Sentuhan Dari Hati

1549 Kata
“Aku nggak marah, cuma kecewa sama kamu.” Ucapan Gandi berhasil membuat tangisan Sheilla pecah seketika. Air matanya deras mengalir di hadapan pemuda itu tanpa memedulikan pandangan semua orang yang berlalu-lalang di klinik. Sheilla sedih, sebab tidak ada lagi yang peduli padanya selain Gandi. “Kamu nangis beneran?” tanya Gandi ketika Sheilla tidak berhenti sesenggukan menangis walau tidak ada kalimat lagi yang keluar dari mulutnya. “Jangan nangis, aku cuma bercanda, La.” Sheilla menyeka air matanya berkali-kali, tapi itu tidak menyusut sama sekali. Dia terlalu takut Gandi benar-benar kecewa dan menjauhinya. “Ella ... aku beneran cuma bercanda.” Gandi menggenggam kedua tangan Sheilla perlahan, memastikan perhatian gadis itu hanya tertuju padanya. Namun, Sheilla masih tetap saja menangis. “Maaf, ya.” “Bercandanya Gandi nggak lucu. Ella sedih tahu, sekarang di dunia ini cuma kamu yang peduli sama Ella, cuma kamu yang Ella punya. Tapi tiba-tiba kamu bilang begitu, gimana Ella nggak sedih?” ujar Sheilla seraya berusaha menatap ke arah Gandi. “Iya, iya. Aku yang salah, maaf, ya. Aku nggak akan bilang itu lagi sama kamu,” ujar Gandi, lalu kembali menyeka air mata Sheilla dengan punggung tangannya. “Jangan nangis lagi, dandanan kamu sudah cantik hari ini. Nanti hilang cantiknya.” Tangisan Sheilla perlahan mulai menyusut, dia sedikit tenang karena ternyata Gandi tidak marah atau kecewa. Kalau saja itu benar terjadi, mungkin saja Sheilla tidak akan pernah memiliki semangat menjalani kehidupannya yang selalu menyedihkan. “Beneran nggak kecewa sama Ella?” tanya Sheilla memastikan. “Enggak.” “Ella beneran takut Gandi marah.” “Aku nggak marah,” ujar Gandi sekali lagi. “Asal kamu mau ikut sama aku sebentar saja. Ada yang mau aku lakukan buat kamu sebelum aku pulang.” Sheilla sedikit mengernyit. “Ikut ke mana?” “Rahasia dong, aku mau kasih kejutan buat kamu,” ujar Gandi. “Nggak akan lama, paling 15 atau 20 menitan. Nanti aku antar kamu ke sini lagi. Gimana?” Sheilla terdiam sejenak, hanya pergi selama itu ... sepertinya bukan masalah besar. Woo Jin juga pasti akan mengerti, asalkan dia bisa kembali ke tempat ini. Itulah yang ada di pikiran Sheilla sekarang. Akhirnya Sheilla mengangguk menyetujui ajakan Gandi padanya. “Tapi Ella mau izin dulu sama Tuan, ya. Takut Tuan cariin Ella nantinya,” ujarnya. Gandi pun hanya mengangguk, tapi ada senyum kesenangan dari raut wajahnya. Sheilla pun berbalik arah hendak mencari Kim di dalam klinik. Namun, belum sempat kakinya melangkah, penampakan sosok tubuh jangkung pria itu sudah lebih dulu ada tidak jauh dari hadapannya. Sheilla sempat berhenti melangkah karena tatapan dan aura yang dikeluarkan Kim semakin dingin saja sekarang, entah kenapa dia merasa begitu. “Tuan?” Sheilla menelan ludah berat, bahkan sekedar berkata saja sulit rasanya. “Ella sekarang mau—“ “Pergilah, saya memberimu waktu 20 menit. Setelah itu kembalilah ke sini karena Woo Jin pasti mencarimu.” Sheilla terdiam sejenak, apa Kim mendengar semua percakapannya dengan Gandi? Batinnya bertanya. Namun, sekarang dia sudah mendapat izin walau terkekang oleh waktu, Sheilla berpikir itu lebih baik daripada tidak sama sekali. “I—iya, Tuan.” Sheilla tertunduk saat menjawab, tidak berani menatap mata Kim lebih lama. Sampai pria itu pergi meninggalkannya begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Melihat Sheilla masih bertahan di tempatnya, Gandi lantas menarik tangan gadis itu dan mengajaknya pergi dari sana. Sheilla pun dibawa Gandi ke sebuah tempat yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Gadis itu bahkan ragu-ragu saat Gandi kembali menggenggam tangannya untuk mendekati tempat yang penuh dengan jejeran ponsel-ponsel bagus. “Ayo, La. Kenapa kamu malah diam?” “Kamu kenapa bawa Ella ke sini? Ella nggak punya hp, malu juga nggak punya uang buat belinya,” jawab Sheilla. “Yang suruh kamu beli Hp siapa? Aku yang mau beli, ayo!” Gandi menarik tangan Sheilla dan memaksanya ikut. Nyali Sheilla semakin ciut saja, dia lihat deretan ponsel bagus di dalam etalase itu dibanderol dengan harga mulai dari dua juta hingga 20 juta rupiah. Kepalanya pening melihat harga-harga itu sebab membuat dompetnya menangis kencang. Sementara Gandi langsung menunjuk sebuah ponsel kepada penjaga konter tersebut tanpa berpikir panjang lagi. “Gimana menurut kamu? Apa Hp ini bagus?” tanya Gandi sambil menunjukkan ponsel berwarna putih mengilat itu kepada Sheilla. “Bagus, tapi harganya ... apa nggak bisa ditawar gitu? Ini kemahalan tahu. Sayang uang kamu, mending yang kecil aja tuh, yang itu,” ujar Sheilla seraya menunjuk ke arah sebuah ponsel model lama. “Harganya cuma 300 rebu. Terjangkau.” Gandi malah tertawa renyah menanggapi ucapan Sheilla. “Ya, kali aku beli Hp nyit-nyit yang cuma bisa terima telpon sama sms doang. Memangnya aku bapak-bapak zadoel apa?” “Tapi ini kemahalan, Gan. Sayang uang kamu, mending uangnya dibuat nabung saja lebih bermanfaat,” kata Sheilla. Dia sangat tahu yang namanya Gandi Prayoga itu sangat tidak memikirkan harga jika membeli apa pun, tapi sekarang Gandi akan menggelontorkan 5 juta hanya untuk sebuah ponsel, itu membuat Sheilla risi sendiri. “Nggak ada sayang-sayang dalam kamusku, aku tetap mau beli yang ini sekarang,” ujar Gandi. Dia pun benar-benar membeli ponsel baru itu beserta kartu perdananya yang langsung dipasang di sana. Namun, setelah ponsel itu resmi dibeli, Gandi malah menyodorkan itu kepada Sheilla. “Kamu suruh Ella pegangin ini?” tanya Sheilla. “Buat kamu.” “Ya, ampun!” Sheilla terkejut bukan main hingga menutup mulutnya dengan tangan. “Gandi jangan bercanda. Kita ke klinik sekarang, ah. Kamu kayaknya sudah kerasukan jin di jalanan.” Sheilla hampir saja meninggalkan konter tersebut, tapi tangannya keburu ditahan oleh Gandi. Pemuda jangkung itu menyerahkan paper bag berisi ponselnya ke tangan Sheilla langsung bahkan tanpa persetujuan lagi. “Tolong diterima, supaya aku nggak khawatir sama kamu setiap hari. Biar aku juga bisa memastikan kabar kamu setiap waktu.” “Gandi ....” Sheilla hampir kehabisan kalimat untuk sekedar membalas kebaikan pemuda itu sekarang. Dia terlalu terharu, juga tidak pernah mengira kalau Gandi akan berbuat sampai sejauh ini untuknya. Sampai Sheilla hanya bisa meneteskan air mata untuk meluapkan rasa harunya sekarang. “Astaga, kamu nangis lagi, La? Stok air mata kamu itu nggak habis-habis apa? Ini nangis, itu nangis, apa-apa nangis, aku lagi nggak punya es krim buat ngobatin tangisan kamu ini tahu—“ “Terima kasih ... terima kasih karena kamu terus bersedia ada di samping Ella dalam keadaan apa pun. Ella nggak tahu lagi harus apa kalau kamu nggak ada, dan Ella juga janji sama kamu kalau Ella bisa baik-baik saja supaya nggak bikin kamu khawatir.” Sheilla berkata masih dengan tangis yang bertahan. Sementara Gandi di hadapannya tersenyum lega. “Syukurlah. Mungkin ke depannya aku bisa lebih tenang, La,” ujarnya kemudian. “Jaga diri kamu baik-baik selama jarak memisahkan kita, jangan biarkan orang lain menindas kamu seenaknya lagi. Kamu harus bertahan dan berani mengambil tindakan mulai dari sekarang.” Sheilla mengangguk pelan. Mungkin saja, dia memang telah kehilangan keluarga dalam hidupnya. Namun, keberadaan Gandi sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bertahan hingga detik ini. Sheilla amat sangat bersyukur masih ada orang baik seperti Gandi dalam hidupnya. *** Sheilla dan Gandi pun berpisah di klinik, usai memastikan sahabatnya itu pergi, dia berniat ke tempat Woo Jin dirawat. Sepertinya dia tidak terlambat, pergi ke konter dengan Gandi tadi hanya memakan waktu 18 menit saja. Sheilla berjalan hendak masuk sambil melihat kotak berisi ponsel barunya dalam paper bag, dia masih tidak menyangka akan mendapatkan ini dari Gandi. Sheilla berharap Gandi tidak terlalu mengkhawatirkannya lagi nanti dan dapat menghubunginya kapan saja. “Tapi ini gimana pakainya, ya? Ah ... Ella nggak ngerti gimana. Mana Gandi juga sudah pulang lagi,” gumam Sheilla. Dia mencoba menyalakan ponselnya, tapi menu yang pertama kali muncul adalah permintaan pembuatan akun baru. “Apa Ella minta tolong sama Tuan Kim saja nanti?” Sheilla baru berpikir demikian. “Ah, iya. Kayaknya memang harus minta tolong sama Tuan. Sayang ... Hp mahal takut rusak—“ Ucapan Sheilla terhenti dikarenakan ada yang merampas ponsel miliknya mendadak. Dia kaget bukan main, apalagi ternyata yang merampas ponsel itu ternyata adalah Rin—kekasih majikannya. Gadis berusia 23 tahun tersebut terlihat sangat ketus menatap ke arah Sheilla dan belum mau mengembalikan ponselnya. “Nona, maaf. Tolong kembalikan Hp nya. Itu punya Ella,” ujar Sheilla meminta baik-baik. “Punya kamu? Jangan ngawur, ini sama persis seperti punya pacar saya. Jangan-jangan kamu mau maling, ya? Kamu tidak mungkin mampu membeli ponsel semahal ini!” Suara Rin memang tidak terlalu keras, tapi cukup menyakitkan bagi Sheilla. “Ma—maling? Ella nggak pernah berbuat serendah itu! Tolong kembalikan. Itu penting sekali buat Ella, nanti rusak,” ujar Sheilla. Dia mencoba meraih ponselnya dari tangan Rin, tapi gagal. “Mana bisa saya percaya sama kamu? Orang miskin rendahan seperti kamu sampai kapan pun tidak akan mampu membeli barang ini.” “Ella tahu, Ella nggak mampu! Tapi itu beneran punya Ella dan baru dikasih sama Gandi. Ella sama sekali nggak mencuri, apalagi dari Tuan Kim.” Sheilla berusaha mengambil kembali barang pemberian Gandi tersebut, tapi Rin juga tetap bersikukuh mempertahankannya. Sampai terjadi saling rebut antara mereka berdua, ponsel yang dipegang Rin sengaja dilepas hingga terjatuh ke lantai. Prak! Sheilla langsung memburu itu dengan cepat, debar jantungnya sudah tidak beraturan saja. Ada kecemasan dan rasa takut berlebih jika ternyata ponselnya rusak dalam sekejap. Apa yang harus dia jelaskan pada Gandi nanti?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN