Gagalnya Meditasi dan Kerajaan Dedemit!

1476 Kata
(Hutan Kabupaten Pekalongan, Tirakat hari ke-tiga.) Embus angin malam begitu menusuk, menerpa badan lelaki berkaos putih yang tengah menenangkan diri dalam posisi semedi. Entah berapa ribu sudah ia rapalkan salawat kala itu. Sepasang telinga pemuda bercelana abu-abu terus mendengar deru lirih sungai jernih yang berjarak belasan meter dari tempatnya berdiam diri. Nyanyian jangkrik dan spesies nokturnal lain turut memecah keheningan malam. Meski bibir pemuda yang tengah terpejam itu terus membaca salawat, tetapi batin dan akalnya sibuk bertempur. Antara ketakutan, rasa jengah, dan kilasan-kilasan memori berbagai hal, menerjang jiwa yang tengah merasakan kesunyian diri. Sayf sang harimau gaib yang kini berada di dalam tubuh Wildan, mulai merasakan pergerakan makhluk-makhluk astral di sekitar. ‘Tetap tenang – apapun yang terjadi, Wildan. Aku jadi yang wasillah untuk menjagamu di sini.’ Gong! Bunyi gamelan mulai terdengar – menggema di sekitar pepohonan. Angin sejuk yang semenjak tadi berembus, kini berubah rasa jadi hangat yang menyengat. Terpaan tersebut meniup dari sisi kanan, kiri, depan, belakang, secara bergantian. ‘Heh? Bunyi apa itu? Gamelan?’ Wildan yang masih terus merapal salawat, mulai gusar dengan kedua mata coklat terpejam. ‘Angin ini lagi? Kanan, kiri, depan, belakang, seperti terjemahan kitab suci yang pernah Kakek sampaikan tentang godaan mereka.’  ‘Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur,’ renungnya dalam diam – merasakan bulu kudu sekujur badan berdiri dari ujung kaki hingga ujung kepala. ‘Apa artinya aku harus diam saja kalau-kalau mereka mendekatiku?’ Alunan merdu gamelan kian terdengar keras, menggema di sekitar hutan. Nyanyian perempuan yang tengah mendendangkan tembang sinden, memaksa Wildan membuka mata akibat ketakutan yang menjala – merayapi hati. ‘Halah! Ya Alloh!’ ucapnya dalam batin terkejut. ‘Malam pertama, aku hanya merasakan angin yang menerjang dari empat penjuru bergantian. Malam kedua, kumpulan kuntilanak menampakan diri sembari cekikikan di pohon-pohon sekitar. Terus, mala mini bakal apa!’ Dijumpainya rombongan wanita berbusana sinden lengkap dengan hiasan sanggul emas pada rambut yang halus. Mereka menari, memainkan selendang warna-warni. Sebagian berwajah perempuan menawan, sebagian lain berwajah rusak, dan dua di antara mereka berwajah penuh keriput. Wildan gemetar memandang sosok-sosok yang terlihat jelas di alam manusia. ‘Huuulu! Demit sinden!’ Mengerti bila Wildan sudah membuka sepasang mata, para wanita yang pastinya bukan manusia itu menari-nari sembari melangkah mendekati pemuda berkaos putih celana abu-abu. Wajah mereka dihiasi senyum lebar – memamerkan gigi-gigi tajam pendek. Tampak sedikit cairan merah darah mengalir dari sela-sela gusi. Sosok sinden berbusana kuning dengan wajah nenek-nenek, memegang tulang rahang sejurus kemudian melepas kepala. “N-ndas bunting! (Ke-kepala buntung!)” Baru si pemuda beralis lebat hendak beranjak berdiri, dua buah tangan hitam besar penuh bulu dan cakar, menahan pahanya agar tak bergerak. “Sayf! Huwaaa!” ‘Tenangkan dirimu, Wildan! Pilihannya dua, kau harus lanjutkan dzikirnya sampai selesai dengan rasa pasrah dan tenang! Atau pilihan kedua, kita melawan mereka!’ “L-lah! T-tapi apa aku bisa dibilang berhasil kalau melawan! Bukankah kau bilang Mas Panca minta kita u-untuk tenang!” gumamnya ketakutan. ‘Mereka bangsa gaib yang cukup kuat, dan bukan mustahil bisa mencelakai wujud fisikmu. Mungkin ini juga dampak dari sempat tercabutnya pusaka yang Syekh Subakir pasang di sana.’ *** (Kediaman Pak Andi, Desa Panumbangan, Kabupaten Pekalongan.) Raihan si pemuda berblangkon hitam terduduk lemas, bersandar pada sofa hijau yang ada di sebuah ruangan berlantai putih. Secangkir kopi panas hitam dengan rasa pahit, sudah tersaji di atas meja kaca di hadapannya. Lisong yang tinggal setengah terapit di kedua jari. Netra pemuda berjaket hitam memandang petinggi TNI berambut cepak berkulit sawo matang. “Ya Alloh Gusti…” keluhnya lemas seraya buang napas. Lelaki berseragam hijau motif tentara tersenyum setengah memperhatikan Raihan yang kelelahan. “Hahah… Sampean nekat. Sudah tahu badan begitu, masih saya ngeyel pergi ke sana.” Pak Andi merogoh saku celana, mengambil sebungkus lisong dari sana beserta korek birunya.”Hmmm… Tapi berkatmu, Surya berhasil diringkus. Yah, walau kami juga disalahkan karena ajian yang kau gunakan. Sebenarnya, jurus apa yang kau gunakan di atap gedung itu? Radius dua puluh kilometer saja terdampak semua?” tanyanya menyalakan api di ujung sebatang lisong. Raihan menggilis puntung yang masih menyala ke asbak. “Bukan saya yang mengalahkannya, Pak.” “Saya sampai ganti hape gara-gara jurusmu i-” Pak Andi tak menyelesaikan kalimat usai mendengar penjelasan Raihan. “A-apa?” Netra sipitnya terbuka lebar. “Ki Chandra Langking dan Ki Surya Pinggul bilang, sesuatu yang bergerak dengan sangat cepat, membawa makhluk gaib setara Rahyang untuk melawan Surya yang dikuasai sang raja Banaspati beserta pasukannya.” “Sesuatu yang sangat cepat? Jin setingkat Rahyang? Bukankah… Rahyang katamu itu, jenis makhluk yang cukup tua dan sakti sehingga banyak disembah sebelum ulama dari negeri timur tengah tiba di Nusantara?” Raihan menyeruput kopi pahit di cangkir bening. “Beberapa waktu lalu – sebelum gedung itu terbakar, aku merasakan getaran sukma yang tipis terjadi. Getarannya samar dan tipis tapi cukup kuat, mirip seperti saat pusaka paku bumi yang Syekh Subakir tanam di gunung waktu itu.” Mata Pak Andi menyipit. “Siapa? Menurutmu siapa dia? Apa dia ada di pihak kita? Atau pihak mereka?” Menaruh cangkir kopi ke meja seraya mengambil satu-satunya udud yang tersisa dari bungkus, pemuda berblangkon hitam mengisapnya pelan. “Aku memang belum tidak sempat melihatnya, tapi batinku begitu yakin kalau orang itu adalah orang yang kita cari-cari.” Pak Andi berdiri dengan wajah gusar. “Sang Titisan Cahaya?” gumamnya yakin. Ia mengutus tangan kiri guna mengambil ponsel hitam di saku – menekan nomor seseorang. Saat panggilan tak tersambung karena nomor tujuan tak aktif, lelaki berbaju TNI tersebut kembali buang napas berat. “Salah satu Sakerat tingkat lima sudah kembali bersama belasan Sakerat tingkat bawah. Dia diutus Raden Rikma Seto untuk membantu kita mencari Titisan Alam, Titisan Cahaya, dan Titisan Petir.” ‘Tingkat lima? Artinya, dia pernah menghadapi raja siluman seorang diri?’ Raihan mengerutkan kening. “Aku dengar, Ayahnya juga murid dari Ki Panca. Meski usianya baru tujuh belas tahun, tapi kemampuannya melebihi rata-rata prajurit Pusaka Nusantara.” “Siapa namanya, Pak?” “Panji Pradita Pranadipa.” *** (Hutan Kabupaten Pekalongan, pukul 02.12 WIB.) “Lepaskan!” Wildan yang tangan kanannya sudah dibalut pusaka Sarung Tangan Gadil Pajajaran, melepas paksa cengkaman genderuwo hitam bermata merah menyala – yang duduk di belakangnya. Pemuda bercelana abu-abu mengayuh kedua kaki ke ujung lapangan hijau rumput di sepertiga malam. Kengerian setelah menyaksikan makhluk-makhluk mengerikan jelas menciutkan nyali sang pemuda beralis tebal. Swuusss! Hanya dalam sekejap, wanita kepala bunting berbusana sinden kuning melesat – mencegat di hadapan Wildan seraya berkata dengan kepala yang ia cangking, “arep mareng ndi, Cah Bagus? Kihihihihihih! (Mau pergi ke mana, Nak?)” “Hiiiii!” Kaki Wildan gemetaran setelah berhenti mendadak. Ia melangkah mundur pelan-pelan. “Cah bagus! Ojo lungo-lungo! Sampean pengen marang alam gaib tha? Ayo karo aku! Bebojoan! (Nak! Jangan pergi kemana-mana! Kamu mau pergi kea lam gaib, kan? Ayo sama saya! Kita nikah!)” Sosok perempuan sinden dengan wajah rupawan tetapi bergigi tajam, menari-nari di sisi kiri Wildan. Gerakannya anggun, lembut bak penari profesional. “Saaaayf!” jeritnya ketakutan. “Grroooaaamm!” Sesosok harimau putih berbulu lebat, muncul di sebelah kanan Wildan – membuat raut wajah para demit berubah cemas. “Wildan, dengar aku baik-baik!” Kedatangan Sayf menjadikan jantung Wildan justru kian berdebar tak karuan. “A-apa!” “Aku sudah lama tak bertempur. Sebagian besar kekuatanku, sebenarnya sudah banyak terserap oleh Cakar Putih Pajajaran. Apalagi aku sudah menggunakan salah satu ajian terlarang beberapa waktu lalu. Jadi sebisa mungkin, berantas makhluk-makhluk ini sebelum tenagaku habis!” ungkapnya dalam posisi siap menerkam. “Hai bocah!” Sinden tua berkepala buntung, kembali memasang kepala ke badan. “Sampean iki sopo! (Sebenarnya siapa kau ini!)” “A-aku… A-aku tidak berniat ganggu kalian!” ujarnya dengan badan gemetaran. “Heheheheheheh!” Ia beserta kumpulan sinden yang mendekat mulai terkekeh – menyeringai. “Sampean mrene gowo-gowo pusoko! Wis mesti sampean rene njalok gawe goro-goro! (Kau datang kemari sambil membawa pusaka! Sudah pasti kau kemari untuk cari gara-gara!) “Grroooaar!” Sayf mengaum, membisukan makhluk-makhluk astral di sekitar. “Sebelum manusia ini memperlihatkan pusaka, kalian sudah berniat mencelakainya! Jika kalian berani menyentuhnya, maka aku tak segan mencabik kalian semua!” Genderuwo bermata merah menyala, berdiri menunjuk pada sang harimau bermata putih menyala. “Heh kacung! Kau  hanya khodam piaraan manusia!” serunya melangkah maju tuk berjajar bersama para jurig wujud sinden. “Aku tak peduli meski tekanan auramu lebih besar dari kami! Ki Cakar Galuh yang akan mencincangmu jadi santapan kami!” Puluhan pasang mata merah menyala mulai tampak dari gelap pepohonan malam. Rombongan makhluk berwujud genderuwo mulai berkumpul – mengintai Wildan dan sang harimau yang tengah dikepung. Kehadiran mereka membuat badan pemuda bercelana abu-abu kian sesak. “S-Sayf, badanku lemas!” “Kuatkan dirimu, Wildan. Ada dua tekanan energi besar dari sesuatu yang sedang menuju kemari! Sebelum dua makhluk itu sampai, kita harus mengalahkan mereka lebih dulu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN