Sikap Aneh Kim

1826 Kata
Dua hari berlalu setelahnya, Woo Jin sudah bisa pulang ke rumah. Keadaannya mulai membaik dan setidaknya tidak ada lagi makanan yang kembali dimuntahkan jika makan. Sheilla yang masih setia merawatnya cukup lega dengan perkembangan kesehatan anak itu, apa pun dilakukannya agar Woo Jin bisa pulih seperti sedia kala. Seperti sekarang, dia sengaja membelikan kelapa muda karena bisa menambah cairan ke tubuh agar tidak terkena dehidrasi saat demam. Woo Jin bahkan tampak keheranan karena melihat ada kelapa utuh yang dibawa Sheilla ke kamarnya. “Apa kita mau pergi ke pantai, Kak?” tanya Woo Jin. Sheilla mengernyit. “Ke pantai buat apa? Kamu lagi sakit begini mau ke pantai, nanti saja kalau kamu sembuh kakak anter kamu ke sana, ya,” ujarnya seraya memberikan kelapa yang sudah dilubangi itu kepada Woo Jin. Sebuah sedotan pun diraihnya agar bisa memudahkan ketika anak itu meminumnya. “Ya, biasanya kelapa gelondongan begini adanya kan, di pantai. Aku kira Kakak mau ajak aku ke sana, kayaknya asyik,” ujar Woo Jin dengan senyum lebarnya. Dia pun senang hati meminum air kelapanya tanpa banyak protes lagi. “Kamu mau ke sana?” Woo Jin mengangguk cepat. “Mau!” “Makanya sembuh dulu, nanti kita ke pantai. Kakak dengar di kota Cirebon ada pantai bagus, di sana ada juga kolam renang sama restoran bertema kapalnya. Ah, itu akan lebih menyenangkan lagi!” “Beneran?!” Seketika raut wajah Woo Jin berubah cerah, siapa anak di dunia ini yang akan menolak pergi jalan-jalan? Bahkan ketika Sheilla baru mengatakannya, dia sudah bersemangat duluan. Sheilla mengangguk. “Dari dulu kakak pengen banget ke sana. Sekarang mumpung duit kakak masih tebal, makanya kamu cepat sembuh, biar kita bisa cepat ke sana.” “Sekarang juga sudah sembuh! Ayo pergi, Kak!” seru Woo Jin. Sheilla berdecap pelan sambil mengacak rambut bocah kecil itu. “Jangan mimpi, kamu mau kakak langsung dipecat sama ayah kamu itu, uh? Apalagi kalau ayah kamu marah, galak banget ternyata.” Woo Jin terkekeh kecil. Namun, beberapa detik berikutnya Sheilla baru sadar tidak melihat keberadaan Kim sejak pagi sampai siang hari ini. Di tiga tokonya pun tidak ada, ke mana perginya lelaki itu? Sheilla penasaran sekali. “Oh, ya. Appa kamu pergi ke mana? Kakak nggak lihat dari tadi pagi,” ujar Sheilla. “Oh, itu ... sekarang hari Kamis, ya? Mungkin appa lagi pergi ke Ustaz Adi, lagi belajar ngaji.” “Hah?!” Kedua mata Sheilla terbelalak lebar, dia cukup terkejut dengan pengakuan itu mengingat selama bekerja di sini tidak ada sekali pun dia lihat majikannya Shalat atau mengaji. “Belajar ngaji? Tapi—“ “Aku juga nggak ngerti, setiap seminggu sekali atau dua minggu sekali appa ke sana. Mungkin benar yang dibilang sama orang, kalau appa mau jadi orang Islam sama kayak mama.” Sheilla terdiam, tapi seulas senyum muncul dari bibir tipisnya yang mengembang indah. Ada rasa bahagia dalam benaknya jika memang itu sampai terjadi, apalagi kalau Kim melakukan hal tersebut atas dasar keinginannya sendiri. Di kehidupannya sekarang, Sheilla belum pernah melihat seorang mualaf terlebih dari warga negara asing. “Kak Ella suka sama appa, ya?” “Apa?” Lamunan Sheilla buyar. “Kalau suka juga nggak apa-apa, nanti aku bilang ke appa. Jadi jangan senyum sendiri begitu, serem tahu,” ujar Woo Jin seraya terkekeh kecil melihat tingkah Sheilla yang tampak malu-malu. “Hus ... masih kecil nggak boleh bahas begituan!” Sheilla kembali mengacak rambu Woo Jin gemas, mereka bisa tertawa dengan membahas hal-hal kecil begini dan membuat Sheilla meyakini bahwa kebahagiaan itu tidak hanya datang dari satu arah. Usai memastikan anak itu beristirahat dengan nyaman, Sheilla pun berniat melakukan pekerjaan lain di dapur. Hari ini tuannya pergi, dia sepertinya harus memasak makan siang dengan bahan makanan yang ada. Beberapa hidangan makan siang dimasak Sheilla berupa pesmol ikan mas, ayam goreng dan tumis jamur dengan beberapa campuran sayuran di dalamnya. Dia lihat Kim cukup sering memasak menu ini sebagai makanan baginya dan Woo Jin. Tidak berapa lama kemudian terdengar langkah kaki seseorang yang baru saja masuk rumah, ternyata itu adalah Kim. Lelaki tersebut datang ke dapur untuk mengambil air minum dingin dalam kulkasnya. Sementara itu Sheilla tersenyum lebar seraya menghampiri lelaki berkemeja abu-abu gelap tersebut. “Assalamualaikum, Tuan ....” Sheilla menyapa dengan sebuah salam kepada Kim, lelaki yang baru saja selesai minum itu menoleh sebentar disertai tatapan datarnya yang khas. “Waalaikum salam.” Senyum Sheilla semakin lebar mendengar salamnya dijawab dengan baik. “Alhamdulillah! Ternyata Tuan bisa juga balas salam dari Ella,” ujarnya senang. “Membalas salam adalah sebuah keharusan, jangan terlalu berlebihan.” Seketika senyum Sheilla menipis karena Kim menjawab ucapannya dengan nada datar dan tanpa ekspresi sama sekali. Terkadang dia gemas sendiri jika berbicara dengan Kim karena orang itu seperti tidak memiliki kesenangan terhadap apa pun. “Tapi bagi Ella itu luar biasa, Ella senang apalagi kata Woo Jin Tuan sering datang menemui ustaz untuk belajar mengaji. Apa Tuan sudah lama belajarnya? Sejak kapan?” tanya Sheilla yang tidak memedulikan lagi raut wajah Kim yang datar itu. “Aku berhak untuk tidak menjawabnya.” Sheilla melangkah mengikuti Kim, sejujurnya dia masih penasaran dan ingin tahu alasan lelaki itu sampai belajar agama Islam secara khusus dari seorang ustaz. “Aaah, Ella benar-benar penasaran. Apa Tuan bisa cerita sedikit sama Ella kenapa Tuan bisa tertarik sama Agama Islam?” “Pergilah ....” “Tapi Ella beneran mau tahu,” ujar Sheilla yang sekarang berdiri di hadapan Kim menghentikan langkahnya. “Seumur hidup Ella nggak pernah ketemu sama seorang mualaf, apalagi mualafnya orang ganteng dari negeri seberang.” Sheilla tidak sengaja melontarkan pujian terhadap Kim, tapi sepertinya pujian itu terlalu cenderung terdengar menggoda tuannya itu. Apalagi saat Kim semakin mengeluarkan aura dinginnya, Sheilla langsung menutup mulut dengan tangan. “Bodoh sekali!” gerutu Sheilla dalam hati. Akhirnya Kim melangkah pergi ke kamarnya dan menghindari Sheilla di sana yang masih salah tingkah sendiri. Setelah pintu kamar Kim tertutup rapat, Sheilla baru bisa bernapas lega. Dia merasa ucapannya tadi sangat ceroboh dan memalukan, padahal dia sudah tahu Kim adalah lelaki super dingin yang sepertinya berasal dari kutub utara. “Mulut nggak ada akhlak!” Sheilla mengutuk mulutnya sendiri karena selalu saja tidak bisa terkontrol dengan baik. Dia pun mendekati kamar Kim lagi dan mengetuk pintunya sebentar. “Tadi Ella sudah masak buat makan siang, Tuan. Ella harap Tuan bisa segera memakannya mumpung masih hangat,” ujar Sheilla, tapi tidak ada jawaban apa pun dari dalam kamar. Tidak berapa lama ponsel milik Sheilla berdering, sebuah panggilan masuk di sana dari Gandi. Namun, Sheilla sedikit heran karena panggilan Gandi langsung menunjukkan wajahnya di layar ponsel. Sheilla pun menekan tombol hijau di layar datar tersebut dan alangkah terkejutnya dia karena ada wajah Gandi di sana. “Ya, ampun! Gandi?” Kedua mata Sheilla terbulat sempurna melihat wajah tampan Gandi langsung di layar ponselnya, pemuda itu tampak menertawakan keterkejutan Sheilla yang luar biasa. “Kenapa?” “Kenapa kamu kelihatan di Hp Ella?! Apa ini sejenis televisi? Muka kamu kelihatan jelas banget,” ujar Sheilla masih tidak percaya. Kemarin-kemarin dia bisa menerima panggilan biasa, lalu diajarkan oleh Woo Jin juga cara mengaktifkan data internet. Dia tidak menyangka kalau ponselnya bisa secanggih ini. “Kelihatan jelas gantengnya, ya?” “Dih, geer.” Gandi tertawa renyah. “Sekarang sudah tahu alasannya kenapa aku nggak beli Hp yang kamu tunjuk kemarin, kan? Kalau aku beli itu, mana bisa viedo call kayak gini,” ujarnya kemudian. Sheilla pun mengangguk cepat, dia sangat senang karena bisa melihat wajah Gandi walau orangnya sangat jauh. “Ternyata memang sebagus itu ... sekali lagi terima kasih, ya. Gandi sudah baik banget sama Ella.” “Masih juga bilang terima kasih, aku sampai bosan dengar itu dari kamu, La.” Sheilla tersenyum tipis. “Oh, ya. Kenapa kamu nggak dandan lagi kayak kemarin? Kamu kelihatan cantik pakai make up, La.” “Benarkah?” tanya Sheilla. Dia tertunduk dengan wajahnya yang sedikit bersemu kemerahan karena malu. “Beneran. Aku suka melihatmu begitu, apa kita perlu belanja perlengkapan make up mu? Nanti besok lusa aku datang lagi ke tempat kamu, ya.” “Eh, jangan! Kenapa harus Gandi yang beli? Ella bisa beli sendiri, sekarang kan Ella punya gaji. Cukup buat beli make up seperlunya,” ujar Sheilla menahan niat Gandi untuk ke sekian kalinya. “Gaji kamu simpan saja, buat keperluan penting. Nanti aku hubungi lagi kalau mau ke tempat kamu, sekarang aku masih sibuk kerja.” “Tapi, Gan—“ Klek! Pintu di samping Sheilla mendadak terbuka dan menampakkan sosok tubuh jangkung Kim di sana. “Tu—tuan?” Sheilla sedikit cemas karena Kim terus melempar raut wajah datarnya selama beberapa saat tanpa suara. Apa lelaki itu marah? Tapi sepertinya walau senang sekali pun, raut wajah datar itu tidak akan berubah. Ekspresi Kim tetap sama selama yang bisa Sheilla lihat. “Apa kau belum selesai? Matikan itu dan ikutlah ....” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Kim sebelum melangkah pergi dari kamarnya. Sheilla ragu apa Kim benar-benar mengajaknya pergi? Sementara dia tahu lelaki itu cukup risi dengan keberadaan Sheilla di sekitarnya. Namun, setelah cukup jauh melangkah, Kim kembali menoleh ke arah Sheilla seperti menegaskan ucapannya barusan. “Gandi, Ella tutup dulu teleponnya, ya. Ella ada keperluan sebentar,” ujar Sheilla kepada Gandi. “Oh ... gitu. Ya, sudah, kerja sana. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan kamu, ya.” Sheilla mengangguk cepat, sesudah itu menutup panggilan videonya dengan Gandi dan mengikuti langkah Kim keluar area rumah. Tidak ada lagi suara yang dikeluarkan lelaki itu selama perjalanan mereka ke salah satu toko miliknya. “Kita mau ke mana, Tuan? Apa ada yang harus Ella kerjakan di toko ini?” tanya Sheilla kepada Kim yang ternyata berhenti di salah satu toko miliknya. Tempat yang menyediakan berbagai macam kosmetik dari mulai skin care, peralatan make up, hingga produk perawatan rambut ini pun masih terbilang ramai. Toko yang dinamai Queen Cosmetic ini memang cukup terkenal di kota karena sangat lengkap. Rima, Indi dan Zena tampak heran dengan kedatangan Kim ke sana sambil membawa Sheilla. “Apa ada yang bisa kami bantu, Pak?” tanya Zena kepada Kim. “Apa kau bisa melihatnya?” tanya Kim sambil menunjuk ke arah tubuh Sheilla yang berdiri di sampingnya. “I—iya, saya lihat.” “Kau carikan kosmetik dan skin care yang cocok untuk jenis kulitnya, juga untuk rambutnya itu ... cari produk yang bagus supaya rambutnya tidak kelihatan kusam,” ujar Kim yang membuat ke tiga pegawainya itu mengernyit keheranan termasuk Sheilla sendiri. “Apa? Ma—maksudnya Tuan mau belikan Ella semua barang itu?” tanya Sheilla kepada Kim. Dia heran sekaligus terkejut kenapa Kim mendadak ingin membelikannya semua itu tanpa ada alasan yang jelas sebelumnya. “Lalu apa kau lebih suka bergantung pada sahabatmu?” tanya Kim balik yang pasti membuat Sheilla bungkam. “Saya memberimu semua ini bukan tanpa alasan seperti sahabatmu itu, tapi karena kau sudah berhasil merawat Woo Jin dengan tulus, kau berhak mendapatkan ini. Apa kau mengerti itu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN