“Pa, Ma! Boleh aku masuk?” tanya Woo Jin, dia muncul dari mulut pintu yang masih terbuka dengan membawa bantal guling kesayangannya.
“Boleh.”
Anak itu tersenyum lebar, lalu berlari kecil ke tempat Kim dan Sheilla. Dia pun seakan mengambil kesempatan emas di tengah-tengah kedua orang dewasa itu.
“Ada apa, humh? Apa kamu tidak bisa tidur? Ini sudah malam.” Kim bertanya sambil mengusap rambut Woo Jin yang sudah berbaring di sampingnya.
“Iya, mau tidur di sini bareng Appa sama Mama. Boleh, ya?”
Kim melihat ke arah Sheilla sebentar, wanita itu sepertinya masih belum bisa mengontrol perasaannya sendiri.
“Kamu sudah besar, jangan manja terus. Memang kenapa kalau tidur di kamarmu?” tanya Kim.
“Memangnya kenapa kalau aku tidur di sini? Nggak boleh, ya? Appa sama Mama maunya tidur berduaan terus, sih. Sampai lupa kalau anaknya juga butuh ditemenin.”
Kim tersenyum kecil seraya mencubit gemas hidung mancung putranya. “Kamu ini. Ya, sudah terserah kamu saja. Tapi ada satu syaratnya kalau kamu mau tidur di sini.”
“Syarat apa?”
“Suruh mamamu makan dulu, dia lagi mogok makan dari kemarin.”
Woo Jin mengernyit sejenak kemudian melihat ke arah Sheilla yang malah menghindari pandangan matanya. Anak itu pun bergerak memperhatikan dengan jelas wajah Sheilla dari dekat, hingga terlihat wajah pucat itu.
“Mama sakit, ya?” tanya Woo Jin. Namun, wanita yang sekarang sudah resmi menjadi ibu sambungnya itu terdiam. “Pantesan tadi nggak ikut makan malam. Aku ambilin makanan ya, tunggu sebentar.”
“Jangan—“ Sheilla menahan pergerakan Woo Jin dengan menarik lengannya. “Biar mama ambil sendiri. Kamu tidur duluan saja, ini sudah malam. Apa besok tidak sekolah?”
“Besok sekolah, tapi ....”
“Tapi kenapa?”
“Mama jangan sakit, nanti aku nggak fokus di kelas keinget Mama terus.”
Sheilla otomatis terdiam, kehabisan kata sudah jika Woo Jin sendiri yang mengatakan langsung hal-hal yang membuat Sheilla mudah tersentuh.
“Enggak akan. Besok juga sembuh, ini Cuma butuh banyak istirahat saja.” Akhirnya Sheilla menjawab agar anak itu tidak mengkhawatirkannya lagi.
“Gitu?”
Sheilla hanya mengangguk.
“Kalau gitu diam di sini, aku yang ambil makanan. Katanya butuh banyak istirahat, itu artinya Mama nggak boleh pergi dari tempat tidur.” Woo Jin pun memilih beranjak lebih dulu walau Sheilla sudah melarangnya.
Hingga Sheilla hanya bisa menghela napas tipis melihat betapa pedulinya Woo Jin sekarang.
“Kamu bisa lihat sendiri bagaimana dia memperlakukanmu,” ujar Kim yang kembali mengusik lamunan Sheilla. “Setiap hal yang saya lakukan sekarang hanya untuknya, tapi saya juga tidak akan mengekangmu untuk memilih sendiri. Bertahan di sini, atau meninggalkan luka baru padanya.”
“Kenapa Tuan bicara begitu? Ella bukan orang yang bisa tega menyakiti anak kecil.” Sheilla cemberut kecil, tidak setuju dengan pilihan yang diberikan Kim padanya.
“Kalau begitu, itu artinya kamu akan tetap di sini?” tanya Kim memastikan.
“Itu ... ya, sudah. Mau bagaimana lagi. Ella nggak bisa mundur kalau keadaannya sudah begini. Asal nanti Tuan jangan menangani masalah Ella sendiri, Ella mau terlibat juga. Biar kalau ada apa-apa Ella bisa antisipasi.”
Saat Sheilla berbicara, dia melihat sekilas senyum Kim yang berbeda dari biasanya. Lelaki itu tampak senang karena sesuatu, atau sedang menertawakan sesuatu yang Sheilla sendiri tidak tahu sebabnya.
“Kenapa Tuan senyum?” tanya Sheilla.
“Saya tidak senyum.” Kim langsung mengubah raut wajahnya dengan cepat.
“Ah, bohong! Tadi Ella lihat sendiri Tuan senyum, tapi memang Cuma sebentar.”
“Itu karena matamu yang salah lihat.” Kim segera beranjak dari tempat tidur meninggalkan Sheilla di kamar.
“Tuan jangan bohong! Tuan tadi senyum karena apa? Ngetawain Ella, ya?!” Sheilla sampai berteriak, tetapi Kim tidak menoleh lagi. Padahal jelas-jelas dia tadi melihat lelaki itu tersenyum. “Masa iya Tuan ketawain Ella? Memang tadi ucapan Ella ada yang lucu?”
Sheilla kembali melihat ke arah pintu kamar yang masih terbuka, dia heran sendiri jadinya. Apa yang menyebabkan Kim tersenyum walau sesaat tadi, biasanya dalam keadaan normal pun, lelaki itu paling memberikan senyum miring.
***
“Sudah kenyang belum? Kalau belum aku ambilin lagi, nih!”
“Eh, jangan! Ini makanan sudah banyak masuk perut semua. Nggak lihat perut mama sudah mengembang begini?” protes Sheilla saat Woo Jin menawarinya makanan lagi. Sekarang perutnya bahkan sudah terisi penuh oleh masakannya sendiri sore tadi. Ditambah satu buah apel yang sengaja dibawa Woo Jin sebagai penutup.
“Biarin mengembang, apalagi kalau ada dedek bayinya. Kayaknya seru juga.”
“Uhukk!” Sheilla mendadak tersedak nasi yang belum tertelan sepenuhnya akibat ucapan Woo Jin yang begitu polosnya tentang bayi.
“Ya, ampun sampai keselek begitu. Minum dulu.” Woo Jin pun menyodorkan segelas air putih untuk Sheilla.
“Gimana nggak keselek? Bicara kamu main jeplak, nggak disaring dulu!” Sheilla mendadak sewot sendiri. Jangankan bayi, memikirkan dia bersentuhan dengan Kim saja sudah tidak mungkin.
“Memang kenapa? Nggak mau kasih dedek baru gitu buat aku? Sedih tahu main sendiri terus. Kalau punya dedek kan enak, ada yang temenin pas main. Apalagi kalau cowok dedeknya, bisa aku ajakin main bola.”
“Psssttt. Jangan diterusin lagi, lihat jam berapa sekarang. Anak kecil harusnya sudah tidur.” Sheilla menahan semua keinginan-keinginan Woo Jin yang bisa saja membengkak ke yang lain lagi. Sementara hubungan Sheilla sendiri secara pribadi dengan Kim tidak pernah ada.
Waktu memang sudah semakin larut, Sheilla pun melangkah dari kamar menuju dapur untuk menyimpan piring kotornya. Dalam perjalanan itu, Sheilla melihat Kim tengah duduk di kursi ruang tengah dan sedang menonton televisi.
Sheilla tidak enak sendiri, beberapa hari ini dia sudah menempati tempat tidur lelaki itu. Sementara Kim memilih tidur di sofa setiap malam, apa itu adil bagi pemilik kamar asli? Akhirnya sesudah menyimpan piring, Sheilla pun menghampiri Kim di sana.
“Tuan ....”
Lelaki itu menoleh, tetapi tidak menjawab sapaan Ella dengan sebuah kalimat. Melainkan hanya gerak tubuh yang menjawabnya.
“Itu ... Ella Cuma mau bilang, kalau Tuan mau tidur di kamar malam ini nggak apa-apa. Biar nanti Ella yang tidur di sofa. Ella nggak enak masa Tuan tidur di luar terus,” ujar Sheilla sedikit bernada ragu. Ya, ragu karena merasa serba salah dalam posisi ini.
“Tidak masalah, kau pergilah ke kamar. Temani Woo Jin tidur sana,” jawab Kim.
“Tapi Tuan, masalahnya Ella nggak enak. Di sini dingin sekali, selimut dan bantal satu nggak akan nyaman buat Tuan. Ella mah sudah biasa tidur kedinginan, Tuan mana bisa. Nanti kalau Tuan sakit gimana? Ella nggak mau begitu.”
“Saya bilang tidak apa, itu artinya saya akan tidur di sini.”
“Tapi, Tuan—“
“Ya, ya, baiklah.” Akhirnya Kim beranjak dari kursinya dan melangkah ke tempat Sheilla berdiri. “Kita tidur bersama.”
“Ha—hah?!” Sheilla terkejut bukan main karena kalimat Kim ternyata berbuntut, dia ingin protes tetapi lengannya sudah keburu ditarik oleh Kim dan menuntunnya masuk kamar. Sampai di sana, Woo Jin yang belum tertidur pun menyadari kedatangan mereka.
“Mau tidur, ya? Sini, aku ngantuk banget, Pa.” Woo Jin pun sedikit menggeser tubuhnya ke pinggiran tempat tidur.
“Eh, kenapa kamu malah di pinggir?! Di tengah saja,” ujar Sheilla. Dia cemas jika begitu nantinya dia dan Kim akan tidur berdempetan.
“Dia tidak pernah betah tidur di tengah-tengah. Kalau dipaksakan nanti dia bisa gelisah sendiri,” jawab Kim seraya menarik tangan Sheilla sampai ke tempat tidur. “Kau yang di tengah.”
“Tapi—“
“Cepatlah ....” Kim memerintah lagi.
Sheilla pun akhirnya menurut saja daripada dia terkena masalah lain. Dia berpikir tidak ada salahnya jika mereka tidur di satu tempat yang sama, mereka juga tidak akan berbuat apa-apa.
Namun, setelah Sheilla berbaring di kasur. Debar jantungnya tidak bisa berdetak dengan normal setelah Kim ikut berbaring di sebelahnya. Kasur ini memang besar, tapi juga terasa sempit karena Sheilla diserang ketegangan berlebih. Dia pun memilih membelakangi Kim dan menghadap ke arah Woo Jin yang membelakanginya.
Sheilla menelan ludah berat, keadaan ini sangat berbahaya baginya. Bisa-bisa dia tidak bisa tidur semalaman penuh.
Sekitar lima belas menit kemudian, Sheilla pegal sendiri dengan posisi tidurnya sekarang, sedangkan Woo Jin sepertinya sudah terlelap cepat bersama mimpinya. Dia pun membalikkan tubuhnya sedikit hingga terlentang di tengah-tengah. Namun, lagi-lagi dia menyadari Kim yang memilih tidur menghadap ke arahnya saat menoleh.
“Astagfirullah!” Sheilla membatin, kemudian segera menutup matanya kembali. Menghindari kedua mata Kim yang ternyata masih terjaga.
“Kenapa kau belum tidur?” tanya Kim dengan suara seperti berbisik.
Sheilla kembali membuka mata setelah tindakannya ketahuan oleh Kim.
“Nggak bisa tidur.”
“Oh ....”
Kim hanya merespons singkat, kemudian tidak ada obrolan lagi di antara mereka berdua. Sheilla pun mencoba memejamkan mata sebisa mungkin, nyatanya tidak bisa. Detik demi detik berlalu bertemankan sepi dan suara denting jarum jam yang terus berjalan. Dia lihat Kim sudah terlelap di sebelahnya, membuat ketegangan Sheilla sedikit berkurang.
Sheilla mencoba kembali untuk tertidur, menyingkirkan kegelisahan yang sejak tadi terus membuntutinya. Namun, beberapa menit setelahnya, Kim mulai bergerak mendekat, melingkarkan lengan kokohnya di tubuh Sheilla dan mengalirkan kehangatan. Lelaki itu masih memejamkan mata, apa dia benar tertidur? Tidak sadarkah dia dengan debar jantung Sheilla yang semakin kencang sekarang?
Bahkan Sheilla sampai mati gerak, napas Kim yang sangat tenang terus menyentuh pipinya yang telah bersemu kemerahan.
“Tuan ....”
“Tuan ....”
Sheilla memanggil Kim dengan suara pelannya, tetapi Kim tidak terusik sama sekali.
“Gimana ini? Ella makin nggak bisa tidur jadinya,” gumam Sheilla dalam hati seraya menggigit tipis bibir bawahnya. Dia merasa tidak nyaman walau dekapan Kim sekarang begitu hangat di kamar ber AC ini.
***
Sampai sekitar pukul 4 lebih 15 menit sebelum waktu Shalat Subuh tiba, Kim mulai terusik. Dia yang sebenarnya tidak bisa tidur itu pun melihat Sheilla di dekatnya masih sangat nyenyak bersama mimpi. Kim sengaja mempertahankan posisinya sejak awal, memeluk erat Sheilla agar pikiran wanita itu berpindah pada kegelisahan akibat ulahnya. Akhirnya rencana Kim berhasil juga, Sheilla yang semula begitu sulit tertidur sejak beberapa hari lalu sekarang sudah lebih tenang.
Ternyata memang benar dugaan Kim, Sheilla hanya butuh sebuah perhatian, sebuah dekapan yang bisa membuatnya lebih nyaman. Wanita ini sangat kesepian, di antara sekian banyak orang yang memiliki sandaran. Dia seorang menyendiri membawa masalahnya dalam genggaman.
Kim ingin membangunkannya, tetapi dia tidak tega sendiri. Akhirnya dia bangkit lebih dulu dari tempat tidur dengan sebagian tubuhnya yang terasa pegal karena menghadap ke arah kiri semalaman suntuk. Rencananya dia akan membangunkan Sheilla nanti jika waktu subuh sudah tiba.
“Ini benar-benar ... ah, sakit. Bodoh sekali aku melakukan ini untuknya.” Kim mengeluh kecil sambil menggeliatkan tubuh saat berjalan ke arah kamar mandi.