Kim yang terus berlari ke arah kerumunan orang-orang pun tidak menemukan petunjuk secuil pun. Dia lupa anak yang tadi tidak menyebutkan ciri-ciri dari lelaki yang menitipkan kotak kado itu padanya sampai Kim tidak bisa membedakan di antara para warga ini, siapa orang yang
Berpotensi mengirimkan ancaman tersebut.
Mereka semua terlihat tenang, hanya melihat ke arah Kim sebentar dengan tatapan heran, kemudian kembali mengobrol seakan tidak terjadi apa-apa. Itu benar-benar membuat Kim kehilangan akal mencari siapa orangnya.
“Apa ada yang sedang terjadi, Mas?” tanya salah seorang lelaki berbaju batik kepada Kim.
“Tidak ... saya hanya sedang mencari seseorang, tapi sepertinya dia sudah pergi,” jawab Kim. Dia kembali melihat sekeliling, tetap saja tidak dia temukan siapa lelaki itu. Sepertinya dia harus menanyakan kembali kepada anak tadi ciri-ciri pelakunya.
“Oh, kirain saya ada apa.”
“Kalau begitu saya permisi dulu, Pak.”
“Iya, Mas.”
Kim pun kembali ke tempat Sheilla dan Woo Jin berada, gadis yang sekarang sudah menyandang status sebagai seorang istri sekaligus ibu itu pun kelihatan menunggu kedatangannya, termasuk mertua Kim sendiri.
“Bagaimana? Apa ketemu orangnya?” tanya Pak Parman.
“Tidak, tapi aku akan meminta keterangan dari anak tadi untuk mengetahui ciri-ciri pelakunya.” Kim menjawab sambil menghela napas tipis, dia cukup lelah dan berkeringat di wajah dan lehernya. Namun, Sheilla cukup tanggap hingga mengelapnya dengan tisu.
“Biar Ella saja yang tanyakan nanti, Ella tahu siapa anak itu,” ujar Sheilla. Kemudian menghentikan gerakan tangannya sendiri karena Kim terdiam sambil menatapnya. “Maaf, Ella nggak bermaksud—“
Sheilla benar-benar menjauhkan tangannya dari Kim, merasa tindakannya tadi salah dan bisa saja membuat Kim risi.
“Kita akan menanyakannya bersama nanti.” Kim mengambil tisu baru yang ada di kursi.
“Orang itu harus cepat ditemukan, jika tidak bisa membahayakan nyawa kamu, Nak. Ini sudah sangat keterlaluan dan ibu tidak ingin kamu celaka,” ujar Bu Sarinah yang kemudian melihat ke arah Sheilla dengan tatapan tidak suka. “Kalau saja kamu dengarkan ibu, semua ini tidak akan terjadi.”
“Bu ... sudahlah. Jangan berkata begitu, tidak enak.” Pak Parman sedikit menarik lengan istrinya karena menyadari raut wajah Sheilla semakin murung. Begitu pula raut yang ditunjukkan Kim, menantu mereka itu tampak tidak nyaman sama sekali.
“Aku sendiri yang akan menangani ini, kalian tidak perlu terlalu khawatir. Semua akan baik-baik saja,” ujar Kim.
“Memang harus seperti itu. Kalau terjadi sesuatu sama kamu, gimana Woo Jin ke depannya. Sudah cukup dia kehilangan ibu, jangan jadikan dia anak yatim piatu di usianya sekarang.”
Kim melihat kedua mata Sheilla memerah dan basah, tetapi dia tidak kunjung menangis. Air matanya tertahan kuat saat berusaha menyembunyikan perasaannya dari orang lain. Masih ada banyak orang di sini, untung saja isi kotak itu tidak sempat menarik perhatian orang banyak. Hingga mereka bisa menutupi kejadian sebenarnya, bahwa ada sekelumit masalah di antara kebahagiaan ini.
***
Tiga hari kemudian, Sheilla, Kim dan Woo Jin kembali ke kota dan tinggal di rumah mereka yang nyaman. Kejadian di hari pernikahan mereka pun sudah ditangani pihak kepolisian setempat. Kim dan Sheilla sempat mendatangi si anak, mendapat sebuah keterangan bahwa pelakunya mengenakan jaket hitam dan celana jeans, itu sama persis dengan seseorang yang pernah dilihat Kim saat dia di dorong dari tepi bendungan tempo hari.
Darah yang ditemukan di dalam kotak itu pun ternyata hanya darah ayam, sementara tidak ada jejak sedikit pun yang menempel di sana. Sepertinya ini memang adalah sebuah kejahatan terencana di mana tidak ada yang menyukai Sheilla menikah dengan orang lain.
Sheilla menyadari itu pada akhirnya, dia mempercayai ucapan Kim yang mengatakan tidak ada kutukan Ella selama ini. Namun, setelah mengetahui hal itu, kekhawatiran dan rasa bersalah mulai berdatangan pada diri Sheilla. Dia merasa tidak seharusnya begini, pernikahannya dengan Kim sekarang hanya akan membuat lelaki itu celaka oleh orang lain.
Semenjak mereka menginjakkan kaki di rumah, wanita itu sudah menunjukkan perasaannya sendiri melalui ekspresi wajah dan gerak tubuh. Sheilla semakin banyak diam, tidak bersemangat ketika melakukan apa pun.
“Di mana dia?” gumam Kim, dia mencari keberadaan Sheilla sebab tidak melihatnya malam ini. Wanita itu menghilang setelah menyiapkan makan malam.
Akhirnya Kim melangkah kembali dari arah ruang makan menuju kamar pribadinya, sebuah tempat di mana Sheilla menghabiskan waktu seharian. Ya ... rasanya masih sedikit asing ketika ada orang lain yang berani menempati kamar pribadinya, tetapi Kim sudah menerima segala risiko ketika menikahi seorang wanita.
Lalu ternyata benar saja. Sheilla ada di kamar dan tengah terbaring meringkuk di tempat tidur. Dia seperti tidak menyadari kedatangan Kim di sana.
“Apa kau tidak akan makan malam?” tanya Kim kepada Sheilla.
Sheilla tidak menjawab.
“Bangunlah, kau harus mengisi perutmu.”
“Tuan makan duluan saja, Ella belum lapar,” jawab Sheilla dengan nada sangat pelan. Dia bahkan tidak membalikkan tubuh saat berbicara, masih membelakangi Kim menyembunyikan wajahnya.
“Dari yang sudah-sudah pun kau tidak makan setelah mengatakan itu.” Kim cukup risi sebab Sheilla bukan hanya menghilangkan senyum dari bibir tipisnya, melainkan ditambah dengan masalah makan selama berhari-hari.
Sheilla tidak menjawab.
“Tubuhmu tidak memiliki salah apa pun, jangan menyiksanya begitu. Kau pasti tahu dalam agamamu melarang keras menyiksa diri sendiri.” Kim berkata lagi, tetapi dia belum mendekati Sheilla dan masih bertahan di tempatnya berdiri.
“Sheilla ....” Sekali lagi Kim memanggil, Sheilla baru bergerak. Wanita itu mulai bangkit walau tidak beranjak dari tempat tidurnya. “Ayo, bangunlah. Saya tidak akan memerintahmu tiga kali.”
“Tuan—“
Sheilla menahan langkah Kim yang ingin keluar dari kamar.
“Apa Ella boleh bicara sebentar?”
Kim menghela napas pelan, tetapi tetap menuruti permintaan Sheilla barusan. Dia pun melangkah kemudian duduk di tepian tempat tidur berseberangan dengan Sheilla. Wanita itu pun sedikit bergerak hingga duduk di sudut tempat tidur menyandarkan punggungnya.
“Sheilla? Apa kau—“
“Ella baik-baik saja.”
Sheilla menyela ucapan Kim yang cukup terkejut ketika melihat wajah pucatnya.
Akhirnya Kim memilih mengalah sejenak sampai Sheilla selesai dengan ucapan yang akan dikeluarkannya sekarang.
“Apa yang mau kamu katakan?”
Hening beberapa saat, Sheilla hanya tertunduk diam seraya meremas jemarinya sendiri.
“Ella Cuma mau tanya, apa Tuan nggak menyesal menikah sama Ella? Apa Tuan nggak takut sama resikonya menikahi Ella sekarang?” tanya Sheilla.
“Kau menanyakan itu lagi, apa ingatanmu kurang baik?”
“Tuan, Ella serius!”
“Lalu apa yang membuatmu berpikir keputusan saya adalah sebuah keraguan?”
Seketika Sheilla terdiam.
Pandangan mereka saling bertemu satu sama lain, hingga Kim lihat jelas kedua mata Sheilla yang basah.
“Karena pernikahan kita bukan didasari cinta. Ella lebih banyak khawatir tentang bagaimana Tuan ke depannya. Kalau Tuan bertaruh nyawa untuk orang yang Tuan cintai, mungkin ini akan terdengar masuk akal. Tapi ini? Tuan bahkan nggak mengambil keuntungan apa pun, cinta pun nggak ada. Apa yang Tuan perjuangkan sekarang? Itu jadi beban pikiran ke Ella.”
Seketika Kim terdiam mendengar lirih suara Sheilla di antara tangisnya yang tertahan, dia pun bukan tidak memikirkan hal itu. Pada awalnya, Kim sungguh hanya berniat menyenangkan Woo Jin, tetapi lama kelamaan perlahan tujuannya mulai berubah.
Melepaskan Sheilla adalah sebuah pilihan yang tidak pernah diinginkannya, tetapi di sisi lain cinta itu masih belum bisa dia pastikan sendiri. Menggantikan posisi Anita dengan wanita lain sangat tidak mudah. Dan sekarang dia pun merasa terjebak keadaan.
“Kalau saya memberikan sebuah jawaban padamu, apa perasaanmu akan jadi lebih baik? Jika iya, saya akan memberikan yang kau inginkan.”
“Memangnya jawaban apa yang mau Tuan kasih ke Ella? Kalau itu tentang Woo Jin, masih belum cukup kuat. Semua wanita bisa menjadi ibu buat Woo Jin asal Tuan mau mencarinya,” ujar Sheilla balik sekaligus bertanya.
“Asal kau tahu, Woo Jin adalah tipe anak yang sulit menerima orang lain, bahkan Rin sekalipun.” Kim menjawab seraya menoleh ke arah Sheilla. “Dan kau seharusnya tahu itu sudah menjadi alasan terbesar saya menikahimu. Jika menurutmu langkah yang saya ambil sekarang salah, maka usaha saya membahagiakan Woo Jin adalah sia-sia. Sementara saya menginginkanmu terbebas dan tetap hidup agar kau bisa memberikan apa yang tidak bisa saya berikan kepada Woo Jin. Apa keinginan saya terdengar tidak adil bagimu?”
Sheilla meneteskan air mata, dia menangis walau tidak terisak. Melihat keseriusan dari wajah Kim saat mengatakan alasannya, apa benar seserius itu? Batin Sheilla bertanya-tanya.
“Jika memang terdengar tidak adil, saya akan—“
“Apa sebesar itu rasa sayang Tuan kepada Woo Jin?” tanya Sheilla.
Kim tidak menjawab, tetapi dia yakin Sheilla akan bisa mengerti yang dilakukannya sekarang tidak bisa dianggap remeh. Ketika kebahagiaan seseorang dipertaruhkan, Kim akan melakukan segala cara untuk memperjuangkan yang menjadi harapannya.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Suara ketukan pintu dari arah luar membuat pembicaraan mereka buyar, Sheilla pun bergegas menyeka habis sisa-sisa air mata yang tidak boleh terlihat oleh orang lain. Terutama Woo Jin.