Sebuah Ancaman

2311 Kata
“Aku cinta sama kamu, La. Tapi apa yang bisa kulakukan kalau ini sudah jadi keputusanmu? Apa aku bisa memaksamu menghentikan semuanya? Aku rasa nggak akan semudah itu. Aku memang nggak pernah jadi yang pertama di pikiran kamu.” Gandi melanjutkan kalimatnya lebih lengkap, lalu melepaskan pegangan Sheilla di lengannya. Mereka berdua sama-sama tahu tidak akan bisa mengubah keadaan dengan mudah, kartu undangan pernikahan Sheilla sudah mulai disebar ke seluruh warga desa. Namun, yang membuat pikiran Sheilla terusik adalah ucapan Gandi sekarang. Pemuda itu mencintainya? Sejak kapan? Selama mereka bersama, tidak ada sekalipun Gandi mengatakan itu. "Sejak kapan kamu memiliki perasaan itu buat Ella, Gan?” tanya Sheilla. “Apa itu masih penting?” tanya Gandi balik dan Sheilla tidak bisa menjawabnya dalam waktu cepat. “Ternyata cinta itu memang sesakit ini, kan? Kamu berhasil melukaiku dengan caramu. Selamat untuk itu.” “Gandi tolong jangan bilang begitu. Ella tahu Ella salah, tapi apa kamu tahu—“ “Aku tahu keadaan kita nggak akan pernah bisa sama lagi setelah ini. Jadi lanjutkan saja rencanamu itu dan biarkan aku pergi menjauh. Jangan ingat aku, apalagi ingat seberapa lama kita bersama. Hapus semua ingatan tentang kita darimu dan mari kita jalani hidup masing-masing,” ujar Gandi. Setelah berkata begitu, dia pun berbalik arah dan melangkah lebar menuju motornya yang terparkir di depan rumah. Sheilla otomatis mengejar langkah Gandi, tidak ingin semuanya berakhir seperti ini, apalagi Gandi sampai memutuskan persahabatan mereka yang sudah terjalin sangat lama. Sheilla menangis getir seraya berdiri di depan motor menghalangi Gandi yang ingin menjauhinya. Apa semudah ini saling menjauh? Apa Gandi tidak ikut merasakan kegelisahan Sheilla? “Gandi, tolong jangan begini. Apa nggak ada kesempatan lagi buat Ella menjelaskan semuanya? Ella nggak mau kamu menjauh, Ella masih butuh kamu ... Ella butuh Gandi dalam kehidupan Ella!” Sheilla sedikit mengeraskan suaranya saat Gandi mulai mengenakan helm dan menaiki motornya, tetapi pemuda itu seakan tidak mau mendengar. Suara kencang dari knalpot motor Gandi menyamarkan isak tangis Sheilla dan ucapannya kepada Gandi. “Gandi!” “Gandi, tunggu! Jangan pergi!” “Gandi ... ah!” Sheilla yang mengejar laju kencang motor pemuda itu nyatanya malah tersandung dan terjerembap ke tanah. Kedua lututnya perih dan pergelangan kakinya sakit, ingin kembali bangkit tetapi tidak bisa. Akhirnya dia hanya bisa menangis di sana melihat kepergian Gandi yang semakin menjauh. Hatinya sakit, bahkan lebih sakit dari yang bisa dia bayangkan sebelumnya. Seorang sahabat yang telah menemaninya selama bertahun-tahun, seorang pemuda yang begitu peduli, seorang pemuda yang menyatakan cinta di saat terakhir, sekarang menjauh dengan kemarahannya. Entah seberapa besar rasa kehilangan pada diri Sheilla, itu tidak pernah bisa terbayangkan olehnya sendiri. Tidak berapa lama kemudian, sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di samping Sheilla yang masih berada di tanah. Sheilla tahu siapa orang yang ada di dalamnya, tetapi dia terlalu sakit untuk bergerak apalagi berdiri. “Sheilla? Apa yang—“ Kim menahan kalimatnya sendiri saat sadar Sheilla masih betah menangis terisak di tempatnya. Lelaki jangkung itu pun bergerak membantu Sheilla berdiri, dengan langkah tertatih-tatih mereka menuju kursi di depan rumah. Usai membuat Sheilla duduk nyaman, Kim berjalan kembali ke dalam mobil dan mengambil sebuah kotak P3K. Sheilla hanya tertunduk ketika lelaki itu meraih kakinya, kemudian hendak mengobati luka gores di lutut Sheilla. “Sshh ....” Sheilla spontan mengejat, menjauhkan lututnya dari jangkauan tangan Kim. “Diamlah,” ujar Kim yang kembali meraih kaki Sheilla. Akhirnya Sheilla hanya bisa diam saja, lelaki itu bahkan tidak ragu mengobati lukanya begini. Apa dia masih harus menolak kebaikannya? “Sepertinya semua tidak berjalan dengan baik.” “Maksud Tuan?” tanya Sheilla balik. Namun, dia segera mengerti maksud dari pertanyaan Kim barusan setelah melihat kartu undangan yang masih tergeletak di atas meja. “Ah, iya. Gandi marah sama Ella dan nggak mau ketemu sama Ella lagi. Ella harus gimana?” Air mata Sheilla kembali mengalir, padahal kakinya terasa sakit karena terjatuh tadi, tetapi nyatanya tidak sesakit hatinya sekarang. Membayangkan hidup tanpa Gandi sangat menyakitkan, mengingat selama ini mereka selalu bersama dalam keadaan apa pun. Sheilla merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya sekarang. “Jalani hidupmu, itu yang harus kau lakukan.” Kim menaruh kaki Sheilla hati-hati setelah berhasil mengobatinya. “Ella tahu, tapi masalahnya ....” Sheilla hampir mengatakan bahwa Gandi sempat menyatakan cinta padanya, tetapi setelah melihat kebaikan Kim, dia mengurungkan kalimat itu keluar dari mulutnya. “Kita pulang sekarang, sekolah Woo Jin akan selesai sebentar lagi.” Walau berat hati, Sheilla tetap mengangguk menyetujui. Dia pun beranjak dari kursi dan berniat melangkah ke mobil milik Kim, tetapi sayang sekali pergelangan kaki kirinya tidak mendukung sama sekali hingga dia hampir terjatuh jika Kim tidak cepat memeganginya. “Ada apa?” “Sakit banget ... kayaknya keseleo,” jawab Sheilla dengan rintihan kecilnya menahan sakit luar biasa. “Tunggu sebentar.” Kim melangkah menuju mobilnya lebih dulu dan membuka pintu, sesudah itu dia kembali ke tempat Sheilla dan mengangkat seluruh bobot tubuh gadis itu di kedua tangannya. Sheilla otomatis terkejut bukan main, dia spontan memeluk tengkuk Kim karena takut terjatuh. Di saat seperti itu, Sheilla bisa menghirup aroma parfum lelaki itu dari jarak yang sangat dekat. Kim bahkan tidak banyak berkata dan melakukan keinginannya dengan perbuatan nyata. Sheilla pun dibawa ke dalam mobil hingga bisa duduk dengan nyaman. Lelaki itu tidak tahu seberapa kencang debar jantung Sheilla sekarang karena perbuatannya ini. Ada kecanggungan hingga mengunci rapat air mata yang semula mengalir deras di pipi Sheilla. “Apa kau mau ke dokter?” tanya Kim. “Jangan ... tapi kalau mau, bawa Ella ke Mbah Marni saja. Dia biasa ngurut, biar kakinya nggak bengkak.” Sheilla menjawab langsung. “Oh.” Kim membalas dengan ucapan singkat, Sheilla sedikit mengerucutkan bibir, sebab Kim selalu saja bersikap datar dalam hal apa pun. Namun, dia sadar bahwa lelaki yang berada di sebelahnya ini adalah calon suaminya sendiri. Entah apa yang akan terjadi nanti setelah mereka menikah, Sheilla tidak bisa membayangkan itu. *** “Saya terima nikah dan kawinnya Sheilla Khairina binti M, Abdur Arsyad almarhum dengan mas kawin emas 5 gram dan seperangkat alat Shalat dibayar tunai!” Sebuah kalimat sakral berhasil diucapkan Kim tanpa ada jeda sedikit pun, menandakan dia telah resmi menikahi Sheilla secara hukum dan agama di depan seluruh masyarakat desa. “Bagaimana saksi?” “Sah!” sambut para warga yang menjadi saksi pernikahan Kim dan Sheilla. Ijab kabul itu pun diakhiri dengan rangkaian sebuah doa, berharap pasangan pengantin ini akan saling menemani sehidup sampai semati. Menjadi sebuah keluarga sakinah mawadah dan Warohmah. Semua orang tampak begitu khusyuk, terutama Sheilla. Gadis itu sejak awal terbangun sebelum terbit matahari, dia terus teringat akan nasib yang tengah dijalaninya sekarang. Di usia yang hampir menginjak 23 tahun, akhirnya dia bisa melepas masa lajang dengan tanpa ada hambatan, berbeda dengan rencana-rencana pernikahan sebelumnya. Seorang lelaki paruh baya dari pihak keluarga ayah Sheilla dari Desa Ranting pun ditunjuk sebagai wali pernikahannya, sebab Sheilla sudah tidak memiliki keluarga lain yang bisa dihubungi. Dalam keadaan ini, ada rasa sakit yang berlayar dalam lautan kesedihan Sheilla. Di mana dia tidak bisa seperti gadis-gadis lain, menikah didampingi orang tua dan sanak saudara terdekat. Dia seorang diri, keluarga pun hanya ada saat saling membutuhkan, setelah itu hampir jarang bertegur sapa. Bahkan ketika dia dan Nenek Murti pindah ke desa ini, tidak ada seorang pun yang peduli. Siapa orang di dunia ini yang menginginkan hidup seperti ini? Sheilla membatin. Sejak dulu dia seorang diri, mungkin memang akan seperti itu untuk selamanya, begitulah yang ada di pikiran Sheilla sekarang. Hanya Gandi satu-satunya orang yang peduli, tapi sekarang pemuda itu menghilang bak ditelan bumi. Berhari-hari sebelum pernikahan ini terjadi, tidak ada kabar secuil pun dari Gandi. Biasanya dalam sehari Sheilla bisa menerima hampir 10 pesan di ponselnya, tapi sekarang begitu hening. Bahkan nomornya sudah diblokir oleh Gandi. Sebenci itukah Gandi kepada Sheilla? Gara-gara hal itu, Sheilla jadi lebih banyak diam dan melamun. Sangat sedikit yang menarik baginya selain melihat ponsel dan berharap Gandi akan bisa dihubungi kembali, walau kenyataannya itu seperti akan berakhir dengan sebuah kekecewaan. “Selamat atas pernikahan kalian, ya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi uwa lagi, nanti pasti ua bantu,” ujar seorang lelaki paruh baya bernama Jaka, dia adalah seorang kerabat Sheilla yang menjadi wali nikahnya. “Iya, Wa. Terima kasih juga karena Uwa sudah mau menjadi wali nikahnya Ella.” “Sama-sama, kalau begitu uwa mau ke sana dulu, ya. Mau ketemu sama yang lain,” ujar Jaka berpamitan kepada Sheilla. Sheilla hanya tersenyum tipis, pandangannya mengikuti ke mana lelaki itu pergi, walau sebenarnya tujuan Sheilla adalah melihat sesuatu yang ingin dilihatnya sekarang, yaitu keberadaan Gandi. Namun, lagi-lagi Sheilla dibuat bersedih karena Gandi tidak datang ke pernikahannya sekarang. Dia pun duduk kembali ke kursinya di dampingi Kim yang terus melihat gerak-gerik tidak nyaman sang istri. Padahal Sheilla sudah terlihat sangat anggun dan cantik hari ini, tetapi hal itu tenggelam oleh kemurungannya sendiri. “Jangan menekuk wajahmu begitu, mereka akan mengira kau tidak bahagia.” Kim berkata sangat pelan di antara keramaian di sekitarnya. Bagaimana tidak ramai? Hampir seluruh warga desa datang ke pernikahannya, sebuah resepsi pernikahan terbesar dari yang pernah diselenggarakan di desa ini. “Ella memang lagi nggak bahagia,” jawab Sheilla. “Apa karena pemuda itu?” Sheilla tidak langsung menjawab, tetapi dia yakin Kim sudah tahu jawabannya. “Ada banyak hal yang ada di pikiran Ella sekarang, salah satunya adalah Gandi. Ella sedih karena Gandi nggak ada di hari penting Ella.” “Kalau dia sahabatmu, dia tidak akan melakukan ini.” “Kok, Tuan bicaranya begitu? Ella nggak suka, ah. Gandi tetap jadi sahabat Ella,” protes Sheilla. Lelaki itu pun hanya memberi tatapan datar seperti biasa. Sampai beberapa saat kemudian, kedua mertua Kim dari pernikahan sebelumnya datang menghampiri bersama Woo Jin. Anak itu kelihatan ceria bahkan sampai tidak ingin berada jauh dari mama barunya. “Apa kau sudah membeli mainan yang kau inginkan itu, humh?” tanya Kim. “Sudah, Appa. Lihat, akhirnya punya juga tembakan yang aku mau.” Woo Jin menjawab dengan senyum lebar. “Kalau begitu kemarilah, duduk di sini. Bawa mainanmu,” ajak Kim kepada Woo Jin dan memintanya duduk di dekat kursi pengantin. “Maaf, Bu. Sepertinya aku merepotkan Ibu terus dalam hal ini.” Kim kembali berkata kepada mertuanya itu. “Tidak merepotkan sama sekali, Woo Jin kan cucu ibu. Ibu malah senang mengajaknya bermain seperti tadi,” jawab Bu Sarinah yang kemudian melihat ke arah Sheilla. “Sekarang kau sudah menjadi ibu dari cucu saya, tolong jaga Woo Jin baik-baik. Dan kamu harus tahu, Kim dan Woo Jin selalu datang setiap sebulan sekali ke rumah, saya harap kau tidak pernah menghalanginya.” Wajah Sheilla semakin murung mendapat ucapan bernada peringatan itu. “Iya, Ella tahu—“ “Kami akan datang seperti biasanya, Bu. Woo Jin juga selalu senang berada di desa ini, mana mungkin kami menghilangkan itu hanya karena Sheilla menjadi istriku.” Kim menambahkan kalimat yang tidak bisa diungkapkan oleh Sheilla. “Syukurlah, karena ibu tidak bisa sering-sering mengunjungi kalian. Jadi ibu khawatir kalian akan jarang datang setelah menikah.” “Ibu jangan khawatir tentang itu, aku yang akan menjaminnya.” Bu Sarinah hanya tersenyum menanggapi ucapan Kim. Setelah itu, mereka pun kedatangan seorang anak lelaki yang mendadak naik ke tempat Kim dan Sheilla dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang. “Ada titipan kado buat, Om sama Tante.” Anak itu berkata seraya memberikan kotak kadonya. Kim dan Sheilla mengernyit. “Kado dari siapa?” “Nggak tahu, dari om yang di sana tuh, tadi!” jawab si anak sambil menunjuk ke arah kerumunan orang-orang yang tengah berbincang. “Sampaikan terima kasih saya untuk Om itu, ya. Dan ini buat uang jajan kamu,” ujar Kim. Dia pun memberikan uang kepada anak itu. Memang tidak banyak, tapi cukup membuat anak itu kelihatan senang sekali. “Asyik! Makasih banyak, ya Om!” Setelah kepergian anak itu, Kim dan Sheilla memperhatikan kotak kado berwarna hitam dengan pita merah tersebut. Sudah menjadi kebiasaan dalam pernikahan, selalu ada saja orang yang memberi hadiah kepada pengantin baru. Namun, Sheilla dan Kim sedikit penasaran siapa pengirimnya karena kado ini tidak memiliki nama seperti yang lain. “Ella buka, ya?” “Jangan, kau seperti anak kecil.” Sheilla cemberut, tetapi kotak di genggamannya sekarang telah berpindah tempat ke tangan Woo Jin yang mendadak mengambilnya. “Kalau begitu aku saja yang buka, aku kan anak kecil.” “Kau ini ....” Woo Jin pun akhirnya membuka pita dan penutup kotak tersebut. Setelah beberapa detik melihat isinya, dia lantas membuang itu ke sembarang tempat. “Appa! Takut!” Woo Jin berteriak sambil memeluk tubuh Kim secepat mungkin, dia bersembunyi di balik tubuh sang ayah dengan tangan sedikit gemetar. Kim dan Sheilla pun bisa melihat dengan jelas ada sebuah boneka yang sengaja dipotong-potong hingga beberapa bagian, ditambah cairan kental berwarna merah pekat yang hampir mengering melekat pada bonekanya. Itu benar-benar menyeramkan bagi anak seusia Woo Jin. “Ya, ampun. Siapa yang berani melakukan ini?!” pekik Bu Sarinah. Sheilla pun bergegas mengambil secarik kertas yang terselip dalam kotaknya, lalu membaca tulisan di atas kertas tersebut. ‘Kau sudah bermain dengan nyawamu sendiri karena sudah mengambil gadisku!’ Tangan Sheilla sampai gemetar setelah membaca isi suratnya, walau surat itu cepat disambar oleh Kim yang juga ikut penasaran siapa yang mengirim hal semacam ini di hari pernikahan mereka. “Tunggulah di sini.” Kim hanya berkata singkat seraya memindahkan Woo Jin ke dekat Sheilla. “Tuan? Tuan mau ke mana?” “Tuan jangan pergi!” panggil Sheilla, tetapi Kim sudah telanjur berlari ke arah kerumunan orang yang dimaksud anak yang mengantar kotaknya kepada mereka. “Sudah ibu kira, pernikahannya denganmu hanya membawa malapetaka buruk!” ujar Bu Sarinah bernada sinis kepada Sheilla. “Kau harus bertanggung jawab jika terjadi hal buruk menimpa menantu ibu.” Sheilla tertunduk diam seraya mengeratkan pegangannya kepada Woo Jin. Sungguh, tidak ada seorang pun yang tahu seberapa besar rasa sakit dan ketakutannya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN