Konflik Superistis tadinya cukuplah rumit, karena penuh dengan imajinasi dan dramatisasi.
Para Dosen di ruangan DKM ini sepertinya cukup mengerti. Aku terkadang sampai berkeringat dingin dan juga berdebar-debar, deg-degan apalagi ketika aku disuruh pindah mencari meja dan kursi lainnya.
Aku merasakan seperti duduk dengan nyaman, namun hanya diperbolehkan sesaat saja.
"Enak loh duduk di ruangan DKM ini, kok malah disuruh pindah, gimana sih," Kataku pada Dosen Penghargaan seperjuangan lainnya yang ada di ruangan.
"İya loh Pak Ker... kita kan bisa jadi kenal sama yang lainnya, gitu," Katanya mereka.
Walaupun cuma duduk sebentar, namun aku sudah cukup senang. Semua itu telah memberikan pengalaman dan pengetahuan yang sungguh sensasional.
Karena pengalaman itu tidak bisa dibeli dengan uang ataupun perasaan, namun hanya bisa didapatkan melalui waktu yang berjalan. Aku tidak begitu mahir dalam filosofi, terutamanya kehidupan.
"Hmm... Pak Ker, kira-kira berapa ya harga meja dan kursi-kursinya ini,?" Tanyanya seorang Dosen penghargaan lainnya kepadaku, lalu matanya seperti menerawang dan melihat kursi serta mejanya.
"Wah... ga tau Saya Pak, mungkin saja mahal harganya atau juga murah, mungkin loh Pak ya," Kataku padanya.
Kami mengobrol sejenak bersama juga dengan Pak Mar dan yang lainnya. Pada saat-saat seperti ini merupakan kenangan yang indah, karena kami jarang berkumpul dan terlebih lagi adanya konflik seperti tadinya.
"Pak Mar... kalau boleh tau, jika mengajar Bapak fokusnya ke bidang apa ya Pak,?" Tanyaku padanya untuk mengetahui kemahirannya dalam mengajar.
"Oh... saya biasanya ngajar di bidang Agama gitu lah Ker, kalau kamu,?" Tanyanya ia padaku.
"Wah... kalau saya di bidang Drama Seni Pak, mengajar Drama Komedi dan juga tulis menulis," Kataku padanya dan tersenyum ramah.
Kami mengobrol dan melihat situasi. Pak Dosen sangar yang tadinya marah-marah namun sekarang telah menjadi sedikit tenang. Aku tidak begitu mengenalnya, tapi tatapan matanya sungguh penuh dengan misteri.
Disisi lain ada Dosen penghargaan baru lainnya yang mengatakan, sepertinya ia tidak menyetujui seruan serta ujaran dari Pak Dosen sangar, sehingga membuat ia berontak dan mengutarakan juga pendapatnya.
"Ruangan DKM ini penuh dengan Dosen-dosen."
"Permisi Pak... Apa bagaimana sebaiknya kami para Dosen-dosen penghargaan ini ya Pak,? karena saya mendengar dan bahkan melihat langsung, kalau tempat duduk ini selalu saja berkonflik, ayo gimana kawan-kawan,!" Pendapat dan seruannya Pak Dosen penghargaan baru tadinya.
"Hmm... Saya tidak tahu, memangnya kenapa ya,? apa Anda keberatan,?" Katanya Pak Dosen sangar menceletuk dan seperti tak perduli.
Suasana yang tenang tadinya kembali ricuh lagi, karena pendapat dari Pak Dosen penghargaan baru tadi mulai membangkitkan konfliknya.
Nuansa akademik sekarang berubah menjadi seperti drama duka, kupikir akan banyak pengetahuan dan wawasan yang akan kudapatkan.
Namun ternyata malah konflik superistis tempat duduk yang ada. Sungguh tiada pernah terbayangkan dan apalagi terpikirkan.
Bahkan perasaanku pada Paliv pada saat ini sepertinya tidak terasakan lagi, seolah-olah saja telah tidak ada lagi. Semuanya seperti telah mengabur dan juga buram.
"Seperti kertas yang buram."
Buram bersama konflik tempat duduk yang semakin merumitkan, seperti tiada berakhir saja permasalahan ini sampai-sampai Pak Mar mengutarakan lagi pendapatnya.
Pak Mar merupakan orang yang cukup disegani, dan juga dihormati di Universitas Kimer Techno Zhilogic di Negara Republik Damba, terutamanya dikalangan para Dosen-dosen muda.
Dia telah banyak menghasilkan para sarjana konkret terkini. Para mahasiswa yang berkarakter, berkembang dan berbudaya.
"Begini Bapak-bapak sekalian..., karena meja dan kursinya kita terbatas, saya anjurkan Bapak-bapak sekalian bisa mencari kursi di ruangan lainnya saja, atau bisa juga duduk di ruangan sebelahnya,!" Penjelasan dan pendapatnya Pak Mar yang cukup moderat.
"Wah baik Pak, ini kursi yang saya duduki tadinya, baru saja saya ambil dari ruangan sebelah loh Pak," Katanya seorang Dosen penghargaan yang menanggapi pendapatnya Pak Mar.
"Oke..., kalau semuanya sudah mengerti, maksud saya agar tidak terjadinya konflik dan salah paham yang lebih jauh, nantinya,!" Pak Mar menjelaskan lebih detail.
"Iya Pak, kami mengerti kok Pak...," Katanya para Dosen Baru, muda, tetap, penghargaan dan yang lainnya di ruangan ini.
Setelah mendengar penjelasan dan pendapatnya Pak Mar, tapi Dosen sangar sepertinya tidak menyukainya. Aku melihat wajahnya yang muram dan langsung saja berdiri mendengar ujaran tadinya.
Pak Dosen sangar melihat situasi ruangan, karena Dosen-dosen penghargaan banyak yang mengambil kursi di ruangan sebelahnya. Pak Dosen sangar berdiri dan matanya melotot seperti mengawasi.
Pak Dosen sangar ini adalah seorang pengajar yang senior, namun tidak begitu dikenal, tapi kami cukuplah segan terhadapnya.
Cukup lama kami berdiskusi dan bercerita. Waktu sudah memasuki jam 12.00 Wrd di Kampus Republik Damba. Aku tidak ada jam mengajar pada hari ini, karena tadinya aku datang ke kampus hanya untuk memberikan oleh-oleh saja, kepada semuanya.
"Wrd, Waktu Negara Republik Damba."
Aku baru saja pulang beribadah Umrah dari negara Timur Tengah. Perasaanku yang tadinya begitu senang karena ingin bertemu lagi dengannya Paliv, namun tiba-tiba saja berubah.
Pengalaman ini merupakan perjalanan spiritualku dalam beribadah. Kemudian Pak Dosen sangar menyahut lagi kepada mereka para Dosen baru, muda, penghargaan dan yang ada di ruangan.
"Hey... Kenapa kalian tidak duduk saja disana,! di ruangan sebelah itu, disitu kan masih ada yang kosong, kalian bisa kesana,!" Celetukannya Pak Dosen sangar terdengar cukup sinis, bahkan seperti mengusir.
"Baik Pak... kami juga ingin duduk disana, jika nanti ruangan ini penuh, tapi disini kami-kami merasa lebih enak, karena adanya yang dikenal, begitu Pak," Katanya seorang Dosen penghargaan lainnya dan menjawabnya.
Pak Mar mendengarkan dan tidak setuju atas anjuran serta ujaran dari Pak Dosen sangar, sehingga hal itu membuatnya membalas seruannya.
Seruannya Pak Mar pun cukup mengena, sampai-sampai membuat para Dosen yang ada di ruangan ini menjadi terdiam, lalu kami mendengarkan mereka itu cekcok mulut dan saling berbeda pendapat.
Aku pikir hal itu tidaklah mengapa, karena pengajaran juga tidak menjadi terganggu, lagi pula kami-kami ini kan, adalah Dosen-dosen baru, muda, dan penghargaan luar biasa. Kami pun jugalah jarang datang kemari.
"Jarang bertemu dan berkumpul."
Pada biasanya kami langsung saja menuju ke kelas pengajaran masing-masing, maka dari itu jika ada waktu, biasanya ruangan ini menjadi tempat bercerita dan bersantai.
Begitulah sepertinya alur kehidupan yang kurasakan, senang dan sedih seperti menyatu dengan seiring berjalannya waktu.
Aku tidak begitu khawatir jika mereka berbeda pendapat atau berdebat sekalipun, lebih jauh daripada itu, aku telah merasakan bangga dan senang, tentunya karena dapat mengajar di kampus Republik Damba, lebih tepatnya di Universitas Kimer Techno Zhilogic.
"Universitas Kimer Techno Zhilogic adalah perguruan tinggi ternama, SUPER, Millenium, dan Pioneer dalam kemajuan teknologi terkini."
"Tepatnya bagaimana hey...! kamu si Dosen baru dan penghargaan luar biasa. Saya jarang lihat kalian disini ya, jangan-jangan kamu bukan Dosen di Fakultas ini lagi,?" Tanyanya Pak Dosen sangar sambil mencari tahu, karena mereka itu jarang terlihat di ruangan.
"Biarkan sajalah Pak..., mereka itu kan juga pengajar disini, samalah seperti kita-kita ini,!" Katanya Pak Mar yang cukup adil dan tampak bijak.
Setelah Pak Mar berkata dan kemudian Pak Dosen sangar menjadi terdiam. Dia langsung duduk serta menundukkan kepalanya.
Aku sedikit tidak menghiraukan mereka yang saling berbeda pendapat atau menceletuk tadinya. Aku melihat dan mendengar namun aku mencoba mencari solusinya.
Karena pada saat ini aku sedikit syok dan terkejut, terutamanya setelah mendengar kabar bahwa Paliva baru saja menikah.
Perasaanku pada saat ini seperti telah berpindah tempat ke tempat lainnya, namun hatiku telah merasakan lega.