“Wayooo! Wildan!” Dari kejauhan, Rifza meneriaki Wildan yang nyaris menempelkan bibir pada gadis berbusana batik biru. Di samping kiri bocah SMA berkulit cerah itu, Yahya turut geleng-geleng kepala – tak menyangka apa yang hendak Wildan perbuat. Sementara di belakang dua sahabat dari kecilnya itu, sang Kakek sudah berdiri sembari menatap tajam sang cucu.
Wildan yang sudah melihat kehadiran tiga orang dari jauh, menelan ludah. ‘Aduh!’
‘Salah sendiri mau berbuat begitu di siang hari,’ celetuk Sayf dari dalam badan.
***
(Air Terjun Madakaripura.)
Sinar bulan purnama menyorot langsung pada permukaan air jernih di bawah tebing nan tinggi menjulang. Beberapa jenis tanaman lumut tumbuh lebat di sekitar permukaan dinding bebatuan yang berbentuk nyaris melingkar sempurna. Sementara di dekat sungai pada daratan yang menjorok ke bendungan air lebar, sesosok pria berbusana adat Jawa duduk dalam posisi semedi.
Tampak tujuh sosok transparan dari manusia-manusia lain di sana. Kumpulan laki-laki berbalutkan busana adat yang berbeda-beda mulai dari busana adat sunda, Kalimantan timur, Bali, Melayu, Pangsi ala Banten, dan Betawi, berjajar melingkar pada permukaan air. Sementara lelaki berblangkon lengkap dengan busana Jawa, jadi satu-satunya sosok yang mewujud layaknya manusia biasa.
Laki-laki yang wajahnya tak terlalu jelas terlihat akibat gelapnya lingkungan, mulai buka mulut, “Di mana dua orang lainnya?” tanyanya lirih.
Lelaki berbusana Kustin ala Kalimantan Timur menJawab, “mereka masih mengawasi gerak-gerik anggota Pusaka Nusantara yang ada di Pulau Kalimantan, Tuan.”
Sejenak terdiam, ia kembali bicara, “kalau begitu kita langsung saja mulai pembahasaan soal makhluk itu saja.” Melihat enam sosok sukma di hadapannya manggut, ia menghela napas. “Buto Angkoro, memiliki empat pengawal dari bangsa manusia. Meski sudah dibangkitkan, tapi mereka berempat masih memerlukan waktu sebelum pulih seperti dahulu kala. Tapi walau kita bergabung dengan organisasi orang-orang asing, itu tidak menjamin keberhasilan kita untuk membujuk – apalagi mengalahkan mereka saat ini.”
‘Tuan, tapi apa tidak sebaiknya kita lebih dulu urus orang-orang Pusaka Nusantara? Karena kelalaian Surya dan Tarmoyo, mereka sudah mulai menyelidiki keberadaan kita,” usul sosok sukma berbusana ala Bali.
Sukma lelaki berbusana pangsi mengacungkan tangan ke atas. “Kemunculan para Titisan, justru jadi hal yang saya pikirkan, Raden. Meski baru satu yang muncul dan cari gara-gara dengan organisasi LHA, tapi sebaiknya kita segera urus mereka.”
“Ibarat harimau yang tertidur, jangan usik mereka sebelum kita benar-benar siap menundukkan mereka,” tanggap sosok berbusana ala Jawa.
“Punten, Den.” Sukma lelaki berbusana putih lengan panjang mengangkat tangan. “Jika saya boleh beri saran, sebaiknya kita biarkan semuanya mengalir lebih dulu. Sebab, kita lihat sendiri bila belum ada celah pergerakan yang bisa kita lakukan sekarang.”
***
(Kediaman Wildan, Kota Pekalongan.)
Mbah Abdul Wahid mengelus jenggot beruban yang tumbuh pada janggut. Ia berdiri membelakangi Wildan yang duduk di kursi ruang tamu. “Aku jarang sekali mmebiarkanmu duduk di kursi ruang tamu. Kau tahu apa yang akan Simbahmu ini sampaikan, bukan?” tanyanya tanpa menghadap sang cucu.
‘Pasti soal Diana,’ terkanya lemas dalam batin. Siswa SMA kelas tiga dengan seragam batik birunya tetap bungkam, mengerti bila ia menJawab justru membuat amarah sang kakek mencuat.
“Sulaiman adalah pemuda yang nekat dan sering mengambil tindakan tanpa berpikir panjang.”
Wildan melirik pada punggung sosok berkemeja kuning batik. ‘Bapak? Simbah sedang bicara soal Bapak?’
“Hampir seluruh keturunan dari Kakek Buyutmu, adalah seorang pejalan. Orang-orang yang melakukan laku tirakat dan perjalanan demi mendapat pelajaran serta menemukan jati diri. Aku tahu, sekarang ini kau pasti bertanya-tanya soal banyak hal, tetapi bagi seorang pejalan – atau seorang Musafir, mereka diharuskan menemukan Jawaban sendiri lewat sebuah perjalanan.”
“Apa Simbah benar-benar sudah tahu semu-”
Blaaag!
Mbah Abdul Wahid mengentakkan kaki kanan kuat-kuat hingga lantai keramik putih yang ia pijak retak. “Jangan memotong kalau orang tua sedang bicara!” Seluruh kaca yang ada di ruangan bergetar bak terkena vibrasi sambaran petir.
Deg!
Wildan menundukkan kepala ke bawah, netra beriris coklatnya bergulir ke kanan dan kiri barang sejenak. Tubuhnya gemetar hanya dengan mendengar teriakan sang kakek. ‘Apa Mbah benar-benar sedang marah?’
“Meski Raden Panca jauh lebih muda dari Kakekmu ini, tapi beliau adalah guruku. Kau beruntung bisa bertemu dengannya dalam usia sehijau ini.”
‘Mas Panca? Benar. Simbah memanggilnya guru waktu itu,’ renungnya sembari mengingat-ingat.
Sang lelaki sepuh berjenggot mulai balik kanan – menghadap Wildan. “Aku dengar kau diminta beliau untuk mencari batu biru di telaga sarangan, benar?”
Wildan manggut, ragu menatap balik sang kakek. “B-benar, Mbah.”
“Wil,” sebutnya lirih. Alisnya menekuk turun – beraut melas. “Kalau kau punya pilihan, apa kau ingin hidup seperti manusia biasa?” tanyanya melangkah ke kursi di mana pemuda berbatik biru duduk. “Atau tetap memilih melangkah di jalan penuh kerikil dan duri itu?”
Pemuda berambut lebat kembali menunduk. “Wildan mboten retos, Mbah, (Aku tak tahu, Kek,)” sahutnya lugu.
“Di dunia ini, selalu ada hitam dan putih,” ujarnya menghela napas. “Orang-orang berwatak jahat, selalu ada setiap kali orang-orang baik masih tersisa. Tidak semua orang jadi manusia pilihan-Nya, meski semua jiwa memiliki potensi dan harapan yang sama.” Mata sang lelaki dengan keriput di wajah, memandang baik-baik wajah sang cucu. “Sebagai bahan renungan, aku hanya berpesan padamu, Wil.” Tangan kanan dengan pembuluh darah yang tampak, menepuk lembut pundak lelaki berbatik biru. “Alloh tidak memberikan beban diluar kemampuan hamba-Nya. Dan setiap anugerah yang dititipkan pada manusia, harus dipergunakan demi kebaikan dunia.”
Tes…
Netra coklatnya melirik ke samping kanan tatkala sosok yang amat ia segani menitikkan air mata. “E-eh? Mbah?” Baru kali ini ia melihat sang kakek menangis.
Mbah Abdul Wahid mengusap wajah seraya memejamkan mata. “Dan sebelum kau memulai perjalananmu, serta demi kesiapan dirimu, aku minta padamu untuk menyelesaikan beberapa hal. Apa kau siap, Wil?”
Pemuda bercelana abu-abu turut menghadapkan badan pada sang kakek masih dalam posisi duduk. “Nopo, Mbah?”
***
(Komplek perumahan Kota Pekalongan.)
Diana, si gadis berkulit cerah dengan balutan piyama itu masih saja merebahkan badan di atas kasur empuk merah muda. Netranya fokus pada layar gadget, sementara jari mungilnya menggulir beranda medsos dengan latar ungu. “Wildan bilang kalau ponselnya hilang saat di perjalanan berangkat, itu kenapa dia tidak bisa dihubungi,” ujarnya pada seseorang yang juga tengah ia telepon.
‘Lah? Hilang? Dasar bocah ceroboh. Berarti kalian sedang tidak bisa jalin komunikasi dong?’ sahut suara dari ponselnya.
“Iya, Nis. Tapi ya mau bagaimana lagi,” keluhnya lemas.
‘Itu bocah, benar baik-baik saja, Di? Beberapa waktu lalu motornya hancur tanpa pengendara di tengah jalan. Si Alif juga bilang mereka sempat dikejar-kejar orang asing. Sekarang dia mendadak hilang dan Kakeknya bilang kalau dia ada acara keluarga dadakan. Kok, aku merasa aneh, ya?’
“Aneh kenapa sih, Nis?” tanya si gadis berpiyama merah muda seraya menekan tombol keluar dari aplikasi medsos.
Tok tok tok….
Beberapa saat setelah bunyi pintu diketuk, suara adik bungsunya memanggil, “Mbak Dian! Itu di luar ada Mas Wildan!”
Wajah gadis berbibir tipis yang sempat lesu, mendadak merekahkan senyum. “Eh? I-iya, Dim! Sebentar!”
‘Wahhh! Itu bocah panjang umur! Lagi di-ghibah-in kok muncul udah kaya jurig aja! Hahaha!’
“Nis? Aku sambung nanti lagi, ya?” Diana bangkit menyambar kerudung di atas meja komputer.
‘Okey! Selamat cekikian bersama Mamas Wildan tersayang! Wkwkwk!’
“Hish! Bye! Asssalamualaikum!” balasnya memutus sambungan telepon sejurus kemudian mengenakan kerudung merah muda. Langkah kakinya cepat menuju pintu.
Krrieet…
Di sisi luar pintu, seorang bocah berambut tipis dengan kaos dan celana putih berdiri menanti sang kakak perempuan. “Huuh! Mbak Dian kalau dipanggil Mas Wildan langsung cepet! Tapi kalau Ibu apa Bapak yang panggil, Jawabnya nanti-nanti!” celetuk si bocah dengan wajah sinis.
“Hish! Bocil nggak tahu apa-apa! sudah, sana main HP lagi!” tanggapnya berjalan melewati sang adik. Ia melangkah cepat menuruni tangga menuju ruang tamu. Tak melihat Wildan di sana, menjadikan langkah kaki gadis berkerudung merah muda melambat. ‘Dia tidak masuk? Biasanya kalau begitu sedang buru-buru. Memang dia mau kemana?’ pikirnya lanjut melangkah menuju pintu depan.
Tak berapa lama, dijumpainya Wildan yang sudah mengenakan kaos dan celana hitam lengan panjang, tengah memunggunginya. Pada pundak pemuda bersepatu sport tersebut, tercangklong ransel hitam. Wildan yang mendengar daun pintu besar terbuka, menoleh ke belakang. “Diana…”
“K-kau mau pergi kemana lagi? Dua bulanan lagi kita ujian kelulusan, loh! Pak Dahlan tadi sudah menanyakan tugas-tugasmu yang belum juga dikumpulkan!”
Pemuda bermata coklat tersenyum masam setelah menghadapkan badan. “Aku mau bicara sesuatu,” ucapnya lirih.
“Bicara apa? Ayo, masuk ke dalam,” ajak sang gadis berkerudung ramah.
“Tidak usah, Di. Aku hanya mau bic-” Ia berhenti berkata tatkala sang kekasih memegang menarik tangan kekarnya.
“Ayo, masuk dulu. Kau sudah lama tidak main ke sini!”
Menahan diri agar tak tertarik maju, Wildan menarik napas dalam sebelum berucap tegas, “aku mau kita sudahi hubungan kita, Di.”
Diana yang sempat menahan senyum seraya menarik tangan lelakinya, seketika bisu. Kepalanya menoleh – memandang baik-baik paras rupawan lelaki bermata coklat. “Apa?”
“A-aku, aku mau kita sudahi hubungan ini, Diana,” ujarnya menunduk.
Melepas cengkaman dari sang kekasih, Diana mulai berwajah datar. “Kenapa? Apa ada perempuan lain?”
Wildan kembali membuang napas berat. “Tidak.” Kepalanya menggeleng lirih empat kali.
“Terus? Apa? Kenapa?” sergahnya kesal.
‘Aku tak mau melibatkanmu,’ pikirnya menunduk. “Aku hanya ingin sendirian saja,” ucapnya.
“Tatap aku, Wil.” Air mata mulai terbendung dari netra indah sang gadis manis. “Kau… Sedang bercanda, kan?” tanyanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari Yahya dan Rifza yang mana mungkin sedang bersembunyi. “H-hey! Ulang tahunku masih sebulan lagi!”
“Terima kasih, dan maaf, Diana.” Wildan balik kanan, berjalan pelan meninggalkan gadis yang ia sayangi terdiam mematung di teras rumah dua lantai. Tanpa melihat, ia yakin betul bila gadis di belakangnya mulai menitikan air mata.
‘Kalau kau ragu untuk mengatakannya, kenapa kau tidak menghilang saja dari kehidupannya?’ Sayf bertanya dalam wujud trasnparan. Harimau putih berbulu lebat tersebut muncul dalam wujud transparan – yang mana hanya bisa dilihat dengan mata batin.
“Mana tega aku menggantung perasaannya begitu,” Jawabnya lirih sembari membendung luapan air dari sepasang netra beriris coklat.
‘Kau sepertinya menyayanginya, Wildan.’
“Kalau kau tak mau aku berjalan sambil menangis, sebaiknya diamlah,” cetusnya menahan tangis.