Petir dan Cahaya! (Bag. 2)

2447 Kata
(Markas Pusat Pusaka Nusantara, Daera Istimewa Yogyakarta.) Sebuah ruangan bertembok kayu jati, halus nan kokoh. Ruangan itu di terangi cahaya temaram lilin. Sisi ruangan itu gelap. Di sana ada sebelas orang berpakaian Adat Jawa. Dua di antaranya memakai baju adat berwarna hijau, satu orang dengan baju Adat Jawa hitam, dan sembilan lain berwarna cokelat. Mereka semua berkumis tebal. Wajah mereka berwibawa. Satu orang dengan baju adat jawa hitam berjenggot agak panjang. “Satu dari tiga belas pusaka Buto telah diambil. Kalau kita tidak mempersiapkan semua penjagaan, bakal jatuh lebih banyak korban jiwa,” ujar pria berbaju adat hijau. “Jaga tempat yang dicurigai sebagai tempat bersemayamnya pusaka Buto, agar kita bisa mencegah mereka. Bila perlu, kita ambil pusaka Buto agar aman.” Pria berbaju cokelat itu memberi argumen. “Tapi Kangmas, jika kita mengambil langkah untuk mencabut pusaka Buto, maka tempat tersebut bisa terkena bencana,” ujar pria berblangkon cokelat lain. “Meski itu adalah pusaka para Buto, tetapi benda-benda itu juga jadi penyeimbang dan penopang energi alam sekitar. Dan kalau kita harus menggantikannya, kita juga perlu waktu untuk mengumpulkan pusaka-pusaka yang pas!” “Benar Kangmas. JIka pusaka Buto diambil, tanah di sana bisa amblas, dedemit di sana pun akan mengamuk dan bisa-bisa melukai banyak manusia,” timpal seorang pria lain. “Tapi Kangmas, lebih baik mengorbankan sedikit nyawa sekarang, dari pada kita membiarkan banyak nyawa melayang di masa yang akan datang.” Pria dengan baju adat hijau yang mana pertama berargumen kembali memberi alasan. “Sebelumnya, saya minta maaf atas apa yang akan saya sampaikan. Tapi demi DIA yang maha melindungi, izinkan saya menyampaikan apa yang telah saya pikirkan selama beberapa tahun terakhir.” Pria itu adalah satu-satunya pria yang terlihat paling muda, walau ia berkumis. Semua orang di sana bersiap mendengar. “Pusaka Buto, adalah pusaka berkekuatan magis tinggi, kekuatan ini menopang dan memberikan energi pada alam di sekitarnya. Bahkan Gunung Merapi, selain Waliullah yang menjaganya, di sana juga bersemayam pusaka sejenis dengan pusaka Buto. “Walaupun pusaka Buto memiliki watak jahat, tapi pusaka itu tidak akan menimbulkan keributan jika kita tidak mengusiknya. Untuk perkara direbutnya pusaka Buto, yang bisa kita lakukan hanya menjaganya, tanpa mencabutnya. Yang lebih penting adalah, mengumpulkan empat pendekar Titisan Langit untuk bersiap menghadapi bencana terburuk yang bisa terjadi.” Mereka sejenak terdiam. “Ucapan Raden Ronggo benar,” timpal pria berbaju adat dengan warna hitam. “Semalam, aku mendapatkan petunjuk,” laki-laki itu mengambil napas panjang, “aku bertemu beberapa leluhur Nusantara. Beliau berpesan, agar kita mencari gadis bergaris keturunan Pajajaran, dan gadis dengan getaran sukma api,” tambahnya. “Di mana mereka, Raden?” tanya sang pria berbaju adat hijau. “Beliau berkata bila salah satunya berada di Pekalongan. Dan satu yang lain, berada di Tanah Pasundan.” “Apa Panji dan Raihan bisa segera mencari mereka?” * (Kali Genteng, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan.) Dengan mata bersinar biru terang, Guntur Sang Titisan Petir menyeringai lebar. Dengan lantangnya ia berkata, “rasakan murkaku!” Swuuus! Siswa SMA bercelana abu-abu melesat secepat kilat seraya mengarahkan bogem mentah berselimut percikan listrik biru. Blaammm! Wildan berhasil melompat lebih dulu sebelum serangan mengenai dirinya. Batu besar yang ada di belakangnya tadi, hancur lebur jadi abu setelah tinju Sang Titisan Petir mendarat telak di sana. Percikan bekuan lava tersebut menyebar hingga masuk ke sungai yang bertambah deras. “Kekuatan apa itu?” gumam Wildan kembali siap. Ia memajukan tangan kanan berbalut cakar putih pajajaran di depan. “Kecepatan dan kekuatannya bertambah!” Wildan memandangi kepingan batu yang baru hancur. ‘Tinju petir itu masih sama mematikan seperti dulu – terlebih Rakyan yang jadi pusat kekuatan Guntur sekarang ini,’ ungkap Sayf. Pemuda bermata biru terang, menoleh kecil pada Wildan yang berdiri di dekat bentangan sawah hijau warga. “Apa kau akan terus menghindar begitu, hai Sang Titisan Cahaya!” Dlap! Ia kembali meluncur dan melayangkan tinju berpetir miliknya. “Haaaaagh!” Dang! Wildan reflek menangkis dengan tangan kanan yang terlindung oleh Cakar Putih Pajajaran. Meski begitu, aliran petir atau mungkin listrik dari badan Guntur  tetap menjalar, membuat lelaki bercelana hitam merasakan kesemutan. “Hhnnnnggh!” Usai kepalan tinjunya di tangkis, Guntur memegang tangan Wildan. “Haaaaah!” Ia melemparkan pria tanpa kaos kuat-kuat ke arah batu besar di tengah sungai. Otot dan pembuluh darah Guntur terlihat jelas menonjol. Blaaag! Pemuda berpupil harimau terlempar berputar-putar di udara sebelum mendarat keras pada batu besar. “Urrrghh!” Wildan mendarat dengan punggung, lalu terguling – tercebur ke dalam sungai yang deras mengalir. Guntur melompat jauh dan mendarat di tepi sungai. Ia mencelupkan tangan ke air sungai. “Terima ini!” “Haaarggh!” Wildan yang tersetrum merasakan sekujur tubuhnya dialiri listrik. Beberapa ikan yang bersembunyi di dasar sungai, turut jadi korban – mengambang dan hanyut oleh arus. ‘Wildan, gunakan mustika naga biru!’ “Petir Mustika Naga Biru!” jerit Wildan. Dyaarrrr! Petir biru yang melesat dari tubuh Wildan melesat menyambar Guntur. “Huuugh!” Ia memegangi d**a kiri seraya bergumam, “apa itu? Bagaimana mungkin dia bisa mengeluarkan petir?” Raut muka pemuda bercelana abu-abu berubah muram. “Kau mau beradu ilmu petir, ha?” Ia membuka kedua tapak tangan – mengadahkannya ke langit penuh awan. “Baiklah!” ‘Wildan, Sarung Tangan Gadil Pajajaran, memiliki kemampuan unik yang membuat para pendekar pada zaman dahulu begitu menginginkannya.’ “Uhhookh!” Wildan memuntahkan air yang sempat masuk ke dalam. Ia bergegas berenang ke tepian tanpa memalingkan wajah dari lawan. “Apa itu?” tanyanya cepat. ‘Jika dia menggunakan serangan jarak jauh, serap sebagaimana kau menarik benda wujud, kemudian lemparkan padanya!’ “Semudah itukah?” Wildan bersiap, ia berdiri dengan kuda-kuda. ‘Terus kenapa kemarin kau tak jelaskan ini pas aku lawan naga itu!’ “Haaaaaaaaagh!” Guntur berteriak memandang langit menggunakan matanya yang menyala biru terang. Dyaar! Dyar! Dyar! Gladaaarrr! Jedyarrrr! Intensitas hujan deras kian bertambah hebat, diiringi petir yang berkecamuk di angkasa. Angin ikut bertiup kencang, bergemuruh menerbangkan beberapa pohon pisang dan tanaman warga. Guntur mengangkat tinggi tangan kanan yang dialiri listrik. “Sabetan Langit!” Ia memukulkan tangannya ke tanah berkerikil di bawah. ‘Wildan, menjauh!’ Mendengar peringatan sang khodam yang berada di dalam badan, pemuda berbadan kekar lekas-lekas melompat mundur. Ia menutupi kedua matanya dengan lengan kiri ketika petir menyambar di hadapannya. Jedyaarrr! Namun, ia tetap terpental sejauh lima meter akibat ledakan yang timbul. “Haaaagh!” Guntur masih dalam posisi berlutut, ia kembali mengangkat tangan kanannya guna mengulang serangan serupa. “Sabetan langit!” Ia kembali memukul tanah. Jedyaar! Wildan berguling, ia berdiri dan langsung melompat. Berhasil menghindari sambaran petir kedua, Ia berhenti seraya melirik ke kanan dan kiri. ‘Sungai dan sawah, keduanya penuh dengan air, tempat ini sangat merugikan untukku!’ Wildan menatap ke seberang sungai, di mana pepohonan berjajar rapi. ‘Kebun itu dekat dengan rumah warga, bisa terjadi kehebohan jika aku bertarung di sana!’ Ia menoleh ke belakang, memperhatikan gunung yang mungkin berjarak belasan Kilometer darinya. “Aku harus menggiringnya ke-” “Lawanmu di sini!” Guntur meluncur cepat, memukulkan tinjunya yang diselimuti petir biru. Wildan kembali menoleh ke depan, pemuda bercelana abu-abu yang sudah ada di depannya sambil melayangkan tinju. ‘Celaka!’ Blam! Blam! Blam! Sontak menutupi bagian d**a yang dipukul menggunakan sarung tangan pusaka, tubuh Wildan terlontar jauh – mendarat di sawah penuh genangan air. “Uhhooogh!” Byur! Tanpa ampun, Guntur melompat menerkam. Secara membabi-buta ia kembali memukul perut Wildan yang masih terbaring dan tergenang air sawah. “Mana kemampuanmu yang dulu dipuja-puja itu!” “Haaarggh!” Wildan menjerit kesakitan tatkala tubuhnya tersetrum oleh percikan petir yang menyelimuti tubuh Guntur. ‘Wildan, tenangkan dirimu dan hentikan waktu!’ suara Sayf terdengar membisik batin. Pemuda bermata harimau, memejamkan kedua matanya. Namun aliran listrik yang menjalar di tubuhnya tak membiarkan dirinya tenang guna mengatur napas. ‘Sayf! Apa yang harusku lakukan!’ “Mati kau, Wildan!”terdiam sejenak untuk mempersiapkan serangan fatal, Guntur bersiap menyusulkan tinju kirinya. ‘Celaka, aku pun tak bisa berbuat apa-apa.’ Sayf turut putus asa. Blammmmm! Sang Titisan Cahaya menjadi sasaran tinju kiri Guntur yang berlistrik. Rambutnya mulai berdiri saat kedua netra berpupil harimaunya mengeluarkan air mata. Karena rasa nyeri tak karuan menjalar, Wildan memuntahkan darah. “Uhhookh!” “Gwahahahahaah!” Sang Titisan Petir tertawa melihat reaksi musuhnya yang tak berdaya, hingga Guntur spontan terpental oleh dorongan sesuatu. “Gwahaha – aargh!” Pyaarrrr! Bunyi gelas yang pecah terdengar keras dari tengah paru-paru Wildan. Pemuda berkekuatan petir terpental tanpa sebab yang jelas, tubuhnya berselimut lumpur tatkala terjengkang ke sawah. ‘Pusaka Melati Kusuma dalam sukmamu, hancur!’ ungkap Sayf. Wildan segera mengambil posisi duduk saat lepas dari belenggu serangan bertubi-tubi lawan. Pemuda dengan celana training hitam compang-camping setengh gosong, terbatuk-batuk bagai tersedak. Matanya merah bak menangis, tubuhnya lemas. “Astaghfirullah hal adzim...!” “Haaaargh!” Guntur seketika berdiri, “bagaimana mungkin dia lepas dari petirku?” gerutunya kesal. Netra menyalanya mulai redup. “Sayf... apakah energi sukma bocah itu masih banyak?” Wildan tersengal-sengal, tertatih mencoba berdiri. ‘Ya Alloh, Gusti!’ saat sosok kadal biru tembus pandang kembali muncul dan bertengger di pundak Guntur, Sayf menjawab lewat telepati, ‘Rakyan memiliki energi sukma yang besar. Dia menjadi pemasok kekuatan bagi Indra. Tapi sepertinya, dia juga sudah mulai kelelahan.’ ‘Lalu apa pendapatmu?’ tanya Wildan dalam batin, seraya menatap Guntur yang mulai berlari ke arahnya. ‘Aku akan gunakan Ajian terlarang, apa kau mengizinkannya, Wildan?’ Setelah berada pada jangkauan serang, pemuda SMA dengan mata yang tampak normal seperti manusia umumnya, meluncurkan pukulan dan tendangan. Kecepatan gerak Sang Titisan Petir berkurang drastis. Dengan badan yang sempoyongan serta gejolak darah tak stabil, Wildan bersusah payah menangkis serta menghindar. ‘Jika Ajian itu tidak berbahaya bagi orang-orang disekitar sini, maka lakukanlah Sayf!’ serunya terus bergerak – mengelak dari serangan lawan. ‘Kalau begitu, simpan pusaka itu kemudian gigit dia hingga berdarah!’ Wildan kaget mendengar perintah sang khodam. “Apa?” Blak! Alhasil dirinya terpental oleh tendangan dorong lawan akibat lamunan. “Huuurgh!” ‘Simpan Sarung Tangan Gadil Pajajaran! Gigit dia sampai berdarah!’ Sayf mengulangi perintah. “Haaaaargh!” Sang Titisan Petir melompat – melesat mengarahkan bogem kanan. Listrik biru nan memercik kembali menyelubungi sekujur badan. “Mati kau!”  Sang pemuda bermata harimau, melesat – bermaksud menepis tinju Guntur menggunakan sepasang tangan bercakar putih tajam. “Hrraaaagh!” Suara seperti raungan harimau keluar dari tenggorokan Wildan. Ia menyampingkan kedua tangan ke arah berbeda – menampik dan membuat luka tangan lawan. Srraak! Sepasang gigi taring pemuda kekar tumbuh memanjang. Ia menerkam jatuh pemuda berkekuatan petir. Tanpa pikir panjang, Wildan mengigit bahu kiri Guntur, walau ia pun ikut terkena sengatan listrik biru nan berkecamuk. “Haaarrrrrrrggg!” Pemuda berpupil harimau justru memperdalam gigitan pada bahu lawan tatkala arus listrik menyengat hebat tubuhnya hingga aliran darah dalam badan mendidih. “Grrraaaaawrg!” Wildan mengeram, menyerang remaja bercelana abu-abu bak harimau yang mengoyak mangsa. Kebencian dan rasa kesalnya memuncak, bertumpu pada sepasang taring yang panjang. “Hwaaaaaaaaa!” Guntur menjerit kesakitan saat taring lawan menusuk bahkan merusak tulang bahu. Sosok kadal biru tembus pandang di dekat leher, melompat menjauh dari sang majikan. Ia berlari ke arah sungai. ‘Cukup, Wildan!’ seru Sayf dari dalam badan. ‘Rasakan ini kau bocah congkak!’ Pemuda berdada kekar itu enggan melepaskan gigitan. Ia terus memperdalam tusukan taring hingga bunyi tulang retak terdengar. Kraak! Guntur menjerit makin keras. “Huaaa!” Sosok kadal kecil biru itu menghilang setelah menyelam ke dasar sungai, tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. ‘Wildan, sudah cukup!’ seru Sayf dari dalam tubuh. “Haaaargh!” Pemuda kekar bercelana hitam melepas gigitan, lanjut menyusulkan cakaran ke badan lawan secara membabi-buta. “Hwaaargh! Mati kau b*****h!” Srakk! Srrakk! Ssrraak! Srrraakk! Sraaak! Ssrraakk! Dikala darah segar mulai mengucur membasahi badan berotot Sang Titisan Petir, riak air muncul di permukaan sungai. Hujan dan badai petir kembali mengamuk di angkasa, membuat siapapun tak akan berani keluar dari naungan. “Grraaaawgh!” Seekor naga biru besar muncul dari riakan air barusan. Dalam wujud masih seperti proyeksi tembus pandang, Rakyan sang naga biru terbang melingkar di awang-awang, sebelum menukik ke arah Wildan. Pemuda bercakar dan berpupil harimau berhenti menyerang. Ia mendongak ke langit menatap sosok naga bertanduk rusa yang muncul siap menerjang. ‘Aaagh... itu...’ Pupil harimaunya mulai kembali normal. Kepalanya menunduk memandang kedua tangan. “I-ini...” Sang Titisan Cahaya benar-benar tak sadar telah menyerang lawan bertubi-tubi. ‘Wildan, jika aku tak kunjung kembali... maka carilah aku di alam gaib. Untuk sementara aku akan menahan Rakyan,’ ujar Sayf. Sosok harimau putih meloncat keluar dari tubuh Wildan, bersiap menerjang naga yang terbang ke arahnya. “S-Sayf? Apa maksudmu?” tanyanya lirih saat anggota badannya kembali normal seperti manusia biasa.  “Grrrrooaam!” Kedua Khodam itu menggigit satu sama lain, membiarkan taring runcing dari masing-masing lawan membuka luka – sebelum akhirnya lenyap tanpa jejak kemunculan mereka. “Grrraaaaaaawgh!” “Sayf!” teriak Wildan histeris. Guyuran hujan deras membuat noda darah di bibirnya luntur. Tubuhnya basah kuyup. “Rakyan!” Guntur turut berteriak. Ia menangis menahan sakit sembari bergerak bangkit. Sepasang netranya kembali menyala biru terang. Dlap! Wildan melompat mundur guna mengatur jarak. Dalam perasaan kalut tersebut, ia memandangi lelaki yang merupakan anggota dari empat Titisan. “Kau....” Sarung Tangan Gadil Pajajaran kembali muncul – menyelimuti tinju kanan Sang Titisan Cahaya. Bzzztt... Bzzztt... Bzztt.... Pada tangan kirinya, petir biru melingkar-lingkar. Tak lama, tercipta bola listrik yang cukup besar. “Wildaaaaan!” Ia melemparkan bola listrik seperti sang naga tadi malam. Tidak hanya itu, Guntur langsung memukul tanah becek di bawahnya, “Sabetan Langit!” Wildan justru mengangkat telapak tangan kanannya ke atas. Matanya menajam menatap lawan dikala kilatan petir menyambar ke arah pemuda bercelana hitam. Jedyaaarr! Namun, petir itu menyusut – mengecil dan berputar-putar pada sarung tangan putih hitamnya. Melihat seranga susulan, Wildan pun menangkap bola listrik yang melayang ke arahnya menggunakan satu tangan kanan. Mata Wildan begitu tajam menyimpan amarah. Sarung tangan pusaka yang biasa menyala putih, kini menyala biru terang. “Kau harus membayarnya!” Drap drap drap drap drap drap drap! Wildan berlari ke arah Guntur. Ia mengarahkan tinju kanannya. “Haaaa!!” Buammm! Sang Titisan Petir menangkis, tetapi tubuhnya tetap terpental dan tersetrum akibat hantaman kuat Sang Titisan Cahaya. “Huuurgh!” Ia mendarat di batu yang berada di tengah sungai. Wildan berlari dan melompat, bermaksud menyambar Guntur yang tergeletak di batu. Sayang, lompatannya tak cukup jauh. Dia lupa bila Sayf juga membawa pergi kekuatan yang ia pinjam. “Haaaargh!” Hujan itu begitu deras, sampai- sampai aliran sungai meluap. Guntur pun kemudian terguling dan hanyut bersama arus sungai yang kian deras oleh guyuran hujan. Pemuda itu hilang kesadaran akibat serangan fatal yang Wildan luncurkan – serta habisnya tenaga. Dengan sisa tenaga yang Wildan miliki, ia berjalan menyeberangi derasnya sungai guna mencari tempat berteduh, memulihkan diri dalam kondisi setengah sekarat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN