(Sebuah Hotel ternama, Bali.)
Dasa – pemuda bercincin akik warna-warni menatap jengkel jendela kamar. Ia beberapa kali mencoba menghubungi nomor bawahan. Setelah telepon terhubung, ia berucap dengan nada tinggi, “kemana saja kau!”
‘Maaf, Tuan Muda. Saya baru saja me-’
“Aku tak butuh alasan!” bentaknya lagi.
‘Si-siap Tuan Muda. Saya siap menerima mandat, Tuan Muda.’
“Kitab kuno berusia ratusan tahun. Aku dengar ada di salah satu sekolah di Kota Pekalongan! Pastikan kau dapatkan benda itu sebelum orang-orang asing maupun orang-orang Pusaka Nusantara! Paham kau!”
‘Baik, Tuan Muda! Segera saya laksanakan,’ sahut suara dari sambungan telepon.
*
“Rengganis Adhistya Larasati... garis keturunan memang berpengaruh pada seseorang secara lahir, maupun batin. Tapi bukan berarti orang-orang yang bukan dari golongan ningrat, tak bisa melakukan apa-apa yang bisa manusia berdarah biru lakukan.”
Tatkala Laras mengerjapkan mata, dijumpainya Ki Panca tengah berdiri melempar senyum teduh padanya. Gadis manis sawo matang berambut panjang sepintas mengamati lingkungan sekitar di mana rumuput-rumput hijau membentang. ‘Orang ini, yang menemuiku di empat parkir hotel Bali, kan?’
“Apalagi yang leluhurnya pendekar berdarah prajurit Pajajaran?” Lelaki mancung berbalut busana hijau lengan panjang duduk menghadap gadis mancung berkulit sawo matang. “Namaku Panca,” ucapnya lembut memperkenalkan diri. “Nduk, apa kau berkenan ikut andil dalam takdir besar?”
‘Maksudnya? Takdir apa, ya?’ Laras terdiam seribu bahasa – tak tahu dengan apa yang mesti ia ucapkan.
Ki Panca menaruh tangan kanan ke punggung, ia seperti mengambil sesuatu tanpa Laras ketahui apa. “Kitab Cidewa Hideung, adalah sebuah kitab yang tidak hanya berisi gerakan-gerakan dasar dari seorang pendekar. Di dalamnya juga berisi tutur tingkah laku para pendekar,” jelasnya menyodorkan buku coklat di tangan kanan pada gadis di depannya. “Untuk mempelajari ilmu-ilmu diluar nalar logika manusia, sebenarnya susah susah gampang. Kau tahu kenapa, Nduk?”
Menerima buku tersebut, Laras menggeleng. ‘Ini... buku apa, ya? Kok rasanya aku tahu?’
“Batin adalah akar solusi untuk menguasai ilmu kebatinan. Mau sehebat dan sekuat apapun fisik dan ilmu tenaga dalammu, jika batinmu keruh, bukan mustahil kau masih bisa terkalahkan.”
“Jadi, apa yang harus saya lakukan untuk bisa mempelajari ini?”
“Paksakan dari batinmu dan hatimu lebih dulu sebelum mulai. Benahi niatmu, luruskan tekadmu, ketahui apa alasanmu dicipta,” jawabnya. “Jika kau siap untuk terjun ke dalam takdir besar, kau harus siap mengorbankan apa-apa yang menurut banyak orang adalah tujuan – dengan kata lain, tujuan dan kebahagiaan banyak orang, bukanlah patokan hidupmu. Apa kau sanggup?”
Tatkala pertanyaan terlontar, serasa ada beban besar yang mengimpit gadis berambut lebat. “Tapi....”
Ki Panca dengan cepat mengusap wajah Laras – membuat mata jeli gadis berbibir tipis terpejam. Ketika matanya ia buka, pemandangan yang ia saksikan bukan lagi luasnya rumput yang menghampar, melainkan belantara kota beserta para manusia di sana. Ki Panca dan Laras, berdiri di atas atap gedung setinggi puluhan meter. Langit yang semula cerah berwarna biru, jadi hitam sepekat malam berhias awan-awan cumolonimbus.
Ki Panca melanjutkan, “bukan kenyamanan dan kenikmatan yang menanti, melainkan perjuangan penuh keringat, darah dan air mata.”
Blaaaaaam!
Sesosok monster berbulu hitam lebat mendarat keras – menghancurkan sebuah gedung di depan mereka hanya dalam satu kali pukulan. “Grrraaaaaa! Datanglah! Kemarilah! Wahai Titisan Cahaya!”
Wildan Alfatih, pemuda bermata coklat yang ia kenal, melesat dari jalanan penuh mobil-mobil tak berpenumpang. Ia mendaratkan tinju pada perut kekar monster bermata merah menyala. “Hikaru no Gyaku tsuki!”
Blaaam!
“Gwahahahahah!” Sosok yang dihantam Wildan, sama sekali tak bergeming dibuatnya.
“K-Kak Wildan!” Laras terbelalak memperhatikan pemuda berjaket hitam yang ia kenali. Ia makin yakin saat jaket yang digunakan – persis seperti jaket yang ia titipkan pada Wildan.
“Terlibatnya dirimu, bukan sekedar untuk menolongnya....” Ki Panca menoleh ke bawah di mana rombongan wanita tergeletak tertimpa kendaraan roda empat. “Tapi juga nyawa para manusia lain,” imbuhnya tenang.
“Apa yang terjadi di sini!” Laras panik seketika.
“Tiap manusia, memiliki potensi yang sama untuk sampai pada derajat tinggi di hadapan-Nya. tapi pilihan, ditentukan oleh si manusia itu sendiri – akankah ia memilih jalan sebagai pengabdi Sang Maha Pencipta, atau sekedar jadi manusia yang hidup mementingkan diri sendiri tanpa berjuang menolong sesama.”
Tubuh Laras kaku, hatinya diselimuti rasa ragu. “Bagaimana mungkin aku membantunya?”
“Pikirkan baik-baik, Nduk. Sekali kau terlibat, tidak ada jalan keluar bagimu,” ucap Ki Panca saat Buto Angkoro menyemburkan laser hitam dari mulut – menyapu bersih gedung-gedung sekitar, tak terkecuali Wildan dan para manusia di bawah sana.
*
(Markas Pusat Pusaka Nusantara.)
Di depan jalan raya nan sepi depan markas utama, Raden Ronggo Jati menjabat tangan sang petinggi tentara. “Apa Anda yakin, Pak?” tanya sang pria berkumis lebat dalam balutan busana adat Jawa Tengah.
Pria sawo matang berseragam TNI mengangguk. “Saya juga tak habis pikir – dari mana beliau-beliau tahu soal ini, Den. Tapi, saya pastikan makhluk itu sampai tujuan,” ucapnya melepas tangan seraya menoleh ke belakang di mana sebuah truk box beserta jajaran truk tentaa berbaris rapi.
“Kalau boleh tahu, siapa yang memerintahkan njenengan, Pak?”
“Ahh... anu... kalau soal itu....” Pak Andi menarik napas panjang – kembali menoleh menatap petinggi Pusaka Nusantara. “Saya tidak berwenang menyampaikan.”
Raden Ronggo Jati manggut tiga kali. “Baiklah, Pak. Jika ada sesuatu, jangan ragu hubungi. Kami siap mengirim bala bantuan kapanpun.”
*
(Kediaman Laras, Kabupaten Garut, Jawa Barat.)
“Tidak!” Laras terbangun dengan keringat dingin membasahi sekujur badan. Gadis berpiyama hijau tanpa kerudung tersebut tersengal-sengal, mengingat jelas mimpi buruk yang ia alami barusan. “Astaghfirulloh hal adzim....” Mata lebar nan jernihnya memandang kamar sekitar. “Mimpi?” gumamnya lirih. Jam dinding kamar bulat menunjukkan pukul 13.00 WIB.
Wajah gadis berkulit sawo matang tersebut, kembali terkejut tatkala mendapati buku bernama Kitab Cidewa Hideung ada di genggaman tangan kanan. “I-ini... buku yang beliau berikan, kan?” Matanya mengamati sampul. Jemarinya mulai membuka lembaran demi lembaran. ‘Ini buku warisan Kakek? Bukankah kemarin, aku tak membawanya? Kenapa bisa ada di sini?’ Dirinya terpaku, tertegun akibat kejadian yang ia alami.
Ddrrrtt... drrttt... drrrttt....
Ponsel gadis berkulit sawo matang berdering di atas meja sebelah kasur. “Siapa yang telepon?” gumamnya mendekat – mengangkat panggilan dari sebuah nomor tak dikenal.
Suara lelaki yang familiar menyapa sekaligus mengkonfirmasi, ‘halo, assalamualaikum? Benar dengan Rengganis Adistya Larasati?’
“W-waalaikumsalam. B-benar, ini dengan siapa, ya?” tanyanya mengerutkan dahi.
‘Saya yakin Anda sudah tahu bila banyak hal yang terjadi di negeri ini. Jika kau yakin untuk bergabung, maka bagaimana caranya – datanglah ke alamat yang saya kirimkan.’
‘Bergabung?’ Menoleh pada layar ponsel, terlihat sebuah pesan baru masuk dari nomor yang tengah memanggilnya. “Ha-halo, ini dari siap-”
Tuut... tuutt... tuttt....
*
(Kali Genteng, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan.)
‘Sayf! Bawa pergi anak-anak itu!’ Wildan Alfatih melesat maju menyambut Guntur yang mengarahkan bogem tinju. Saat jarak wajahnya dekat dengan tinju lawan, ia sedikit memiringkan badan guna mengelak dari serangan tinju berpercikan listrik biru.
Swuuung!
Daun telinga Wildan menangkap jelas dengungan dari kandungan petir di kepalan tinju lawan. ‘Ahhh! Pukulan ini! Pukulan yang sama seperti di kejuaraan kemarin!’ pikirnya mengayun upper-cut dari bawah ke atas hingga mengenai dagu pemuda berseragam SMA.
Blaak!
Setelah Guntur terpukul mundur ke belakang, Wildan menatap tajam lawan seraya berkata, “jangan-jangan kau menggunakan kemampuanmu di pertarungan kita saat kejuaraan Karate, ya!” Ia sedikit melongok memperhatikan Sayf yang mulai pergi membawa anak-anak SMA sili berganti. ‘Bagus! Sayf! Segera kembali setelah mereka cukup jauh! Aku rasa aku tak bisa mengalahkannya sendiri,’ ucapnya bertelepati.
“Cuih!” Guntur meludah ke bawah. “Pola pikirmu polos sekali, ya? Kau punya tangan dan otak, untuk digunakan! Begitu pula dengan kelebihan, kan!” Ia tersenyum setengah, mengusap bibir. ‘Bocah ini... kecepatan geraknya meningkat jauh – berbeda dari pertarungan terakhir, ya? Siapa bocah ini sebenarnya?’
Sayf yang sudah tak terlihat, membalas telepati Wildan, ‘sebaiknya lumpuhkan Indra secepat kau bisa! Kalau dia sampai menggunakan segenap kemampuannya, kita yang dalam bahaya!’
‘Aku mengerti, Sayf,’ jawabnya menghela napas. “Menggunakan suatu kelebihan bukan pada tempatnya, adalah kata lain dari tindak kecurangan!”
“Yah, terus kalau aku curang, terus kau mau apa?” Guntur Setyawan berdiri tegap memandang lawan dengan mata elangnya. “Ngomong-omong, apa kekuatanmu itu? Aku lihat gerakanmu jadi lumayan cepat, ya?”
“Indra....” Wildan memanggil Guntur ragu dengan sebutan yang Sayf ucapkan.
Wajah pemuda berseragam putih abu-abu berubah kaget seketika. ‘Dia tahu nama masa laluku?’
“Aku tahu kau punya kekuatan yang jauh besar diluar nalar manusia zaman sekarang. Lantas apa untungnya bagimu mencelakai para manusia tak berdosa?”
“Sudahku bilang, kan?” Kembali memasang seringai di wajah, Guntur mengepalkan tinju kanan-kiri dalam kuda-kuda ala Karate-ka. “Aku akan menjawab jika kau berhasil memaksaku!”
Dlap!
Pemuda berambut lebat melejit cepat. Entakan kaki Guntur yang begitu kuat menghancurkan kerikil-kerikil tepi sungai. “Hyaaagh!”
Pemuda bercelana hitam segera mengatur napas seraya mengerjapkan mata. Ketika netra beriris colatnya dibuka, waktu berhenti seketika. Wildan mundur dua langkah saat menjumpai bogem mentah beraliran petir biru Guntur – sudah berada satu sentimeter di depan wajahnya. “Kau mungkin bisa menang di atas matras saat melawanku....”
Blaaag!
“Tapi kau tidak akan bisa menang di luar matras!” Wildan menghantamkan ujung telapak tangan pada sendi bahu Guntur, sebelum lanjut melancarkan puluhan tinju di badan lawan. “Hyaaaaaagh!”
Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag!
Seragam putih Guntur tercabik-cabik akibat serangan kerasnya. ‘Tak usah sampai menggunakan Cakar Putih Pajajaran untuk menyerangnya, kan?’ Setelah serangan beruntun yang ia kerahkan, Wildan melompat mundur dua langkah guna mengambil kuda-kuda pamungkas sembari menaruh lengan dan kepalan tinju di dekat pinggul. “Hyaaaaah!”
Blaaaawg!
Setelah melesat dan menghantamkan tinju kanannya kuat-kuat di perut pemuda berseragam SMA, aliran sungai, embus angin, dan bunyi hewan sawah pun terdengar – pertanda waktu kembali normal. Tubuh pemuda berkekuatan listrik pun, terlontar belasan meter akibat hantaman tinju Wildan ketika waktu berhenti barusan.
“Gwaahaaakh!” Guntur memuntahkan darah dengan posisi badan terlempar di awang-awang. ‘Dia... bagaimana mungkin bocah itu tiba-tiba berada di hadapanku! Yang barusan itu bukan teleportasi! Aku yakin melihat kerikil-kerikil di depanku berpencar setelah ia menghantamku!’
Blaaam!
Punggungnya terhenti oleh batu besar pinggir sungai. ‘Bocah ini... mengerti namaku di masa lalu... dan memiliki harimau gaib yang bisa mewujud? Apa dia juga lawanku di masa lalu?’ pikirnya menghantamkan punggung tangan ke belakang – mengenai batu besar yang sudah retak oleh benturan barusan.
Braalll!
‘Tapi dari gelagat bicaranya... dia tak jauh beda dari orang-orang naif yang mempedulikan manusia!’ Sesosok kadal biru tembus pandang layaknya proyeksi objek, muncul dari lubang di sela batu besar. Ia berlari dan merayap naik ke bahu Guntur. ‘Tuan, mohon maafkan keterlambatan hamba....’
Brrreeett!
Guntur merobek seragam SMA yang ia kenakan. ‘Bagaimanapun caranya, aku mau kau pastikan kematiannya!’ sahutnya lewat telepati.
“Indra... aku mohon... kita perlu bicara banyak hal mengenai Buto Angkoro.” Wildan si pemuda kekar bercelana hitam, sudah berdiri di samping kanan Guntur – berdiri di atas remukan batu besar yang Guntur hancurkan.
‘Tuan, orang ini adalah orang yang mengganggu ritual hamba kemarin. Nuansa energinya sangat persis dengan Titisan Cahaya,’ ungkap sang kadal biru transparan.
“Ohhh... begitu, ya....” Pemuda bercelana abu-abu panjang menunduk seraya balik badan. “Aku paham sekarang.”
‘Paham? Apa artinya aku berhasil membujuk bocah ini?’
“Pengembara berjuluk Musafir, mencari ketenaran di kalangan manusia pribumi dan mengajarkan hal yang kau sebut kebaikan.” Ia menatap tajam pemuda bercelana hitam. “Kau adalah Sang Titisan Cahaya, benar?” Listrik-listrik biru memercik dari sekujur badan pemuda yang lebih kekar dan terbentuk dari Wildan.
‘Wildan, atur jarakmu. Dia bisa bergerak lebih cepat dari yang kau duga!’ Sayf yang diam-diam sudah berada di atas batu besar pinggir sungai dalam wujud transparan, bertelepati memberi anjuran.
Wildan melompat jauh ke belakang tanpa menolehkan pandangan dari lawan. ‘Tubuhnya dialiri listrik?’
Swuuusss!
Guntur melesat cepat bagai melayang. Ia sudah berada di belakang Wildan dengan seringai lebar. “Kita buktikan siapa yang lebih kuat di kehidupan ini, wahai Titisan Cahaya!”
Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag! Blag!
“Gwahahahaah!” Kini gantian Guntur yang memberondong Wildan dengan tinju berlistrik – mendarat bertubi-tubi di punggung pemuda tersebut.
Swuuung!
Wildan terarak oleh daya dorong nan kuat – membuatnya menggores kerikil-kerikil pinggiran sungai sejauh puluhan meter. “Gwaaahhh!” Tubuhnya terhenti saat sebuah batu besar jadi penghalang.
Braalll!
“Haaaaakh!” Wildan merasakan kesemutan menjalari sekujur badan. Ia meringis menahan sakit. ‘Punggungku!’
Dlum! Dlum!
Ponsel dan arloji perak yang ia kenakan meletus, dipastikan penampung daya berwujud baterai di dalam balutan perak hancur akibat Rasa panas dari listrik yang menjalar. “Halah! Hancur!” gerutunya melepas jam tangan pemberian Diana, serta membuang ponsel pemberian sang kakek. ‘Bakal kena omel dua orang sekaligus ini!’
‘Kau masih bisa berdiri, Wildan? Kenapa kau tak gunakan Sarung Tangan Gadil Pajajaran!’
“Hhhhngh, Ya Alloh....” Pemuda bercelana hitam mulai berdiri bungkuk. Cakar di kaki-tangannya sudah memanjang – memadat. Sementara sepasang netra Sang Titisan Cahaya berpupil seperti harimau. ‘Apa kau mau aku membunuhnya!’
‘Indra Sang Titisan Petir, adalah Titisan dengan daya ketahanan yang lebih kuat dibanding dirimu. Biarku beri tahu, kalau kau mampu menyembuhkan luka sendiri, atau dengan kata lain meregenerasi tubuh dalam waktu singkat, maka dia punya ketahanan luar biasa. Sepuluh atau dua puluh tinjumu menggunakan Cakar Putih Pajajaran, tidak akan bisa merobohkannya.’
‘Tapi tadi dia sudah muntah darah, kan!’ sahutnya lewat batin. Mulai siaga mengepalkan kedua tangan.
‘Kau lihat kadal biru yang bertengger di bahunya itu?’
Wildan menyipitkan mata – fokus menatap bahu kiri lawan di mana seekor kadal biru tembus pandang bertengger. ‘Hewan apa itu, Sayf?’
‘Wujud lemah Rakyan. Dia sepertinya baru datang,’ ungkapnya.
“Naga yang semalam,” gumamnya lirih.
Swwuuuss!
Guntur melesat begitu cepat menghampiri Wildan. Batu-batu dan tanah yang ia lewati hancur jadi serpihan. “Apa kau sekarang takut melawanku, Titisan Cahaya?” tanyanya berhenti di depan lawan yang berdiri bungkuk.
Blaaawg!
Guntur melakukan tinju upper-cut, membuat pemuda bercelana hitam panjang terlontar ke udara. Bibirnya naik – tersenyum skeptis, sebelum lanjut melesat naik membumbung tinggi ke udara. “Tunjukan kemampuanmu!” Kaki kanan Guntur dirambati listrik biru berkecamuk. Ia gunakan untuk menyabet tubuh sasaran.
Blaaag!
Swuuung!
Blaaammm!
Tubuh pemuda bercelana hitam training menukik cepat menghujam bumi berlapis kerikil-kerikil tajam. Benturan tersebut mengakibatkan kawah kecil di pinggir sungai. Debu, remukan kerikil, dan tanah berbaur jadi satu menjadi asap – menutup tubuh Sang Titisan Cahaya.
Tap....
Guntur mendarat di batu besar yang Wildan gunakan untuk menjemur kaos. Ia tersenyum puas, melirik pada tangan kanan kekar berselimut percikan listrik biru. “Bagaimana rasanya dihajar seperti tikus tak berdaya, Wildan?”
Brrraak!
Sebuah rasa mengganjal Guntur ketika bunyi batuan kali yang menimpa Wildan terdengar dipindahkan paksa. Lima detik kemudian setelah asap dari serpihan batu dan debu tersingkir, terlihat Wildan sudah berdiri bungkuk. Bekas-bekas luka gores akibat gesekan pada batuan tajam, lambat laun merapat – meski noda darah masih meekat di kulit. “Apa anak ini belum mengerahkan kemampuannya?” bisiknya lirih pada sang kadal biru di bahu.
‘Benar, Tuan. Mereka sama seperti kita, saling tidak tahu puncak penuh dari kekuatan masing-masing. Karena di kehidupan ini, kekuatan hamba juga lama tersegel, sama seperti harimau itu.’
Guntur menyipitkan mata – memandang pusaka besi putih yang membalut lengan hingga kepalan tinju Wildan. “Pusaka apa itu? Kau bilang, mereka? Apa artinya, harimau yang tadi pergi memindahkan kecoa-kecoa busuk itu sudah menyatu dalam dirinya?”
‘Pusaka itu, setingkat seperti Keris Naga Langit yang hamba jaga dahulu, Tuan. Dan harimau itu, baru separuh menyatukan wujudnya dengan anak itu, Tuan.’
Dlap!
Wildan mengayuh kedua kaki, sejurus kemudian melesat memijakkan kaki kanan kuat-kuat ke bumi – membuatnya meluncur meenghampiri lawan. “Jangan paksa aku menyakitimu!”
Guntur tersenyum setengah, lanjut menyambut lawan menggunakan tinju kanan. “Banyak bicara!”
Blaaag!
Mesi Wildan terpukul di wajah, ia berhasil meninju wajah Guntur. Keduanya lanjut beradu pukulan. Guntur beberapa kali menendang, tetapi pemuda bermata harimau menanghalau serangan.
‘Wildan, kenapa kau tidak gunakan gerakan kilatmu?’ Sayf bertanya.
Wildan melangkah mundur, ia melompat untuk mengatur napas. "Aku benar-benar terbawa emosi." Wildan menutup mata.
Pemuda bercelana abu-abu melesat memukul, namun aliran air sungai berhenti. Begitu pula dengan tubuh Guntur yang berhenti karena bekunya waktu.
“Hikaru no...” Pemuda dengan tangan kiri bercakar, mengambil kuda-kuda pamungkasnya. Sarung Tangan Gadil Pajajaran menyala terang sebelum ia hantamkan pada tubuh lawan. “Gyaku tsuki!”
Blaaaammmm!
Sang Titisan Petir terlempar menabrak bongkahan batu sungai berturut-turut. Semua benda padat tersebut hancur ketika ia lalui. “Gwaaaargh!”
Setelah lawannya terkapar terpejam di tanah penuh kerikil pinggir sungai, Wildan menghela napas. "Guntur, kita sudahi ini. Kau sudah terluka parah!"
Namun, siswa SMA bercelana abu-abu panjang justru terkekeh sembari bangkit berdiri. Kekehannya jadi tawa lirih, sebelum meledak, “Gwahahahah! Jangan bercanda!” serunya menatap lawan. "Apa kau pikir, aku yang kuat ini akan kalah pada manusia naif sepertimu?" Kalimat yang keluar dari bibirnya bernada congkak – penuh keangkuhan. Sosok kadal biru tembus pandang yang semenjak tadi melekat pada bahu Guntur, merasuk menembus kulit.
Bzzzzzttt....
‘Wildan, nuansa energi ini....’ Sayf mengingat sesuatu.
‘Tidak salah lagi....’ Pria bertelanjang d**a dengan tubuh atletis itu menganga. Ia merasakan tekanan energi yang sama seperti tadi malam. ‘Energi gaib ini... sama seperti wujud naga semalam!’
Gledar! Gledar! Gledar!
Awan hitam berarak menjadi satu di atas mereka – menutup sinar terang mentari. Angin yang semula berembus sepoi, mulai berubah kencang. Situasi kala itu begitu gelap, tiada warna biru secuil pun di angkasa. Batu-batu di sekitar kaki Guntur bergetar sebelum hancur – seolah tak kuat jadi konduktor listrik. Rintik-rintik hujan mulai turun perlahan membasahi muka bumi.
Dalam gerimis, sepasang netra pemuda bercelana abu-abu, mulai menyala biru terang. "Aku sudah muak bermain denganmu!" Arus listrik biru nampak memutari kedua tinju Guntur.
Jantung Wildan lemas, merasakan aura sosok mengerikan di hadapannya. Rasa pesimis datang menyelimuti tatkala percikan listrik biru dari badan lawan, kian liar. ‘Apa aku bisa mengalahkannya?’ pikirnya menelan ludah.