“Appa, hari ini aku mau diantar sekolahnya, ya. Boleh nggak?” tanya Woo Jin ketika dia baru menyelesaikan sarapan. Dia pun meraih tas yang tergantung di kursinya, kemudian beranjak dari sana demi mendekati Sheilla. “Mau diantar sama Mama sekolahnya.”
Anak itu berkata lagi sambil memegang lengan Sheilla. Sementara Kim saja belum menyetujui atau tidak.
“Kenapa mendadak minta diantar, humh? Biasanya kamu selalu menolak kalau appa mau mengantarmu. Ada angin apa lagi?” tanya Kim balik.
“Lagi mau saja. Lebih tepatnya aku mau kenalin Mama ke temen-temen ku yang lain, biar mereka tahu siapa mamaku. Jadi boleh, ya ....”
“Tanya sendiri sama mamamu, mau atau tidak.” Kim juga menyelesaikan sarapannya lebih awal, sebab dia harus mengecek stok barang di tokonya hari ini.
“Maaaa, mau ya?” Akhirnya Woo Jin memasang wajah memelas kepada Sheilla. Namun, wanita itu tidak lantas menjawab. “Ma, Mama mau dong, anterin aku. Sampai ke depan gerbang saja juga nggak apa-apa. Nggak mau ditungguin sampai pulang.”
Sheilla masih terdiam.
“Mama kok, diam? Nggak mau, ya?”
“Nggak,” jawab Sheilla padat membuat anak itu sedikit mengerucutkan bibbir karena kecewa.
“Kenapa, kok nggak mau?”
“Nggak bisa nolak maksudnya!” jawab Sheilla seraya tersenyum lebar, dia pun bergegas beranjak dari kursi dan merapikan piring bekas makanan mereka. Kemudian meraih tangan Woo Jin yang sudah menunggunya dengan tidak sabar.
“Anterin sampai depan kelas, ya. Masih mau?”
“Apa, sih yang enggak buat pangeran kecil mama? Si ganteng kalem yang banyak banget maunya ....” Sheilla mencubit gemas kedua pipi Woo Jin, tetapi anak itu malah tertawa. Keceriaannya hari ini mengawali pagi mereka yang jarang terjadi sebelum Kim dan Sheilla menikah.
Sesampainya di depan, Kim memanggil Sheilla lebih dulu sebelum mereka berpisah. “Sheilla!”
Wanita berambut panjang dengan setelan kaus dan rok selutut itu pun menoleh sejenak. Lalu terdiam di tempatnya saat Kim melangkah mendekat. Kedua mata lelaki tersebut tampak sayu, seperti orang yang sangat mengantuk karena kurang tidur. Padahal seingat Sheilla, Kim tertidur semalaman penuh bersamanya yang juga terlelap tanpa disadari.
“Ya?”
Sheilla sedikit menengadah demi melihat wajah Kim yang semakin mendekat, tetapi dia seketika mati gerak ketika sebuah kecupan singkat mendarat di keningnya tanpa aba-aba. Apa yang dilakukan Kim sekarang?
Sheilla benar-benar tidak bisa berpikir panjang, respons tubuhnya sendiri malah di luar dugaan. Dia yang terlalu kaget mendadak cegukan di hadapan Kim.
“Jangan salah paham, saya melakukan ini karena mau menunjukkan ke semua orang seperti apa hubungan kita sekarang,” ujar Kim.
Sheilla yang masih cegukan melihat sekeliling, tempat ini sudah cukup ramai oleh kedatangan pegawai dan kendaraan orang-orang yang juga akan mengawali aktivitas mereka hari ini. Dia tahu arti perkataan Kim barusan, tetapi tidak mengerti kenapa harus dengan cara ini? Setelah insiden pelukan semalam, sekarang lelaki itu berulah lagi. Apa Kim sama saja dengan lelaki hidung belang lainnya yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan?
Namun, faktanya yang dilakukan Kim sekarang sudah berhasil menarik perhatian semua orang. Mereka yang melihat saling berbisik di belakang, entah membicarakan apa. Di hadapannya, Kim mulai menjauhkan wajahnya dari Sheilla.
“Tuan apaan, sih. Malu tahu,” ujar Sheilla sangat pelan seraya menepuk d**a Kim di hadapannya. “Nggak perlu begini juga, nanti kalau Ella salah paham gimana?”
“Saya memang menginginkan itu ...”
“Ha—hah?” Sheilla mematung, dia semakin tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan Kim padanya. Namun, belum sempat dia menjawab, Kim sudah berlalu dari hadapannya begitu saja tanpa menoleh lagi.
“Ma, ayo! Nanti aku kesiangan!” Woo Jin yang semula melangkah lebih dulu terpaksa berputar arah dan menarik lengan Sheilla.
Dalam perjalanan menuju sekolah, pikiran Sheilla sekarang benar-benar berpindah tempat. dia bahkan sampai melupakan masalahnya kemarin, melupakan bagaimana rasa takut akan menghadapi dunia luas ke depannya.
Apa lelaki itu sudah hilang akal?
Atau Kim benar-benar memanfaatkan keadaan sekarang demi keuntungannya?
Dua pemikiran itu sempat melintas di pikiran Sheilla, tapi keduanya langsung terbantahkan oleh ingatan Sheilla sendiri tentang kepribadian Kim. Sheilla berpikir Kim tidak mungkin berada di dua posisi tersebut, Kim yang dikenalnya adalah seorang lelaki yang penuh misteri di balik sikap dinginnya.
“Argghhh ... Ella bisa-bisa gila kalau begini jadinya!” Sheilla mendadak menggerutu sendiri membuat Woo Jin dan para ibu-ibu di sekitarnya terkejut.
“Siapa yang gila?” tanya Woo Jin dengan kernyit di keningnya.
“Eh? En—enggak ada. Tadi Cuma asal ngomong.” Sheilla tersenyum garing. Kemudian menyadari ternyata mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah putranya. Ah, putra? Benar sekali. Sekarang dia sudah resmi menyandang status sebagai seorang ibu, walau Woo Jin bukan darah dagingnya.
“Sudah sampai, sekarang kamu masuk, gih. Belajar yang benar dan dengarkan apa kata guru kamu, uh. Apa kamu mengerti itu?” ujar Sheilla sebelum dia melepas Woo Jin masuk ke sekolah bersama teman-temannya.
“Aaaaah, temenin sampai depan kelas dong, nanti biar aku kenalin Mama ke temen-temen di dalam sana.”
“Tapi di sana—“
“Ayo, ikut aku, Ma!” Woo Jin menarik lengan Sheilla dan langsung mengajak masuk ke lingkungan sekolahnya. Di sana, memang ada beberapa orang tua siswa datang mengantar anak mereka. Mereka yang datang begitu modis, bibir kemerahan, make up penuh dan pakaian bagus.
Sementara Sheilla hanya mengenakan setelan kaus dan rok seperti gadis desa kebanyakan di tempatnya. Jujur saja, keadaan ini sedikit membuat Sheilla tidak percaya diri, apalagi ditambah dia belum mengenal seorang pun dari para wanita itu.
“Dicky, Azzam! Kenalin ini Mama aku yang kemarin aku ceritain sama kalian.” Woo Jin begitu bersemangat memperkenalkan Sheilla kepada teman-temannya, tanpa ragu apalagi malu. Tingkah polosnya membuat siapa pun tersenyum kecil.
“Mana?!’
“Mama kamu cantik beneran!”
“Kenalin, Tante. Aku Azzam. Teman sebangkunya Woo Jin.”
“Aku Dicky, Tante.”
“I—iya. Aaah, kalian lucu sekali. Apa kalian bertiga berteman baik?” tanya Sheilla ramah ketika dua anak lelaki itu memburunya dengan berbagai macam sapaan.
“Iya, aku seneng temenan sama mereka, Ma. Mereka berdua asyik, nggak kayak yang lain kadang suka nyebelin.” Woo Jin yang menjawab pertanyaan Sheilla.
“Nggak boleh begitu, kamu harus berteman dengan baik sama siapa pun.” Sheilla mengusap puncak rambut Woo Jin penuh kelembutan. “Sekarang kalian masuk kelas sana, sebentar lagi bel sekolahnya bunyi.”
“Iya, Ma. Kami masuk dulu, ya.”
Sheilla hanya mengangguk pelan disertai senyum manisnya untuk Woo Jin. Sedangkan anak itu sempat terdiam sebentar seraya menatap ke arah Sheilla sebelum langkahnya membawa ke dalam pelukan wanita itu.
“Makasih banyak. Aku sayang Mama, deh.”
Sheilla membalas pelukan Woo Jin padanya, sekarang anak itu mungkin saja suah bisa bernapas lega. Keinginannya perlahan terwujud dengan seiring berjalannya waktu, dan karena ada Sheila di dekatnya. Dia bahkan tidak ragu mengucap rasa sayangnya kepada wanita berusia 22 tahun itu.
Woo Jin pun melepaskan pelukannya, kemudian berlari kecil menyusul teman-temannya ke dalam kelas. Sheilla cukup lega karena sudah berhasil mewujudkan salah satu harapan anak malang itu.
“Ternyata memang benar dia orangnya?”
Sheilla menoleh sebab mendengar seorang wanita berbicara di dekatnya. Ternyata ada dua orang ibu-ibu, satu di antara mereka paling mencolok dengan warna lipstik merah menyala. Kedua wanita yang baru saja selesai mengantar sang anak tersebut memandangi Sheilla dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Biasa saja orangnya, saya kira cantik.” Wanita bertubuh gemuk itu berbisik ke teman di sampingnya, tapi suaranya tetap terdengar oleh Sheilla.
“Iya, Bu. Nggak nyangka, ya. Ternyata pelakornya kayak begini, saya kira dia lebih cantik dari anaknya Pak Han.”
“Hah? Maksudnya bilang begitu apa? Ibu berdua lagi ngomongin Ella, kan?” tanya Sheilla mulai tersinggung dengan ucapan kedua wanita tersebut. Padahal mereka tidak mengenal satu sama lain, Sheilla juga baru kali ini bertemu para ibu di sekolah Woo Jin, tapi mereka suah berbicara yang tidak-tidak.
“Memang benar, kan? Kamu merebut kekasihnya Rin. Padahal mereka sudah berencana menikah, tapi kamu tiba-tiba datang dan menghancurkan pernikahan mereka,” ujar wanita berbadan gemuk.
“Tega kamu, ya. Ternyata memang bibit pelakor bukan Cuma berasal dari perempuan cantik saja, perempuan di bawah standar juga perlu diwaspadai.” Wanita yang lain menyambut dengan kalimat lebih sinis dan menyakitkan bagi Sheilla.
“Tapi Ella nggak merebut siapa pun! Jangan sembarangan, ya kalau ngomong.” Sheilla membalas mereka tajam, kemudian melangkah pergi dari sana ketimbang meneruskan sebuah obrolan yang hanya akan membuatnya lebih sakit dari ini.
Kedua mata Sheilla sudah basah, di perjalanan pulang dia menangisi kehidupannya yang selalu saja tersandung masalah. Dari mana mereka bisa berpikiran hal semacam itu? Sementara sebelum ini biasa-biasa saja. Seketika ingatan Sheilla mundur ke tempat di mana Rin pernah mengatakan bawa dia tidak akan pernah melepaskannya.
Sekarang gadis itu memang sedang menjalani hukuman di sel tahanan dalam beberapa bulan ke depan. Apa memang benar dia adalah sumber gosip ini?
Sheilla sendiri tidak yakin, tetapi sekarang hatinya benar-benar sakit karena berita ini.
***
Sheilla pulang ke rumah dan langsung memburu tempat tidur besarnya, dia menangis di sana seorang diri. Berharap rasa sakitnya akan berkurang dengan cara ini, tetapi nyatanya tetap saja. Dia masih merasakan kesedihan walau air matanya keluar banyak.
Sebuah ponsel disambar Sheilla dengan cepat, lalu mencari sebuah nomor dengan pemilik nama Gandi di sana. Sheilla berusaha menelepon pemuda itu berulang kali, tetap tidak ada hasil. Panggilannya terus masuk ke kotak suara, Gandi tidak bisa dihubungi.
“Gandi ... Ella butuh kamu. Kamu di mana sih? Apa benar kamu sudah nggak mau kenal sama Ella lagi?” Sheilla menggenggam erat ponselnya, ada hal yang lebih perih di hatinya sekarang. Dia sangat merindukan pemuda itu dalam kehidupannya, bukan hanya untuk berbagi kedukaan, melainkan berbagi kebahagiaannya seperti biasa.
Andai saja Sheilla memiliki nomor lain untuk bisa menghubungi Gandi, sudah pasi dilakukannya. Sayang sekali sekarang di kontaknya tidak ada nomor lain, Sheilla benar merasa buntu.
Tidak ada orang yang bisa dipercaya Sheilla untuk melepas beban pikirannya kecuali Gandi.
Sheilla akhirnya benar-benar menangis sendirian tanpa bisa menceritakan keluh kesahnya kepada orang lain. Terkadang dia sangat lelah terjebak keadaan buruk seperti ini terus-menerus, tapi rasa lelah tersebut bisa hilang karena keberadaan Gandi, melihat dia datang membawa senyumnya saja sudah cukup. Sekarang Gandi menghilang, apa yang harus dilakukan Sheilla jika seperti ini?