“Lalu apa kau lebih suka bergantung pada sahabatmu?” tanya Kim balik yang pasti membuat Sheilla bungkam. “Saya memberimu semua ini bukan tanpa alasan seperti sahabatmu itu, tapi karena kau sudah berhasil merawat Woo Jin dengan tulus, kau berhak mendapatkan ini. Apa kau mengerti itu?”
Sheilla terdiam sebentar menelan seluruh kalimat yang diucapkan Kim barusan, tapi nyatanya dia tidak menerima semua itu dalam pikiran, atau hatinya sendiri. Ketika semua barang permintaan Kim dibawakan oleh Zena, Sheilla cemberut.
“Ambillah,” perintah Kim kepada Shiella.
“Ella nggak mau terima!” Sheilla berkata tegas. Membuat Kim di hadapannya sedikit mengernyit, heran. “Justru karena Ella tulus makanya Tuan nggak perlu kasih apa-apa. Ella nggak mau ketulusan Ella dikasih harga beginian. Terima kasih atas niat baiknya, tapi maaf Ella nggak bisa terima,” ujarnya lagi seraya melangkah pergi meninggalkan Kim di sana.
Melihat kepergian gadis itu, Kim masih berdiri di tempatnya. Dia mulai berpikir, apa yang dilakukannya ini salah? Kenapa Sheilla harus marah padahal ini hanya sebuah tanda terima kasih. Ah, tidak. Sebenarnya Kim tidak memberikan semua ini dengan alasan itu, dia hanya terlalu sebal karena mendengar Sheilla menerima panggilan dari Gandi dan mengetahui bahwa pemuda itu akan memberikan Sheilla perlengkapan kosmetik baru.
Kim menghela napas, berat. Sepertinya memang iya kalau dia sudah salah langkah kali ini.
“Ellanya nggak mau, mending ini dikasih ke saya saja, Pak. Biar nggak mubazir gitu,” celetuk Zena. Namun, dia lantas tertunduk cemas karena bosnya menoleh dengan tatapan dingin seakan bisa memecatnya kapan saja.
Kim pun melangkah kembali ke rumahnya setelah gagal memberikan niatnya kepada Sheilla. Sesampainya dalam rumah, Kim melihat gadis tersebut tengah membawa sekerajang pakaian yang baru selesai dijemur. Pandangan mereka pun saling bertemu satu sama lain, tapi Sheilla segera memutus tatapannya dan pergi ke sebuah ruangan khusus menyetrika.
“Baiklah ... apa sekarang dia marah?” gumam Kim pada diri sendiri.
***
Menjelang makan malam tiba, Kim melihat Woo Jin keluar dari kamar pribadinya padahal lelaki jangkung tersebut baru saja ingin menyusulnya ke sana. Anak itu pun menghampiri Kim dengan wajah yang masih tampak lesu dan pucat pasi.
“Kenapa kamu pergi keluar kamar, humh? Apa kau ingin sesuatu? Appa baru saja mau ke kamarmu,” ujar Kim sekaligus bertanya kepada Woo Jin.
“Aku nggak bisa istirahat, Appa. Perutnya agak lapar, apa Kak Ella bikin bubur lagi? Aku mau makan itu, kayaknya enak,” ujar Woo Jin.
“Ada bubur di dapur, nanti appa ambilkan untukmu, ya. Sekarang kau kembalilah ke kamar, nanti appa menyusulmu.”
Woo Jin sedikit mengerucutkan bibirnya, membuat Kim heran apa ada yang salah dengan permintaannya barusan.
“Ada apa?” tanya Kim.
“Aku mau kita makan malam bareng, tapi ajak Kak Ella juga. Apa boleh? Aku mau makan kalau ada Kak Ella.”
Kim terdiam, bahkan sejak siang gadis itu belum lagi menyapanya sedikit pun. Apa sekarang Sheilla masih mau mengabulkan permintaan Woo Jin. Bahkan ketika Kim tahu kalau Sheilla bisa saja datang, tapi dia terlalu canggung untuk mengundangnya makan malam bersama.
“Nggak boleh, ya? Ya, sudah, aku kembali ke kamar lagi—“
“Eh, iya, baiklah. Appa akan mengajaknya ke sini, kamu sekarang tunggulah di meja makan. Appa mau mengambil ponsel dulu,” ujar Kim menahan langkah Woo Jin yang hampir saja marah.
Woo Jin hanya mengangguk pelan, kemudian melangkah menuju ruang makan mereka. Sementara Kim lebih dulu kembali ke kamar pribadinya. Dia mengambil ponsel yang tergolek di atas meja dan mencari nomor Sheilla yang disimpannya diam-diam saat membantu mendaftarkan akun baru pada ponsel gadis itu.
Jika dipikir kembali, kenapa dia melakukan semua ini? Sebuah hal konyol yang tidak pernah dilakukannya kepada siapa pun, tapi dilakukannya kepada seorang gadis dari desa yang bahkan ketinggalan Zaman.
“Aku pasti sudah gila.” Kim bergumam lagi seraya menekan tombol panggil di ponsel miliknya. Beberapa detik kemudian panggilannya diterima oleh Sheilla.
“Ya, ini siapa?”
Suara polos gadis itu terdengar di telinga, membuat Kim berdeham kecil guna menyingkirkan kecanggungannya.
“Ini saya.” Kim menjawab singkat.
“Saya siapa?”
“Tuanmu, apa kau tidak mengenali suara saya?”
“Oh ....”
Gadis itu memberi respons terpadatnya, menjelaskan secara tidak langsung kepada Kim bahwa masih ada sesuatu hal yang membuatnya tidak senang menerima panggilan ini.
“Apa kau bersedia ke rumah? Woo Jin memintamu datang untuk makan malam bersama,” ujar Kim tanpa basa-basi.
“Ya, baiklah. Nanti Ella ke sana.”
“Tapi sebelumnya saya mau—“
Panggilan terputus sepihak oleh Sheilla, padahal Kim berniat meminta maaf atas tindakannya tadi siang. Akhirnya Kim hanya bisa menghela napas, entah sudah yang ke berapa kalinya hari ini. Dia seperti terlalu banyak mengeluh karena kesalahannya sendiri.
Setelah menunggu kedatangan Sheilla di rumah, gadis itu duduk di samping Woo Jin. Dia pun mengambilkan satu porsi bubur ayam yang dimasaknya sendiri dengan rasa yang khas, sehingga bocah kecil itu sangat menyukai masakannya. Namun, tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulut Sheilla atau Kim sekalipun walau mereka berada di satu meja yang sama.
“Kak Ella kenapa? Kakak sakit, ya?” tanya Woo Jin.
“Ah, enggak. Emangnya kenapa gitu?”
“Dari tadi Kakak diam, aku pikir sakit.”
Sheilla tersenyum tipis. “Kakak cuma lagi khawatir sama kamu. Coba liat kamu sekarang, duduk saja masih belum kuat. Kenapa memaksa makan di luar kamar? Kalau kamu mau kakak suapin, kamu tinggal telpon. Nanti kakak yang bawa makanannya ke kamar, nggak perlu maksa makan di sini juga. Apa kepalanya nggak pusing lagi?”
“Masih pusing, tapi kalau makan di kamar nggak asyik. Kakak nggak ikut makan, aku maunya makan bareng Kakak. Bukan mau disuapin,” ujar Woo Jin.
“Jadi kamu bela-belain duduk di sini buat kakak?”
Woo Jin mengangguk pelan, tidak ada penyesalan sedikit pun dari wajahnya walau memang benar jika sekarang dia sedang memaksakan diri. Terbukti dari tubuhnya yang masih harus bersandar di kursi saat Sheilla menyuapinya.
“Kakak makan juga. Masakan Kakak enak, tapi mulutku sekarang lagi pait. Makanya belum mau makan apa-apa kecuali bubur.”
“Itu benar, makanlah sekarang. Biar Woo Jin saya yang menyuapinya,” sambung Kim karena Sheilla belum menyentuh makanannya dan memilih menyuapi Woo Jin sejak tadi.
Sheilla menoleh ke arah Kim sebentar, kemudian berpaling lagi ke arah lain.
“Ella nggak enak kalau begini. Ella merasa nggak pantas duduk bareng di sini apalagi buat makan, Ella ini bukan siapa-siapa. Cuma seorang pembantu,” ujar Sheilla bernada pelan.
Ucapan itu membuat Kim kehilangan selera makan, dia tidak senang sama sekali Sheilla berkata begitu.
“Memangnya kenapa kalau Kakak seorang pembantu? Nggak boleh makan bareng sama aku, ya?” tanya Woo Jin polos.
“Kakak cuma merasa nggak pantas saja, kamu dan Tuan Kim adalah majikan kakak. Kita nggak bisa duduk bersama kayak gini,” ujar Sheilla kepada Woo Jin, lalu menatap kedua mata anak itu lebih dalam. “Maaf, ya. Bukan kakak mau mengecewakan kamu, tapi memang ada beberapa hal yang nggak boleh kakak lakukan. Rasa sayang kakak ke kamu nggak akan berkurang walau ada batasan di antara kita.”
Woo Jin terdiam, keningnya sedikit mengernyit saat mendengarkan ucapan Sheilla barusan.
“Aku nggak ngerti.” Woo Jin berkata dengan kejujurannya. “Tapi kalau aku bisa minta, Kakak jangan jadi pembantu di rumah ini, jadi ibuku saja. Supaya kita bisa makan bareng terus.”
Seketika hening.
Tidak ada secuil pun kalimat yang keluar dari mulut Sheilla atau Kim. Bahkan Sheilla sendiri sedikit kebingungan harus menjawab apa, dia salah tingkah apalagi ketika pandangannya bertemu dengan Kim lagi.
Sesaat kemudian, Sheilla beranjak dari kursi. Dia masih belum bisa menatap mata Kim, atau menjawab ucapan Woo Jin yang sangat sensitif baginya itu.
“Maaf, kayaknya kakak harus pulang dulu. Kakak lupa kalau nggak kunci pintu kamar,” ujar Sheilla.
Akhirnya gadis itu benar-benar pergi, membuat Kim ikut beranjak dari kursinya untuk mengejar langkah cepat gadis itu ke luar rumah. Dia cemas Sheilla salah paham dengan ucapan Woo Jin dan menganggap serius. Di luar sana, Sheilla tampak tergesa-gesa, sehingga Kim sedikit terlambat menyusulnya.
Lagi-lagi sepertinya Sheilla marah.
“Semoga saja dia tidak salah paham.”
***
Keesokan harinya, Kim tidak melihat penampakan Sheilla sejak pagi. Biasanya sebelum Azan Subuh tiba, Sheilla sudah datang dan membuat dapurnya mengeluarkan suara bising dari perabot yang digunakan untuk memasak. Pakaian kotor masih belum tersentuh, hingga rumah ini terasa kembali hening seperti sebelumnya.
Setelah istirahat jam makan siang, Kim mendatangi tiga tokonya untuk mengecek pekerjaan seluruh pegawainya, sekaligus mengecek ketersediaan barang. Di sana, dia juga tidak melihat keberadaan Sheilla yang biasa berkumpul dengan teman-teman barunya.
Ke mana gadis itu?
“Apa dia benar-benar tersinggung?”
“Apa aku harus pergi ke tempatnya?”
Dua pertanyaan itu terus-menerus melintas di pikiran Kim, dia tidak nyaman sama sekali. Memikirkan bagaimana jika Sheilla marah dan nantinya akan berhenti bekerja. Apa yang harus dijelaskan Kim pada Woo Jin? Walau perkenalan mereka baru seumur jagung, Woo Jin kelihatan lengket dan nyaman dengan Sheilla. Anak itu tentu akan menanyakan lagi dan lagi keberadaan Sheilla.
“Rima, kemarilah,” panggil Kim saat dia tiba di toko kosmetik.
“Iya, Pak. Ada apa?”
“Apa kau melihat Sheilla hari ini?”
“Enggak lihat, Pak. Emangnya ada apa Pak Bos?”
“Ah ... tidak. Dia hanya tidak masuk kerja hari ini. Saya pikir kalian tahu dia kenapa,” jawab Kim.
“Mungkin lagi nggak enak badan, Pak. Besok juga pasti masuk lagi, dia mana bisa tinggal diam di sana.” Sambung Indi.
Kim terdiam dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko. Di sini cukup ramai orang datang, tetapi rasanya masih ada yang kurang. Akhirnya, Kim pun memilih tinggal di sana mengawasi pekerjaan pegawainya alih-alih menengok Sheilla. Kim tidak ingin membuat Sheilla tertekan dengan ucapan Woo Jin semalam dan dia ingin memberikan Sheilla waktu untuk menyendiri, mungkin memang itu yang diinginkannya sekarang.
***
Keesokan harinya lagi.
Sheilla masih belum menunjukkan batang hidung di rumah Kim, padahal ini sudah hari ke dua. Lelaki itu pun beranggapan jika Sheilla sudah tidak ingin menemuinya lagi, atau Woo Jin sekalipun.
“Appa, Kak Ella mana, sih? Dua hari ini nggak kelihatan datang, aku kangen Kakak.” Woo Jin yang berbaring di sofa samping Kim mulai bertanya.
“Appa tidak tahu,”
“Tolong hubungi Kak Ella dong, Pa. Panggilanku nggak diangkat, siapa tau kalau Appa yang telpon pasti diangkat.”
“Dia tidak mengangkat panggilanmu?” tanya Kim heran, padahal biasanya Sheilla selalu bergerak cepat jika menyangkut urusan Woo Jin.
“Iya. Tolong Appa panggil Kak Ella ke sini, aku mau nyusul ke tempat Kak Ella tapi badannya masih lemes.”
“Hmh ... baiklah.” Kim pun mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor milik Sheilla. Namun, panggilannya malah masuk ke kotak suara. Nomor itu masih aktif bahkan ketika dihubungi berkali-kali, hanya saja Sheilla tidak kunjung mengangkatnya.
“Nggak diangkat juga?”
Kim tidak menjawab. Dia merasa ada yang salah, kenapa Sheilla sampai menghindari mereka seperti ini?
“Apa kau bisa tunggu di sini sebentar? Appa akan melihatnya dulu, siapa tahu dia sedang sakit.”
Woo Jin mengangguk pelan.
Kim lantas pergi ke tempat tinggal Sheilla tanpa berpikir panjang lagi. Dia tidak peduli apa tanggapan gadis itu, atau luapan kemarahannya jika ada. Kim hanya tidak tega karena Woo Jin terus menanyakan keberadaan Sheilla sejak kemarin. Walau dalam hati kecilnya berkata, dia juga mencemaskan gadis itu.
Ketika Kim hampir sampai ke tempat Sheilla, dia lihat ada sebuah motor sport berwarna putih terparkir di depan tempat tinggal gadis itu. Tampak pula seorang pemuda yang berdiri di samping motornya tersebut. Dia tidak lain adalah sahabat Sheilla sendiri.
Suasana hati Kim mendadak buruk melihat keberadaan Gandi di sana.
“Maaf ....” Kim menyapa Gandi lebih dulu, pemuda itu menoleh. “Apa kau mencari Sheilla?”
“Ya, memangnya siapa lagi? Aku nggak datang jauh-jauh ke sini buat orang lain.”
Kim jadi geram sendiri, apalagi mengingat Gandi menepati janji bahwa dia akan datang ke sini dua hari lalu.
“Oh.”
“Apa Sheilla ada di tempat, Anda? Aku coba mengetuk pintunya, kayaknya dia nggak ada di dalam.”
“Tidak.” jawab Kim padat. Dia pun mengambil ponsel untuk menghubungi Sheilla kembali, heran juga karena sepertinya memang benar Sheilla tidak ada dalam kamarnya, terbukti pintu itu masih terkunci rapat dan sangat hening di dalam.
Beberapa detik saat panggilan berlangsung, nada dering ponsel Sheilla terdengar sama-samar tapi entah berada di mana. Kim pun mengikuti sumber suara ponsel tersebut, diikuti Gandi di belakangnya. Sampai kakinya berhenti di sebuah kamar mandi kecil di paling sudut jauh dari keramaian, Kim bisa melihat ponsel milik gadis itu tergeletak di tanah tanpa pemiliknya.
“Ella? Kenapa Hp nya ada di sini?” Gandi bergegas menyambar ponsel tersebut, lalu melihat sekeliling yang tampak hening.
Tempat tinggal Sheilla memang bertepatan di paling belakang toko dengan halaman luas yang masih ditumbuhi pepohonan dan rumput liar. Itu adalah salah satu tempat milik Kim yang rencananya akan dibangun sebuah rumah baru. Di sana juga terdapat kamar mandi ukuran kecil tempat biasa Sheilla mandi.
Namun, anehnya pintu itu tampak diganjal dengan sebuah linggis dari luar. Kim segera menghampiri kamar mandi tersebut dan menyingkirkan linggis itu, saat pintu kamar mandi terbuka lebar, debar jantung Kim berpacu dua kali lebih cepat melihat sesosok tubuh yang bersandar di dinding kamar mandi tanpa ada pergerakan sedikit pun.
“Ella? Ella!” Gandi lebih dulu menyambar tubuh yang ternyata adalah sahabatnya sendiri, gadis itu tidak sadarkan diri dengan wajah pucat pasi seperti orang mati. “Ella bangun! Kamu kenapa, La? Jawab aku!”
“Menyingkirlah ....” Kim tidak bisa tinggal diam, dia sedikit menyingkirkan tubuh Gandi dari Sheilla sekaligus memeriksa kondisi vital gadis itu. Denyut nadinya masih ada, tapi cukup lemah.
Tanpa banyak kata, Kim langsung membawa tubuh Sheilla di kedua lengannya. Dia sangat kesal, siapa orang yang tega melakukan ini kepada Sheilla?