Sheilla memeriksa ponsel pemberian Gandi yang terjatuh ke lantai, ternyata itu masih menyala. Tidak ada yang cacat pada layarnya kecuali goresan di bagian sudut karena menghantam lantai. Sheilla pun memeluk ponselnya sebentar, dia ketakutan setengah mati karena ini adalah satu-satunya penghubung antara dirinya dengan Gandi.
“Untung nggak rusak. Maafin Ella, Gan. Ella hampir saja merusak barang pemberian kamu,” gumam Sheilla. Kedua matanya mulai basah, tapi dia berusaha untuk tidak menangis. Di sudah berjanji kepada Gandi akan mampu melindungi diri dan memastikan dirinya baik-baik saja.
“Ada apa ini? Tolong jangan membuat keributan di sini, banyak orang sakit yang akan terganggu oleh kalian.” Seorang dokter bersama para perawatnya muncul untuk memeriksa apa yang terjadi di sana.
Rin pun mulai mengambil tindakan. “Saya hanya memeriksa ponselnya saja, dia itu pencuri! Dia sudah mencuri barang milik salah satu orang tua pasien di tempat ini,” ujarnya penuh penekanan kepada Sheilla.
Sheilla yang semula berada di lantai pun beranjak dari sana, kemudian menatap ke arah orang-orang di sekeliling. Mereka tampak berbisik-bisik, entah membicarakan apa tentangnya. Sheilla tertunduk, ponsel yang ada di tangannya digenggam erat dan tidak akan pernah dilepas lagi walau mereka menuduhnya sebagai pencuri sekarang.
Mereka mungkin akan langsung percaya. Ya ... siapa yang tidak percaya dengan tuduhan itu? Saat ini pakaian yang dikenakan Sheilla jauh dari kata bagus, hanya kaus polos dan rok berenda biru selutut yang masih terbilang layak pakai membuat kepercayaan mereka menguat.
“Sebaiknya usir dia dari tempat ini atau bawa ke kantor polisi sekalian! Barang bukti masih ada di tangannya,” ujar Rin lagi menambahkan.
“Panggil petugas keamanan sekarang, biar mereka menjelaskannya di luar,” pinta sang dokter kepada salah satu perawatnya.
Ada benih-benih ketakutan dalam diri Sheilla, dia ingin membela diri dan mempertahankan harga dirinya di depan orang banyak sekarang. Namun, niatnya itu keburu didahului oleh seseorang yang mendadak datang di antara mereka.
“Tunggu.” Suara datar Kim menggantikan pusat perhatian semua orang di klinik itu. “Dia bukan pencuri, dia adalah seorang asisten rumah tangga di kediaman saya. Jadi jangan menuduhnya sembarangan jika kalian belum mendengarkan yang sebenarnya dari pihak tertuduh.”
Sheilla mulai mengangkat wajah melihat ke arah Kim yang sekarang berdiri tidak jauh di hadapannya.
“Aku tidak menuduh sembarangan, Mas. Dia sudah mencuri ponselmu, lihatlah!” ujar Rin bersikukuh meyakinkan Kim.
“Ponselku masih ada di sini.” Kim merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel yang serupa dengan milik Sheilla. Itu membuat Rin langsung terdiam seribu bahasa di sampingnya. “Apa kau masih mau melanjutkan ini?”
Kim bertanya kepada kekasihnya itu, tapi Rin tidak menjawabnya lagi. Gadis itu meninggalkan keramaian yang disebabkan olehnya sendiri begitu saja tanpa mau menjelaskan apa pun lagi. Sementara itu Sheilla melihat kerumunan orang di sekitarnya perlahan menyusut, menyisakan dirinya dan Kim berdua.
Pria jangkung tersebut melangkah mendekat, tapi Sheilla menjauh. Kedua kaki Sheilla membawanya keluar dari klinik dan berhenti di kursi tunggu depan. Pikirannya terus teringat kejadian tadi, Sheilla benar-benar malu, sedih, dan sakit hati.
Apa begini hidup seorang rakyat miskin?
Apa Sheilla tidak layak bahagia walau sebentar?
Kenapa semua orang berada selalu memandang sebelah mata pada orang miskin?
Pertanyaan-pertanyaan itu membludak di pikiran Sheilla. Perlahan air matanya menetes sedikit demi sedikit sebab dia masih berusaha untuk tidak menangis. Sheilla terus merenungi nasibnya yang buruk hingga detik ini, berpikir di mana letak kesalahannya sampai kebahagiaan itu seperti terlarang baginya.
Tanpa disadari oleh Sheilla, Kim duduk di sebelahnya dan mengambil ponsel yang digenggam oleh gadis itu.
Sheilla otomatis terkejut bukan main. “Tu—tuan?”
Sheilla melihat Kim sudah memegang ponselnya dan hanya menatap itu dengan mulutnya yang membisu.
“Sepertinya ini dari sahabatmu itu. Bukan begitu?” tanya Kim.
Sheilla mengangguk ragu-ragu. Kemudian meremas sudut roknya, menahan segala pikiran yang bisa berkeliaran dalam kepalanya tentang Kim. Dia merasa patut berterima kasih karena Kim sudah membelanya hingga terbebas dari tuduhan keji itu. Namun, di sisi lain Sheilla juga merasa sebal karena kekasih Kim yang terus saja memojokkannya di posisi paling buruk.
“Ella nggak bermaksud menjual kesedihan di depan Tuan, tapi Ella tetap harus bilang ini supaya Tuan nggak salah paham,” ujar Sheilla seraya mengangkat wajah menatap Kim di sebelahnya. “Dua puluh dua tahun usia Ella sekarang, setengahnya Ella lewati sama Gandi. Tapi hampir sebulan ini, Ella memilih menjauh dan pergi ke tempat Tuan bermodalkan nekat, membawa niat dan uang sedikit. Ella mau mengubah kehidupan ke arah lebih baik, juga mau menyingkirkan anggapan kalau Ella nggak bisa menikah karena kutukan.
Setelah Ella pergi, nyatanya Gandi jauh-jauh datang ke sini cuma buat memastikan kabar Ella. Dia belikan Hp supaya kami bisa bertukar kabar lebih mudah, tapi tadi Hp nya hampir rusak, Ella yakin Tuan mengerti gimana rasa takutnya. Ella ini siapa, sih? Apa yang Ella punya? Ella nggak punya apa-apa kecuali badan dan pakaian yang dibawa, bahkan terpikirkan buat beli Hp baru kalau yang ini rusak saja sudah menjadi beban. Bukan masalah uang, tapi Hp itu adalah ketulusan yang dikasih sama Gandi. Ella harap Tuan dan Nona Rin bisa mengerti itu.”
Panjang lebar Sheilla berbicara kepada Kim, menuangkan seluruh kalimat yang mungkin bisa menyelamatkannya dari pemikiran buruk. Namun, pria jangkung bermata sedikit sipit itu hanya terdiam membisu lagi.
“Ella pikir, sekarang seharusnya Ella bisa pulang karena sudah ada Nona Rin di sini,” ujar Sheilla kemudian seraya beranjak dari kursi. “Tolong kembalikan Hp Ella, dan tolong sampaikan maaf sama Woo Jin karena Ella nggak bisa temani dia di sini.”
“Saya tidak akan memberikannya.”
“Apa? Kenapa begitu?” Sheilla mengernyit heran.
“Kecuali kau mau tinggal di sini dan menemani Woo Jin. Apa kau sudah lupa dengan janjimu sendiri? Anak saya adalah penagih janji yang andal, dia akan merasa kecewa kalau kamu mengingkarinya sebelah pihak saja.” Kim berkata sambil menatap datar Sheilla seperti biasanya.
Sheilla terdiam sejenak, dia tentu ingat sudah berjanji kepada Woo Jin bahwa akan menemaninya di sini sampai bisa pulang ke rumah.
“Tapi Nona Rin ....” Sebelum Sheilla mengucapkan hal yang mengganjal dalam hatinya, Kim sudah pergi lebih dulu tanpa memberi kepastian apa-apa. “Kebiasaan banget, Ella masih ngomong sudah ditinggal. Ganteng-ganteng tapi jutek banget,” gumam Sheilla. Dia mengikuti langkah Kim karena ponselnya masih tertahan oleh pria itu.
***
Sesampainya di tempat Woo Jin, anak yang sedang duduk di kasur pesakitannya itu menyambut kedatangan Sheilla dengan senyum lebar, berbeda sekali saat masih ditemani oleh Rin dari sejak kedatangannya beberapa waktu lalu.
“Kakak! Habis dari mana, sih? Aku nungguin tahu, kirain pulang,” ujar Woo Jin ketika Sheilla sudah berada di dekatnya.
“Kakak habis keluar sebentar, tadi ada teman kakak datang,” jawab Sheilla, kemudian memegang tangan Woo Jin yang diinfus. “Apa ini masih sakit?”
“Sudah nggak sakit lagi, tapi badanku sakit semua rasanya. Kepalaku juga sakit banget, mau tidur siapa tahu bisa berkurang sakitnya,” ujar Woo Jin.
“Kalau begitu berbaringlah.” Sheilla pun membantu Woo Jin berbaring dan mencari posisi nyaman. Kemudian melihat ke arah Kim. “Tuan, sepertinya kita butuh bantal dan selimut supaya dia jadi lebih nyaman. Kasihan dia tidurnya nggak nyaman begini,” ujarnya kepada Kim.
“Nanti saya akan membawanya dari rumah.”
Woo Jin pun tersenyum tipis seraya memegang tangan Sheila. “Makasih ya, Kakak selalu tahu apa yang aku mau.”
Melihat senyum putranya kembali, Kim malah dihadapkan dengan raut wajah Rin yang masih ketus dan tidak menyukai keberadaan Sheilla di sana. Padahal Kim merasa perlakuan Rin sekarang sudah di luar batas kewajaran.
Sheilla tersenyum tipis sambil mengusap puncak rambut Woo Jin, sedangkan Kim di sampingnya langsung menarik tangan Rin agar mengikutinya sampai keluar dari klinik. Lelaki itu tidak sabar lagi, sebab dia sudah melihat kebenarannya sekarang.
Tentang Rin yang terus saja tidak mau mengubah sikapnya yang semena-mena terhadap orang lain, terlebih Sheilla.
“Ah, sakit! Kenapa kamu malah membawaku keluar, Mas? Aku mau menemani Woo Jin, bukannya kamu memintaku mendekatinya? Sekarang adalah kesempatan bagus.” Rin memprotes perlakuan Kim yang mendadak sedikit kasar padanya.
“Aku sudah tidak bisa membiarkan ini,” ujar Kim datar dan cukup terdengar oleh Rin.
“Apa? Membiarkan apa maksudnya, Mas?”
“Sebaiknya ... kita akhiri saja hubungan ini.” Kim kembali berkata dengan raut wajah datarnya, sejak awal tidak ada cinta dalam hatinya untuk Rin. Sekarang saat dia mengatakan ini, entah kenapa rasanya tidak ada yang mengganjal sama sekali. Entah karena itu alasannya, atau karena dia sudah terlalu kesal dengan tingkah laku gadis itu belakangan terakhir. Namun, Kim merasa ini adalah keputusan terbaik untuk sekarang.
Kim akan memilih sendiri dan membesarkan Woo Jin semampunya jika memang itu menjadi sebuah keharusan. Perasaan Woo Jin sangat penting, pikiran yang jernih pun dibutuhkan untuk tetap mempertahankan kewarasannya dalam membesarkan putranya itu.
“Apa maksudmu? Kenapa kamu mengatakan ini padaku, Mas?”
“Aku hanya merasa lelah, Rin. Sudah cukup aku memberimu kesempatan untuk mengubah sikap burukmu itu, tapi kau terus mengulang kesalahan itu lagi dan lagi.”
“Apa ini gara-gara perempuan itu lagi?”
“Ini tentangmu, apa kau masih tidak mengerti itu? Aku tidak bisa menerima kelakuanmu lagi yang terus saja merugikan orang lain entah siapa pun itu! Ini sudah ke tiga kalinya aku melihatmu berlaku buruk kepada Sheilla, yang bahkan kau masih belum mau meminta maaf atas kesalahan itu,” ujar Kim menegaskan. Berharap agar Rin setidaknya sadar jika sikapnya selama ini adalah salah.
“Aku bilang mau minta maaf, kan? Itu artinya aku masih ada niatan untuk meminta maaf, Mas. Bukan tidak mau—“
“Tapi kau melakukan kesalahan lagi. Apa maafmu itu masih berada dalam perencanaan?”
“Mas, dengarkan aku dulu.” Rin memegang lengan Kim, mulai khawatir dengan ucapan lelaki itu yang tampaknya cukup serius. “Aku tahu aku salah tadi, aku kira itu Hp kamu makanya aku tegur dia.”
“Dengan menuduhnya sebagai pencuri? Aku pikir itu sudah sangat keterlaluan, Rin.” Kim melepaskan genggaman tangan gadis itu di lengannya. “Sekarang kau pulanglah. Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang.”
“Tidak, tolong jangan lakukan ini. Aku janji akan mengubah sikapku, tapi aku masih butuh bantuanmu, Mas. Aku masih mau memperbaiki semuanya, asal ada kamu bersamaku.”
Kim melihat Rin mulai diserang kecemasan, kedua matanya memerah ingin menangis. Bahkan ketika Kim memasuki mobil tanpa menjawab sepatah kata pun, gadis itu tetap bersikukuh ingin hubungan mereka tetap bertahan.