Sudah 3 jam sandra di kurung di kamarnya dan selama itu pula dia menghabiskan waktunya hanya dengan mondar-mandir ngga jelas sambil terus-menerus mengeluarkan u*****n-u*****n kepada Ali.
"Sial...!!! baru kali ini gue di permaluin di depan umum kayak gini! Ali s****n! Ali kurang ajar! Ali gue benci sama lo!! liat aja gue bakalan bales lo dan inem!" amuk sandra yang merasa dirinya telah di permalukan di depan umum.
Dia masih saja terus mondar-mandir ngga jelas dengan jari yang menempel di dagu terlihat seperti orang yang sedang berfikir keras, hingga.
Ceklek...
"Kak sandra...! ini gitarnya udah di balikin sama kak putri, tapi tadi kata bang Ali kakak ngga boleh mainin gitar ini disini, atau bakalan abang Ali sendiri yang akan ngehancurinnya kalo kakak masih tetap nekat buat mainin" teriak bilah dengan semangat dari depan pintu.
"Berisik woy!" protes sandra yang merasa gendang telinganya hampir pecah gara-gara teriakan bilah. emosinya kepada Ali, sukses membuatnya lupa kepada gitar yang di bawa bilah itu.
Padahal beberapa jam yang lalu dia sangat heboh mencarinya.
"Hehe...maap kak, abisnya bilah terlalu bersemangat, nih" ucapnya sambil memberikan gitar milik sandra.
"oiya mendingan kakak sekarang mandi abis itu ganti baju yang sopan. Terus kalo udah selesai kakak ke rumah, temuin ayah. Soalnya tadi kata ayah ada yang pengen beliau bicarakan sama kakak," lanjut bilah.
"Ngapain mandi? males banget... mending lo tunjukin gue tempat cuci muka aja buruan," judes Sandra.
"Hah? tapikan kakak dari kemarin belum mandi."
"Emangnya kenapa? masalah buat lo? lagian gue mandi ngga mandi juga tetep wangi, tetep cantik, wlee," sandra menjulurkan lidahnya.
Bilah menghela nafas seraya geleng-geleng kepala mendengarnya, dia benar-benar belum pernah menemukan wanita se unik Sandra, "Haduh... ngga ngerti aku sama jalan fikiran kakak, yaudah ayo biar aku antar sekalian ke tempat cuci mukanya. tapi kakak pake baju yang sopan dulu, masa kesana mau kayak gini?," Sahut bilah.
"Ish... iya! iya! Ribet banget sih disini! Mau cuci muka aja kudu ganti baju!" Sandra yang sedari tadi hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek langsung memakai gamis yang belikan oleh mamanya sambil menggerutu.
Setelah selesai memakai gamis tersebut, Sandra mengambil kerudungnya. Tapi anehnya, sejak tadi Sandra hanya terus menatapinya saja, "boleh ngga sih ngga usah make kerudung?" tanya sandra tiba-tiba.
"Ngga boleh lah kak, kan make kerudung itu hukumnya wajib," tegas Bilah.
"Tapi masalahnya gue ngga bisa makenya! yaudah sih ngga usah, orang di tempat gue aja ngga ada yang make kerudung, lagian nih ya kalo gue make kerudung sama ni gamis pasti ntar bakal keliatan kayak emak-emak banget guenya" protes sandra, berharap Bilah mau mengerti perasaannya.
"Kalo kakak ngga bisa makenya nanti biar bilah yang ajarin dan pake-in. Lagian kan orang-orang yang ngga make kerudung itu di tempat kakak, yang Bilah yakin kelakuan orang disana juga hampir sama dengan orang jahiliah. sedangkan sekarang ini kakak kan lagi di pesantren, tempat orang-orang menuntut ilmu agama. Jadi kakak harus bisa nyesuai in diri, trus kata siapa kakak kalo make gamis sama kerudung keliatan kayak emak-emak? buktinya Bilah yang make pakaian kayak gitu, masih keliatan kayak anak remaja kan? Bukan kayak anak emak-emak? lagian nih ya kak, kakak malah akan keliatan lebih cantik kalo make kerudung, percaya deh sama Bilah" terang bilah menangkis semua protesan sandra.
"Iya-iya, bawel lo ya! mendingan sekarang lo makein gue kerudung deh. Ribet, gue belum bisa" sandra langsung mengalihkan pembicaraan karna dia kalah dalam ber-argument kali ini
"Yaudah sini, nanti kalo udah pulang dari sana, bilah ajarin kakak deh gimana cara pakenya" ucap bilah bersemangat sambil memakaikan kerudung ke kepala sandra.
"Hmm" hanya itu balasan yang keluar dari mulut Sandra, wajahnya terlihat kecut saat ini.
"Udah selesai, coba deh kakak liat ke kaca, sumpah kakak cantik banget kalo make kerudung" puji bilah sambil menyodorkan sebuah kaca, setelah selesai memasangkan kerudung di kepala Sandra.
"Alay lo, nih yah gue kasih tau sama lo! Gue tuh emang udah cantik dari lahir! Jadi make kerudung ataupun kagak, ya gue bakalan tetep keliatan cantik!" Protes sandra menyombongkan diri kemudian melihat pantulan wajahnya di kaca.
untuk sesaat dia jadi tertegun karna merasa tidak percaya kalo orang yang ada di kaca adalah dirinya, benar kata bilah ia sangat cantik kalau make kerudung.
"Ini orang yang di kaca beneran gue? Seriusan? Gila gue cakep banget," batinnya.
"Kak, kakak!" teriak Bilah sambil menepuk pundak Sandra, dan hal itu sukses membuyarkan lamunannya dari perasaan terkejut dan kagum yang sama sekali tidak bisa dia sembunyikan.
"Apasih...teriak teriak aja! bisa budeg lama-lama kuping gue!" Protes Sandra langsung dengan nada judesnya.
" Ya maap kak, abisnya kakak dari tadi aku panggil-panggil ngga nyahut, makannya Bilah teriak," dengan polos nya bilah langsung meminta maaf, padahal dia tidak salah sama sekali. Karna memang sandranya aja yang hobby bersikap judes ke semua orang.
"gimana, aku ngga bohong kan? kakak jauh lebih cantik kalo make kerudung kan?" lanjutnya dengan wajah yang kembali tersenyum ceria.
"Brisik lo ngomong mulu, udah ayo gue ngga usah cuci muka langsung ke rumah lo aja, ntar pak kyai nunggunya kelamaan lagi," sandra yang bingung harus menjawab apa, lagi-lagi menghardik Bilah kemudian langsung pergi dari sana meninggalkan gadis itu.
Sebenarnya sandra tidak ingin segalak ini kepada Bilah, tapi masalahnya, bilah selalu saja sukses membuat dia yang bersifat tsundere itu kehilangan kata-kata. Dengan kata lain, Sandra tanpa sadar menganggap Bilah sangat menggemaskan, cuman dia tidak mau kalo gadis itu mengetahuinya.
Di tambah lagi selama ini, lingkungan sandra memaksa dan menuntut dia agar terlihat judes dan dingin agar semua orang menakutinya. Karna dia adalah ketua geng di wilayahnya.
"Ih dasar...! kakak cakep cakep jorok! kakak kan belom cuci muka sama gosok gigi dari tadi pagi!" teriak bilah mengejar sandra.
Selama perjalanan ke rumah pak kyai, lagi-lagi semua mata tertuju pada Sandra. Tapi, tatapan kali berbeda dengan yang sebelum sebelumnya, tatapan kali ini malah terkesan lebih ke arah kagum dan memuja.
"Bil, gue heran deh, kenapa tiap kali gue lewat pasti aja jadi pusat perhatian disini" bisik sandra ke telinga Bilah.
Bilah terkekeh mendengarnya, "Ya jelas lah kak, kakak kan selalu punya cara biar semua perhatian tertuju ke kakak, apalagi sekarang kakak makin keliatan cantik karna di balut sama pakaian tertutup dan kerudungan, ya jelas lah para santri langsung mikir kalo kakak itu bidadari kesasar, ya biarpun mereka jadi dapet dosa zina mata sih kalo terus mandangin kakak" jawab Bilah.
"Hahaha... lo kalo ngomong suka bener Bil," untuk pertama kalinya Sandra tertawa setelah menginjakkan kaki di pesantren ini. Ya... Biarpun tawa yang dia tunjukkan cuman kekehan dan senyuman tipis sih.
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah bilah.
"Assalamuaikum..." Bilah memberi salam kemudian masuk dan di ikuti oleh sandra.
"Waalaikumsalam" sahut pak kyai dari dalam.
"Eh nak Sandra..., ayo sini paman ingin bicara sesuatu sama kamu" lanjut pak kyai saat melihat Sandra yang berjalan di belakang Bilah.
"paman mau ngomong apa?" tanya Sandra penasaran secara to the point.
"Jadi gini, papa kamu sudah jelasin ke paman bagaimana sifat kamu. Walaupun begitu, paman tidak bisa menyalahkan kamu atas semua sifat buruk kamu itu, karna semua itu mungkin di sebabkan oleh pergaulan kamu selama ini. paman hanya bisa mencoba untuk membuat kamu berubah agar menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya, semampu dan sebisa paman," pak kyai diam sejenak, mencoba memberikan jeda pada kalimatnya.
"Terus...?".
"Jadi, karna paman rasa sifat kamu sedikit berbeda dan lebih istimewa dari para santri lainnya. Paman rasa kamu tidak akan cocok jika langsung paman berikan pelajaran yang sama dengan mereka. Dan lagi pula, kamu itu benar-benar pemula. Paman takut, jika nanti kamu tidak akan bisa mengikuti pelajaran yang ustad berikan di kelas. Jadi, untuk itu paman memberikan tanggung jawab untuk membimbing kamu ini ke orang yang saat ini telah paman percayai dan yakini untuk insyaallah dapat merubah kamu menjadi lebih baik lagi untuk ke depannya, dan orang itu adalah Ali. aAak paman sendiri. Selama kamu disini, kamu akan menjadi tanggung jawab Ali, dan mulai sekarang Ali yang akan mengajari dan membimbing kamu sampai Ali merasa kalau kamu sudah mampu untuk mengikuti pelajaran yang para santri lainnya pelajari di pesantren ini" jelas pak kyai.
Sontak sandra membelalakkan matanya tidak percaya saat mendengarnya, "What?! paman nyuruh Ali buat jadi pembimbing aku selama disini?!" Tanya Sandra mencoba memastikan kalau dia sedang tidak salah dengar saat ini.
Beliau mengangguk, "Iya, memangnya kenapa? lagian Ali itu anaknya baik kok, ngerti agama, dan paman yakin dia bisa bimbing kamu."
"Paman... masa harus Ali sih? yang lain kek, siapa gitu... masa ngga ada? lagian kan sandra cewek, kenapa ngga santri cewek aja yang ngajarin sandra?" sandra mencoba bernegosiasi.
"Raga kamu memang perempuan Sandra. Tapi, sifat kamu itu seperti laki laki, jadi paman tidak bisa menitipkan kamu ke santri perempuan karna bisa-bisa nanti mereka akan kabur atau nyerah duluan untuk ngajarin kamu. Sedangkan Ali, setau paman dia adalah orang yang sabar, ya walaupun sedikit tegas, dan dia juga tau batasan mana yang haram mana yang halal, jadi paman bisa jamin kalau dia akan mampu menjaga pandangannya, dan ngga akan macam-macam sama kamu, jadi kamu tidak perlu takut sama dia," sahut pak kyai, menolak negosiasi yang sandra berikan itu.
"Cih! Sabar apanya?! kenapa sih mereka terus terus an muji-muji tu nama?! Bikin gue eneg dan pengen muntah tau ngga!" gumam sandra.
"Sandra, kamu lagi berbicara sesuatu?" tanya pak kyai yang merasa tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Sandra yang sedang bergumam itu.
"Hah? ngga kok paman Sandra ngga ngomong apa apa," kilahnya sambil menunjukkan senyum terpaksa menatap ke arah beliau.
"Oh yasudah kalau begitu, paman hanya ingin berbicara itu saja, dan mulai besok insyaallab Ali akan mulai mengajar kamu. Tapi pesan paman, kamu harus sabar dalam ngehadepin Ali, karna tadi bilah cerita sama paman kalau kalian sedang tidak akur. Jadi kalau kamu terpancing emosi dengan cara mengajar Ali nantinya, bisa-bisa paman yakin kalian akan ribut setiap harinya," pesan beliau mencoba memberi nasehat.
"Kalo paman udah tau kalo Sandra sama Ali ngga akur, trus kenapa paman masih aja nyuruh anak paman buat ngajarin sandra?! Itu sama aja kayak paman sengaja ciptain perang dunia ke 3 tau ngga?! Karna kucing sama tikus tuh dimana-mana ngga bakalan pernah akur, kayak di film tom and jerry misalnya, dan Ali sama Sandra itu di ibaratkan adalah mereka, paman!" protes sandra, wajahnya benar-benar terlihat masam saat ini.
"Paman punya alasan untuk hal itu," jawab beliau sambil tersenyum kecil, pak kyai sama sekali tidak memasukkan ke dalam hati tingkah Sandra ini.
"Huh...udahlah! ngomong sama paman itu sama aja ngomong sama papa tau ngga!" protes Sandra lagi kemudian langsung pergi dari sana, dengan mulut yang menggerutu.
"Ish...! dasar...! kenapa sih gue tuhapes banget disini?! apalagi sekarang si kutu kupret Ali yang nyebelin itu bakalan jadi guru gue!" Gerutunya.
"tapi kalo gue balik percuma juga, yang ada melarat gue gara-gara ngga di kasih kartu atm sama fasilitas dari papa! belum lagi resiko ketemu mantan sama tukang tikung, arggggg....!! puyeng....!!!" Lanjutnya menggerutu sambil terus saja berjalan tanpa arah tujuan saat ini.
Entah kenapa Sandra tiba-tiba saja mulai merasa frustasi saat memikirkan bagaimana nasibnya nanti.
"Tapi, apa itu tadi kata paman? gue harus sabar ngadepin Ali hahahaha.... harusnya anaknya yang di kasih tau tentang hal itu!" seru Sandra lagi dengan penuh emosi.
"liat aja! gue bakalan bikin dia angkat tangan buat ngajarin gue!" Matanya berbinar penuh tekat saat mengatakannya.
Dia terus berjalan tanpa arah tujuan, hingga akhirnya dia sampai di depan pintu yang bertuliskan dapur di atas pintunya. Tapi, bukan tulisan atau tempat itu yang menarik perhatian Sandra melainkan orang yang ada di dalamnya.
"Inem...! liat aja gue bakalan balas perbuatan lo tadi yang ngebuat gue harus di bilang ngga laku dan murahan sama si Ali s****n itu! Gue bakalan bikin lo sadar kalo lo sedang nyati masalah dengan orang yang salah!" gumamnya pelan dengan wajah menyeringai saat mengatakan nya.
Dia langsung berjalan mengendap-endap ke dalam dapur tersebut, agar orang-orang yang sedang berada di dalamnya tidak menyadari ke datangannya itu, karna Sandra ingin memberikan kejutan dan melihat wajah terkejut plus ketakutan mereka nantinya, saat dia menunjukkan diri di hadapan mereka semua.