(Hutan Kabupaten Pekalongan.)
Ia berjalan maju ke depan. Sinar purnama menyorot lapangan hijau bakal arena pertempuran besar. “Aku rasa sudah bertahun-tahun lalu melihat pusaka dengan aura kerajaan Pajajaran yang digunakan oleh seorang manusia biasa.” Sosok berbalut jaket coklat dengan celana jeans panjang bersuara laki-laki, mulai melangkah – melompati sungai kecil yang mengalir memisahkan lapangan hijau dengan rimbun pepohonan. “Dan harimau itu, berapa usianya? Apa dia makhluk yang kau sembah sehingga bisa menjajah bangsa gaib di sini?” Meski bertubuh lebih kurus dari Wildan, tetapi posturnya sedikit lebih tinggi dari pemuda bersarung tinju logam.
Deg!
Jantung Wildan tersentak merasakan kehadiran pemuda misterius di hadapannya. Netraberiris coklatnya tak mampu melihat jelas wajah pemuda yang tengah berbicara akibat sinar purnama yang terhalang tudung jaket ber-hoodie menutup kepala. “Siapa orang ini, Sayf?”
“Grrrraaawgh!” Sayf mengaum – membuat tasbih yang menjerat badan seketika hancur. Makhluk berbulu lebat dengan mata menyala putih, memperhatikan lawan. “Aku mencium aroma yang sama seperti orang-orang Pusaka Nusantara dari badannya. Ajian yang barusan ia gunakan juga memiliki getaran serupa.”
“Pusaka Nusantara? Apa itu?” Wildan melangkah mendekati sang harimau putih tanpa memalingkan pandang dari pemuda misterius yang mana terus berjalan mendekat.
“Sebuah perkumpulan dari orang-orang dengan garis keturunan para pendekar dan pejuang Nusantara era kerajaan,” sahutnya bersiap menerkam.
“Aku rasa kau memang makhluk gaib tingkat tinggi, sampai-sampai bisa lolos dari jerat gaib ajianku.” Pemuda berjaket coklat mengambil kuda-kuda. “Katakan, apa tujuan kalian membawa gadis kecil tadi adalah untuk menjalankan ritual?”
“Hee? Bocah kecil?” Dahi pemuda berkaos putih berkerut. “Apa mak-”
Dlap!
Pemuda berjaket coklat melesat cepat menghampiri Wildan seraya mengepalkan bogem kanan. Ia melompat kayang tatkala Sayf menerjang demi mencegahnya mendekati sang majikan. “Aku rasa kau malah yang jadi tuannya, ya?” gumamnya usai mengelak dari terjangan sang harimau, lanjut melesat menyambar Wildan.
Dang!
Lelaki beralis lebat menahan tinju kanan lawan menggunakan Cakar Putih Pajajaran. “Hiigh!” Tangannya serasa dihantam besi berat saat tinju lawan mendarat.
“Grrroaar!” Sayf memutar haluan setelah mendarat di atas rumput lebat, kembali melesat menerkam lawan dari belakang.
Melompat memutar badan seraya melempar tasbih dari saku jaket kepada sang khodam, lelaki tersebut menggerak-gerakkan bibir guna merapal sesuatu. Tujuh buah tasbih yang ia layangkan pada Sayf kembali memanjang – menjerat perut, tangan, leher, kaki, dan ekor sasaran.
“Sayf!” Wildan menoleh pada sang khodam.
“Aku rasa kau tak menguasai ajian kuno apapun, tapi kenapa bisa pusaka dan harimau itu ada di pihakmu?” tanyanya usai mendarat di tanah.
“Hey! Apa alasanmu menyerang kami!” bentak Wildan jengkel.
“Ada anak yang terjebak di alam gaib sore tadi. Dia bilang, dia melihat seseorang sebelum terjebak di sana. Dan lagi, kau baru saja menghabisi penghuni kerajaan gaib sekitar – yang pastinya karena kau mau merebut daerah kekuasaan mereka, kan?”
Melihat Sayf yang kesulitan akibat jerat tasbih misterius lawan, Wildan mengacungkan tangan pada sosok berjaket coklat. “Apa yang kau bicarakan! Dan siapa kau!”
Membuka tudung di kepala, pemuda berjaket coklat memasang wajah datar. Rambutnya hitam panjang, dengan karet yang mengikat poni rambut depan agar terjuntai ke belakang. “Aku Panji Pradita Pranadipa, anggota Pusaka Nusantara yang sedang mencari-cari bawahan organisasi Dewata Nawa Sanga sepertimu!”
“Aku tak tahu kau ini bicara apa! tapi yang jelas lepaskan dia!”
Pemuda bernama Panji mengamati wajah Wildan. “Aku rasa, kau lebih tua dariku. Apa kau takut, melawanku tanpa bantuan makhluk itu?”
Wildan mengeratkan gigi seraya mengepalkan kedua tangan. “Aku memang bukan ahli silat atau orang dengan kekuatan semacamnya, tapi kalau kau minta aku agar melawanmu demi sesuatu yang aku pedulikan, maka kau sudah buat kesalahan besar!”
Panji si pemuda beralis lebat dengan mata belo dan dagu lancip, siaga dalam kuda-kuda silat masih dengan muka datar. “Aku rasa kau tak akan menang.”
‘Wildan! Tahan saja dia sebentar! Aku akan menggaibkan diri sejenak dan memulihkan tenaga untuk membantumu!’
“Haaagh!” Wildan mengarahkan tinju berlapis pusaka Cakar Putih Pajajaran pada wajah lawan.
Namun serangan pemuda berkaos putih dengan mudah dihindari pemuda berjaket coklat. “Kau lambat!” ucapnya membalas serangan Wildan dengan ayunan kaki kanan.
Blaaag!
“Huuukh!” Wildan si pemuda bertubuh kekar terlontar jauh ke belakang, terguling-guling di atas rumput sebelum terlentang kesaitan. “Huughuh!” Ia memuntahkan cairan merah sembari meringis memegangi perut. ‘Agh! Ya Alloh! Rasanya seperti ditumbuk besi!”
Bunyi langkah kaki yang menggesek rerumputan terdengar dari Panji yang tengah berjalan santai – mendekati lawan. “Aku rasa kau sudah tak bisa berkutik lagi. Walau umurku baru tujuh belas tahun, tapi aku sudah biasa menghajar dukun-dukun yang lebih tua darimu.”
‘Dia masih bocah? Tapi kenapa bisa sekuat ini! Jarakku terlontar begitu jauh! Apa dia manusia!’ pikirnya mengambil posisi duduk.
Tubuh sang harimau bermata putih menyala mulai transparan. ‘Wildan, bertahan!’
Teringat pada tewasnya Pak Dibyo dan gadis kecil oleh kekejaman siluman kelelawar, Wildan menyahut dengan napas tersengal, “tidak, Sayf!” Pemuda beralis hitam kembali siap dalam kuda-kuda Karate. “Aku sudah cukup pusing dengan sesuatu yang disebut takdir masa depan! Yang aku tangkap, aku hanya harus jadi lebih kuat! Kalau aku mengandalkanmu tanpa berjuang dengan tanganku, aku tak akan berkembang!” imbuhnya mengayuh kedua kaki yang sempoyongan tuk mendekati lawan.
Drap drap drap drap!
Wildan meliukkan badan – melayangkan tendangan putar. Sadar bila serangannya dihindari lawan, ia menyusulkan kepalan kedua tangan secara bertubi-tubi sembari melangkah ke depan. “Haaaah!”
Pemuda yang sedikit lebih tinggi dari Wildan, menghindari ayunan tinju berselimut pusaka Cakar Putih Pajajaran. Sementara ayunan tinju kiri pemuda berkaos putih ia tampik sebelum mengenai badan. ‘Aku rasa aku salah. Orang ini masih bisa bergerak cepat meski tampak sudah kelelahan,’ pikir Panji dengan muka datar. Mata lebar pemuda berjaket coklat cenderung fokus pada sarung tangan logam yang membalut tangan kanan Wildan.
‘Tanganku seperti dibentur besi!’ Lengan kiri yang didorong lawan terlihat memerah. ‘Tapi matanya hanya waspada pada tangan kananku? Dia juga tak menangkisnya, kan?’ terkanya yakin menyipitkan sepasang mata. Wildan melakukan tendangan putar dengan kaki kiri, lanjut menabrakkan bahu kanan pada badan sehingga membuatnya melompat ke samping kanan.
Grep!
Pemuda berambut lebat mencengkam pergelangan kaki Panji sembari tiarap. Ia mengayunkan tangan kanannya yang berlapis Sarung Tangan Gadil Pajajaran pada anggota tubuh lawan yang ia pegang. “Haaagh!”
Dlap!
‘Orang ini!’ Panji memijakkan kaki satunya ke tanah kuat-kuat, membuatnya melompat tinggi dan menggagalkan serangan Wildan. Ia membawa lawan berada dua meter di atas permukaan tanah.
‘Kalau aku tak bisa mengalahkannya, mana bisa aku melawan siluman sekuat waktu itu lagi!’ otot dan pembuluh darah pemuda berambut hitam tampak jelas saat ia menarik kaki lawannya sembari menyusulkan bogem kanan. “Haaaaagh!”
‘Kenapa dia bisa jadi sekuat ini tanpa khodam!’ Mata belo Panji terbuka lebar. Ia mengutus tangan kanan-kiri tuk menyilang pada bagian perut yang hendak Wildan jadikan landasan pukulan.
Blaaag!
“Uhhhgh!” Pemuda berjaket coklat terlempar jauh ke arah gelap peohonan hutan sembari memuntahkan darah.
Wildan yang mendarat berlutut satu kaki di rumput empuk lapangan, mengusap sisa noda darah di bibir. Napasnya tersengal hebat dengan keringat dingin yang mengucur membasahi badan. ‘Apa dia tewas?’ pikirnya menelan ludah. Netra beriris coklat lelaki berkaos putih menghadap lurus pada gelap hutan di seberang sungai kecil jernih yang mengalir – memisahkan lapangan dengan hutan.
Dlap!
Panji si pemuda berjaket coklat melompat kembali ke lapangan seraya memegangi perut yang terluka akibat tinju Wildan. Tangan kirinya merogoh saku celana – merogoh sebuah tasbih berbutir kayu sepanjang satu meter. “Aku rasa aku terlalu meremehkan kekuatanmu,” ujarnya menatap tajam Wildan. Tangan kanannya lincah memainkan tasbih tersebut layaknya cambuk.
“Benda apa itu?” gumam pemuda bermata coklat terpaku pada lelaki berikat rambut karet.
“Tasbih pemberian guru besar ini, adalah pusaka yang bisa lebih keras dari besi, tapi lentur seperti tali.”
‘Wildan, apa kau yakin ingin melawannya sendirian? Energi spiritual anak itu lebih besar darimu.’
“Haaaaahg!” Wildan berlari maju sembari memusatkan energi pada tangan kanan. Pusaka yang membalut jemari hingga lengannya pun bersinar putih terang usai dialiri tenaga dalam.
Menyipitkan mata belo, Panji menggeser kaki kiri ke belakang seraya menyampingkan cambuk tasbih ke samping.
Swuuung!
Beberapa meter dari lapangan hijau bekas pertempuran melawan pasukan sinden, sesuatu berayun-ayun pada batang pohon satu ke pohon lain. Warna badannya yang lebar dan kekar begitu hitam pekat. Hanya sepasang mata merah menyala pada kepala – tampak mengerikan. Setiap pohon pinus yang sudah ia lewati, bekas cengkeraman cakar membuat cekung pohon-pohon tersebut.
Blaaammm!
Belum Wildan dan Panji beradu serangan, sesosok genderuwo yang baru saja berayun-ayun di gelap pepohonan melejit – mendarat di tengah keduanya. Ia memandang Panji dan Wildan secara bergantian. “Siapa yang menghabisi prajurit-prajuritku!”
Wildan spontan berhenti. Kepalanya mendongak menatap genderuwo setinggi dua meter yang menghadang. ‘Apa lagi ini!’
Panji berdiri tegap, masih memasang wajah datar. ‘Apa dia kemari untuk balas dendam?’
Sang raja genderuwo mengendus-endus aroma sekitar yang dirasa tak asing. Hidung peseknya bergerak-gerak, disusul kepalanya yang menoleh pada Panji. “Aroma makananku… Apa kau yang membawa pergi makananku dan menghabisi prajurit-prajuritku!” bentaknya menghadap pada pemuda berjaket coklat.
‘Aku rasa tekanan makhluk ini cukup tinggi. Aku yakin genderuwo-genderuwo tadi yang sempat pergi karena kedatanganku akan segera kemari. Aku rasa aku harus serius kali ini.’ Panji mengusap sisa darah yang menempel pada dagu. “Oh, aku rasa aku salah sangka,” ucapnya enteng. Mata belonya membalas tatap tajam makhluk gaib yang mana sudah mewujud di dimensi manusia. “Jadi kau memang yang membuat gadis kecil tadi tersesat di hutan ini, ya?”
‘Wildan, sekarang kesempatanmu! Perlambat waktu dan kerahkan segenap kekuatanmu untuk menghantam kepalanya!’
Menelan liur dan memaksakan napasnya tuk melambat, pemuda berkaos putih berjuang menenangkan diri walau gejolak pada pembuluh darah sekujur badan terpompa begitu cepat – seolah berontak untuk ditenangkan.
Blaam!
Panji melompat mundur saat sang raja genderuwo mengempaskan tangan bercakar panjang hitam ke tanah tadi ia berada. ‘Aku rasa aku perlu beberapa waktu untuk mengatur napas! Nyeri dari hantaman orang itu benar-benar mengacaukan konsentrasi!’
“Grrraaagh!” Ia membuka mulut bertaring lengkung – menembakkan bola energi tak kasat mata pada lawan.
Panji menyabetkan cambuk tasbih pada bola energi lawan. Ia mengutus tangan kiri tuk mengambil sebuah tasbih kayu kecil lain, sejurus kemudian melemparnya pada makhluk berbulu hitam lebat. “Jerat gaib!”
Sebelum benda yang ia lontarkan menyentuh target, tiga sosok genderuwo besar muncul dan mewujudkan diri di depan sang raja. Mereka menjadi dinding agar terjerat oleh tasbih yang Panji lemparkan.
Ngiiiing!
Telinga pemuda berjaket coklat berdengung disusul dengan cahaya putih menyilaukan berasal dari pusaka Cakar Putih Pajajaran. ‘Aku rasa aku belum pernah merasakan tekanan seperti ini selain dari Raden Panca! Apa orang itu!’
Wildan Alfatih mengerjapkan mata perlahan, dikala netra beriris coklatnya terbuka – segala sesuatu bergerak begitu lambat. “Hikaru no…” Ia mengayuh kaki dengan sisa tenaga guna mendekati sang raja genderuwo dari belakang. “Gyaku tsuki!” teriaknya melompat – mendaratkan bogem kanan berlapis pusaka putih menyala ke tengkorak belakang lawan.