(Ruang perpustakaan, Markas Pusat Pusaka Nusantara.)
Mata Raihan tajam memandang layar laptop. Pemuda berblangkon dan berjaket hitam parasit itu mulai membaca seraya menikmati sebatang lisong dan secangkir kopi hangat di meja kayu. Jarinya menekan surat elektronik yang baru saja dikirimkan oleh Pak Andi.
‘Davis Trevor, pemuda ini besar di lingkungan yang normal. Dia tidak memiliki catatan perbuatan jahat sama sekali. Kenakalan remaja yang dia lakukan hanya meminum minuman terlarang di sekitar Taman Nasional dan membuat takut karena dikira hendak melukai seorang lansia saat mobilnya mogok.’ Raihan mengisap lisong di tangan – mulai lanjut membaca.
‘Menginjak usia delapan belas tahun usai wisuda, dia meninggalkan rumah. Dia hanya berpesan bahwa dirinya akan bepergian bersama teman-teman dekatnya. Setelah itu, semua akun medsos-nya dinonaktifkan.’ Dahi pemuda berblangkon mengerut. “Oh, jadi... dia dan teman-temannya, ya?” gumamnya menyeruput kopi.
‘Dia ditemukan penuh darah dalam keadaan lemah di pinggiran jalan Arizona Amerika Serikat. Setelah dipulangkan ke rumah orang tuanya, dia kembali menghilang – meninggalkan Ayah dan Ibunya yang tewas secara mengenaskan. Para tetangga bersaksi mendengar dentuman tembakan berkali-kali sebelum penghuni rumah ditemukan tewas.’
“Jika disimpulkan dari kalimat orang itu, bisa jadi dia diburu oleh anggota LHA. Dan... dia sempat menyebut nama Yang Mulia... jika yang dia maksud adalah orang yang sama seperti yang si penyihir wanita itu maksud, maka bukan tidak mungkin kalau dia sudah ikut menjadi anggota LHA, dan kemudian dijadikan objek percobaan.” Raihan menghela napas. Pemuda itu menoleh setelah derap langkah dari seseorang terdengar mendekat.
“Bagaimana, Mas Raihan? Apa sudah ada perkembangan?” Lelaki berbusana ala keraton Jogja motif tanaman datang mendekat.
“Saya rasa, sudah, Den. Tak salah lagi kalau bocah itu, adalah buronan LHA yang lepas,” jawabnya menatap Raden Ronggo Jati.
“Apa sebabnya jadi buronan, Mas?” Netra lelaki berkumis tipis turut fokus pada layar monitor.
“Bocah itu... kemungkinan berkaitan dengan projek terselubung mereka. Kalau kita bisa membuatnya bicara, mungkin para petinggi negara akan memperhitungkan langkah untuk meminta kerja sama dengan LHA.”
Lelaki berkulit sawo matang manggut-manggut, duduk di kursi sebelah Raihan. “Akan aku koordinasikan pada petinggi negara lain.” Ia menoleh pada lelaki berjaket hitam. “Ngomong-omong, apa rapat untuk seleksi anggota Pusaka Nusantara yang baru sudah dilaksanakan?”
“Ah, itu... belum, Den. Saya masih menunggu kehadiran si Panji dan beberapa lain.”
Tep!
Raden Ronggo Jati menepuk pelan pundak lelaki berblangkon hitam. “Mohon segera laksanakan ya, Mas. Kita tidak punya banyak waktu.”
*
(Jalan Raya Pasar Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.)
‘Wildan, apa kau yakin untuk mencarinya seorang diri?’ Sayf bertanya pada pemuda berkaos putih lengan panjang – yang mana tengah berdiri menanti datangnya bus jurusan Paninggaran.
Mengamati ramainya lalu lalang kendaraan, Wildan menghela napas. ‘Aku... merasa bersalah, Sayf. Aku rasa tak ada salahnya mencarinya lebih dulu.’
‘Apa kau tahu, kalau Titisan Petir adalah rekan seperjuangan, sekaligus musuhmu?’ Sayf duduk melipat ke-empat kaki di pinggir jalan raya.
‘Musuh sekaligus rekan? Maksudnya?’ tanyanya lewat batin.
‘Walau kalian bertujuan sama, tetapi kalian berdua sering berselisih paham. Aku bahkan masih ingat, ketika awal kalian bertemu. Kalau kau tidak berpikir cepat untuk menggiring pertarungan ke daerah hutan yang sepi, aku yakin Kerajaan Medangkemulan hancur lebur karena hujan petir yang dia timbulkan.’
“Hee? Hujan petir? Dia... bisa panggil hujan gledek, begitu?” tanyanya kaget. “Lah, terus, apa aku berhasil melawannya?” pertanyaan histeris Wildan memancing beberapa manusia di sekitar menoleh heran. Bagaimana tidak, ketika pemuda tampan terlihat bicara sendiri.
‘Kalau kau tak berhasil mengalahkannya, mana mungkin dia mau bantu kalian bertiga untuk mencegah Buto Angkoro,’ jawabnya.
“T-tanpa pusaka ini? Apa aku dibantu olehmu?”
‘Kau memintaku menjaga kerajaan terdekat dari serangan para Buto waktu itu.’
“Weh... aku bisa mengalahkan pendekar pemanggil petir?” Bibir pemuda berambut lebat merekahkan senyuman, semakin membuat heran orang-orang sekitar.
‘Lalu di kehidupan ini, siapa yang bisa mengalahkanmu selain Mbah Abdul Wahid?’
‘Ahhh... itu...’ Teringat wajah pemuda congkak yang selalu mengunggulinya dalam kejuaraan Karate. “Namanya Guntur. Dia, lebih muda satu tahun dariku. Tapi, dia selalu mengalahkanku dalam kejuaraan bela diri.”
‘Apa kau tak menggunakan kemampuan menghentikan waktu? Atau tinju tenaga dalam?’
“Aku pernah punya kesempatan untuk menggunakan hal itu. Tapi, itu tidak adil, kan?”
Dua orang ibu-ibu berjalan melewati Wildan. Mereka memandang skeptis pemuda bermata coklat tersebut. “Dih, Jeng! Lihat deh! Padahal Ganteng! Kekar tuh sampai-sampai d**a bidangnya nrawang! Tapi sayang rada-rada!”
Wanita tanpa kerudung di sebelahnya merespon, “iya Jeng! Kasihan! Mana masih muda!”
Menelan ludah, Wildan menghela napas lemas. ‘Hadeh ya Alloh... jadi begini ya, rasanya dikira orang gila...’
‘Kau mau melawan orang-orang berkesaktian tinggi melebihi dirimu, menyelamatkan orang-orang yang tak kau kenal, dan mau menerima tugas serta tanggung jawab sebagai Sang Titisan Cahaya. Bukankah itu justru gendeng lebih gila dari pemikiran remaja seusiamu?’ sahut Sayf.
“Heheheh!” Wildan terkekeh, makin mengeraskan tawa ketika dipandang aneh oleh banyak orang. ‘Kau benar, Sayf.’
*
(Bus jurusan Pekalongan – Kalibening.)
Setelah menanti kendaraan selama beberapa jam, akhirnya Wildan duduk di bangku bus dekat pintu. Bus mini yang ia tumpangi tak terlalu besar. Kondisi di dalam pun tak seramai yang bakal ia kira. Hanya terlihat lima orang siswi SMA yang sedang naik dan duduk berjajar di bangku belakang dan terpanjang bus.
Selain sang sopir dan kernet yang berada di bus, hanya ia satu-satunya lelaki yang menuju Paninggaran. Pemuda berkaos putih dengan celana hitam panjang, melipat kedua tangan. Barulah saat ponsel warna hitam miliknya yang baru berdering, ia merogoh celana guna mengambilnya. Kontak bernama Diana memanggil. “Halo?”
‘Kamu sekarang di mana?’
“Ahhh, aku... aku di perjalanan. Apa kau sudah pulang sekolah? Tumben sore begini baru telpon.”
‘Baru beres kasih bimbingan buat calon ketua OSIS nanti... aku kira, kau akan berangkat hari ini sebelum benar-benar pergi....’
Wildan menunduk. “Mmmm... maaf, Di.”
‘Kau bawa arlojinya, kan?’
Merogoh dan mengeluarkan am tangan silver, netranya tak sengaja melihat jam tengah menunjukan pukul 18.09 WIB. “Iya, aku bawa, kok.”
‘Hmmm... ya sudah, hati-hati di jalan! Kabari kalau sudah sampai, ya?’
“Tentu,” jawabnya tersenyum mematikan sambungan telepon. Perhatian pemuda berkaos putih bermata coklat, beralih pada obrolan sisiwi SMA di bangku belakang.
"Aku sebenarnya takut pulang Yan, tapi aku kangen ibu," ujar siswa SMA berkerudung di bangku belakang.
"Aku juga Nit, Paninggaran sudah diguyur hujan tanpa henti sebelas hari ini. Selain longsor, petir juga banyak menyambar. Bahkan pernah waktu itu kabut menutupi seluruh desa."
Wildan menengok ke arah jendela kiri bis, tepat di sebelahnya. Ia banyak melihat pepohonan karet berjajar luas. Jalannya mulai menanjak naik. Langit pun kala itu tak begitu bersahabat. Awan menghalangi sinar mentari.
"Semoga saja musim hujan cepat berlalu," ucap gadis itu.
“Bapak semalam sempat ngobrol sama juru kunci makam Mbah Wali Tanduran. Juru kuncinya bilang, katanya sebentar lagi bakal ada orang yang datang dan jadi lantaran badai berhenti.”
Deg!
Jantung Wildan serasa tersentak mendengar apa yang siswi tak dikenal tersebut ucapkan. ‘Orang yang menghentikan badai? Apa itu... kita, Sayf?’
‘Bisa jadi, Wildan,” sahut sang khodam harimau dari dalam badan.
Belum lama Wildan diam merenung, ia merasakan sesuatu hal lain di langit kala itu. ‘Sayf, apa kau merasakan sesuatu yang aneh tentang awan di atas itu?’ Wildan menatap awan hitam di langit lewat jendela bus.
‘Iya, aku seperti tidak asing dengan nuansa energi ini,’ sahut Sayf.
Wildan melihat beberapa rumah berjajar di pinggir jalan yang mana beriringan dengan pepohonan cemara. Dari jarak lima belas meter, dari jalan raya, ia melihat gapura gerbang pura. Bertuliskan ‘Pura Dharma'. Selang beberapa puluh meter, ia melihat obyek wisata Linggo Asri dan juga bumi perkemahannya. Jalan yang ia lalui berkelok-kelok. Di samping kiri kini terhampar hutan pinus, dan sebelah kanan terhampar landscape pepohonan dan sungai. Tak lama kemudian, kini di sebelah kanan dan kiri kembali nampak hutan. Ia melewati jalan tikungan menanjak yang cukup tajam.
Deg!
"Di sini, terasa begitu kental nuansa gaib," bisik Wildan menatap ke kanan dan kiri.
‘Wildan... makhluk ini... makhluk yang membuat awan hitam berkumpul di langit ini... sepertinya sedang bergerak kemari....’
“Bergerak?” Wildan mengerutkan dahi, melirik jendela di mana langit diselimuti awan hitam nan pekat.
Dyaaar!
“Kyaaaa!” jerit para siswi SMA di bangku belakang membuat tegang suasana. Mereka ketakutan sambil berkomat-kamit membaca doa yang diingat sebab sambaran kilat barusan yang begitu menyilaukan dan menggelegar.
Wildan yang juga berada dalam bus, merasakan jantungnya berdebar-debar hebat. ‘Apa ini... Sayf? Sepertinya baru kali ini aku merasakan petir yang... berbeda?’
Swuuuung....
Setelah bus mini yang mereka tumpangi berhasil menanjak melewati sebuah tanjakan jalan raya, angin justu kencang menerpa disertai rintik hujan. Sang sopir yang tadinya memasang raut santai, berubah jadi tegang. Ia mendapat firasat buruk akan sesuatu hal, mirip seperti beberapa saat sebelum dulu ia mengalami kecelakaan.
‘Sayf? Sebenarnya makhluk apa yang membuat hujan badai begini?’ tanyanya beranjak dari kursi – memilih berdiri dan berpegangan pada pinggiran bus.
Grrrrraaaaaawrgh! Dyar! Dyar! Dyar! Dyar! Dyar! Dyar! Dyar!
Rauman misterius menggelegar di langit senja itu, disusul oleh gelegar dan kilat petir yang bertubi-tubi menghujam bumi. “N-nah! Kan! Nit! Itu! Kalau mau hujan badai pasti ada suara itu!” ucapnya histeris.
‘Suara itu? Datang sebelum datangnya hujan badai? Apa mungkin itu....’ Menarik napas dalam-dalam, Wildan memahami sesuatu. “Sayf, seberapa dekat dia dengan kita! Di mana makhluk itu?”
‘Ya, dia mendekat dari langit! Sepertinya dia mengetahui keberadaan kita! Kau tahu siapa itu, kan?’
“Ck!” Wildan berdecak kesal. ‘Kalau aku diam di sini, bisa-bisa makhluk itu juga menyerang semua yang ada di bus!’ pikirnya merogoh kocek, mengambil dan menyerahkan selembar uang pembayaran pada kernet. “Mas, terima kasih! Tak usah berhenti! Jalan saja terus!” pinta si pemuda berkaos putih setelah uangnya diterima.
“Eh? M-Mas? Kok ngawur mau berhenti di tengah hut-” belum kalimatnya selesai, Wildan telah lenyap dari pandangan. “Loh?” Ia mengucek-ucek mata, kemudian memegangi uang lembaran di sana. “Kalo demit, kok duitnya nggak jadi daun?”
*
(Perpustakaan Markas Pusat Pusaka Nusantara.)
Pemuda berblangkon bernama Raihan Abdi Pangestu, menghela napas dan memperbaiki posisi duduk. Ia sedikit meluruskan posisi blangkon hitam di kepala. “Yang aku dengar, empat pengawal Buto Angkoro mulai muncul dan mencari keberadaan pusaka-pusaka Buto. Apa tidak ada riwayat sejarah dari buku, prasasti, atau mungkin pahatan di candi soal petunjuk keberadaan pusaka-pusaka itu?”
Pemuda berblangkon keemasan memandang pria berjaket hitam yang baru saja bicara. “Kami sudah minta bantuan Pak Andi dan beberapa orang lain untuk cari petunjuk di Perpusnas maupun para pakar sejarah seperti Cak Mim dan budayawan lain.”
Raihan manggut-manggut. ‘Sejauh ini, beliau Mas Panca dan Raden Rikma Seto juga belum dapat petunjuk mengenai keberadaan benda-benda itu,’ pikirnya menghela napas. ‘Aku khawatir akan banyak korban jiwa jika tak kunjung ada pergerakan dari kami.’
Lelaki berhidung mancung dengan alis tipis mengangkat tangan. “Lalu bagaimana soal lokasi para Buto yang tersegel itu? Apa kita juga belum bisa memastikan keberadaan mereka?”
Raihan menggeleng lirih. “Makhluk-makhluk berwujud Buto itu, adalah makhluk yang konon muncul setelah para empat Titisan saling bertemu satu sama lain di kehidupan kali ini. Itu kenapa, Bayu sudah diutus lebih dulu untuk mencari mereka.”
“Lalu, bagaimana jika para makhluk itu muncul sebelum orang-orang yang disebut para Titisan berkumpul?” ucap sosok berblangkon lain.
“Itu bukan pertanyaan yang patut dipertanyakan, sebab di sini kita semua berikhtiar dan mengesampingkan hasil. Sampai saat ini, tidak ada jaminan kemungkinan-kemungkinan terburuk lain tidak akan muncul. Siapkan diri kita untuk menghadapi apapun yang terjadi.”
Krrriieett....
Panji membuka daun pintu ruang perpustakaan. Pemuda bermata belo, terdiam sejenak saat ada rapat yang tengah diadakan. Terdiri dari belasang pemuda berblangkon dan berbusana adat khas Jawa Tengah. “Assalamualaikum! Halo semua!” sapanya mengacungkan telapak tangan terbuka.
Bayu dan Raihan geleng-geleng melihat kehadiran Panji. Pemuda yang baru kemarin berjumpa dengan Sang Titisan Cahaya, menyapa balik, “sehat, Nji?”
Panji merogoh saku celana, kemudian memperlihatkan sebuah keris kecil sepanjang jari telunjuk pada rekan-rekannya. “Nih! Raja siluman ular kemarin! Nantang-nantang, ujung-ujungnya nyerah dan minta jadi pusaka,” ucapnya duduk di kursi dekat Raihan.
Tak seperti anggota Pusaka Nusantara lain yang terkejut, Raihan dan Bayu terkekeh lirih. “Dasar bocah semprul!” sahut mereka serentak. “Baiklah, karena semua anggota sudah berkumpul, maka kita mulai rapatnya!” imbuh Raihan tegas.
*
(Hutan Karetan, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.)
Grrrraaaawgh!
Di ujung sebuah bukit yang menjulang, Wildan berdiri di dekat pepohonan hutan. Meski rintik hujan menerpa wajah, tetapi sepasang netra beriris coklatnya tak berpaling dari memandang langit hitam pekat. “Sayf... apa itu... makhluknya?”
Gggrrrrraaawgh!
Sesosok naga biru raksasa bertanduk rusa, tengah melayang-layang di udara, seperti sedang menari memanggil hujan badai. Wujudnya mirip seperti penggambaran naga dari asia. Hanya saja, disekitar punuk leher makhluk tersebut, terdapat bulu-bulu putih lebat serupa rambut. Makhluk yang masih dalam wujud tembus pandang – transparan, terus meraung. Raungannya menggema di sela-sela gelegar petir.
‘Ya, Wildan. Tak salah lagi. Itu, Rakyan. Raja dari bangsa naga yang menguasai penjuru muka bumi, tapi belum berhasil menguasai bumi Nusantara.’
Wildan menjatuhkan ponsel dan arloji silver pemberian Diana. Ia tak mau ambil resiko membawa benda-benda berharga tersebut. “Baiklah, coba kita lihat!” gumamnya meregang-regangkan jari. “Mau raja siluman, raja tokek, raja kadal, raja buaya! Kita hajar dia!”
‘Raja buaya? Bukankah itu julukanmu sebelum berpacaran dengan Diana?’