Cinta dan Mimpi

1486 Kata
Hamparan luas hutan terpampang di bawah gunung. Pada tebing yang cukup terjal dengan bebatuan berjajar, Wildan berpegangan kuat pada salah satunya. Otot dan pembuluh darah lengan kanan dan kiri tampak jelas. Pemuda berbadan kekar yang hanya berbalut celana hitam panjang, mengejam menahan agar tak jatuh ke bawah jurang setinggi puluhan meter. Pada punggung padat pemuda beralis lebat, sesosok gadis dengan kerudung putih memeluknya erat. “Wildan?” panggilnya pesimis. “Tahan, Diana! A-aku… Aku masih kuat! Sebentar lagi kita sampai!” sahutnya memancal batu di dekat kaki seraya menggapaikan tangan kanannya pada batu besar lain di atas kepala. “Huungh!” Air mancur nan keruh secara tiba-tiba menyembur keluar dari tanah yang ada pada kaki gunung, terus terangkat naik dan membentuk parit yang melingkari gundukan tanah penuh bebatuan. Sebagian air menyapu – menumbangkan pohon-pohon sekitar. “Wildan, kau naik saja sendiri. Aku tak sanggup lagi,” ucapnya lirih dengan dekapan tangan yang mulai kendur. Cet! Wildan spontan melepas pegangan dari batu di atas, memilih mencengkam erat tangan gadis berbusana putih yang ia gendong. “Tidak!” serunya mengejam. “Bertahanlah!” Shhhssssh! Sepasang mata merah menyala dari parit air keruh terlihat makin besar diiringi dengan desisan sesuatu yang terdengar. Tak berapa lama, seonggok kepala ular hitam raksasa mencuat dari sana sembari membuka mulut. Lidah ularnya menjulur-julur keluar sebelum membuka mulut lebar. “Shhhaaashh!” Wildan yang putus asa, memijakkan kaki kanan kuat-kuat tuk melejit ke atas. “Huuungh!” Nahas, batu di tebing yang ia pijak justru lepas – terguling jatuh ke bawah dan masuk pada mulut sang ular raksasa. Srraaaaag! “Haaargh!” Pemuda kekar bercelana hitam panjang terperosok dengan Diana pada gendongan. Tangan kanan-kiri lelaki bermata coklat itu mencengkam kuat tebing – tak peduli meski kukunya berdarah-darah. “Huuuurgh!” “Wil, tetaplah hidup demi mereka yang memerlukanmu,” ujar si gadis berbibir tipis lemas sebelum melepas dekapan – memilih terjun bebas meninggalkan Wildan yang bergelantung pada batu tebing. Sadar bila beban berat yang ia bawa tak lagi terasa, ia terbelalak dan cepat-cepat menoleh ke belakang. “Diana!” serunya keras. “Tidak!” Lhaawb! Sang kekasih hati, dilahap oleh sosok ular hitam raksasa yang terus melesat ke atas. *** (Kediaman Wildan, beberapa jam setelah pertarungan melawan raja genderuwo.) Terbangun dari mimpi buruk yang jelas terasa, Wildan sigap mengambil posisi duduk di atas ranjang bersprei putih. “Diana!” jeritnya dengan tubuh lembap akibat keringat. Napas pemuda tanpa kaos itu tersengal hebat. ‘Mimpi?’ “Aku rasa kau sudah sadar, Kang Wildan?” Panji si pemuda gondrong dengan rambut diikat bando pada kepala, tersenyum menatap lelaki bercelana kain hitam pekat. “K-kau!” Ia berguling ke belakang guna mengambil kuda-kuda di atas kasur. Panji tersenyum dengan mata terpejam. “Tenanglah, Kang Wildan. Aku ada di pihakmu,” ucapnya menenangkan. Menyipitkan netra beriris coklat, Wildan Alfatih mengepalkan tinju kanan-kiri. “Apa maksudmu?” “Aku rasa aku salah menilaimu. Aku kira, kau adalah anggota organisasi dukun yang sekarang ini sedang diburu oleh pihak pemerintah dan pihak Pusaka Nusantara. Tapi, ternyata bukan,” jelasnya tanpa raut muka bersalah. “Bukankah sudahku bilang kalau aku tak tahu apa-apa soal apa yang kau bicarakan!” bentaknya kesal. “Maaf, maaf. Aku rasa, aku harus banyak berterima kasih padamu karena menolongku semalam,” ujarnya garuk-garuk rambut belakang. ‘Ah, benar! Semalam, aku kana da di hutan itu!’ pikirnya sambil menyapu pandang pada sekitar. ‘Kamar?’ Dahi Wildan berkerut. ‘Bagaimana bisa aku pulang ke rumah? Apa Sayf yang mengantarku?’ “Tapi sepertinya kau sudah sembuh, ya? Padahal aku rasa semalam aku sempat menghantammu begitu keras, hehehe…” Panji meringis. Deg! Pundak dan pinggul Wildan seketika merasakan pegal. “Huuukh!” Tubuhnya jatuh di atas kasur. "Aduh!” keluhnya kesakitan meraba pinggang. “Duh Gusti! Encok!” “Yah, karena kau sudah pulih, aku rasa bukan jadi masalah aku meninggalkanmu.” Pemuda berjaket coklat dengan celana jeans gelap, beranjak dari duduknya. “Kalau kau tak keberatan, datanglah ke Markas Pusaka Nusantara. Kami semua sudah menanti kedatanganmu ke sana,” ujarnya ramah. “Heh! Bocil! Tunggu sebentar!” Masih dengan dahi berkerut, pemuda bermata coklat tampak bingung. “Kau semalam begitu liar ingin membunuhku! Dan sekarang kau bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa!” celetuknya kesal sembari meringis menahan sakit di sekujur badan. “Jelaskan! Kenapa aku bisa di sini dan apa sebenarnya maksudmu semalam ingin membunuhku tanpa mau mendengar ucapanku!” Mendengar permintaan pemuda yang lebih tua darinya, Panji menggulirkan mata belonya ke kanan dan kiri, mengingat momen sesaat sebelum Wildan hilang kesadaran. *** (Hutan Kabupaten Pekalongan, beberapa jam lalu.) Braaalll! Usai bogem kanan berlapis sarung tangan pusaka itu mendarat – menghancurkan kepala sang raja genderuwo dari belakang, pemuda berkaos putih langsung terkapar tak sadarkan diri di atas rumput hijau lebat. Dalam posisi duduk setelah terjengkang akibat daya empasan angin oleh serangan pamungkas lelaki berambut lebat, Panji Pradita Pranadipa tercengang melihat kejadian barusan. Baru kali pertama ada seorang pemuda tanpa ajian kanuragan mampu menghancurkan penguasa gaib bangsa genderuwo hanya dalam satu kali pukulan. ‘Aku rasa aku benar-benar meremehkan orang ini,’ pikirnya. Melihat sang pemimpin telah hancur berkeping-keping, kawanan genderuwo bermata merah menyala secara serentak menggaibkan diri – kabur dan menyeberang ke dimensi gaib. Suasana lapangan lebar yang dikelilingi pohon-pohon pinus, kembali hening. Hanya bunyi aliran air sungai dan serangga malam yang terdengar. “Sebenarnya siapa orang ini?” Pemuda berjaket coklat mengambil napas dalam, memaksakan napas dan aliran darah agar kembali tenang. Perlahan kakinya menyangga badan, berjalan pelan mendekati Wildan. ‘Apa aku harus melaporkan bocah ini pada Pak Andi?’ Sayf dalam wujud transparan, kembali mewujudkan diri ke dimensi manusia. “Grrrrrr!” Harimau belang bermata putih menyala sudah siaga di samping kanan Wildan dalam posisi siap menerjang. “Aku tak akan segan mencabik badanmu jika kau berani menyentuhnya!” kecamnya. Raut sang harimau menunjukan ekspresi geram. Deg! Panji melangkah mundur satu kali. Jantungnya kembali berontak hanya karena berhadapan dengan sosok gaib bertekanan besar luar biasa. ‘Aku rasa sedari tadi makhluk ini hanya menahan diri… Aku rasa, aku juga tak bisa mengalahkannya seorang diri,’ pikirnya. Lhuuuuwb! Sebuah cahaya putih terang, menyorot di tengah jarak antara Sayf dan Panji. Cahaya putih tersebut menyusut – membentuk jadi sesosok manusia berbusana dan bersorban putih. “Podo-podo bolo kok tukaran! (Sesama kawan kok berkelahi!)” ujar sosok tersebut setelah jelas membentuk wujud manusia – Ki Panca. “A-ah… Guru besar!” Panji tertegun sebelum mempersembahkan senyuman. Mimik wajah sang harimau berbulu lebat sedikit tenang mengetahui siapa yang datang. Hanya saja cakar pada tapak harimaunya masih siaga di sana. “Raden…” “Nji, iku wong sing digolek Mbah Rikma Seto. Ndang anter bali. Ojo kondo-kondo marang sopo-sopo disik, (Nji, itu orang yang Mbah Rikma Seto cari. Antar dia kembali. Jangan bilang pada siapa-siapa saat ini,)” jelas Ki Panca sembari menghadap Wildan yang terkapar di samping Sayf. “Yen bocah wis sadar, domongi wae kon lungo marang Keraton Pusaka Nusantara. Tapi sedurung mangkat rono, dilingno ben iki cah nggolek watu biru ning Gunung Lawu. Paham? (Jika dia sudah siuman, minta dia datang ke Markas Pusaka Nusantara. Tetapi sebelum itu, ingatkan dia untuk mencari batu biru di Gunung Lawu. Paham?)” Panji menunduk, manggut mengiyakan. “Sendiko, Guru.” *** (Kediaman Wildan, masa kini.) Tanpa menceritakan detil kejadian semalam, Panji hanya tersenyum sembari berkata, “sebelum kau datang ke Markas Pusaka Nusantara, carilah batu biru di Gunung Lawu.” “H-heh! Bocil! A-apa maksudmu!” teriaknya dikala Panji justru melangkah keluar meninggalkan kamar. Wildan yang dirmabati rasa pegal pun, tak kuasa mengejar. “Ugh!” ‘Ada sebuah mustika kuno di Telaga Sarangan, Gunung Lawu. Ki Panca semalam datang dan memintanya mengantarmu kembali, Wildan.’ “Sayf?” gumamnya melirik ke kanan-kiri. ‘Jika kau sudah merasa siap untuk pergi ke sana, akan aku antar kau segera,” sahutnya dari dalam badan Wildan. *** (SMA Pekalongan, Pukul 13.45 WIB.) Diana sang gadis berbusana batik biru menghampiri Wildan yang terduduk merenung di bawah pohon kersen. “Hey, Wil? Masih belum pulang?” Wildan yang teringat pada mimpi buruk, sejenak diam memandangi wajah gadis berbibir tipis tersebut. ‘Ya, tidak salah lagi. Yang ada di mimpiku, memang dirinya.’ “Kakekmu bilang, kau habis pergi mendadak ke rumah Pamanmu di daerah Bandung? Tapi kenapa nomormu tidak aktif?” tanya gadis beralis tipis sembari duduk di samping kiri Wildan. Pemuda beriris mata coklat sejenak bisu. ‘Apa lagi yang si Kakek lakukan!’ Sayf menimpal lewat telepati, ‘dia sudah menjelaskan ke pihak orang-orang yang kau sebut guru itu, bahwa kau sedang pergi karena keperluan keluarga.’ Pemuda bercelana abu-abu menarik napas dalam-dalam, lirih meluruskan pandang ke lapangan. “Diana?” “Ya?” sahutnya tersenyum. “Apapun yang terjadi, kau tidak akan pergi, kan?” Sang gadis manis mengerutkan kening. “Kau ngomong apa, sih! Bukannya kamu yang suka pergi-pergi tanpa kabar!” Menolehkan kepala ke kiri masih dengan ekspresi datar, Wildan mulai memajukan kepala mendekati Diana – membuat gadis itu canggung tuk beberapa detik pertama, sebelum akhirnya memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN