Aku ternganga. Sungguh ini adalah hal yang mengejutkan. Wajah yang tak asing itu berada di depan mata. Ia sedang menatapku tanpa kedip. "Silakan duduk!" seru lelaki yang masih berdiri di pinggir jendela tersebut. Pikiranku tak menentu. Dia mirip sekali dengan Azzam, seseorang yang pernah mengisi hari-hariku dulu. Lelaki baik dan sangay menghormatiku. Cinta pertama yang pernah singgah di hatiku. Tapi kenapa lelaki itu tidak mengenalku? Aku mencari name desk, untuk meyakinkan benarkah lelaki yang memiliki potongan rambut rapi itu adalah Azzam. Namun, papan nama di atas meja tidak menghadap ke arahku. Hatiku berdebar tak keruan. Derap langkah sepatunya mengetuk lantai saat berjalan ke arahku, menimbulkan detak-detak yang semakin sulit kuartikan. "Apa anda yakin ingin bekerja di perusahaan

