(SMA Pekalongan.)
Siswa-siswi kelas dua belas tengah mengikuti mata pelajaran sejarah di jam-jam akhir sekolah. Sebagian memasang wajah datar – seolah paham dengan apa yang sedang sang guru berbadan besar sampaikan. Sebagian lain curi-curi pandang pada jam dinding bundar di dinding atas papan tulis – berharap waktu segera terbunuh. Sementara Yahya yang duduk di sebelah kiri Wildan, menyenggol-nyenggol lengan kiri pemuda berambut lebat.
“Wil?” panggilnya berbisik tanpa beralih pandang dari papan tulis. “Penjaga sekolah bilang kau menginap di musola sekolah semalam. Apa kau sedang rebut lagi dengan Kakek galakmu itu?” tanyanya lirih.
“Eh? T-tidak, kok! Aku sengaja menginap di sini demi lihat latihan silat yang diadakan semalam,” jawabnya berbohong. ‘Wah! Pak Kihan mulut ember!’ gerutunya dalam batin.
“Kan jadwal latihan silat tiap malam minggu? Ini kan malam rabu?” Dahi Yahya mengernyit. Alisnya naik sebelah menampilkan raut tak percaya.
“E-eh! A-ada! Itu, anu… Ada latihan buat persiapan pertandingan katanya,” jawabnya gugup.
Rifza si pemuda kecil berbibir tipis memajukan badan ke dekat dua kursi di depan setelah mendengar sahabat kecilnya berbohong. “Hilih! Kudu kursus nggoroh dengen karo nyong! Bocah polos ka aban nggoroh, ya ora bisa! (Hilih! Kau harus kursus berdusta dulu padaku! Bocah polos kok mau bohong!)” bisiknya.
“Shhhhhst!” Lelaki berseragam guru dengan name-tag Widodo membalik badan. “Rifza! Yahya! Wildan! Kalau mau gantikan saya mengajar, bilang!” serunya tegas. Ekspresi wajah yang semula datar, berganti muram. “Coba, sini, Rifza! Maju ke depan!”
“T-tidak, Pak! Maaf, maaf!” sahutnya menekuk garis bibir ke bawah.
“Cepat sini, maju! Coba sebutkan salah satu kata bijak yang pernah Presiden Pertama ucapkan!”
Yahya menoleh kecil ke belakang seraya berbisik, “heh! Tengil! Maju!”
Siswi dengan badan yang paling besar lagi duduk di meja paling depan sisi kanan, berseru, “Riri! Maju woy! Cowok paling hobi ghibah masa nggak mau maju! Huuu!” ucapan si perempuan berbaju ketat akibat badannya yang lebar, disusul oleh sorakan kesal para siswa di dalam kelas. Hanya Diana, Anisa, dan beberapa gadis yang mengenal baik dirinya tak ikut bersuara.
Rifza mengambil napas, beranjak dari kursi. Ia berdiri di dekat sang guru sejarah. “Sekarang, Pak?”
“Ndak!” timpalnya melirik sang murid dengan tajam. “Tahun depan, nunggu Indonesia terapkan hukuman mati buat yang pada korupsi!”
Seorang siswa berkulit sawo matang dengan rambut cepak yang duduk di ujung ruang kelas, menyahut ucapan Pak Widodo, “mustahil, Pak! Kalau nunggu yang korupsi beranak-pinak sih ho’oh!”
“Heh! Jamet! Diam, kamu!” timpal Pak Widodo kesal. “Cepat! Rifza! Sebutkan salah satunya!” perintahnya meghadapkan wajah pada bocah berhidung mancung.
Rifza tersenyum masam. “A-anu, Pak. Itu, apa ya… Anu…”
“Ona anu ona anu! Plonga-plongo kok rebut di kelas! Ayo cepat! Sebutkan!”
Rifza menoleh ke bawah, mencoba mengingat kalimat sang proklamator sembari mengernyitkan bibir. “Ah! Iya, anu Pak!” Siswa bernama panjang Rifza Mustafif buka mulut, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri!”
Selauruh kelas bertepuk tangan saat Rifza berhasil menjawab tantangan sang guru sejarah. Tetapi suara dari tepukan tangan mereka berhenti, tatkala sesosok polisi berbadan gempal telah berdiri di ambang pintu masuk kelas.
“Selamat pagi!” ucapnya menatap Pak Widodo. Sosok yang tak lain adalah petinggi polisi bernama Tirto, menyapukan mata kepada para siswa. “Wildan Alfatih! Dimohon bagi siswa bernama Wildan Alfatih, segera meninggalkan kelas dan ikut saya!” ucapnya lantang.
Tak seperti siswa-siswi lain yang heran memandang sang polisi, netra Diana justru berpaling tuk menatap sang mantan kekasih. ‘Wildan? Polisi? Ada apa?’ pikirnya bingung.
Sayf yang sedari tadi tak tampak, tiba-tiba muncul dalam wujud transparan – yang mana hanya bisa dilihat oleh mata batin. Sang harimau berbulu lebat dengan sepasang mata putih menyala, bersuara memberi anjuran, ‘sebaiknya turuti orang itu, Wildan. Aku bisa merasakan niatnya untuk menyerangmu kapanpun.’
Yahya berbisik, menoleh pelan pada sang sahabat, “Wil? Kau bikin salah apa?”
‘Sayf, apa kau tahu alasannya datang kemari dan menjemputku?’ tanya sang pemuda berseragam batik biru lewat batin.
‘Setelah aku endus, ada aroma orang-orang asing yang sempat mengejarmu beberapa hari lalu. Sepertinya mereka bekerja sama untuk membawamu,’ jawabnya sembari melangkah maju ke dekat pintu – menembus beberapa meja dan kursi.
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri…” gumam Wildan sebelum menghela napas panjang. Baru Pak Widodo sang guru sejarah hendak mempertanyakan sebab-akibat siswanya akan dibawa, Wildan mencangklong ransel hitam lanjut berdiri tanpa menjawab pertanyaan teman sebangku. “Pak Wid, mohon izin sebentar,” ucapnya berjalan maju.
Diana yang sedari pagi sama sekali tak terang-terangan menoleh pada Wildan, mulai menghadapkan wajah pada sang mantan yang kini berjalan melewati bangkunya. ‘Wildan… Kau sebenarnya, kenapa?’
“Mohon izinnya sebentar ya, Pak!” ucapnya melempar senyum pada sang guru, meninggalkan penghuni kelas yang kebingungan.
Sebagian siswa saling berbisik, mempertanyakan alasan sang pelatih ekstra kulikuler Beladiri dan Bahasa Inggris dibawa oleh sosok polisi. Anisa si gadis berkerudung dengan kaca mata, mengusap-usap punggung Diana tanpa berkata-kata.
***
Di lorong sekolah, Wildan melangkah bersama sang polisi juga sang khodam harimau putih wujud transparan. Pemuda berbatik biru menundukan kepala saat beberapa siswa yang tengah berolah raga di lapangan luas, menatapnya heran. “Apa dasar Anda membawa saya, Pak?” tanyanya menunduk.
Tep…
Polisi berbadan gempal menepuk pundak kanan Wildan. “Tenanglah, Nak. Justru saya membawamu, karena penasaran tentang apa yang kau perbuat saat kejadian di gedung hotel beberapa waktu lalu,” tanggapnya.
Wajah Wildan tegang seketika. ‘Sayf, apa dia tahu kalau aku yang bertarung melawan Banaspati di rooftop saat kebakaran?’
‘Tidak, Wildan. Dia hanya mendapat informasi simpang-siur soal dirimu. Cobalah untuk mengelak dari pertanyaannya,’ sahut sang harimau putih besar.
“Tenang saja, Nak Wildan. Kita punya banyak waktu untuk membahas ini nanti,” ujar sang polisi lirih.
‘Ngger… Cah bagus? Krungu suaraku ora? (Nak, apa kau dengar suaraku?)’ suara lain yang tak asing, menggema di kepala Wildan.
‘Apa, Sayf?’ Netra beriris coklatnya melirik pada sang harimau gaib transparan.
‘Bukan aku, Wildan. Itu suara Raden Panca,’ ungkap sang makhluk berlengan kekar.
“Mas Panca?” gumamnya lirih memperlambat langkah kaki.
Melihat respon dadakan Wildan, sang polisi gemuk bertanya, “kenapa, Nak Wildan? Apa ada yang tertinggal?”
‘Pergilah. Jangan kembali ke rumah. Jangan biarkan orang-orang itu membawamu,’ anjur Ki Panca lewat telepati.
Di ujung lorong sekolah yang dekat dengan gerbang keluar, lima orang polisi berjaket kulit hitam telah menanti kedatangan Wildan. Ada beberapa sosok guru yang menemani mereka menantikan sang siswa SMA. Sementara di dekat gerbang sekolah, sesosok pria bule pirang bertuksedo dan berkaca mata hitam, tersenyum melihatnya dari jauh.
Melihat hal itu, Wildan mulai berspekulasi, ‘kabur? Mereka membawa tembakkan. Apa mereka tidak akan ragu menembakku di sini juga?’
‘Wildan, apa kau masih terlalu lelah untuk memperlambat waktu?’ tanya sang harimau.
‘Ah! Benar!’ Ia tersenyum lebar sebelum mulai merapatkan sepasang mata.
Melihat Wildan memejamkan mata, pria pirang berkaca mata hitam menghapus senyum dari wajah, ia spontan merogoh senapan dari balik busana – bersiap menembakkannya pada siswa berseragam batik biru.
Tatkala Wildan Alfatih membuka mata, segala sesuatu bergerak begitu lambat. Ia mendorong pelan sang polisi berbadan gemuk, lanjut melangkah keluar melewati pria bersenjatakan pistol. “Ck! Orang-orang ini!” Bogemnya mengepal, tanpa ragu ia layangkan pada perut lelaki setinggi seratus delapan puluh sentimeter tersebut. “Enyah!”
Blaaak!
***
(Komplek Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.)
Siswa-siswi dari SMA luar Jawa Tengah, berkumpul riang gembira menikmati panorama alam. Siang itu kabut telah turun – menerjang ratusan wisatawan yang menyebar di lapangan hijau lebar dengan berbagai bangunan candi sebagai sentral perhatian.
Gadis berkerudung dengan seragam SMA berlogo Garut, berjalan beriringan dengan teman-teman sebaya. Papan nama pada seragamnya bertuliskan R. A. Laras. “Di sini dingin, mirip seperti malam di Bandung, ya?” ucap si siswi berkulit sawo matang pada dua gadis lain yang sedikit lebih pendek darinya.
Gadis yang ada di sisi kirinya bergumam, “tapi di sini lebih memberatkan.” Gadis beralis tipis merangkul lengan kiri Laras yang panjang.
Mengetahui bila gadis beralis tipis di dekatnya merupakan salah satu siswi dengan julukan anak indigo, Laras bertanya lirih, “apa yang kamu lihat, Nita?”
“B-banyak, tapi mereka hanya memperhatikan orang-orang di sini saja,” jawabnya menunduk.
Pemuda jangkung berjaket hitam melambai-lambai tiga gadis tersebut dari kejauhan – tepat di depan sebuah candi. “Ras! Laras!”
Gadis yang mengiringi Laras dari sisi kanan menyipitkan sepasang mata. “Si Afif?”
“Ayo foto-foto bareng di sini!” pintanya tersenyum lebar.
Deg!
Gadis berkerudung dengan tinggi seratus enam puluh sentimeter, tersenyum mengajak dua gadis di samping. Ia tak sadar bila Nita terus memejamkan mata seraya menundukkan kepala. Bagaimana tidak, jika sosok-sosok aneka rupa terlihat transparan, ia lihat dengan jelas – berkumpul di sekitar candi yang tengah ia hampiri.
“Sini!” seru si siswa jangkung berjaket hitam saat ketiga gadis itu berada di hadapannya.
‘Laras?’ suara misterius memanggil samar bersamaan dengan embus angin di siang nan mendung.
“Heh?” Laras terdiam mematung mendengar namanya dipanggil oleh suara misterius seorang wanita. ‘Suara naon ieu the (Suara apa itu barusan?)’
‘Rengganis Adistya Larasati… Masuklah kemari, Nduk.’
Gadis berseragam SMA tersebut sontak melangkah cepat ke arah candi di belakang Afif. “Eh? Apa kalian dengar i-”
Cet!
Nita si gadis beralis tipis menahan lengan sahabatnya itu. “Jangan, Ras. Jangan dengarkan,” bisiknya ketakutan.
‘Rengganis Adistya Larasati, kemarilah, Nduk… Apa kau ingin tahu penawar agar adik kecilmu sembuh? Gadis bernama Sukma Adistyana yang kamu sayangi?’
Netra bulat gadis berhidung mancung seketika lebar terbuka setelah mendengar adiknya disebut. “Siapa itu!” sergahnya berlari masuk ke dalam candi yang mana merupakan sumber suara lirih misterius tadi.
“Eh! Apa sih?” Afif si bocah SMA berjaket hitam mengerutkan kening – hanya memandangi Laras yang berlari melaluinya.
“Kyaaaaa!” Setelah tubuhnya masuk ke dalam bangunan candi, raganya lenyap ditelan kegelapan.
“Laras!” jerit Nita histeris.
Afif yang merasa bahwa dirinya merupakan satu-satunya lelaki yang dapat diandalkan, menyusul Laras masuk ke dalam bangunan candi. Tetapi ia sama sekali tak menemukan apa-apa di dalam sana. Spontan ia merogoh ponsel dari saku guna memberi penerangan, ironis baterai ponselnya habis dan mati seketika. “Ras? Laras!”