Sandra berjalan mengendap-endap ke dalam dapur. setelah di rasa sudah hampir mendekati sasarannya dia langsung berdehem dengan sangat kencang, yang sontak membuat mereka semua menjadi kaget dan menatap ke arah dirinya.
"ekhmmmm!!! nem gue laper! pengen makan! " ucap sandra dengan nada santai sambil menatap tajam putri, dia memang benar-benar hebat dalam mengatur ekspresi.
Putri yang di tatap tajam seperti itu merasa sedikit takut. Apalagi saat dia mengingat bagaimana bengisnya Sandra yang tidak ragu-ragu untuk memelintir tangannya dengan kencang kemarin. Tapi, meskipun begitu, dia tetap berusaha untuk menjaga wibawa di depan teman-temannya, karna dia adalah kepala santri wanita disana.
"ya.... kalo laper tinggal makanlah apa susahnya coba?!" putri mencoba memberikan tatapan yang sama saat mengatakannya, ya... walaupun hasilnya malah jadi sebaliknya sih.
Sandra kembali menunjukkan seringaiannya, dia ingin mengerjai putri saat ini, "ambilin gue makanan atau...," sandra menggantung kalimatnya.
"a-atau apa...?! " putri mulai mengeluarkan nada ketakutannya, sedangkan teman-temannya tidak ada yang berani bicara karna takut melihat tatapan sandra yang menurut mereka sangat menyeramkan.
" atau gue... "sandra melirik sekilas ke arah tangan mereka satu persatu, " gue bakal patahin tangan lo-lo pada dan ngebuat kalian seumur hidup menyesal karna udah nyembunyiin gitar gue dan berurusan sama gue!!" sungguh sandra terlihat sangat menyeramkan saat ini, karna dia mengeluarkan aura yang biasa dia keluarkan saat tawuran dulu.
Seketika nyali mereka semua menjadi makin ciut, apalagi Putri. tangan bekas plintiran sandra kemarin saja masih snagat terasa sakit saat ini, gimana kalo sampe sandra berbuat lebih? dia takut kalau tangannya itu bisa-bisa beneran patah nantinya.
Tapi, meskipun begitu, Putri masih saja terus menerus mencoba menantang sandra, karna baginya, setakut apapun dia, dia masih harus menjalankan tanggung jawab untuk mendisiplinkan para santri, karna itu adalah tanggung jawabnya. Bahkan jika santri tersebut adalah Sandra sekalipun.
Putri tau kalau dia akan kalah. Tapi, dia tidak akan pernah mau menjatuhkan wibawanya sebagai seorang kepala santri wanita di hadapan santri baru yang brandalan, macam Sandra.
"halah...! Kamu fikir kami bakalan takut sama ancaman receh kamu?! huh... Sorry ya ngga bakal ngaruh!" Ujarnya dengan nada bergetar karna menahan takut.
" Oh.... Jadi lo nantangin gue nih ceritanya? Hmm? " sandra maju selangkah demi selangkah ke arah putri secara perlahan untuk membuat putri semakin merasa ketakutan.
Setelah jarak di antara mereka hanya tinggal satu langkah, sandra berucap lagi " nantangin gue?!" Tanyanya dengan nada yang sangat dingin, aura mengintimidasinya semakin kuat dan tatapan semakin tajam. Bahkan saking tajamnnya, putri sampai merasa kalo tatapan itu sampai terasa menusuk ke tulang-tulangnya.
Sontak dia langsung mengalihkan pandangan, karna merasa tidak berani melihat wajah sandra apalagi menatap matanya. Putri hanya bisa menunduk, keberaniannya menjadi hilang dan sirna seketika.
Sandra yang merasa dikacangin langsung emosi, dengan kencang dia menggebrak meja yang ada di sampingnya layaknya seorang preman pasar yang sedang meminta jatah setoran kepada para pedagang kecil yang ada di pasar.
"woy...! Kalo orang ngomong itu di jawab! bukan di diemin! Punya mulut kan?! gue tanya sekali lagi sama lo, lo nantangin gue?! Hah?! Nih yah! gue peringatin sama lo! yang tadi itu bukan ancaman! tapi pemberitahuan! kalo ngga percaya... " sandra diam sejenak kemudian dengan secepat kilat dia menyambar pergelangan tangan Putri dan langsung memelintir nya kembali seperti kemarin.
Mereka yang takut melihat sikap brandalan sandra langsung memohon-mohon untuk meminta maaf dan ngasih-janji janji yang menurut sandra sama sekali tidak bermutu. apalagi Putri, sudah jangan di tanya, dia yang paling histeris saat ini.
Tangannya berasa mau patah dan itu sangat terasa menyakitkan baginya.
Sandra yang sedang emosi memang benar-benar tidak punya perasaan, tidak heran jika dia mendapat julukan sang setan berwajah malaikat di kawasannya.
Dia yang sudah puas mendengar melasan mereka akhirnya melepaskan tangan putri, "well, gitu dong. Dari tadi kek, kan jadinya gue ngga perlu repot-repot ngeluarin tenaga."
"oke sebagai hukuman karna kalian udah nyolong gitar gue, gue mau lo semua jadi kacung gue, ngga lama-lama kok cuman sebulan doang, gimana? " Ujar Sandra lagi dengan santai ke arah mereka semua.
" hah?, jadi kacung kamu selama sebulan? "Serentak mereka semua langsung cengo mendengarnya.
" biasa aja dong bu! ngga usah kayak gitu juga ekspresinya, lebay tau ngga! oh... atau jangan-jangan, kalian mau gue tambah jadi 2 bulan aja hukumannya?!" Sahut sandra sang diktator.
" eh... tapi Sandra, kita ngga salah, itu udah peraturan disini dan kamu lah yang melanggar. Aku cuman ngikutin peraturan pesantren, jadi kamu ngga berhak marah atas itu" ucap putri memberanikan diri kembali, karna bagaimanapun juga dialah kepala santriwati disini jadi tidak seharusnya dia takut disaat dia benar, ya... walaupun dia melakukannya dengan cara yang salah sih.
"iya gua emang ngelanggar! tapi lo itu maling! Emangnya ngga bisa yah lo minta secara baik-baik tanpa harus bersikap angkuh kayak kemarin dan jadi maling kayak tadi?!" Jawab sandra dengan wajah datarnya.
"apa karna jabatan yang di kasih sama pak kyai yang bikin lo jadi besar kepala disini? Iya?! Kalo iya, gue bakalan dengan senang hati bikin sikap sok berkuasa lo itu hilang secara permanen disini! Jadi sekarang lo pilih, jadi kacung gue atau lo hancur di tangan gue!" Tegas sandra.
"Ahh... bukannya itu ya yang lo jelasin melalui sikap lo selama ini ke para santri disini sampe-sampe mereka semua tunduk sama lo? Lo bikin mereka ngerasa kalo nyari masalah sama lo di pesantren ini itu sama aja dengan cari mati" tebaknya dengan nada sinis. Sandra juga suka bersikap angkuh seperti itu, hanya saja dia benar-benar sangat tidak menyukai jika ada orang lain yang bersikap sama dengannya. Karna tidak boleh ada 2 pemimpin dalam satu daerah yang sama. Keduanya harus bertarung untuk memperebutkan tahta, dan itulah yang sedang sandra lakukan saat ini. Dia harus menaklukkan Putri, yang notabenya sangat di takuti di pesantren ini, agar dia mendapat kekuasaan tertinggi. Pemikiran yang sangat konyol memang, tapi itulah isi otak Sandra saat ini.
Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan menatap mereka satu-persatu dengan sinis dan tajam, kemudian menyeringai, "gue cuman nunjukin pemikiran lo dalam bentuk ucapan gue kok, ngga lebih" lanjutnya yang kemudian tersenyum Devils.
Bagi Sandra, bermain-main dengan sang rubah yang bertingkah menjadi raja di saat singa tidak ada benar-benar terasa sangat menyenangkan.
Putri hanya diam tak menjawab, mimpi apa dia semalam sampe-sampe harus berurusan dengan iblis kayak sandra di siang bolong begini?
"gue itung sampe tiga, kalo lo belum jawab, gue pastiin lo semua bakalan masuk rumah sakit dan gue masuk penjar," ancamnya.
"satu..., dua..., tig....,"
"oke aku mau!" Pasrah putri pada akhirnya sebelum Sandra menyelesaikan hitungannya.
karna jika dia melihat dari sikapnya sandra, sepertinya gadis iru tidak pernah main-main dengan ucapannya, makanya putri yang masih merasa sayang dengan tangan dan badannya, terpaksa meng iyakan nya.
"oke... Tapi gue mau, jangan sampe ada yang tau. Awas aja kalo h ini sampe bocor! gue jamin kalian semua bakalan nyesel! "ancam sandra lagi, karna sandra tau kalo sampe orang kayak pak kyai atau si Ali kutu kupret itu tau tentang hal ini, pasti mereka akan menghambat dan menghancurkan rencana serta kebahagiaan yang dia miliki ini.
"i-Iya san, kita ngga bakalan bocorin hal ini kok, iya ngga put?" Salah seorang dari mereka berjalan mendekat ke arah putri yang benar-benar sedang merasa kesakitan akibat mendapat plintiran dari sandra itu, sambil menyikut tangan sebelahnya untuk meminta konfirmasi.
Mereka semua memanglah teman laknat, hanya saja putri tidak menyadari hal tersebut.
Putri terdiam, dia merasa ogah-ogahan untuk meng iyakan, tapi di satu sisi dia benar-benar takut di hajar oleh Sandra.
Hingga pada akhirnya cuman bisa mangut-mangut tanda setuju.
"oke... Kalo gitu mulai hari ini lo semua resmi jadi kacung gue... Horeeee" sandra pura-pura mengeluarkan ekspresi gembira yang berlebihan, sedangkan mereka semua malah menunjukkan ekspresi yang sebaliknya.
"dan hal pertama yang harus kalian lakukan adalah, ngambil makanan buat gue dan layanin gue karna gue laper saat ini! " Titah Sandra langsung.
Mereka langsung meng-iyakan dan menuruti perintahnya itu dengan hati yang benar-benar merasa dongkol dan ketakutan.
" oiya untuk sekedar info, gue itu sama sekali ngga takut sama polisi, wong gue aja sering keluar masuk penjara gara-gara tawuran, brantem, dan balapan. Jadi, gue ngga bakalan keberatan kalo kali ini alasan gue masuk kesana itu gara-gara matahin tangan santri yang modelannya kayak kalian. ya cuman sekedar info doang sih" ucap sandra acuh tak acuh sambil mengedikkan bahu seolah tidak perduli dengan apa yang dia katakan.
Tapi, di balik ekspresinya itu, dalam hati sandra sedang tertawa terbahak-bahak saat ini.
Mana mungkin sih dia berani matahin tangan mereka? bisa abis nanti dia sama papanya, tapi dengan begonya mereka semua percaya dengan gertakan nya itu.
"lo semua rasain pembalasan gua hahaha" batin sandra, dia tidak serius dengan semua perkataannya barusan. itu semua hanya gertakan belaka untuk memberikan mereka semua pelajaran.