Reinkarnasi dan Meditasi

2112 Kata
“Dosa apapun yang manusia lakukan, terkadang merupakan suatu hal yang memang sudah digariskan oleh-Nya. Tetapi ingat! Meski begitu bukan berarti sebuah jiwa diperbolehkan melakukan dosa dan mengalah pada bisikan kejahatan!” ujar Ki Panca pada Wildan yang duduk bersila di atas padang rumput hijau. “Ketika manusia terus berpikiran terpuruk, ia akan condong pada putus asa. Ketika jiwa terus tenggelam dalam keputus-asaan, maka tanpa sadar ia telah menyangkal dan meragukan sifat-Nya yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. Dan itulah mengapa, seseorang yang diselimuti keputus-asaan justru jauh dari rahmat-Nya.” Wildan mendongakan kepala lirih seraya bertanya, “apa yang harus saya lakukan untuk menebus perbuatan-perbuatan saya, Mas?” “Maka tebus semua kesalahan dan dosa-dosamu dengan cara yang seharusnya,” jawabnya dengan wajah serius. “Kau terlahir oleh lelaki pejuang. Darah leluhurmu, adalah darah para pendekar yang senantiasa berkorban demi kebaikan dan kebahagiaan umat. Karenanya, jangan jadikan keberhasilan maupun kebahagiaan kebanyakan manusia di zaman sekarang sebagai patokan kebahagiaanmu, Ngger.” Air mata terbendung di netra beriris coklat lelaki bermata coklat. Ada kesedihan yang menusuk, sekaligus membenarkan kalimat sosok bersorban putih di hadapannya. “Lantas bagaimana caranya?” “Hilangkan rasa ke-Aku-an dalam diri. Rasa yang serba mengutamakan diri, merasa diri lebih baik, merasa diri lebih hebat dan berhak dari yang lain. Lunturkan rasa itu. Bahagialah ketika melihat senyuman tulus orang lain, bahagialah saat mereka senang. Hindari sikap gembira ketika orang lain menderita.” Ki Panca duduk bersila menghadap Wildan. “Setiap manusia memiliki takaran beban dan tanggung jawab. Hanya Dia yang Maha Tahu. Tetapi untukmu, jalanmu masih begitu panjang dan berliku, Nak. Istiqomah-lah dalam jalan menuju cahaya-Nya. Jadilah dirimu yang terbaik menurut versi-Nya, bukan dirimu yang terbaik menurut versi kebanyakan manusia.” Air mata mengalir membasahi pipi. Pemuda bermata coklat mulai sesenggukan tak kuasa menahan jerit tangis dari relung hati terdalam. *** (SMA Pekalongan, Jawa Tengah.) Diana menaruh buku yang diminta oleh sang Kepala Sekolah. Gadis manis tersebut tersenyum pada Pak Ircham yang menerima berkas. Baru ia hendak balik badan, pria paruh baya berbalut busana DINAS memanggil, membuatnya menghadapkan badan pada sosok tersebut. “Ya, Pak?” “Apa Mas Wildan hari ini masih belum masuk sekolah juga?” “Belum, Pak. Dia… Masih belum ada kabar,” jawabnya menggeleng. “Apa kalian sudah coba menjenguknya ke rumah?” Gadis berseragam osis dengan name tag Diana pada busana putih, manggut mengiyakan. “Sudah, Pak. Tiga kali malahan.” Mengerutkan kening seraya menyipitkan mata, Pak Ircham bertanya, “terus?” “Dia terus mengurung diri di kamar. Kata Kakeknya, dia tidak mau menemui siapapun.” Pak Ircham menghela napas panjang. ‘Sepertinya benar. Bocah itu merasa bersalah karena kejadian di kota waktu itu.’ Tok tok tok… Pintu ruangan di ketuk dari sisi luar sebelum dibuka oleh seorang guru berhijab. “Pak, maaf. Ada tamu dari kepolisian,” ucapnya gugup. Mendengar nama kepolisian, Diana dan Pak Ircham menoleh ke arah pintu dengan wajah tegang. *** (Sebuah hutan nan jauh dari pemukiman warga, Kabupaten Pekalongan.) Wildan mengerjapkan sepasang mata, merasakan empuknya tekstur tanah berumput di mana ia berada. ‘Aku di mana?’ “Sudah bangun, Ngger?” Ki Panca yang duduk bersila membelakangi pemuda berkaos putih dengan celana abu-abu, menoleh kecil ke belakang. “I-ini…” Sembari mengambil posisi duduk, pemuda beralis hitam lebat menyapukan pandang ke sekitar. Dahinya berkerut mengetahui dirinya berada di tengah lapangan hijau yang mana diapit oleh turunan terjal tanah bertumbuhkan pohon-pohon pinus. Pada sisi kanan, aliran kecil sungai jernih mengalir membatasi tanah lapang dengan pepohonan pinus. “Aku di hutan?” “Leluhur Nusantara, kerap kali menyepi – mengasingkan diri dari dunia luar. Bukan karena takut terhadap dosa, tetapi untuk mencari ketenangan diri dan menggali siapa jati diri yang sebenarnya,” ungkapnya balik kanan – menghadap Wildan. “Jalan hidupmu, bukanlah jalan hidup yang kebanyakan ditempuh oleh manusia pada umumnya. Untuk menghadapinya, sepaling tidak kau harus membersihkan diri. Katanya mau biar tambah sakti?” Wildan menunduk, terbayang rasa bersalah atas kehancuran kota yang ia timbulkan. ‘Benar.’ “Ilmu hati, adalah hal yang dipelajari pendekar era kerajaan. Sebagai manusia, memang wajar jika hati kita penuh dosa. Ibarat makanan yang lezat hendak dihidangkan di piring yang kotor, maka dari itu bersihkan hatimu lebih dulu. Bukan begitu, Mbah Sayf?” Ki Panca berdiri, mempersembahkan senyum pada sesuatu yang ada di samping kanan Wildan. Sayf sang harimau dari negeri Saba’, menundukkan kepala seolah memberi hormat pada Ki Panca. “Benar, Raden.” “وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ” Ki Panca melantunkan potongan surat yasin ayat 68 sembari menatap Wildan. “Mbah, pasti pernah dnegar tafisr dan arti ayat ini dulu-dulu, kan?” tanyanya menoleh pada harimau transparan yang duduk melipat dua kaki belakang. “Dan di sini nanti, jelaskan apa yang harus Wildan lakukan.” “Baik, Den,” sahutnya masih menunduk. “Tak apa jika hendak menjelaskannya pada anak ini. Saya titipkan reinkarnasi Sang Titisan Cahaya padamu, sebagaimana orang-orang terdahulu lakukan ya, Mbah.” Dari kulit dan busana Ki Panca, memancar cahaya putih yang begitu menyilaukan mata – sampai-sampai memaksa Wildan menutup wajah dengan lengan kanan. Beberapa detik setelahnya, Ki Panca raib bersama cahaya putih terang yang tadi muncul. “Lakukan kewajibanmu menurut agamamu di sini sembari menenangkan diri. Lakukan seperti yang pernah kau lakukan di kehidupan lalu.” Sayf sang harimau putih besar nan kekar, membalik badan sebelum ikut menghilang. Wildan menyipitkan mata sembari menoleh ke sisi kanan. “Kehidupan lalu? T-tapi apa yang harus aku lakukan di tempat ini! Hoy! Macan semprul! Jangan pergi!” ‘Tunggu sampai waktu malam. Bacalah dzikir yang menenangkan hati sampai ribuan kali. Aku tidak akan pergi jauh-jauh dari sini.’ *** (Kediaman Wildan, Pekalongan.) Braaakk! Sang polisi berbadan gempal menendang daun pintu keras-keras hingga terbuka lebar, setelah beberapa menit tak mendengar jawaban dari dalam. Ia menoleh pada dua petugas yang lebih muda untuk masuk – memeriksa keadaan di dalam. “Cek!” serunya melotot. Manggut serentak, dua petugas berseragam melangkah masuk ke dalam – melewati ruang tamu dan menuju kamar yang sudah terbuka. Sementara satunya, berdiri di depan daun pintu kamar yang lain. Polisi gempal dengan name-tag Tirto, memandang beberapa keris dan wayang di dinding rumah. “Pak! Di kamar ini sepertinya ada orang!” serunya melapor – menoleh pada sang atasan. “Dobrak saja!” serunya menghampiri lelaki berseragam polisi. “Baik!” serunya sebelum kemudian menendang keras daun pintu. Braaaakk! Di dalam kamar, Kakek Wildan tengah duduk dalam posisi tahiat akhir. Setelah selesai mengucap salam, lelaki keriput berambut putih tersebut menoleh ke belakang sembari melotot. “Apa-apaan ini!” teriaknya bangkit meninggalkan sajadah merah di lantai. “Main masuk ke rumah orang seperti maling saja!” imbuhnya mendekat sang polisi muda. “Selamat siang, Bapak Abdul Wahid! Kami dari kepolisian hendak membawa cucu Bapak untuk dibawa ke Kantor Polisi,” ungkap sosok bernama Tirto seraya berdiri di dekat sang polisi muda. Ia mengembangkan senyum saat Kakek si Wildan menggulirkan mata ke kanan dan kiri – seolah memikirkan sesuatu. “Heh!” Sang Kakek sepuh menunjuk polisi berbadan gempal. “Sampean-sampean iki wong jowo opo dudu! Kabeh-kabeh iki due aturan! Iki umahku! Ora iso sampean nylonong mlebu sekepenak wudele dewe! Jajal gawa rene surat penahanane! (Kalian ini orang jawa bukan! Semuanya itu punya aturan! Ini rumahku! Tidak bisa kalian masuk sembarang seenak udel sendiri!) “Hmmm….” Wajah sang polisi bernama Tirto berubah sebal. “Bocah SMA itu, aku dengar terlibat pada kerusakan besar yang ditimbulkan di hotel Pekalongan. Aku juga penasaran, apa perlu surat penahanan terang-terangan sehingga media masa tahu kalau cucu sampean itu terlibat dengan kumpulan orang-orang bersenjata? Teroris, mungkin?” Mengepalkan kedua tangan, sosok sepuh berambut putih menatap tajam sang petinggi polisi. “Kalau kalian tidak melakukan tindak penahanan sesuai prosedur, maka jawara silat ini yang bakal hajar muka kalian!” Blaaag! Tinju lelaki berjenggot uban lebih dulu mendarat di wajah sang polisi muda sebelum personil tersebut menyentuh badan. Netra Kakek si Wildan melirik pada laki-laki yang tumbang – jatuh ke lantai oleh satu tinjunya. “Heh, Bapak tua!” Tirto merogoh alat penembak laras pendek dari saku belakang, bersiap mengancam. Blaaag! Kaki kanan Mbah Abdul Wahid lebih dulu melayang sebelum Tirto berkedip – menendang dorong wajahnya hingga terlontar beberapa meter. “Haaagh!” “Jangan bergerak!” seru sang polisi yang beberapa detik lalu tercengang melihat kecepatan gerak serang sang kakek tua berbusana lengan panjang. Ia mengambil alat penembak – sigap mengarahkan moncongnya pada si pemilik rumah. Bibir pria sepuh berusia enam puluh tahunan lebih itu berkomat-kamit seraya melangkah mendekati si polisi yang mana masih tersisa. Sepasang netra jernih dengan pinggiran kantung mata penuh keriput, begitu tajam bak elang memperhatikan lawan. “Kubilang jangan bergerak atau aku te-” Dlap! Kakek kandung Wildan memijakkan kaki kuat-kuat hingga lantai tersebut remuk. Dalam sekejap mata tubuh sang lelaki berbusana lengan panjang sudah berada di belakang polisi terakhir. “Anake sampean piro? (Berapa anakmu?)” tanyanya berbisik. “A-ampun! Mbah!” ujarnya memelas. “Ku-kulo gadah putra setunggal! (Saya punya satu anak!)” Plak! Mengubah kepalan tinju jadi tangan yang terbuka, pria sepuh bercelana tersebut menampar ubun-ubun lelaki tersebut hingga pingsan. “Dasar wong-wong sembrono! (Dasar orang-orang sembrono!)” Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Sesosok pria berjubah hitam dengan topeng putih motif eropa, menembakkan lima timah panas beruntun pada punggung sasaran. Melihat tidak ada darah yang mencuat keluar dari balik busana yang terkoyak akibat peluru tersebut, sang lelaki misterius bergumam lirih, “Impresive! (Mengesankan!)” Terdapat ukiran hitam serupa buah apel di dahi topeng putih yang dikenakannya. Swuuss! Mbah Abdul Wahid menoleh kecil ke belakang seraya mengatur keluar-masuk napas. Tekanan aura yang menekan menyesakkan paru-paru begitu terasa seiring matanya yang menajam. “Sopo riko! (Siapa kau!)” tanyanya lirih dengan geraman. Sepasang matanya mulai berubah seperti harimau yang tengah menyipitkan pupil. “I think I have no chance for now so, adios Sir! (Aku rasa aku tak punya kesempatan menang sekarang, jadi… Sampai jumpa, Pak!)” ujarnya sebelum melompat mundur guna menjauhi rumah Wildan. *** (Beberapa jam kemudian, Hutan Kabupaten Pekalongan.) Di bawah sinar purnama, Wildan menahan hawa dingin alam liar dengan kaos putih dan celana panjang abu-abunya. Usai melaksanakan kewajiban, pemuda berambut hitam lebat merebahkan badan di atas rumput hijau segar yang mulai berembun. “Sayf, aku masih belum banyak mengerti soal dirimu, pusaka ini, dan Ki Panca. Juga tentang tugas yang ada di depanku.” ‘Aku tak bisa menjawabnya, Wildan,’ sahut sang harimau putih bermata menyala sembari menjilat-jilat tapak kaki kanan depan. “Sudahku duga,” celetuknya kesal. “Lalu, apa yang dimaksud dengan potongan doa yang Ki Panca baca siang tadi?” ‘Dan barangsiapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti? Dan ingatlah wahai anak cucu Adam, barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya,’ jelas sang harimau berwujud transparan. ‘Beberapa ahli agama yang aku temui di masa lalu, sepakat bila terkandung arti mengenai reinkarnasi di dalamnya. Seperti halnya dirimu sekarang. Di kehidupan lalu, kau adalah manusia yang bijak lagi mengutamakan kebaikan banyak manusia. Dan sekarang, kau terlahir masih dengan nama yang sama –Wildan Alfatih.’ “S-sungguh?” Netra pemuda beriris coklat lebar terbuka. ‘Yah, aku memang tak memusingkan soal reinkarnasi – karena semua mungkin saja jika Dia yang menghendaki. Tapi, kenapa namaku sama seperti kehidupan masa lalu?’ ‘Pada pengertian agama samawi, jumlah manusia di bumi pada tiap zamannya itu sama. Sebagian memang mengalami hal yang bernama reinkarnasi. Meski terkadang, ada pula jiwa-jiwa baru yang Maha Pencipta ciptakan sebab sebagian yang tak bereinkarnasi,’ jelas Sayf seraya buka mata. ‘Manusia yang terlahir dengan hidup sengsara, akan dibuatkan kehidupan yang lebih sengsara lagi jika di hidup sebelumnya banyak merugikan orang lain. Dan di titik terendahnya, mereka akan dihidupkan lagi sebagai hewan. Itu yang pernah aku dengar.’ Dahi pemuda beralis lebat mengkerut. “Jadi, sebaliknya juga dengan orang-orang yang sekarang hidup bergelimang harta? Maksudku… Mereka mungkin adalah orang baik di kehidupan masa lalu? Begitu?” Sayf menganggukan kepala sekali. ‘Sepahamku, benar.’ Ambil posisi duduk, Wildan menghela napas menatap purnama. “Alloh Maha Adil,” gumamnya tersenyum lega. “Kalau tahu begitu, aku tak perlu repot-repot mengutuk manusia lain yang berbuat kejam pada sesama.” ‘Menegur manusia lain adalah kewajiban. Tapi memaksakan bukanlah keharusan. Itu yang pernah kau katakana padaku di kehidupan lalu, Wildan.’ “He? Sungguh, kah? A-aku sebijak itu?” ‘Sekarang sudah mulai malam. Sebaiknya kau mulai tenang dan bermeditasi, Wildan. Aku akan menemanimu di sini.’ Wildan buang napas lemas. “Apa… Aku kuat membaca zikir sebanyak itu?” ‘Ini adalah langkah awal untuk mempersiapkan diri sebagai pendekar, Wildan. Jika kau ragu pada dirimu sendiri, bagaimana kami bisa yakin?’ Teringat pada kejadian di malam penuh api, Wildan memejamkan mata seraya bersila meluruskan punggung. ‘Kau benar.’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN