(Balkon Lantai dua Grand Hotel Pertiwi, Jakarta.)
Elizabeth mengurai rambut yang kini bercat kemerahan demi menikmati embus angin pagi kala itu. Mengangkat kaca mata hitam ke atas, ia tersenyum masam – memandang lelaki berbusana hitam ala tuksedo di belakang. “Amin Kurniawan tewas karena kecerobohannya sendiri. Begitu juga dengan salah satu petinggi organisasi penyihir negeri ini. Mereka terlalu meremehkan organisasi yang berpusat di Yogya, kan?”
Pria paruh baya berjas hitam ala tuksedo mengisap habis lisong di tangan dalam posisi duduk jengkang. Ada bekas luka yang terukir di pelipis kanan-kiri. “Belasan luka bisa sembuh, tapi normalnya... mereka akan meninggalkan bekas yang tak bisa dihapuskan.”
Perempuan mancung berpostur tinggi menyandarkan punggung pada pembatas balkon. “Itukah sebabnya kau tak membuang bekas luka di pelipismu itu, Tuan Jaya?”
Ia bangkit, memandang bentangan panorama penuh hutan beton di bawah hotel. “Salah satu mendiang manusia – paling berpengaruh di negeri ini, pernah berkata; hanya ada dua hijau yang menaungi Indonesia.”
“Apa saja itu, Tuan?” tanya si perempuan berjubah merah seraya mengangkat alis kanan.
“Tentara dan Santri. Selama dua hal itu masih kokoh berdiri dan memegang teguh pedoman, kalian yang dibantu kami sekalipun tak akan bisa menerapkan tatanan baru di negeri ini,” ucap lelaki berbadan tegap. Tangan kirinya merogoh sebungkus lisong dan korek api dari saku.
“Lalu apa rencanamu untuk menaklukan hal itu, Tuan Jaya?” Elizabeth melempar senyum curiga.
“Tolong jelaskan, Nona Elizabeth....” Ia menoleh pada perempuan berkulit cerah. “Apa Tuan Hudson masih belum memerintahkan kalian untuk bergerak?”
“Aku yakin, Yang Mulia memiliki rencana ditiap keputusannya,” jawabnya terpejam.
“Begitu juga dengan manusia-manusia yang ada di balik kerumunan berjuluk santri dan tentara.” Jaya menyulut lisongnya. “Mereka yang disebut Wali, adalah orang-orang yang berperan di balik layar medan tempur kita ini.”
“Para orang-orang berkekuatan spiritual tinggi? Seperti sembilan orang yang dulu berjuang melawan pasukan kerajaan Belanda?”
“Benar. Mereka punya sesuatu yang tak bisa dihancurkan ketika berhadapan langsung. Itu kenapa, yang bisa kita hancurkan adalah murid-murid mereka terlebih dulu. Tanpa adanya regenerasi penerus, maka pilar kedamaian negeri ini goyah. Dengan goyahnya pilar, maka tatanan baru bisa kita terapkan di negeri ini,” ucapnya meniup asap dari mulut. “Nama orang itu... Davis Trevor, benar?”
Elizabeth tersenyum kecil, turut menatap ke bawah. “Kau tahu banyak, ya?”
“Tapi aku sependapat dengan keputusan Tuanmu,” ujarnya terkekeh lirih. “Biarkan antek-antek makhluk itu menebar teror lebih dulu, dan saat mereka runtuh, kita bisa limpahkan semua kehancuran pada mereka.” Ia mengisap kembali lisong berwarna putih panjang. “Tak hanya itu, kita juga bisa gunakan para reinkarnasi sebagai kambing hitam.”
“But, how? Bagaimana kau akan mengadu domba mereka?”
“Mereka hanya bocah-bocah labil dengan kekuatan monster. Kalau kau tak bisa mengalahkan mereka dengan kekerasan, maka kau bisa coba permainkan akal dan perasaan mereka!”
*
(Desa Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.)
Jam tangan silver di pergelangan kanan menunjukan pukul 13.06 WIB. Sudah beberapa menit – nyaris satu jam ia duduk di atas sebuah batu besar yang berada di tebing samping sungai bernama Kali Genteng. Mata beriris coklatnya sesekali melihat tujuh orang anak tanpa sehelai benang menghabiskan waktu dengan bermain air di sungai. ‘Semenjak tadi, aku hanya melihat anak-anak itu bermain.’
‘Aku juga belum merasakan keberadaan Rakyan dalam radius dua kilometer. Sepertinya ia benar-benar kelelahan karena melawanmu dan sosok bijak semalam,’ jelas Sayf dari dalam badan.
“Mas Panca semalam bilang, kalau sejatinya beliau-beliau para wali, tidaklah mati. Melainkan hidup di sisi-Nya,” gumamnya memandang enam orang bocah yang mulai menepi dan mengenakan busana.
‘Ya, seperti yang tertera di surat Ali Imran ayat seratus enam puluh sembilan.’
Wildan tersenyum setengah. “Takdir... takdir itu... aneh, ya? Kenapa beliau berkata takdirku untuk menghentikan Rakyan, padahal aku yakin betul beliau sendiri sangat mampu membinasakan makhluk itu.”
‘Kalau diingat, dirimu di kehidupan lalu sama sekali tak pernah berprasangka buruk pada ketentuan takdir. Benar kata Raden Panca semalam, untuk apa kau hidup, dan untuk siapa kau hidup – sebagaimana prinsipmu dulu.’
“Hidup untuk-Nya, dan hidup untuk mengabdikan diri pada-Nya. Mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan, ya?” celetuk Wildan menertawakan kebodohannya sendiri. “Ngomong-omong soal kalimat beliau Syekh Maulana Magelung semalam... aku merasa tertohok. Aku memang bukan siapa-siapa, jika tak dibekali Cakar Putih Pajajaran dan kehadiranmu di sisiku, Sayf.”
‘Kau di kehidupan lalu, benar-benar bergantung pada Sang Maha Pencipta. Meski aku jadi khodam wasilah pembantu, tetapi kau tak suka menggantungkan hatimu agar aku mampu menjalankan tugas.’
“Hadeh... kalau bisa kuliah, apa aku baiknya ambil jurusan filsafat, ya?”
‘Belajarlah di pondok pesantren.’
“Kenapa begitu?” tanyanya mengernyitkan dahi.
“Setiap aku pergi dan berkeliling di bumi ini, aku masih banyak menjumpai alim ulama yang mumpuni secara spiritual. Dengan kata lain, orang-orang berhati mulia para pewaris wali songo, masih ada. Salah satunya, Raden Panca. Kau beruntung bisa menjumpai beliau, Wildan.”
Wildan tersenyum kecil. “Yah... meski baru beberapa kali bertemu, tapi batinku merasa nyaman di dekat beliau.”
Bocah-bocah yang sejak tadi mandi di sungai yang lebar, mulai meninggalkan lokasi satu persatu. Tersisa sesosok bocah gendut berkulit cerah yang masih asyik main kepiting di pinggir sungai. "Kau masih mau mandi? Ya sudah, kami tinggal ya?" kawan-kawannya pergi meninggalkan kedua bocah itu. "Awas, nanti ada Wiangga datang," tambahnya.
Wildan tetap duduk tenang di atas batu. Mata cokelatnya menatap birunya langit. "Sudah tidak ada awan gelap lagi,” gumamnya bernapas lega. “Kalau tidak salah, kau pernah menyebut namanya? Karyan?”
“Rakyan,” sahut Sayf membenarkan.
"Kalau kau mengenalnya, kenapa kau tak tanyakan padanya?” Dahi Wildan berkerut.
‘Makhluk itu congkak dan angkuh. Dia hanya mau berhenti melakukan sesuatu jika Tuannya yang meminta. Ditambah lagi, pada masa kerajaan dulu – Rakyan kerap kali disebut-sebut sebagai dewa, oleh para manusia. Tidak ada pilihan lain selain memaksanya berhenti.’
"Berapa usianya? Apa dia lebih tua darimu, Sayf?" tanya Wildan penasaran.
“Dia adalah Khodam yang diciptakan untuk membantai semua jenis naga yang turun ke bumi, dengan tujuan menghindarkan manusia melakukan pesugihan pada selain-NYA yang maha kaya lagi maha patut di sembah. Tapi tugasnya selesai ketika Raja Sulaiman menundukannya.”
“Dan setelah beliau berpindah ke alam ruh, Rakyan itu tunduk pada Sang Titisan Petir itu?” Wildan mengangguk kecil. Ia mengerti, bila lawannya semalam memang tak seperti siluman-siluman sebelumnya.
“Tapi, apa yang Titisan Petir pikirkan? Kenapa dia membiarkan naga itu menimbulkan bahaya?” Wildan menatap bocah cilik yang kini bermain dengan gedebog, atau yang disebut dengan batang pohon pisang. Entah darimana pohon pisang itu, mungkin hanyut terbawa arus sungai. Tapi kedua bocah di sungai masih saja asyik tertawa bermain kapal-kapalan.
‘Wildan! Batang pohon pisang yang bocah itu naiki, bukanlah batang pohon pisang biasa!’
“E-eh? Apa maksudmu?” Wildan berdiri – memandang baik-baik bocah cilik yang girang bermain dengan gedebog pisang.
‘Bangsa jin! Wiangga! Apa kau akan biarkan bocah itu dimangsa, Wildan?’
“Tolong! Tolong! Tolong! Maamaak! Tolong!” Bocah tadi tengah diikat oleh rambut tebal lurus yang muncul dari dalam batang pohon pisang. Kepala dan kakinya terikat, mereka ditenggelamkan.
Spontan melompat – menerjang, tangan kanannya kini terbungkus oleh sarung tangan tinju besi keramat. “Dedemit!” Ia memukul batang pisang tersebut hingga patah menjadi dua.
Braaall!
Rambut itu melepaskan mangsa. Bocah gendut berkulit putih itu berenang ke tepi sungai, dan berlari teririt-b***t – menangis masih dalam keadaan telanjang tanpa menoleh ke belakang. “Huwaaa! Emak! Ana demit kali emak! Huwaaa!”
Batang pohon pisang itu kembali menyatu, berubah menjadi kepala wanita berukuran besar. Hidungnya mancung, matanya putih melotot nyaris keluar, taringnya tajam, rambutnya lebat. “Apa hakmu ikut campur urusanku!”
Wildan berdiri Di tepi sungai dengan pakaian basah kuyup. "Kau yang mulai, kok kau yang nyolot!" seru Wildan jengkel.
Sang kepala tertawa, mengambang di atas air sungai. "Tuhan tidak pernah memerintahkan kami untuk tidak mengganggu manusia! Siapa kau berani berkata seperti itu?"
"Aku, hanyalah manusia, yang menuruti firman Tuhan untuk saling menolong sesama!" Wildan menatap tajam kepala itu, tanpa gentar. Pusakanya bersinar.
"Mati kau!" Kepala itu berhenti tertawa. Ia membuka lebar mulut, melayang ke arah Wildan.
“Hikaru no...” Mengeratkan tinju kanan yang sudah berbalut Cakar Putih Pajajaran, Wildan bersiap menyambut. “Gyaku tsuki!”
*
(Museum OHD Magelang.)
Tempat itu penuh dengan barang antik. Keris-keris terpajang dan tertutup oleh kaca. Beberapa tergantung di tembok museum. Gamelan dan beberapa alat tradisional lain tertata rapi, berjajar. Para pengunjung museum berkeliling dan mengamati benda-benda antik.
Yuliana dan Iwan berjalan beriringan menyusuri museum sembari mengambil gambar demi tugas kuliah. Keduanya mengenakan almamater kampus. "Yul, sudahlah. Aku tahu, kita memang ikut bersalah karena kita menjadi orang yang mengusulkan pendakian, tapi kita juga tidak tahu kan, kalau kita akan dapat musibah?"
“Kematian mereka belum sampai empat puluh hari. Aku masih ingat jelas jeritan mereka ketika para kuntilanak dan genderuwo membawa mereka."
Mahasiswa berambut ikal menghela napas panjang. "Kita hanya bisa mendoakan. Yang sudah, biarlah berlalu."
Blaammm!
Menggala si pria kekar berhidung pesek menjebol atap musem hingga hancur. Kemunculannya sontak membuat pengunjung menjerit histeris dan berlarian kabur. “Gwahahahhaha! Jadi si sini, tempatnya? Walau jarang orang-orang sakti di zaman ini, tapi kalian masih banyak menyimpan barang-barang dari zaman dulu, ya?” Tawanya menggema disela-sela jerit ketakutan. "Wahai Gada Wesi Kuning! Tunjukan padaku di mana Rantai Buto Cakil berada!" perintahnya melempar gada keemasan ke udara.
Swuuuung!
Benda besar sepanjang satu setengah meter, melayang dan mendarat keras di depan Iwan dan Yuliana. Mereka berdua pun terjengkang ke belakang akibat hentakan kuat pusaka sosok tak dikenal. ‘Apa lagi ini!’ Iwan panik, menggandeng Yuliana.
"Minggir kalian!" Pemuda pesek berblangkon mendekat, lanjut mengangkat gada dengan dua tangan.
Iwan spontan menarik Yuliana menjauh. Pria gondrong itu memeluk Yuliana dan melompati jendela yang cukup lebar. ‘Tar!’
Blaaaam!
Bangunan Museum runtuh setelah pendekar kekar berwatak keji mengentakkan gada keemasan ke lantai. Retakan rambut bak gempa bumi, membuat goyah pilar-pilar bangunan yang tak lagi utuh. Korban-korban jiwa berjatuhan begitu saja – tertimpa beton-beton keras yang tak pandang bulu.
Lima mobil polisi diikuti dua truk tentara, melaju kencang menuju lokasi saat itu juga. Dari kendaraan di sana, belasan prajurit dengan senapan dan senjata api, berkumpul mengepung sasaran. Mereka berbaris, menunggu komando salah seorang petinggi tentara sebelum menembak.
"Ikuti aba-abaku," ucap si pria berkacamata. Tubuhnya tidak begitu kurus. Ia turut memegang pistol dengan kedua tangan.
Braaaalll
“Gwahahahahah!” Menggala terlihat baik-baik saja setelah debu-debu di sekitar sana tertiup lenyap. Di tangan kirinya, rantai merah digenggam. Rantai itu berujung runcing, layaknya mata tombak. Pria itu berjalan perlahan menatap para polisi yang bersenjatakan senapan. "Jadi, itu panah Jaman sekarang yang diceritakan oleh Agna?"
"Siap!" Komandan tempur berteriak memberi aba-aba.
Menggala menggeleng. “Di antara kalian, hanya segelintir yang mengerti ilmu kebatinan, kan?"
"Tembak!" Timah panas menghujani Menggala. Tak ada satupun peluru yang mampu menggores. Pria itu tak bergeming. Iwan terkagum-kagum melihat hal itu, Yuliana menutup telinga dan mata. Suara peluru benar-benar keras bergema. Bising. Hantaman hujan peluru berlangsung selama setengah menit. Peluru rombongan polisi mulai habis, mereka kembali mengisinya.
"Gwahahahahahah! Ini bahkan tidak menggelitikku!" Menggala mengayun-ayunkan rantai merah yang berujung runcing. "Rantai Buto Cakil, hancurkan jantung mereka yang barusan menyerangku!"
Jlap! Jlap! Jlap! Jlap! Jlap! Jlap! Jlap! Jlap! Jlap! Jlap! Jlap! Jlap!
Dalam sekejap, rantai merah berujung tombak menembus jantung para petugas keamanan. Benda keramat tersebut kembali ke tangan Menggala.”Gwahahahah! kalian semua tidak lebih hebat dari manusia tanpa pusaka!” Mata si pendekar kekar pesek, tertuju pada Iwan dan Yuliana yang masih hidup. – di belakang para mayat aparat.
“Gweheheheh!” Ia berjalan mendekati gadis berkerudung dan pria gondrong. "Sampaikan pada mereka, kirimkan pendekar sejati, bukan kecoa-kecoa busuk seperti ini!" perintahnya menatap wajah pucat Iwan yang ketakutan.
*
(Kali Genteng, Kecamatan Paninggaran, Kab. Pekalongan.)
Setelah melenyapkan makhluk berjuluk Wiangga, Wildan menjemur kaos dan celana trainingnya di atas batu – berharap terik mentari segera mengeringkan baju. “Kita ini, sedang menunggu Titisan Petir, kan? Tapi, kenapa yang muncul malah demit burik gak jelas begitu!” keluhnya kesal. “Segala bawa-bawa nama Tuhan pula! Jelas-jelas dia dulu yang mau santap manusia!”
‘Wildan, aku merasakan energi kuat mendekat. Nuansa energi sukma ini penuh dengan amarah,’ jelas Sayf.
Pemuda kekar tanpa kaos – yang hanya mengenakan celana pendek hitam itu, ia menoleh ke belakang di mana delapan orang siswa SMA mendekat. “Lah? Ngapain lagi ini bocil-bocil SMA?”
‘Heh... memangnya kau sendiri bukan seusia anak SMA?’
“Ya... kan, aku sudah harusnya lulus! Aku delapan belas tahun, loh!” sahut si pemuda berambut lebat. Barulah saat wajah rombongan pemuda itu ia kenal, Wildan buru-buru bersembunyi di balik batu besar tepi sungai. "Guntur Setyawan?" Wildan mengingat wajah pria yang selalu mengalahkan dirinya dalam pertandingan final Karate.
Mereka sudah berada di tepi sungai. "Kita sudah berada jauh dari sekolah, jadi ayo mulai!" Pemuda tampan dengan kepala oval itu meregang-regangkan tangan dan kakinya. Ia mengambil kuda-kuda ala Karate - mirip seperti Wildan. Name tag di dadanya bertuliskan Guntur.
"Pancen bocah songon!" Satu dari tujuh pria yang menatap Guntur, geram. “Ngerebut pacare wong ora rumangsa salah babar blas!” Mereka mengepung, melingkari Guntur di tengah.
‘Wildan! Anak ini... aku mengenali nuansa energi anak ini!’ lapor Sayf tanpa menampakkan diri.
“Heh? Kau kenal?” celetuk Wildan spontan.
“Siapapun kau! Keluar dan jangan sembunyi!” Guntur berteriak memperingatkan.
Menghela napas, Wildan keluar dari persembunyian. “Apa kalian mau bertarung? Sebaiknya kalian mundur saja. Bocah songong itu, bukan lawan kalian,” ucap pemuda tanpa kaos.
Guntur tersenyum sombong. “Hooo! Lihat siapa ini? Wildan Alfatih, yang sering kalah di pertandingan Karate, ha?” ucapnya menyapukan pandang pada tujuh siswa berseragam putih abu-abu. “Tapi, dia ada benarnya, loh! Kalau kalian melawanku, kalian bisa tewas.”
“Kau banyak omong! Mau atlit mau Silat! Mau atlit Karate! Bonyok saja kau!” seru salah satu siswa berlari mendekati Guntur.
Blaaaag!
Guntur Setyawan memutar badan, melakukan tendangan telak mengenai wajah lawan hingga terputar-putar di udara. Saat musuh kedua melesat hendak menyerang, Guntur dengan santai membiarkan wajahnya terpukul, langsung membalas dengan tinju kiri. “Haaaagh!”
Blaaag!
Pemuda SMA berbadan besar dengan kulit sawo matang itu, terjungkal ke tepi sungai. Ia muntah darah.
‘Wildan, apa kau tak mau melerai mereka?’
Wildan tercengang melihat salah satu siswa muntah darah karena hantaman Guntur. “H-hey! Cukup!”
Guntur tersenyum kecil. “Apa kalian mau tahu, apa julukan yang diberikan oleh LHA padaku?”
Deg!
“LHA? Apa dia barusan bilang, LHA, Sayf?” Dahi Wildan mengernyit, matanya menyipit.
“Banyak cincong dasar playboy kadal!” seru lima siswa SMA sembari menerkam untuk menjagal pemuda berambut lebat.
Dyarr!
“Akulah Sang Dewa Petir!” jeritnya keras, mengalirkan listrik pada lima siswa yang memegang hingga terkapar tak sadarkan diri di tanah.
‘Listrik?’ Wildan tercengang memandangi Guntur. ‘Dia... mengeluarkan listrik?’
‘Dia, adalah reinkarnasi dari Indra – majikan Rakyan sang naga petir.’
"Cukup! Mereka bisa mati jika tidak cepat dibawa ke rumah sakit!" teriak Wildan menatap pemuda berseragam SMA yang masih berdiri tegap.
Merasa selesai dengan siswa-siswa SMA pengganggu, Guntur balik badan. Ia memperhatikan wajah Wildan secara seksama. "Wildan Alfatih?" tanyanya bernada sinis. “Apa yang dilakukan Anak Kota di tempat seperti ini, ha?”
"Lantas kau sendiri? Kenapa kau bisa dikeroyok seperti ini?" Wildan bertanya pelan.
"Aku hanya memacari pacar mereka semua. Dan aku juga menghajar adik pria berambut emo tadi, tapi entah mengapa mereka begitu kesal padaku." Tanpa nada bersalah, ia menjelaskan.
Wildan memasang wajah kaget. “Aku tak menyangka, jika Sang Juara Nasional Karate, rupanya sama sekali tidak mencerminkan seorang Karate-ka sejati!" Wildan berdiri di atas batu besar yang ia gunakan sebagai penjemur baju . “Memalukan!"
"Cuih!” Ia meludah pada para siswa SMA yang terkapar tak sadarkan diri. “Kau mau apa? Melawanku?" Guntur menaikan alisnya.
"Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu!" Wildan menggenggam erat tinju kirinya.
“Soal apa? Kekalahanmu di final Karate kemarin?”
“Kenapa kau biarkan makhluk berwujud naga itu mengamuk dan menimbulkan bada petir!”
Raut sombong sang pemuda berambut lebat, berganti jadi serius. “Kau... dari mana kau tahu itu?” Dahinya berkerut, penuh tanda tanya.
‘Wildan... aku tak yakin kau bisa membujuk reinkarnasi Indra tanpa kekerasan. Wataknya jelas terlihat sama seperti dirinya yang dulu.’
“Aku rasa begitu....” Wildan buang napas pelan-pelan lewat hidung. “Sayf? Apa bisa kau bawa anak-anak itu menjauh dari sini?” bisiknya lirih seraya meregang-regangkan tangan kanan-kiri.
“Grrrr....” Sayf sang harimau bermata menyala, muncul di samping kanan pemuda bertubuh kekar. ‘Baik, Wildan.’
“Hooo... harimau itu... harimau gaib, ya? Siapa kau sebenarnya, Wildan Alfatih? Dukun berkedok atlet Karate?”
“Hey, Guntur!” Pemuda berambut lebat mengacungkan telunjuk sembari melotot – menatap Guntur. “Kau belum jawab alasanmu membiarkan naga itu membahayakan nyawa orang-orang!”
“Kalau kau mau tahu jawabannya....” Guntur turut memasang kuda-kuda Karate, bersiap melakukan pertarungan – sebuah pertarungan yang akan mengubah banyak hal. “Maka paksa aku....”