(Kediaman Pak Andi, Kab. Pekalongan.)
Pak Andi yang sedari tadi mondar-mandir memikirkan seseorang, mulai bergumam lirih, “sudah selarut ini, tapi kenapa dia belum juga kembali, ya?”
Raihan bertanya usai meneguk kopi hitam ketiganya, “kembali? Jadi maksudnya dia sudah sampai di sini? Memangnya dia sedang pergi ke mana, Ndan?”
Kembali duduk menghadap pemuda berblangkon, lelaki berseragam TNI tersebut menghela napas sebelum menjawab, “sejak tercabutnya pusaka di gunung itu, banyak kasus penampakan makhluk halus di sekitar kebun-kebun warga. Dan sore tadi sebelum kau datang, Panji menawarkan diri untuk mencarinya.”
“Orang hilang? Lah, kenapa Pak Andi tidak bilang ke saya?”
“Aku benar-benar mengira kalau bocah itu mungkin hanya masih bermain di hutan,” jelasnya menggulirkan netra ke kanan dan kiri. “Apa kau merasakan sesuatu yang janggal di sekitar sini, Han?”
Raihan memejamkan mata seraya membaca wirid. Batin dan cakra ajna-nya mencoba menerawang keberadaan perempuan kecil yang Pak Andi maksud. “Namanya Dinda, sekitar umur delapan tahun? Rambutnya agak pirang saat kena sinar matahari, benar?”
“D-di mana dia, Han?” tanya sang petinggi TNI terbelalak.
Buang napas, Raihan menyeruput kopi hitam dengan tangan kanan. “Dia sedang tidur di sebuah rumah. Sepertinya dia sudah ditemukan,” sahutnya.
“Terus, Panji di mana?”
***
(Pukul 02.00 WIB, Hutan Kabupaten Pekalongan.)
Di bawah sinar bulan purnama, Sayf sang harimau putih dengan mata putih menyala mulai sibuk mengelak dari belasan sabetan selendang para sinden. Ia beberapa kali berhasil mendaratkan cakar kanan-kiri pada wanita-wanita berwajah mengerikan. Jarak sang khodam dengan Wildan berkisar puluhan meter sebab para jurig yang sengaja menjauhkan jarak mereka.
“Huwaaa!” Pemuda berkaos putih menjerit histeris saat sosok wanita berbusana kuning ala sinden melempar kepala buntung berwajah keriput padanya. Ia berlari ke sisi kiri, di mana sosok sinden merah menyeringai seraya menggerak-gerakan tangan berkuku panjang.
“Wis tha, Cah bagus! Nyerah wae! Ayo melu aku marang alam gaib! (Sudahlah, Nak! Menyerahlah! Ikutlah bersamaku kea lam gaib!)” ujarnya menepuk pundak kanan dan kiri Wildan – membuat badan sang pemuda bersarung tangan besi berhenti. “Opo kudu tak cokot sik ben gelem? Hee? (Apa harusku gigit dulu agar mau? Hee?)” ancamnya tersenyum menunjukan deret gigi tajam pendek di mulut yang lebar terbuka. Liur bercampur darah mulai menetes dari sela-sela gusi.
“Hwaaaa!” Jantungnya berdebar tak karuan. Pemuda berkaos putih gemetar tak bisa bergerak akibat ketakutan yang menyeruak. Mata berpupil hitam kecil lawan, menciutkan nyali sang reinkarnasi pendekar.
‘Tenangkan dirimu! Wildan! Mereka jauh lebih lemah dari Banaspati yang kita lawan kemarin!’ Sayf bertelepati, menegur sang majikan agar tak gentar melawan rombongan makhluk astral yang mengepung.
“Ya Alloh Gusti! Toolooong!” jeritnya spontan mengayun tinju kanan berlapis pusaka pada wajah lawan yang tengah bergerak maju mendekati leher.
Braalll!
Kepala sang wanita berbusana merah hancur berkeping-keping setelah tinju upper-cut lelaki mancung beralis tebal mendarat telak di dagu. Tubuh wanita bercakar panjang mulai berubah transparan seperti hologram. Kedua tangan miliknya yang mencengkam Wildan, mulai hilang perlahan.
“Dasar manusia terkutuk!” seru salah satu sinden tua berbusana kuning. Sepasang matanya melotot memandang Wildan. “Beraninya k-”
Grraaar!
Harimau berbulu lebat menerjang wanita tua berbusana kuning dari belakang, sejurus kemudian menancapkan taring sepanjang pisau pada leher lawan. “Grrrraaagh!” Ia mengoyak lehernya hingga lepas dari badan, lanjut mencabik perut sasaran yang ia tindih.
Tangan kanan Wildan gemetar. Netra beriris coklatnya mengerjap memandang pusaka yang membalut. ‘Aku bisa membunuh mereka?’ pikirnya terkejut.
“Dasar manusia sembrono!” Genderuwo bermata merah menyala mulai melangkah cepat, berniat mendaratkan cakar tajam pada pemuda berambut hitam. “Grraakh!”
Swung!
‘Gerakan mereka cepat!’ Responnya sebagai Karate-ka muncul seketika. Wildan Alfatih mengelak dari serangan bertubi-tubi genderuwo bertaring runcing. ‘Tapi badanku juga terasa jauh lebih ringan dari biasanya! Apa itu karena pusaka ini?’ pikirnya melirik pada Cakar Putih Pajajaran yang ia kenakan.
Sang genderuwo setinggi satu setengah meter mengangkat kedua tangan ke atas tinggi-tinggi, lanjut menghujamkannya pada lawan. “Hrraaagh!”
Daang!
Wildan menyilangkan lengan kanan yang terbalut pusaka putih ke atas kepala – menahan serangan lawan sembari meringis. ‘Tidak sakit! Terasa seperti pukulan anak kecil!’ pikirnya mulai tersenyum setengah.
‘Bagus, Wildan! Cakar Putih Pajajaran lebih kuat berkali-kali lipat dari kekuatan manusia biasa! Cepat selesaikan ini sebelum dua makhluk lain itu tiba!’ seru Sayf memberi saran lewat telepati.
Grep!
Laki-laki berkaos putih mencengkeram tangan kiri penuh bulu milik lawan, lanjut memutar badan seraya melempar lawan yang berukuran lebih besar dari badannya. “Haaaagh!”
Swuuung!
Sang genderuwo berbulu lebat terlontar – menabrak kumpulan sinden yang tak sempat menghindar. Tujuh wanita jadi-jadian yang terguling akibat benturan dengan makhluk besar berbulu lebat, mulai terhuyung bangkit. Mereka semua memandang jengkel Wildan yang sudah lembap oleh keringat.
Drap drap drap dlap!
Tujuh perempuan berselendang dengan busana beda-beda warna, melangkah cepat sebelum melompat melempar selendang pada pemuda berambut lebat.
Splaat! Splat! Splaat! Splat! Splaat! Splat! Splaat!
Selendang pertama dihindari dengan melompat ke belakang. Sementara enam yang lain ia hindari dengan berlari memutar guna mendekati para lawan. ‘Aku hanya perlu mendekat dan mendaratkan tinju pada kepala mereka!’ pikirnya mengepalkan erat tangan kanan.
Blag!
Tubuh Wildan mendadak terlontar ke belakang akibat sesuatu – tak kasat mata, menghantam keras perut. “Huuugh!” Baru tubuhnya berada di tanah, serangan selendang para sinden kembali menerjang. ‘Apa yang menghantamku!’ pikirnya berguling ke belakang guna menghindari serangan.
Sosok genderuwo besar yang tadi ia banting, kembali berdiri di belakang tujuh sosok sinden. “Kau hanya manusia biasa yang membawa pusaka keramat!” serunya melaju menghampiri Wildan.
‘Jantungku, berdebar-debar, tapi napasku sudah gampang diatur? Apa karena aku berhenti merasa takut?’ pikirnya bersiaga dalam kuda-kuda ala Karate-ka.
Swwwuum!
Sang genderuwo bermata merah melayangkan lima ayunan cakar tanpa jeda. Wajahnya menunjukan murka. “Grrraaagh!”
Dari lima serangan yang melayang, tiga pertama ia tangkis dan sisanya ia elak. ‘Badanku seperti taka sing dengan pergerakan makhluk ini? Serasa pernah atau sering menghadapinya?’
Splaaat!
Sosok wanita berbusana hijau bersanggul di kepala, menyerang Wildan dari belakang dengan selendang panjang. “Haaaakh!”
Pemuda berambut lebat sigap menarik selendang lawan – memaksa sang wanita jadi-jadian terlontar mendekat. Beberapa saat sebelum sosok genderuwo di hadapannya kembali mengayun cakar kanan-kiri bersamaan, Wildan melempar tubuh sang perempuan berbusana sinden padanya. “Haaah!”
Blaaaak!
‘Wildan! Perlambat waktu sekarang! Wujud mereka ada di alam manusia, dan karena itu mereka akan melambat seperti yang lainnya! Kau bisa melakukan serangan pamungkas dengan leluasa!’
‘Serangan pamungkas, ya?’ Mendengar telepati dari Sayf, pemuda bermata coklat mulai mengatur napas – memusatkan konsentrasi untuk memperlambat waktu. Kedua kakinya dibuka dengan kuda-kuda, sementara kepalan tinju kanan ia taruh di pinggul. ‘Kalau Yahya dan Rifza tahu, mungkin aku bakal diledek wibu!’ pikirnya menahan gejolak bahagia. Hikaru no…. Gyaku Tsuki!”
Braall!
Dalam mata orang biasa, kilatan putih bersinar melesat cepat bak petir – menerjang semua raga makhluk astral hingga hancur berkeping-keping dalam sekejap mata. Meski yang sebenarnya terjadi adalah Wildan yang berlari sekuat tenaga menghampiri lawan sembari menyerang mereka satu persatu.
Brukk…
Pemuda dengan kaos putih jatuh berlutut di atas tanah berlapis rumput. Bunyi sinden dan gamelan yang sempat menggema, kini lenyap bersamaan dengan wujud makhluk-makhluk astral yang mulai berubah jadi serupa abu sebelum lenyap tertiup embusan angin. Mata-mata merah menyala yang mengintip dari sela-sela gelap pepohonan malam, turut menghilang.
“Apa sudah selesai, Sayf?” Wildan tersengal-sengal. Badan pemuda beralis lebat diselimuti keringat dingin.
“Kau masih menyisakan satu di belakangmu,” lapornya melangkah mendekati sang majikan.
Lirih menoleh ke belakang, Wildan mendapati sesosok nenek tua berbusana kuning yang terduduk ketakutan. “S-sopo sampean! (S-siapa kau!)”
Jarak sang pemuda dengan wanita berbusana kuning hanya berkisar sepuluh meter. “Aku hanya manusia biasa, yang tak tahu kenapa bisa melakukan hal-hal luar biasa,” jawabnya kembali berdiri memakai kedua kaki yang gemetar.
“A-ampun, Kisanak! Ampun!” rengeknya bersujud pada pemuda berbadan kekar. Tubuhnya mulai transparan – hendak menyeberang ke dimensi gaib.
Saat berada dua meter di hadapan lawan, Wildan menghela napas. “Pergilah,” ucapnya menatap sosok wanita keriput bersanggul.
Harimau putih berbulu lebat berhenti melangkah usai mendengar ucapan sang majikan. “Apa kau tak mau menghabisinya langsung, Wildan?”
“Kakek melarangku melawan mereka yang sudah tak berdaya,” jawabnya masih memandang sosok jurig yang nyaris sepenuhnya transparan. “Asal jangan kau ganggu manusia-manusia yang tak bersalah di sekitar sini lagi!” imbuhnya dengan nada tinggi.
“I-inggih, Kisanak! (B-baik, Kisanak!)” tanggapnya masih menunduk.
“Jadi, Sayf… Apa kita harus ulang dari awal?” tanyanya balik badan.
“Masih ada dua sosok lain yang mendekat kemari. Kalau tidak memilih pergi, maka kita hadapi la- Graaaagh!” Sayf langsung melesat – menerjang wanita berbusana kuning saat sosok tersebut hendak menusuk Wildan dari belakang.
Claap!
Sepasang taring tajam sang khodam menancap dalam di leher wanita tua. Sayf tak bergeming sedikitpun meski sasarannya meronta-ronta sembari mencakar perut harimaunya. “Grrrr!”
“Jerat gaib, Rantai Khodam!”
Swuuuss!
Sebuah tasbih kayu yang dilempar ke arah Sayf dari gelap pepohonan hutan, memanjang – membelenggu tubuh sang harimau tersebut. Dari rumput di dekat semak-semak, samar derap kaki seseorang datang mendekat.
“Haaaah!” Sosok wanita tua yang penuh luka, segera menggaibkan diri guna kabur dari situasi – meninggalkan Sayf dan Wildan yang tengah kebingungan memandang lelaki berjaket coklat yang datang.