KONFLIK SUPERISTIS IMAJINASI

1132 Kata
Aku mendengarkan Dosen-dosen keren lainnya yang ada di ruangan ini. Mereka menyuarakan pendapatnya, beberapa menit setelahnya seluruh isi ruangan dosen DKM menjadi penuh, baik yang sudah ada maupun yang baru datang. Terutamanya Dosen-dosen muda penghargaan luar biasa. Mereka itu tidak mengetahui bahwa meja-meja kami sekarang ini sedang berkonflik. Ada yang menatap dengan begitu sinis, dan ada juga yang bertingkah seperti mencari sekutu. Padahal ruangan ini adalah tempat untuk bersantai sambil mempersiapkan pengajaran, namun dengan adanya konflik ini, tentunya fokus mengajar pun menjadi berkurang. "Kok gerah ya Pak..., kalau semakin siang seperti ini, bisa berkeringat lebih ya Pak," Tanyaku pada Pak Mar dan mengobrol dengannya. "Iya Ker..., ruangan ini tidak terlalu besar loh, dan juga tidak ada ACnya, kalau siang hari seperti ini biasanya panas, ya gitu lah pokoknya," Pak Mar menjelaskan. Mungkin saja kondisi cuaca tadinya bisa mempengaruhi emosi orang-orang yang ada di dalamnya, sehingga seringnya merasakan panas ataupun gerah. Kemudian para Dosen-dosen penghargaan luar biasa yang lainnya pun masuk dan menyapa kami semuanya yang ada di ruangan. Ruangan Dosen DKM ini biasanya ada Dosen baru, Dosen muda, Dosen keren, Dosen tetap, dan tentunya dosen Penghargaan luar biasa. Mereka itu biasanya menyapa kami semuanya dengan ramah. "Ramah, sopan dan penuh penghargaan." "Tok tok tok..., salam, selamat pagi semuanya Pak, apa kabarnya kalian,?" Sapaan salamnya Dosen-dosen yang baru saja tiba, lalu mereka yang lainnya pun mulai masuk juga secara bergantian kedalam ruangan. "Ya... salam juga, silakan masuk dan apa kabarnya kalian-kalian ini,?" Tanyanya seorang Dosen tetap menjawab para Dosen yang baru saja masuk tadinya. "Evet, merhaba salam günaydın," Sapaan salamnya Dosen lainnya yang datang dan masuk, mereka menyapa secara bergantian. "Saludos, Buenos Dias a todos," Salamnya para Dosen lainnya dan berlalu masuk. "Guten Morgen allerseits," Sapaan Dosen lainnya dan bergantian masuk. "Good morning everyone, how are you today,?" Sapaan Dosen lainnya dan berlalu masuk. "Salam, Selamat pagi apa Khabar,?" Sapaan Dosen lainnya menggunakan Bahasa Melayu. "Доброе утро, всё как дела сегодня,?" Sapaan Dosen lainnya dan berlalu masuk ke ruangan. "Joheun Achimimnida, Annyeong haseyo," sapaan Dosen lainnya dan mereka semuanya berlalu masuk serta duduk di ruangan. "Ohayou gozaimasu," Sapaan Dosen lainnya masuk secara perlahan-lahan. "Weleh-weleh, selamat Pagi semuanya, apa kabare sampeyan semua e, pripun, apik-apik wae kabare,?" Sapaan dosen lainnya dan masuk ke ruangan. "Selamat pagi semuanya, apa kabarnya," Sapaan Dosen lainnya masuk dan duduk. "Ondeh Mandeh, salamaik pagi samua, apa kabanyo, apa kabarnya,?" Sapaan Dosen lainnya menggunakan Bahasa Padang dan berlalu masuk ke ruangan. Para Dosen-dosen yang baru saja datang dan menyapa itu tentunya tidak mengetahui, bahwa sekarang ini sedang ada konflik tempat duduk, namun dengan kehadiran mereka yang beragam bahasa dan budayanya, tentulah hal itu dapat membuat suasana ruangan menjadi lebih dinamis. "Suasana yang berkembang dan tidak membosankan." Aku mengucapkan salam namun dalam hati saja, dan lebih baiknya aku menyimak serta mendengarkan. Bagaimana mereka para Dosen itu masuk dan menyapa kami semuanya. Ada yang begitu senang dan ada yang biasa saja, sehingga cukup komplit pada hari ini. Aku tidak begitu tahu dan mengenali mereka satu persatu. Pada biasanya mereka datang dan menyapa, lalu masuk ke ruangan dan kemudian duduk di mejanya masing-masing. Setelahnya ada seorang dosen tetap yang mengatakan dengan keras, terutamanya tentang masalah meja dan tempat duduk. Padahal kupikir dengan hadirnya para Dosen tadinya, diharapkan hal itu akan dapat membuat suasananya menjadi mencair, namun nampaknya tidak. Justru hal itu malah membuatnya menjadi semakin pelik. Setelahnya ada seorang Dosen tetap yang menyindir dengan halus, sehingga membuat dosen lainnya menjadi menatap langsung. "Wah-wah... selamat pagi semua Pak, awas nanti di suruh pindah juga ke kursi dan meja-meja lainnya ya, haha...," Sindirannya seorang Dosen tetap, dan suasananya masih sangat panas. "Loh... kenapa ya Pak,? memangnya kenapa. Apa tidak boleh kami duduk-duduk disini,?" Tanyanya seorang Dosen penghargaan luar biasa yang baru saja masuk tadinya. Dia menanggapi sindirannya Dosen tetap itu. Pak Dosen tetap yang menyindir itu malah diam ketika sindirannya ditanggapi. Aku mendengarkannya mereka berdebat, tapi aku seolah-olah tidak tahu. Mereka ada yang berbisik-bisik pelan, dan ada juga yang mengomel-ngomel serta menceletuk. Ruangan dosen DKM ini memang dikenal fleksibel, sampai-sampai tempat duduk pun juga bisa ikut menjadi bandel. Walaupun begitu, ruangan ini telah banyak menghadirkan kenangan dan kesan, walau tidak semuanya senang dan bahagia, tentu ada juga sedihnya atau bahkan dukanya. Kemudian masuk lagi seorang Dosen tetap lainnya kedalam ruangan dan menyapa. Namun pada kali ini cukup berbeda, karena Dosen tetap itu tampak sangar dan pendiam, rambutnya sedikit gondrong, sorot matanya tajam, begitu juga dengan sapaan dan seruannya. Pak Dosen sangar itu menyeru kepada salah satu dosen penghargaan lainnya di ruangan. Dia menyuruh untuk pindah ke meja lainnya dengan sangat tegas dan tanpa basa-basi. Aku mendengarkan seruannya Pak Dosen sangar. Aku melihat dan memperhatikan apa saja yang mereka perbincangkan. Aku juga belum tahu siapakah namanya Pak Dosen sangarnya. "Hey... ya kenapa memangnya, bukannya tidak boleh,! tetapi itu meja saya ya, paham,! kalian ini darimana,!?" Seruanya Pak Dosen sangar tadi kepada para Dosen penghargaan luar biasa. "Oh begitu ya Pak, kalau memang ini mejanya Bapak, ya silakan saja, Saya pindah," Katanya seorang Dosen penghargaan, kemudian ia beranjak berdiri dan mencari meja lainnya. Aku ingin rasanya tersenyum senang namun telah bercampur dengan sedih ketika aku mendengarnya, lalu juga gundah gulana, seperti itu rupanya kondisi yang ada di ruangan Dosen DKM ini. Aku bisa melihat bahwa Dosen-dosen penghargaan luar biasa itu banyak yang emosi. Apalagi ketika mendengar seruan seperti tadinya, tapi apa boleh buat, begitulah adanya. "Dosen kok disuruh pindah, gimana sih." Pak Mar sampai keheranan ketika mereka cek-cok dan beradu mulut, walaupun ruangan ini ramai, tapi aku menjadi gelisah karena tempat duduk dan juga status. "Gelisah dan tidak tenang, karena kami hanyalah seorang Dosen penghargaan luar biasa." Seharusnya mengajar dan belajar itu menjadi menyenangkan, tapi dengan keadaan yang seperti ini, semuanya seperti berubah menjadi lebih egois dari biasanya. Menjadi lebih dramatis dan juga superistis dari kejadian sebelumnya, lebih imajinatif, sampai-sampai membuatku terdiam dan membayang. Sebelumnya memang ada yang cek-cok mulut bahkan sampai-sampai mau saling tonjok. Aku dengar dari ceritanya mereka-mereka. "Mau saling tonjok padahal Dosen, gimana sih." Begitulah yang namanya konflik, mendengar ceritanya saja sudah membuatku cemas, dan bahkan bisa merinding. "İni Dosen atau kumpulan para pegulat ya, pikirku." Pak Mar dan mereka yang lainnya pernah bercerita, jika tempat duduk di ruangan ini sungguhlah rentan. Mejanya bisa sampai retak, dan kursinya pun juga bisa sampai patah. Kemudian Pak Dosen sangar tadinya membalas lagi celetukan si Dosen penghargaan luar biasa yang disuruh pindah tadinya. "Apa kamu bilang..., tak usah menceletuk begitu kamu ya,! saya dengar ini loh,! kamu ngajar apa emangnya,!?" Katanya Pak Dosen sangar kepada Dosen penghargaan luar biasa. Dosen penghargaan luar biasa itu tidak menghiraukan dan langsung saja mencari meja baru lainnya. Begitulah kondisi Konflik Superistis imajinasi yang penuh dengan dramatis, nyata atau fiksi tentunya dapat menghibur. Aku lebih mementingkan pengajaran daripada perdebatan. Apalagi hal yang sepele, namun bagi Dosen yang sensitif, mungkin bisa saja berbeda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN