Rakyan Sang Naga Petir!

2756 Kata
(Kediaman Ki Panca, Kab. Pekalongan.) Ki Panca dengan kemeja lengan panjang biru tengah duduk bersila menghadap salah satu santrinya –Bayu. Keduanya bernaung di sebuah rumah lempeng dari terpaan deras hujan senja itu. Dua cangkir kopi s**u dan dua bungkus lisong jadi hal wajib pengganti kudapan. “Jadi, kau sudah bertemu dengan Wildan?” tanya Ki Panca usai mengisap lisong di tangan kiri. “Sudah, Pak Kyai. Saya sudah berpesan agar dia menunggu saya sebelum memulai perjalanan,” sahut pemuda berkemeja putih lengan panjang. “Yah, syukur....” Sosok lelaki mancung dengan tatapan teduh, mengangguk dua kali sembari tersenyum lirih. Ia menghela napas lembut, sebelum buka mulut, “Syekh Maulana Magelung adalah salah satu wali yang dahulu menjaga wilayah Paninggaran. Beliau merupakan rekan seperjuangan Mbah Wali Tanduran – atau yang lebih dikenal dengan nama Prabu Cakrabuana. Makam beliau juga berdekatan dengan makam Mbah Wali Tanduran.” Bayu menggapai sebatang lisong tanpa berpaling dari wajah sang guru. Setelah menyulut api, pemuda berkulit sawo matang tersebut mulai menyimak dalam posisi bersila. “Alasan manusia bisa bertemu dengan beliau-beliau, sebab diantaranya adalah karena; rindunya sang mursyid pada sang salik – agar kemudian beliau menemuinya sebagai wujud penyampaian rindu, atau mungkin karena banyaknya salawat yang ia haturkan pada Baginda Nabi Muhammad SAW, atau bisa jadi karena ada pesan-pesan yang perlu disampaikan.” Bayu mengangguk paham. ‘Apa mungkin ada yang akan ditemui beliau?’ Bibir Ki Panca bergerak-gerak merapal sesuatu untuk beberapa detik, kemudian lanjut berkata, “nanti, setelah kau datang, ajak Wildan untuk pergi ke arah barat – daerah Jakarta hingga Pasundan. Cari dan dapatkan Keris Naga Sasra, Keris Caringin, dan buku ilmu bela diri bernama Kitab Cidewa Hideung.” Bayu menajamkan pandangan, menunduk – menerka-nerka keberadaan pasti ketiga benda tersebut. “Siap, Pak Kyai....” “Pokoknya nanti jalan saja terus ke arah barat. Sudah besar, insyaalloh sudah paham apa dan harus bagaimana. Mengenai Kitab Cidewa Hideung, kitab itu dipegang oleh seseorang yang dia kenal. Pastikan kalian bisa cegah marabahaya yang menimpa orang-orang dalam perjalanan kalian. Paham?” “Sendiko dawuh, Pak Kyai,” jawabnya mengangguk. “Ya sudah, kamu segera balik dan minta izin ke Ibumu dulu. Besok, atau lusa, kamu naik ke Paninggaran. Si Wildan sudah ada di sana,” perintahnya lembut. * (Hutan perkebunan karet, Karetan, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan.) Jedyaaarr! Kilatan petir menyambar dari langit, membidik pohon karet besar hingga terlalap api jadi abu. “Uuuuwgh!” Akibat serangan barusan, Wildan terlempar jatuh ke dalam jurang di mana pohon-pohon karet menanti. Grrraaaawgh! Sang naga biru bertanduk rusa mengaum, mengamati pemuda berkaos putih yang jatuh dari ketinggian puluhan meter. “Hhhhngh!” Membuka mata, ia mendarat dengan selamat. Kuku tangan dan kakinya memanjang, mengeras menjadi cakar. Kecuali tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan gadil Pajajaran. Pupilnya pun berubah jadi seperti harimau. "Aku bisa melihat dalam gelap," ucap Wildan. "Sayf, apa aku kembali memakai kekuatanmu?" ‘Ya, Wildan. Untuk saat ini, gunakan Ajian Raga Separuh. Walau aku mampu mewujud dan membantumu langsung, tapi aku masih belum yakin bisa mengalahkannya dengan kekuatanku yang sekarang,’ sahut Sayf dari dalam badan. ‘Sayf sudah tersegel ratusan tahun di dalam pusaka yang aku pakai ini... wajar jika kekuatannya berkurang drastis sekalipun usianya lebih tua dari naga ini,’pikirnya menarik napas dalam seraya mendongak menatap langit gelap. Di antara rintik hujan yang turun membasahi hutan, naga besar biru bergerak menukik. Wildan Memasang kuda-kuda, mengumpulkan energi ke tangan kanan dan membuat Sarung Tangan Gadil Pajajaran bersinar. "Hikaru no...." Ia mengambil kuda-kuda pukulan pamungkas. Sang naga melesat makin dekat. “Grraaaawgh!” Taring-taringnya terlihat jelas saat sosok itu membuka lebar mulut. Lidah ularnya melambai-lambai akibat dorongan gelombang suara kerongkongan. Dlap! "Gyaku tsuki!" Wildan melompat, sejurus kemudian menghantamkan tinju kanan berlapis Sarung Tangan Gadil Pajajaran tepat di dahi lawan, membuat sosok transparan tersebut terpental ke atas meraung-raung. Tlep! Usai mendaratkan satu pukulan, ia kembali mendarat di tanah lembap. Napasnya tersengal – agak kesulitan bernapas dalam dingin nan lebat guyuran hujan beserta aura mencekam lawan. ‘Heh! Apa-apaan! Baru satu pukulan tapi tenagaku sudah terasa berkurang banyak!’ ‘Wildan! Lompat!’ Khodam di dalam badan bertelepati memperingatkan. Mendengar suara Sayf, pemuda berpupil harimau melompat mundur – memepet ke tebing. Lengannya cepat menutup wajah tatkala sebuah petir menyambar di hadapannya. ‘Ya Alloh!’ sepasang kaki pemuda bercelana hitam training gemetaran, sebelum membuatnya duduk lemas. Dyaarr! Pohon-pohon karet yang ada di hadapannya terbakar oleh sambaran petir barusan. ‘Petir-petir ini... apa dia bisa mengendalikan petir!’ ‘Posisi siaga, Wildan!’ seru Sayf memperingatkan dari dalam badan.   Dlap! Wildan melompat ke samping kanan, lanjut melakukan roll depan. “Hhhngh!” Dyaarrr! Lagi-lagi petir menyambar di hadapannya. Ia berguling di antara rumput yang basah dan tanah becek. "Astaghfirullah hal adzim!" Jantung Wildan berdetak sangat kencang – tak beraturan. Tubuh pemuda kekar berambut lebat gemetar akibat serangan tak terduga dari atas langit. ‘Atur napasmu Wildan, tenangkan dirimu!’ Pemuda berpupil harimau mendongak menatap langit sembari siaga. ‘Di mana dia!’ Tak kunjung melihat lawan, Wildan membalik badan. Benar, sebuah gumpalan bola listrik besar melayang dari atas ke arahnya. Bzzzzzzt! Tak sempat menghindar, pemuda beralis lebat spontan menangkis menggunakan tangan kanan berlapis logam. Daaarrrrr! “Huuuuwgh!” Ia terpental jauh, melewati belasan pohon karet hingga terguling-guling di tanah lembap. Sadar bila ia tak boleh berlama-lama lengah, Wildan memaksakan badan untuk berguling dan kembali berdiri siaga. Bzzzzt! Bola listrik lain kembali melesat dari langit – sudah cukup dekat dari jaraknya. “Huuuuugh!” Ia kembali menutup wajah dengan benda pusaka. Tapi lagi-lagi, badannya terlontar belasan meter hingga tercebur kedalam sungai deras yang tak begitu dalam. Sungai di mana ia berada cukup lebar. "Arrrgh!" Ia berusaha berenang, untuk menepi menuju pepohonan karet. Tangan kanan yang terbungkus oleh pusaka, terasa nyeri. Kesemutan, yang begitu menyengat membuatnya nyingir. Derasnya hujan sedikit mereda, berubah jadi gerimis – menerpa wajah Wildan yang telah berdiri di tepi sungai. ‘Fokus, Wildan! Fokus!’ “Grrraaaawgh!” Sang naga kembali muncul, ia terdiam di udara dan membuka mulut – bersiap menyemburkan bola listrik. "Hikaru no...." Wildan kembali bersiap memakai jurus pamungkas. Sarung tangannya bersinar putih terang. Sayf bertanya memastikan, ‘Wildan, kau bermaksud memukul serangannya?’ "Aku, ingin... melihat, seberapa... kuat bola listriknya itu!" Wildan menyempitkan mata berpupil macan. Bbzzzzttt! Bola listrik gaib meluncur dari mulut sang naga biru raksasa. Ukuran gumpalan bola listrik penuh percikan biru, lebih besar dari serangan-serangan sebelumnya. "Gyaku tsuki!" serunya menghantamkan tinju pada gumpalan energi berkecepatan tinggi. Blaaaaaaaaammm!!! “Huuuugh!” Meski bola listrik tersebut hancur, Wildan terpental dua puluh meter – mengarungi pepohonan karet dan sungai.  “Grrrraaaaagh!” Sang naga menjerit mendongak ke langit berawan hitam pekat. Sepasang matanya menyala biru terang. Sadar akan sesuatu, pemuda berkaos putih basah kuyup segera menutup, lalu membuka mata. Air, , angin, rintik hujan, sungai bahkan gelegar petir pun terhenti. Sang Titisan Cahaya berdiri dan menatap naga yang tak berhenti menjerit, menatap langit. Drap drap drap drap! “Uungh....” Wildan mengayuh kedua kaki maju meninggalkan tanah ia barusan terguling. Kembali menutup dan membuka mata, semua kembali bergerak. Jedar Jedar Jedar Jedar Jedar.... Kilat menyambar di bumi bekas Wildan terjatuh tadi, beruntung ia segera meninggalkannya. ‘Kau hebat Wildan,’ puji Sayf. ‘Kau menunda petir dari langit yang akan menyambar menggunakan kemampuanmu. Apa kau sudah tahu pola serangannya?’ Ia menggeleng kecil. "Hanya saat ia berteriak lama dengan energi berpusat di langit, aku tahu ia memanggil petir," jawabnya lirih. "Sayf, bisakah aku menang melawannya?" Wildan perlahan berlutut lemas. ‘Lebih baik mundur, Wildan,’ jawab Sayf memberi saran. "Sayf, padahal dia dalam wujud hologram yang tak kasat mata. Tapi kenapa dia bisa menyerangku yang berwujud ini?" Wildan menatap naga yang kembali terbang berputar-putar di langit. ‘Dia adalah Khodam yang sangat kuat. Dia, adalah Raja dari para naga. Banyak hal yang tak bisa dilakukan siluman biasa, tapi ia mampu melakukannya.’ “Grrraaawgh!” Sang naga kembali terbang menukik ke arah manusia bercakar putih. Bintik-bintik cahaya warna biru berkumpul pada mulut sang naga terbuka mulutnya. “Dalam keadaan tubuhnya yang tak wujud, aku tak bisa melukainya dengan kuku kiri ini, kan?” terkanya melirik tangan kiri. Ia kembali bersiap meski kuda-kudanya lemah. ‘Kau belum mempelajari hal itu. Lebih baik kau cari cara untuk mundur, Wildan!’ Ia menggulirkan netra berpupil harimau ke kanan dan kiri. ‘Kalau aku biarkan makhluk ini berkeliaran, artinya aku membiarkan daerah ini dalam bahaya! Badai petir ini... aku yakin akan berhenti kalau aku bisa mengalahkannya!’ Wildan memegang tinju kanan menggunakan telapak kiri. "Kalau begitu, aku pertaruhkan semuanya di sini!" Kedua kakinya menekuk. Sarung tangan pusaka kembali bersinar terang. ‘Wildan, apa tidak lebih baik kau menyingkir dan lari?’ Sayf khawatir. "Kalau aku lari, siapa yang menghentikan badai petir ini?" Wildan melompat ke samping guna menghindari semburan dan terjangan sang naga, sejurus kemudian memukul punggung lawan dari atas ke bawah. "Hyahh!" Blaaaawg!! “Krraaawgh!” Sang naga terdorong menembus tanah di bawahnya. “Huufff... hufff... hufff... berhasil, kah?” Wildan menarik napas dalam kuda-kuda sempoyangan. Tersenyum untuk beberapa saat. ‘Naga itu masih hidup, Wildan! Lebih baik lari!’ Drrrgggg.... Tanah di bawahnya bergerak, seolah terjadi gempa. Pemuda berkaos putih menelan ludah, mulai berjalan mundur celingukan. “Di mana dia?” ‘Wildan, waspada! Dia di bawahmu!’ “Bawah mana!” Pemuda itu menoleh ke sekitar kakinya yang lunglai. Hingga... Braaaaaaaaaall! Sang Naga besar biru mencuat keluar dari bumi, gagal melahap Wildan. Wujudnya kini benar-benar mewujud nyata di alam manusia sehingga turut basah oleh rintik hujan yang turun. "Beraninya kau mengganggu ritualku, Kisanak!" seru sang naga masih diam di awang-awang. "Dia bicara?" Wildan kembali siaga dengan napas yang tersengal-sengal. "Wa la hawla wala quwwata illa billah!" Hati Wildan spontan berucap. Ia menarik napas. "Naga Gledek!" Sang naga biru menjerit menatap langit. Petir biru dari kedua matanya melesat ke awan hitam. Zrrraaaassss! Hujan deras kembali mengguyur hutan karet. Petir pun menyambar berulang-ulang di sela awan hitam. ‘Wildan, lari!’ seru Sayf dari dalam tubuh. Jedar! Petir berbentuk naga muncul, menyambar pemuda itu. “Hwaaaaaaaawggh!” Wildan dengan jelas merasakan tubuhnya dililit oleh setrum, membuatnya tak mampu bergerak. Ia merasa darahnya memanas, dekup jantungnya tak beraturan, hingga terdengar bunyi pecah seperti kaca dari dekat paru-paru. Sang naga petir menyipitkan mata. “Pusaka Melati Kusuma! Siapa kau, Kisanak!” Petir biru yang mengikat lenyap setelah bunyi kaca pecah. Sang Titisan Cahaya ambruk. Ia tak mampu bergerak, sekujur badannya kesemutan. "Tubuhku... tak mampu bergerak!"  Seketika, hujan pun reda. Petir berhenti bergemuruh. Sang naga biru panjang kembali terbang ke langit penuh awan hitam. ‘Wildan, berdirilah! Dia dalam wujud nyata dan akan menerjangmu!’ Napas, gejolak darah, dan denyut jantung Wildan berontak. Semuanya tak beraturan, menyebabkan rasa sakit yang teramat menjalari badan. “Huuuugh!” Mengejam mencoba bergerak pun percuma. “”Grrraaaawgh!” Sang naga terlihat meluncur. Ia membuka mulutnya, bermaksud melahap Wildan. ‘Apakah, setelah ia melahapku, badai akan berhenti?’ Wildan mencoba menenangkan diri, pasrah pada keadaan. ‘Apa kau sungguh tak bisa bergerak, Wildan?’ ‘Jika kematianku bisa menghentikan badai ini, berarti ini hanya sejauh ini tugas takdirku, kan?’ sahutnya pasrah. Suara teriakan sang naga kembali menggelegar. Hingga tiba-tiba muncul sebuah cahaya putih dari langit terjun - mendarat di depan Wildan. Blaaassssssst! Sesosok laki-laki dan berpakaian serba putih. Pria itu berkisar antara lima puluh tahunan, rambutnya panjang bergelombang namun digulung dilingkarkan ke kepalanya. Jenggotnya begitu panjang, wajahnya garang. Rambutnya yang tergelung terbungkus sorban putih. “Subhanallah....” Di samping sosok misterius, seekor harimau putih besar dengan taring yang panjang serta badan besar berdiri. Matanya tidaklah bersinar seperti sepasang mata Sayf. Grepp! Pria misterius itu menahan taring naga biru hanya menggunakan satu tangan. Bibir sosok yang wajahnya seperti bercahaya itu, berkomat-kamit merapal petikan surat kitab suci Alquran. “Grrraaaaaagh!” Sang naga terus mencoba mendorong. Tetapi sang pria berpakaian serba putih itu tak bergeser sedikit pun. Wildan hanya bisa terpana, dipunggungi manusia berbusana putih cerah menyala. "Wahai naga petir, kau sudah keterlaluan!" Ia menggenggam taring sang naga hingga rambut retakan tercipta di sana. "Kembalilah pada tuanmu!" Muncul sinar putih terang serupa laser dari langit, menyambar sang naga raksasa. Blaassssst! “Krrrrraaawgh!” Sang naga menjerit, tubuhnya menjadi transparan sebelum lenyap dari pandangan. “Alhamdulillah....” Pria bersorban putih balik badan, duduk bersila menghadap – menatap Wildan yang terbaring lemah di atas tanah basah. Tangannya menyentuh jempol kanan kaki sang pemuda bercelana hitam. Energi besar terasa mengalir. "Cobalah duduk nak," ucapnya setelah tiga puluh detik menyentuh badan Sang Titisan Cahaya. Perlahan, dengan wajah kesakitan, Wildan mencoba duduk. Ia merasa jantung dan aliran darahnya normal – pulih seperti sebelum bertarung. "Namamu, Wildan Alfatih?" tanya sosok tersebut. Ia mengangguk. "Inggih, Mbah...,” sahutnya gugup. "Latihlah ilmu kanuraganmu. Kau masih harus banyak belajar. Ingatlah bahwa tugas yang kau emban ini bukanlah main-main," ujarnya tegas. “Kalau kau tidak segera mengasah kesiapan batinmu, kami khawatir akan banyak hal buruk yang menimpamu,” imbuhnya. ‘Beliau ini, siapa?’ renungnya penasaran sambil manggut-manggut. "Orang-orang di daerah ini, dulu memanggilku Syekh Maulana Magelung," ungkapnya. Harimau putih di sampingnya duduk melipat empat kaki dengan tatapan tertuju pada Wildan. Deg! Spontan pemuda berusia delapan belas tahunan teringat bahwa nama Syekh Maulana Magelung adalah asisten perjuangan Mbah Wali Tandur. Pemuda itu reflek menunduk. ‘Beliau ini... salah satu wali, kan?’ "Cakar putih Pajajaran, memang benda pusaka kuat. Namun jika kau hanya bergantung pada benda itu, sama saja kau melakukan kekeliruan besar, Nak." "Nggih, Mbah." Wildan mengangguk tertunduk. "Makhluk tadi masih hidup. Sebenarnya ini adalah pertarungan ketiganya denganku," jelasnya. Wildan melirik ke kanan dan kiri. ‘Jadi, beliau yang selalu meredam badai petir seperti tadi?’ "Walau naga tadi selalu kalah, tapi dia masih saja berbuat onar. Kau tahu kenapa, Thole?” Pemuda beriris mata coklat menggeleng lirih. “Mboten, Mbah....” “Sebab hanya kau yang ditakdirkan untuk menghentikannya.” Wildan memberanikan diri mendongak – menatap orang yang ia yakini adalah satu dari sekian banyak wali. “Sa-saya?” "Besok setelah sholat dzuhur, datanglah ke sungai bernama Kali Genteng. Untuk sekarang, Beristirahatlah." Pria dengan wajah yang tak terlalu nampak akibat bersinar itu, mendekat dan memegang dahi Wildan. Nyessss... Kesejukan kembali mengalir, menenangkan raga yang berontak dan kelelahan. Spontan saja ia mengerjapkan mata. Dan ketika terbuka lebar, ia berada di dalam rumah Ki Panca. Tepatnya di ruang di mana ia dulu duduk. "Lah? Heh? A-aku pindah tempat?" Ia dan kaosnya jadi satu-satunya hal yang basah kuyup – membasahi karpet hijau. Menoleh kecil ke jendela, dilihatnya hujan telah reda. “Alhamdulillah,” gumamnya tersenyum lebar. ‘Wildan, apa ragamu baik-baik saja?’ “Ya, Sayf. Aku baik-baik saja.” ‘Energi yang di alirkan oleh Syekh Maulana cukup besar, ujar Sayf. Tapi aku masih belum bisa mencapai batas kekuatanku seperti dulu karena sempat menggunakan Ajian Dewata Raga saat itu.’ "Jadi, apakah ini yang membuatmu ragu untuk memakai Ajian Dewata Raga ketika dulu kita bertarung di telaga siluman buaya?" ‘Sebenarnya, bukan hanya ini.’ "Maksudmu?" Wildan bingung. ‘Dampak yang di timbulkan oleh Ajian Dewata Raga, bukan hanya ada padaku. Kau juga bisa terkena dampaknya.’ "Sungguh? Lalu apa dampaknya bagiku? Bukankah tanganku yang putus justru kembali tumbuh?" Wildan menatap tangannya. ‘Coba perhatikan tanganmu baik- baik.’ Pria itu memperhatikan kuku-kuku tangan kirinya. Kuku-kuku itu pendek, tetapi cukup tajam nan runcing. Otot serta pembuluh darah yang melekat pada tangan kirinya pun menonjol jelas. “Hanya beda cakar dan tambah kuat saja, kan?” ‘Tangan kirimu memiliki kekuatan yang lebih kuat dibandingkan tangan manusia biasa. Yang berbahaya, bukan pada ragamu, tapi ada pada akal dan hatimu.’ “Akal? Hati? Maksudmu?” tanyanya lirih mengerutkan dahi. ‘Jika kau terus berubah menjadi manusia harimau, bukan hanya ragamu, tapi akal dan batinmu pun akan seperti hewan buas.’ “Lah?” Wildan terkejut. Mulutnya terbuka – menganga. ‘Dengan kata lain aku bukan lagi diriku?’ ‘Mungkin kau tidak akan terpengaruh jika hanya berubah dengan tidak sempurna, tapi jika aku menggunakan Ajian Raga Dewata Seto sempurna terus menerus, batinmu tidak akan mendengar nuranimu. Akalmu pun tumpul dan menjadi naluri hewan buas seutuhnya.’ "Sebegitu... berbahayanya, kah?" Wildan menggenggam tangan kirinya. ‘Aku adalah Khodam yang bertugas membantu, jadi aku akan tetap membantu semampuku. Tapi seperti ucapan hatimu dan semua orang bijak yang kau temui, jangan bergantung pada kehadiranku maupun cakar putih Pajajaran.’ "Kau benar." Wildan mengambil napas panjang, membuangnya lewat hidung. “Wahhh, kebetulan ada tamu datang, ya?” Ki Panca dalam balutan kemeja biru lengan panjang serta peci coklat, muncul membawa dua cangkir kopi. “Pas berarti aku buat dua! Hahaha!” celetuknya duduk menghadap pemuda basah kuyup. “Oh, ya! Kalau main-main ke hutan, jangan biasakan tinggal barang bawaan!” serunya merogoh saku, mengambil dua buah benda yang Wildan geletakkan sebelum melakukan pertarungan. “M-Mas Panca?” Wildan tersenyum semringah. Batinnya amat yakin bila sosok di hadapannya itu, sudah tahu perkara yang ia alami tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN