Debar di d**a masih belum beraturan. Saat keluar dari ruangan Azzam pun tanganku masih berkeringat dingin. Sungguh ini di luar kendaliku. Bertemu dengan lelaki itu di saat yang tidak tepat. Sesukses itukah dia sekarang? Menjadi direktur utama di sebuah perusahaan majalah fashion ternama. Tanpa melihat ke sekeliling, aku berjalan cepat menuju lift. Tak kupungkiri, aku memang sangat ingin berjumpa dengannya. Hanya dia yang bisa membuatku merasa istimewa. Lelaki yang selalu membuatku tersenyum walau dulu kami jarang bertatap muka. Ya, dulu aku menjalin hubungan jarak jauh dengan Azzam. Sekuat tenaga aku berusaha menepis pikiran yang tidak-tidak. Namun, semakin kuat aku menyingkirkannya, semakin kuat pula bisikan-bisikan itu berdengung di telinga. 'Seandainya dulu aku menikah dengan Azzam,

