(Markas Pusat Pusaka Nusantara, Daerah Istimewa Yogyakarta.)
Dalam sebuah ruang gelap – hanya berbekal lentera jingga di langit-langit kayu, Raihan duduk menikmati sebatang lisong dengan busana serba hitam dan blangkon di kepala. Mata tajamnya tak beralih pandang dari lelaki jangkung pirang berhidung mancung yang diikat pada sebuah kayu. Sementara anggota badannya dibelenggu rantai besi nan padat. “Aku tak suka memperlakukan manusia sampai begininya. Apalagi aku sama sekali tak yakin kau melakukan semua itu dengan sengaja. Benar?” tanyanya sebelum meniup asap lisong dari mulut.
Lelaki pirang berbusana putih tersebut belum pernah sekalipun mendongak menatap Raihan. Tatapan matanya kosong. Barulah saat lelaki berjaket hitam berjalan mendekat, pemuda asing asal luar negeri bergumam lirih menggunakan bahasa inggris, “bunuh saja aku.”
Raihan menghela separuh napas seraya menyahut, “bunuh? Apa kau tak punya apa-apa lagi untuk diperjuangkan?”
“Bunuh aku... tubuhku sudah dikutuk. Aku tak punya pilihan selain membunuh atau dibunuh,” jawabnya lesu. Mata pria tersebut tak menampakan ketakutan maupun harapan – hanya kekosongan yang tersiar.
“Siapa yang mengutuk dirimu? Dan apa tujuanmu pergi ke negeri ini?”
Eskpresi wajah pemuda mancung yang sedari tadi datar, berubah takut tatkala teringat sesuatu. Ia mendongakkan wajahnya lirih – menatap lelaki berblangkon hitam. “Yang Mulia! Yang Mulia tidak akan membiarkanku bernapas bebas! Bunuh aku selagi sempat!” Napas pemuda pirang berderu-deru, seolah cemas pada suatu hal yang pernah memberinya trauma. “Bunuh aku! Bunuh aku saja!” rengeknya pada Raihan.
Tep!
‘Davis Trevor. Pemuda berusia 21 tahun asal eropa ini, dicurigai sebagai korban eksperimen laboratorium LHA. Meski aku belum pernah bertemu langsung dengan sosok makhluk gaib dari negeri lain, aku yakin getaran ini, sama seperti orang-orang yang memiliki ilmu hitam turunan leluhur. ’ Telapak tangan kanan Raihan mendarat lembut di dahi lelaki berbusana putih. “Tenangkan dirimu , Tuan. Atas takdir-Nya, kau aman berada di sini. Dan Tidak ada yang bisa mengambil nyawa manusia tanpa izin-Nya.”
Grrryeet!
Daging pada punggungnya menonjol-nonjol – seolah ada sesuatu yang hendak mencuat keluar dari sana. “Grrraaaawgh!”
Bibir Raihan berkomat-kamit merapal doa. Wajahnya jadi serius seraya mengisap sebatang lisong di tangan kiri. “Hu...,” ucapnya meniupkan asap pada wajah lelaki berkulit putih di hadapannya.
Dan seketika itu pula – wajah Davis yang tegang berubah lesu. Sepasang kelopak matanya lambat laun menutup – diiringi dengan pergerakan tulang serta daging di punggung. Ia kembali tidur tanpa dikehendaki.
Setelah pemuda di hadapannya kembali tenang, Raihan merogoh ponsel sejurus kemudian menekan nomor guna menelepon seseorang. “Halo, Pak Andi?” sapanya setelah telepon tersambung.
‘Ya, Mas? Bagaimana? Apa ada perkembangan darinya?’
Menatap ubun-ubun lelaki keriting pirang, Raihan menjatuhkan puntung lisong. “Pak, tolong kirim berkas digital soal riwayat anak ini. Apa yang dia dan keluarganya lalui sejak sepuluh tahun ke belakang.”
‘Mungkin perlu waktu karena dia bukan warga kita. Tapi saya pastikan segera kirimkan begitu berkas lengkap.’
“Terima kasih, Pak Andi,” sahutnya menutup sambungan telepon.
*
(Kediaman Wildan, Kota Pekalongan.)
Wildan yang baru memasuki kamar, terheran-heran melihat sebuah kardus ponsel tergeletak di ranjang bersprei birunya. “Lah? Ini...” Ia mengamati secarik kertas bertuliskan; Awas kalau kamu rusak lagi hapenya! Itu Simbah belikan ponsel baru sekalian kartunya! Nomormu sudah Simbah berikan ke teman-temanmu tadi sore!.
“Heheheh... bener kata Sayf. Galak-galak begitu, Simbah pengertian juga, ya?” gumamnya membuka ponsel dalam kardus tanpa segel. Baru ia membuka ponsel, sudah terlihat banyak chat masuk dan panggilan tak terjawab. Beberapa ia yakin berasal dari Diana, Dita, Yahya, dan Rifza. Sementara panggilan tak terjawab dari Alif.
Drrrrt... drrrtt....
Ponselnya berdering. Meski tanpa nama kontak, tetapi ia hapal nomor belakangnya. Alif.
‘Hallo assalamualaikum?’ suara Alif terdengar bernada tinggi.
"Waalaikumsalam warahmatullah..." Wildan menjawab, "ada apa Mas Alif?"
‘Senpai, aku perlu bicara! Jangan menghindar lagi!’
‘Dia ingin tahu yang sebenarnya, ya...’ terkanya. “Ya, Lif. Katakanlah, ada apa?” jawab Wildan singkat.
"Senpai, sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan."
"Iya, apa itu?" Wildan bertanya santai.
"Benarkah Senpai Wildan adalah Ksatria Titisan Pajajaran?"
Deg!
Wildan diam, tak berucap sepatah kata. ‘Apa ini? Terkaannya... salah sih, tapi ya... bisa jadi benar....’
‘Saranku matikan telepon dan jangan jawab pertanyaan itu,’ celetuk Sayf menembus dinding kamar dalam wujud transparan.
‘Memangnya kenapa?’ Wildan bingung.
‘Akan aku jelaskan setelah kau menutup teleponnya,’ sahutnya melompat ke kasur.
Wildan menutup telepon tanpa sepatah kata. Alif pun kembali menelepon, namun Wildan diam, tak mengangkat. Ia memilih menonaktifkan ponsel.
‘Baiklah, sang harimau gaib! Sekarang beritahu aku tentang ini....’
‘Tapi sebelum aku menyampaikan ini sampai tuntas, aku harap kau tidak akan bertindak gegabah.’
Wildan menghela napas. "Baiklah!" ucapnya setuju.
*
(Kediaman Diana, Kota Pekalongan.)
Tok tok tok tok tok!
Ketukan pintu dari tangan mungil membuat Diana menoleh ke arah daun pintu – berpaling dari buku besar yang sedang ia baca. “Kenapa Dek!” sahut si gadis berkerudung putih.
“Ada yang nunggu Mbak Dian di ruang tamu! Sudah Adek buatkan teh! Buruan turun!”
“Ah, terima kasih, Dek!” Bibir tipis gadis mancung tersebut terangkat kecil – menerka bila seseorang yang sedang bertamu, adalah lelaki yang ia rindu. Ia beranjak dari kasur, dan membuka daun pintu, bergegas menuju tangga turun di mana ruang tamu berada.
Drap drap drap drap drap drap....
Laju kaki gadis berpiyama putih merah terhenti, tatkala menjumpai punggung dari sosok yang bukan ia harapkan tadi. ‘Eh, kok bukan Wildan?’
Sosok pemuda jangkung berambut ikal ala-ala flamboyan, dalam balutan jaket putih menoleh ke belakang setelah mendengar derap langkah seseorang. Senyuman pemuda mancung beralis tebal itu, mengembang saat Diana muncul. “Hey, Di? Ada waktu sebentar?”
“Reno?” Diana memastikan, melangkah mendekati pemuda yang jauh lebih tinggi dari Wildan. “Ada apa malam-malam begini?” Ekspresi Diana berubah seketika melihat wajah pemuda yang pernah berstatus sebagai kekasihnya sebelum Wildan.
“Aku mau ke toko kue saudaramu yang di dekat alun-alun. Mau menemaniku sebentar?” ajaknya sembari berdiri bangkit. “Sekalian nostalgia,” gumamnya lirih.
*
(Kediaman Wildan, Kota Pekalongan.)
‘Pada masa di mana jin dan bangsa siluman masih berbaur di muka bumi, ada sebuah kerajaan yang begitu megah nan maju. Mereka hidup makmur dan damai bersama binatang, jin, siluman serta beberapa makhluk lain.’
‘Pada masa itu, diramalkan bahwa kelak akan ada Utusan Tuhan yang menerangi Semesta Alam. Sosok itu adalah makhluk yang paling dicintai oleh Sang Maha Pencipta. Titisan tersebut akan muncul membawa sebuah kitab yang bila dibaca mampu menggoncangkan gunung-gunung, mampu membuat orang yang sudah mati berbicara, dan mampu membelah bumi – seperti yang tertuang pada ayat dari surat Ar’rad.’
‘Utusan Tuhan itu akan membawa kedamaian dan keselamatan bagi semua makhluk, karena konon ia akan membawa sesuatu yang disebut sebagai Rahmatan Lil'alamin. Berita itu disambut gembira oleh banyak manusia dan makhluk lain.’
‘Namun ketika seorang anak manusia mendengar kabar tersebut, ia bergegas mencari cara untuk menjumpai Sang Raja. Ia adalah seorang ksatria yang taat kepada Raja, dan berbudi pekerti luhur.’
‘Ketika ia menghadap Sang Raja, ia bertanya pada sang raja, apakah dia bisa menjadi titisan itu. Namun Sang Raja berkata, Tidak. Ksatria itu kembali bertanya, apakah dia bisa berusaha agar dia lebih dicintai oleh Tuhan lebih dari Tuhan mencintai titisan-NYA, namun sang raja berkata tidak. Lalu, untuk yang terakhir kalinya, ia bertanya, bisakah dia memiliki pengikut lebih banyak darinya. Sang raja kembali berkata, tidak.’
‘Dengan kecewa dan iri dengki memenuhi hati, ia berteriak di hadapan sang raja. Bila aku tidak akan menjadi makhluk yang paling dicinta, maka aku akan berusaha untuk menjadi makhluk yang paling Tuhan benci.’
Wildan mengambil posisi duduk, serius menyimak. Ia meyakini sosok penerang semesta alam yang Sayf ceritakan, Utusan Pembawa Rahmatan Lill'alamin itu adalah manusia dengan akhlak paling mulia, Baginda Nabi Muhammad SAW. “Lalu apa yang terjadi?” tanyanya serius.
‘Ksatria itu memberontak pada kerajaan. Dia membunuh para siluman yang tak bersalah dan jin-jin yang baik. Hingga akhirnya Sang Raja Sulaiman yang turun tangan sendiri untuk memburunya. Beliau mengalahkan si ksatria pemberontak dan mengurungnya di dasar bumi. Hingga setelah Raja wafat, terjadi banjir bandang yang membuat pulau kerajaan bergeser begitu jauh dan terpisah.’
‘Pada akhirnya, pendekar itu kembali lepas dari penjara dalam keadaan lemah. Ia bertapa selama ratusan tahun, sampai tiba masa kerajaan Jawa, dia keluar dari persembunyiannya dan kembali membuat kekacauan. Ia bukan hanya membunuh siluman dan jin, tapi ia juga menghancurkan kerajaan manusia yang ia jumpai, hingga akhirnya muncul empat pendekar misterius.’
‘Yang pertama adalah Titisan Cahaya, ksatria yang memiliki kemampuan menundukkan cahaya. Yang kedua adalah Titisan Petir, pendekar yang mampu bertarung menggunakan ilmu petir. Yang ketiga, adalah Titisan Alam. Konon ia adalah putri dari negeri antah berantah, yang berhasil menaklukan beberapa kerajaan tanpa bantuan dari satu pun prajurit. Ia mampu memakai empat elemen untuk bertarung. Dan yang terakhir adalah Titisan Sayap Hitam. Jelmaan dari Sang Dewa Garuda, Raja dari angin.’
Wildan melirik ke kanan dan kiri sembari memikirkan cerita Sayf. ‘Aku di masa lalu... sehebat itu?’
‘Singkat cerita, setelah pertempuran yang begitu sengit dan lama, empat pendekar itu berhasil menyegel ksatria pemberontak, namun mereka gagal membunuhnya karena pada waktu itu muncul beberapa penyihir dari negeri lain. Para penyihir itu bertarung, namun mereka tewas. Tapi, mereka berhasil memindahkan ksatria terkutuk itu ke suatu tempat yang tak diketahui.’
“Baik, aku mulai paham. Jika kau menyebutku Titisan Cahaya, itu berarti aku adalah satu dari empat pendekar itu?” Wildan merapatkan bibir, mengerutkan dahi.
‘Benar. Tapi ceritanya tidak hanya sampai di situ. Ksatria terkutuk itu kini telah bangkit, dan berniat melanjutkan niat jahatnya untuk menjadi makhluk terkejam.’
‘Dan orang-orang yang sempat menyerang kita, adalah anak buah makhluk itu, benar?’
‘Aku yakin kau benar, Wildan.’
“Lah memangnya, apa hubungannya Alif dengan ini semua?” tanyanya mengerutkan kening.
‘Yang aku dengar, ketika dulu aku bertemu dengan sang Titisan Cahaya, para keturunan raja dari jawa berlomba-lomba untuk melindunginya, karena titah dalam takdirnya, begitu mulia dan berat.’
“Dengan kata lain, Alif adalah keturunan kerajaan? Itu maksudnya?”
‘Benar, Wildan,’ sahutnya mulai menjilat-jilat bulu badan.
“Lalu kenapa kau melarangku untuk menceritakannya?”
‘Jika kau memberitahukan hal ini, bukan hanya dia dan keluarganya, tapi juga seluruh keturunan raja lain akan tahu hal ini, dan jika kini mereka tahu, akan banyak pula orang-orang jahat yang mengincarmu dengan menghancurkan kota Pekalongan demi mendapat perhatianmu, seperti pria penjinak Banaspati yang kau lawan waktu itu. Dia muncul hanya untuk mencari kepastian keberadaanmu.’
"Mu-mustahil? Bagaimana mungkin ada yang tahu aku adalah Titisan Cahaya? Dan bagaimana mungkin mereka tahu aku ada di sini?"
‘Ketika Sarung Tangan Gadil Pajajaran bertemu dengan manusia yang ditakdirkan untuk memilikinya, maka akan terjadi gelombang gaib besar berwujud tipis. Yang mampu merasakannya hanya mereka yang memiliki kekuatan spiritual tinggi, maupun mereka yang memiliki ilmu gaib tinggi.’
Wildan menggenggam – melirik tinju kanan. Alisnya mendatar.
‘Pekalongan, adalah bagian dari Kerajaan Pajajaran yang diramalkan akan menjadi tempat munculnya Sang Titisan Cahaya, maka dari itu, mereka pun banyak berdatangan kemari.’
"Artinya sudah jelas bila aku harus meninggalkan Kota ini, ya..." gumam Wildan tertunduk.
‘Ikuti saran dan anjuran dari Raden Panca atau Kakekmu, Wildan. Meski aku tak banyak berkelana di zaman ini, tapi aku paham bila meninggalkan kehidupanmu yang sekarang demi memenuhi takdir, adalah hal berat, minta.’
Wildan mengatur napas. Ia kembali merebahkan badan di kasur. "Ngomong-omong, Sayf... hanya perasaanku saja, atau memang aku jadi makin peka pada hawa keberadaan orang-orang bertenaga dalam?"
‘Karena kau memang sudah menyadarinya, akan aku beritahukan,’ ucap sang harimau putih bermata menyala.
Wildan tersenyum lebar mendengarnya. “Nah! Begitu dong!”
‘Di dalam sukmamu, terdapat sebuah pusaka. Pusaka yang aku sendiri tak yakin sejak kapan tertanam dalam badanmu.’
"Pusaka? Keris?" tanya Wildan mengerutkan kening.
‘Bukan, wujudnya seperti bunga melati.’
"Bagaimana bisa ada pusaka dalam sukmaku? Dan untuk apa?"
‘Aku tak tahu siapa yang menanamnya, tapi yang jelas – benda itu yang itu yang ikut menangkal dampak Mustika Naga Biru, sebab jika kau tak memiliknya, aku yakin kau akan tersengat sampai darahmu mendidih saat kau menggunakannya. Selain itu, pusaka melati di sukmamu mampu meredam serangan gaib, sekaligus membuatmu peka pada bahaya gaib.’
"Tapi, kenapa tidak dari dulu aku bisa merasakan bedanya?"
‘Mungkin, karena kau yang jarang mengasah hal spiritual. Batin manusia itu, lebih istimewa dibanding bangsa gaib lain. Kalau saja kau bisa terus mengasahnya, niscaya kau akan paham sendiri.’
Wildan mendengung paham setelah mencerna penjelasang sang khodam. ‘Begitu ya....’
Ding... Dong....
Mendengar bel rumah berbunyi, pemuda berkaos putih lengan panjang beranjak dari kamar. Bergegas ia mendekat daun pintu. “Siapa malam-malam begini? Apa Alif, Sayf?”
Krriet...
Pria dengan kaos biru dan sarung putih datang mengucap salam, "assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam warahmattullah." Ia menjawab salam dan tersenyum menatap pria yang ia temui siang tadi.
“Kang, sibuk ndak? Boleh minta waktu sebentar?” Bayu sang santri Ki Panca meminta izin.
"Mo-monggo, silahkan." Wildan menyambut dengan sedikit terkejut, "silahkan duduk Mas..."
"Matur nuwun, Kang...," ujarnya sembari duduk di sofa ruang tamu.
Wildan pergi ke dapur, ia membuat dua cangkir teh hangat, "bagaimana mungkin dia benar-benar bisa tahu rumahku?" Ia heran.
"Kau masih saja kaget dengan hal kecil semacam itu," tanggap Sayf.
Wildan menghela napas. Ia membawakan minuman tersebut kepada tamunya. Pria itu melangkah perlahan dan menawarkan minuman hangat itu. "Monggo, Mas."
"Terima kasih." Bayu tersenyum, lalu menyeruput teh yang baru saja dibuatkan.
"Mas, njenengan bilang, santrinya Mas Panca? Apa ada pesan dari beliau?" Wildan bertanya dengan nada sopan seraya duduk berseberangan.
“Sudah beberapa tahun berlalu, semenjak saya ditugaskan oleh Pak Kyai untuk mencarimu, Kang.”
“Pak Kyai? Maksudnya, Mas Panca? Bertahun-tahun?” terka Wildan ragu.
Bayu manggut mengiyakan. “Saya ditugaskan untuk mengantarmu mencari dan mengumpulkan ke-tiga Titisan lain.”
‘Dia... sepertinya jelas tahu kalau aku adalah Titisan Cahaya,’ batinnya. "Maaf, apa benar kau memiliki garis keturunan kerajaan?" Wildan menatap serius.
Bayu mengangkat kedua bahunya, tersenyum. "Ya ndak tahu, kok tanya saya," jawabnya cengengesan.
‘Heleh, Ya Alloh... ini orang malah bercanda,’ batinnya memiringkan bibir. "Yu, lalu apa kau tahu di mana ketiga Titisan lain?" Wildan menatap wajah lawan bicara.
“Sampean sudah lihat yang namanya Mandala apa belum, Kang? Dia sudah resmi jadi anggota Pusaka Nusantara. Tapi dua yang lain, Titisan Petir dan Titisan Alam, masih belum bisa kita kumpulkan.”
“Ooohhh... ya, ya... Mandala yang gondrong dan punya sayap itu.” Wildan manggut-manggut. ‘Ya pantas saja dia waktu itu bisa menemuiku. Pasti dikasih tahu Mas Panca atau Simbah!’ Wildan sedikit tersenyum. “Terus, dua lainnya di mana?”
"Aku dengar, salah satunya berasal dari Kabupaten Pekalongan. " Bayu tersenyum yakin.
"Heee? Kabupaten Pekalongan? Di mana?" Wildan bertanya setelah mencicipi teh buatannya.
“Kecamatan Paninggaran. Walau dia sering bepergian, tapi yang aku dengar dia sudah berada di sana karena sesuatu,” jelasnya.
“Sesuatu? Sesuatu apa?” Wildan penasaran.
“Pada tragedi kebakaran hotel, teman-temannya ada di sana. Dan salah satunya, terluka setelah mobil yang mereka tumpangi hilang kendali usai auman misterius dari atap gedung.”
Deg!
‘Itu...’ Rasa bersalah mendadak muncul, merayap menyelimuti batin Sang Titisan Cahaya.
Bayu menenggak – menghabiskan teh hangat buatan Wildan. “Beberapa hari lagi, saya akan menemuimu.” Ia perlahan bangkit.