"Jika dengan menyakitiku kau bisa berbahagia, maka lakukanlah. Jika air mataku bisa mendatangkan tawa untukmu, maka aku ikhlas ketika kau membuatku bersedih. Aku hidup untuk kamu... seluruh jiwa dan ragaku hanyalah milikmu, jadi lakukanlah apa pun padaku, karena aku bukan apa-apa, jika tidak bersamamu." Nana menutup buku sajak alay-- sajak menyayat yang berkisah tentang orang-orang bodoh-- maksudnya tentang orang-orang tertindas yang mendapat perlakuan tidak adil. Semua murid-murid di kelas sibuk menepuk tangan, memberi apresiasi pada Nana yang membacakan sajak itu dengan sempurna, dari raut wajah, nada dan volume suara, intonasi, dan serak-serak di bagian yang terkesan menyedihkan, seolah tulisan yang tertulis itu dialami sendiri oleh Nana. 'Yah wajar sih... orang dia punya wajah prot

