombak di pantai pun seakan berhenti. “Bagaimana bisa siluman-siluman begini mewujud dan ingin menyerang manusia secara langsung!” gumamnya berlari menghampiri sesosok manusia ular yang hendak menggigit leher murid Karate-nya. Beruntung, pergerakannya terhenti sebab Wildan membekukan waktu. Sayf yang masih berada di dalam badan sang pemuda berkaos putih menerka, ‘sepertinya ada seseorang yang melakukan perjanjian dengan mereka dalam waktu singkat.’ Dlap! Wildan melompat tinggi, ia memukul dengan tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan pusaka besi bercahaya putih. “Hyaaaagh!”  Blaaag! Setelah tinjunya mendarat keras di kepala sang siluman ular, ia menyiapkan serangan selanjutnya. Tangan kanannya membentuk seolah seperti Karate-ka yang akan membelah bata. “Enyah kalian!” Ia mengayunkan tangan kanannya dan memutus tubuh si ular. Srrak... Wildan menutup mata dan mengatur napas. Ketika ia membuka mata, waktu kembali normal. Darah si reptil terpancar, menyemprot Wildan dan Dita. Sang pemuda berambut lebat segera menggendong Dita yang pingsan tanpa kesadaran.  Alif bingung sekaligus kaget melihat Wildan menepuk bahu kanannya, lalu tiba-tiba sudah berdiri di di hadapannya membawa Dita. Belum lagi, darah hitam yang mengering jadi debu dan tertiup angin. ‘Apa yang barusan terjadi?’ “Ayo lari!” Wildan berlari menggendong Dita, menuju jalan keluar pantai. Laju kakiya melambat setelah melihat seorang pria dibawah pohon besar. ‘Aku merasakan tekanan energi dari orang itu... siapa dia?’ Pria di bawah pohon tersebut, menancapkan keris dan terus berkomat-kamit. Pemuda tersebut memakai kaos putih dan sarung biru. Kulit pemuda mancung itu cokelat, dengan sedikit jerawat di wajah. Rambutnya emo. ‘Orang itu... membuat perisai gaib agar para siluman dan jin tidak mampu keluar dari pantai,’ ungkap Sayf. ‘Dia sepertinya paham bila ada sesuatu yang memberikan kekuatan pada para dedemit di sini agar bisa mewujud.’ Wildan berhenti, memutuskan menaruh Dita di bawah pohon teduh. “Lif, tolong bawa Dita pergi,” pintanya menarik napas seraya memejamkan mata. “Senpai mau ke mana?” Alif bertanya bingung sekaligus panik. Sekejap, ia terkejut melihat Wildan yang lenyap dari pandangan. “Di-dia, hi... hilang?” Sang Titisan Cahaya kembali berlari ke bibir pantai. Ia melihat puluhan kuntilanak dan para siluman tak bergerak akibat waktu berhenti. “Akan aku habisi mereka!” ‘Saranku jangan terlalu sering menggunakan kemampuan ini, ingatlah bila jiwa dan ragamu baru saja pulih,’ ucap Sayf. Jauh dari arena Wildan bertempur, tepatnya di bawah naungan pohon, sesosok pria berjubah hitam misterius tersenyum puas melihat kekacauan yang ia timbulkan. ‘Teruslah bertarung, Nak! Asal kau tahu saja, jumlah bangsa jin lebih banyak dari jumlah manusia! Heheheh!’ * (Kediaman Laras, Kabupaten Garut.) “Tidak!” Di ambang pintu masuk rumah, Ayah Laras berteriak pada sesosok pemuda berbusana adat Jawa. Lelaki berblangkon yang merupakan petinggi Pusaka Nusantara – Raden Ronggo Jati. “Aku sudah tak mau lagi terlibat dengan hal itu! Khususnya anak keturunanku!”  “Kami memang tidak akan memaksa siapapun, karena itu bukanlah hal yang biasa kami lakukan. Tapi kami, hanya ingin menjelaskan wasiat almarhum leluhur Anda dahulu.” “Kalau melanggar amanah leluhurku adalah dosa, maka biar aku yang menanggung dosanya! Aku saja sudah membuang Kitab Cidewa Hideung puluhan tahun lalu!” serunya melotot.  “Takdir tiap manusia, sudah diatur dan ditulis oleh-Nya. Jika seseorang ingin menghindari garis terbaik hidupnya, maka sang takdir yang akan membuat keadaan agar si manusia tetap menjalani garis-Nya.” “Takdir? Terbaik? Siapa Anda bisa bilang begitu! Aku Ayahnya! Aku yang tahu betul harus apa dan bagaimana! Aku tak akan mau bila putri sulung yang sudah lama aku rawat, harus merasakan pahitnya jalan itu!”  “Dengan menghindarkannya dari takdir lurus seharusnya, maka Anda sudah membuat putri Anda berada dalam kekeliruan,” sahut Raden Ronggo Jati tenang.  “Cukup dengan omong kosongmu! Kami tak seharusnya bertanggung jawab pada kekacauan yang terjadi di negeri ini!” “Pak?” Laras si remaja bergamis hijau dengan kerudung coklat, bersuara setelah beberapa menit berdiri agak jauh sembari mendengarkan percakapan orang tuanya. * (Pantai Slamaran, Pekalongan.) Braal! Seonggok kepala siluman ular kembali hancur oleh terjangan pemuda berkaos putih. “Mereka terus bertambah? Bagaimana bisa aku melawan mereka semua?” Wildan menghindari patokan dua ular besar. Ketika ular berkepala manusia itu maju membuka mulut, Wildan melompat maju dan memukul tepat di dahi sang monster hingga hancur berkeping-keping.  Bulir-bulir keringat mulai menetes membasahi kaos putih nan lembapnya. Wildan kembali bersiaga menatap kedua musuh yang maju ke arahnya. Ia memejamkan mata dan mengatur napas. Ketika ia membuka mata, mulut dua ular besar itu terbuka lebar dihadapannya. Waktu kembali beku.  “Haaaagh!” Wildan melompat ke atas, mendarat dan memukul kepala ular phyton raksasa. Ia segera meloncat ke kepala ular di sebelahnya dan melakukan hal yang sama. Braalll! Menoleh ke sebelah kanan, ke arah kuntilanak yang terdiam di udara. Wildan mengayuh kaki, melompat menerjang, memukul kepala si perempuan astral. Usai menyerang, ia mendarat di pasir. Kuntilanak dan ketiga ular itu ambruk. “Sayf.” Wildan tersengal-sengal. “Berapa jumlah mereka?” Wildan berlutut. Ia lemas, kakinya gemetar. Begitu pun dengan kedua tangannya. Matanya tertuju pada bibir pantai di mana belasan siluman ular terus bermunculan. ‘Ada sesuatu yang memberikan mereka kekuatan mewujudkan diri di alam manusia, Wildan.’ ‘Di mana itu!’ tanyanya menyapukan pandangan. ‘Aku tak bisa melacaknya karena pusaka ini... sepertinya memiliki daya gaib khusus.’ “Hadeh!” Wildan melompat mundur, mengelak dari serangan manusia berbadan bawah ular.  ‘Gunakan petir dari mustika itu untuk menyerang semua musuhmu, Wildan.’ ‘Ah! Benar! Kenapa tak terpikirkan!’ renungnya mulai menarik napas dalam-dalam. “Petir Mustika Naga Biru!” seru Wildan saat waktu kembali normal. Semua siluman di sana mendekat. Kuntilanak pun cekikikan dan bersiap mengarahkan kuku tajam mereka. Para pocong di sana pun terbang mendekat. Para ular phyton membuka mulut kembali, mereka menerjang. Dyaar! Petir menyambar dari tubuh Wildan. Petir itu mengarah kepada para siluman dan dedemit. Petir itu menyambar secara berantai, dari satu makhluk ke makhluk yang lain. Bahkan, petir itu pun menyambar keris yang tertancap di pinggir pantai – yang mana tertancap puluhan meter dari posisi Wildan berada.  “Grraaaaawgh!” Mereka semua menjerit, sekaligus terpanggang. Para ular dan makhluk-makhluk lain hangus, meninggalkan jasad yang gosong. Dari balik pohon, pria berjubah hitam yang semenjak tadi bersembunyi guna mengamati, terkejut dengan apa yang ia saksikan. “A-apa yang terjadi? Bagaimana mungkin dia bisa memakai Ajian petir sebesar dan sekuat itu? Mereka bertiga bahkan tidak menceritakannya padaku!” “Huuugh!” Wildan berlutut lemas. Kedua kakinya gemetar. Ia menyangga badan kekarnya menggunakan kedua tangan dan lutut. ‘Uuurgh! Sayf! Kenapa aku juga merasa seperti tersetrum!’ ‘Itu artinya, ketahanan mentalmu masih goyah dan belum bisa menggunakan kekuatan penuh dari mustika itu, Wildan.’ Bruk.... Wildan ambruk kelelahan. “Huuuff... kenapa badanku lemas begini!” ‘Siluman ular tadi lumayan kuat. Hebat kau bisa membunuhnya dalam sekali pukul,’ puji Sayf. “Entahlah, aku hanya mengikuti naluriku,” Wildan tersenyum lelah. “lalu petir apa barusan? Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal?” “Apa ada batasan berapa kali atau jeda untuk menggunakan petir itu, Sayf?”  ‘Tergantung dari kemampuan spiritualmu, Wildan.’ “Assalamualaikum?” ucapan salam menyela perbincangan mereka. Seorang pria bersarung biru dan kaos putih muncul. Di sisi kanannya, sarung keris beserta kerisnya terpajang. “Waalaikumsalam,” jawab Wildan. ‘Dia pria yang tadi menahan para jin, menggunakan perisai gaib, kan?’ tanyanya dalam hati. “Anda baik-baik saja, Kang?” Pria itu duduk dengan dua lutut, ia memegang punggung Wildan. Wildan merasakan sesuatu yang hangat mengalir ke dalam tubuh, dari tangan pria itu. Hangatnya menyebar ke seluruh pembuluh darah. “Iya, aku baik-baik saja,” sahut Wildan lemas. Tubuhnya terasa mulai ringan untuk digerakan. Wildan duduk.  “Kang? Sampean ini... Sang Titisan Cahaya, kan?” terkanya tersenyum. Wildan yang tak mampu menyembunyikan raut kaget, terdiam membisu. ‘Bagaimana dia bisa tahu?’  “Saya Bayu, santri Raden Panca. Lebih baik kita pergi dulu dari sini. Polisi mungkin akan segera datang. Aku akan menemuimu nanti malam. Dan lagi pula, bukankah ada yang menunggumu?” Ia menatap jasad para siluman yang lenyap. Begitu pula darah di wajah dan kemeja Wildan yang menghilang perlahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN