Kim yang Terus Sensitif

1944 Kata
Sheilla kembali ke tempat Gandi dengan wajah murung, dia hampir tidak berhenti memikirkan Woo Jin yang entah bagaimana kabarnya sekarang. Sungguh perasaan ini sangat mengganggunya, di mana ada rasa ingin menyusul bocah kecil itu ke klinik detik ini juga. Gandi yang sudah menanti kehadiran Sheilla pun mengernyit, gadis itu berjalan sangat lambat padahal sudah sampai tujuan. Pemuda tersebut beranjak dan menghampiri Sheilla di ambang pintu. “Ada apa? Apa ada masalah? Kenapa raut wajahmu begitu, La?” tanya Gandi tidak sabar sebab Sheilla masih terdiam dan agak melamun. “Woo Jin sakit.” “Woo Jin?” Gandi mengernyit. “Dia lagi demam dan tadi sempat muntah, Ella nggak tenang banget, Gan,” ujar Sheilla, dia memegang dadanya karena masih belum merasa tenang sama sekali. “Ella mau liat dia sekarang. Apa kamu mau nganter Ella ke klinik? Sebentar saja juga boleh.” Sheilla memegang tangan Gandi sebagai bentuk permintaannya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana, pergi sendiri pun rasanya tidak leluasa. Hanya Gandi yang berada di dekatnya sekarang. “Woo Jin itu siapa, La? Kamu harus jelaskan dulu, dong supaya aku tahu siapa orang yang mau kita jenguk.” “Dia itu anaknya majikan Ella, Gan. Kasihan dia sudah nggak punya ibu, Ella khawatir kalau sekarang dia sakit karena masih kepikiran terus sama ibunya.” Sheilla melihat ke arah Gandi, dia cukup yakin Gandi mengingat bahwa majikannya adalah seorang duda beranak satu. Pemuda tersebut awalnya hanya diam, tapi kemudian memberikan reaksi tanpa diduga. “Baiklah, aku antar. Tapi jangan lama-lama di sana, ya. Aku datang ke sini buat kamu, bukan buat jenguk orang sakit.” Sheilla pun mengangguk cepat. “Iya! Ella janji cuma sebentar saja,” ujarnya bersemangat. Kemudian mengikuti Gandi ke tempat motornya terparkir. Sheilla tidak sabar ingin melihat Woo Jin dan memastikan keadaan anak itu. “Pegangan ... nanti kalau jatuh, kamu yang bakal masuk klinik!” Gandi menarik kedua lengan Sheilla agar melingkar erat di perutnya. Sementara gadis yang ada di belakangnya sedikit melonggarkan pegangan dan memutuskan meraih sudut jaket Gandi, Sheilla tidak enak jika harus menempel terlalu dekat dengan Gandi dalam posisi seperti itu. “Masih nggak mau pegangan juga? Awas jangan nyesel kalau jatuh.” Sheilla menelan ludah ketika Gandi menyalakan mesin motornya. Benar saja, pemuda itu lantas menancap gas dan melaju dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Sheilla spontan memeluknya sangat erat. “Ah! Gandi, jahat!” *** Sesampainya di klinik, Sheilla dan Gandi melihat Woo Jin terbaring di kursi tunggu dan sepetinya masih mengantre giliran diperiksa oleh dokter, klinik yang didatanginya sekarang kebetulan cukup penuh. Kim yang membiarkan pahanya sebagai bantal kepala sanga anak, begitu sabar seraya mengusap lembut puncak kepalanya. Sheilla pun berjalan cepat menghampiri mereka, diikuti Gandi di belakangnya. Napas Sheilla masih terengah-engah sambil menatap keseluruhan tubuh Woo Jin, akhirnya dia bisa melihatnya secara langsung begini. “Kau—“ “Apa kamu baik-baik saja sekarang? Masih sakit perutnya, humh?” tanya Sheilla yang kemudian berjongkok di hadapan Woo Jin. Wajah pucat anak itu semakin membuatnya bersedih. “Masih sakit.” “Sabar, ya. Kamu anak yang kuat, pasti cepat sembuh,” ujar Sheilla. Anak itu hanya tersenyum tipis. “Rapatkan jaketmu, supaya nggak dingin. Apa kamu haus? Kakak beli minum, ya.” Sheilla merapatkan jaket yang dikenakan Woo Jin agar lebih nyaman, mengabaikan raut wajah ketus Gandi serta ekspresi Kim yang tidak berhenti menatap ke arahnya. Anak lelaki itu pun mengangguk pelan. “Aku haus, Kak.” “Baiklah, kamu tunggu dulu di sini, ya. Kakak beli minum di luar sebentar.” Sheilla beranjak dan lantas berjalan cepat ke arah luar mencari minuman untuk Woo Jin. Sementara yang ditinggalkannya masih berada dalam sebuah kecanggungan. Kim melihat Gandi di hadapannya tampak sedikit tidak senang berada di sini, tapi nyatanya tetap bertahan karena ketulusan Sheilla kepada Woo Jin. Kim tetap membisu ketika Gandi duduk di sampingnya dan hanya berjarak satu kursi saja. Tidak ada keinginan bertanya tentang hal yang berhubungan dengan pemuda itu, walau sebenarnya dia adalah tipe pembuka percakapan yang baik bagi orang lain. “Kak Ella sampai datang ke sini. Aku senang sekali, Pa.” Woo Jin berkata dengan suara lemahnya. “Benarkah?” Anak itu mengangguk pelan. “Andai saja Appa menikah sama Kak Ella, aku nggak akan protes. Aku sangat menyukainya,” ujarnya lagi disertai senyum tipis. Namun, pernyataan itu malah membuat Kim mati kata. Apa itu yang sebenarnya diharapkan Woo Jin? Hatinya bertanya, dia sungguh kehabisan kalimat untuk menjawabnya. Kalau sampai dia memaksa Woo Jin menerima Rin dalam keadaan seperti ini, anaknya pasti akan bersedih kembali dan itu akan berpengaruh pada kesehatannya. “Jangan dulu membahas itu, yang terpenting adalah kesehatanmu,” ujar Kim pada akhirnya. “Tapi kalau ini jadi keinginan terakhirku gimana?” “Apa maksudmu?” Kim sedikit mengernyit melihat ke arah putranya. “Aku cuma tanya.” “Itu nggak akan terjadi,” sela Gandi tiba-tiba di percakapan Kim dan Woo Jin. “Kak Ella nggak akan pernah menikah dengan siapa pun lagi. Itu sudah menjadi keputusannya.” Kim menoleh, kemudian melempar tatapan datarnya yang khas kepada Gandi sebentar. Namun, kali ini dia menambahkan aura dingin kepada pemuda yang duduk di sebelahnya itu. Alasannya adalah karena dia tidak menyetujui kalimat yang dilontarkan Gandi barusan. “Kenapa memangnya? Kok begitu sih?” tanya Woo Jin. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan bocah kecil itu. Mereka cukup tahu alasan Sheilla yang sebenarnya. “Dia akan menikah, ini hanya masalah waktu.” Kim akhirnya membuka suara tentang ucapan Gandi barusan. Dia tidak bisa tinggal diam terlalu lama karena baginya tidak ada yang namanya kutukan Ella di dunia ini. Kepercayaannya masih tetap sama semenjak pertama kali tahu masalah gadis itu. “Jangan so tahu, kau masih belum mengenalnya lama sepertiku.” “Setidaknya saya tahu alasannya,” ujar Kim, lalu menoleh lagi ke arah Gandi. “Dia akan mampu melewati batasan itu, karena tidak ada yang namanya kutukan Ella di dunia ini. Yang ada hanya fitnah dari orang-orang yang tidak menyukainya menikah.” “Sepertinya kau sudah mengetahui banyak hal, hh? Sampai sejauh mana kau mengenalnya?” Sekarang giliran Gandi yang melempar tatapan datar terhadap Kim. Persahabatannya dengan Sheilla terasa sia-sia saja karena Kim berani meyakini sesuatu yang bahkan Sheilla sendiri sudah menyerah dengan hal itu. “Saya akan mengenalnya sejauh yang saya inginkan,” jawab Kim. Dia bisa melihat pemuda itu tidak senang atas semua ucapannya, tapi Kim tidak memedulikannya. Tidak lama Sheilla pun datang dengan larian kecilnya sambil membawa sebotol air mineral di tangannya hingga membuat ketegangan antara Kim dan Gandi memudar sesaat. Gadis itu lantas membantu Woo Jin duduk, lalu memberikan air minumnya. “Makasih banyak, Kak.” Woo Jin berkata sambil menyerahkan kembali botol airnya kepada Sheilla. “Sama-sama. Kamu cepat sembuh, ya. Jangan sakit begini, kakak sedih banget lihat kamu sakit,” ujar Sheilla seraya mengusap pipi Woo Jin lembut dan penuh kehangatan. “Iya, Kak. Tapi nanti Kakak mau nggak temani aku di dalam? Aku takut ketemu sama dokternya.” Mendapat pertanyaan itu, Sheilla menatap ke arah Gandi sebentar, dia tidak enak terus meninggalkan Gandi seorang diri. Namun, tidak tega juga menolak ajakan Woo Jin yang tengah sakit. “Tapi kakak—“ “Turuti saja, hanya menemaninya di dalam tidak akan memakan waktu setahun. Kalian masih bisa bertemu lagi setelah ini,” sela Kim berkata dengan nada datar. Sheilla terdiam, dia sedikit gemas dengan perkataan Kim yang selalu saja menohok sejak tadi. Entah apa masalah lelaki itu, Kim sangat menyebalkan bagi Sheilla hari ini. *** Setelah menunggu hampir setengah jam lamanya, akhirnya giliran Woo Jin yang diperiksa oleh dokter. Kim dan Sheilla mengantar bersamaan, menemani anak itu karena ketakutannya terhadap sebuah pemeriksaan di tempat pesakitan seperti ini. “Anak Bapak dan Ibu kena gejala tipes, jadi saya sarankan untuk dirawat di sini saja.” Sheilla berdeham kecil mendengar dokter itu menganggap dirinya dan Kim adalah sepasang suami istri yang mengantar anak mereka sekarang. Dia sedikit terkejut, tapi tidak berani membantah karena merasa malu sendiri nantinya. Sampai dia memilih menebalkan muka dan menganggap ini adalah respons wajar dari orang yang tidak mengenal mereka. Masa bodoh dengan aura dingin Kim di sebelahnya, Sheilla tidak memikirkan itu lagi. “Apa nanti akan lama, Dokter? Kasihan anak sekecil ini harus diinfus begitu, Ella nggak tega lihatnya,” ujar Sheilla sekaligus bertanya. Dokter itu pun tersenyum kecil, biasa menanggapi keluhan seperti ini dar para orang tua pasien. Khususnya pasien anak-anak. “Itu nanti kita lihat perkembangannya, ya. Kalau perkembangan kesehatannya bagus, dia akan boleh pulang cepat. Berdoa saja yang terbaik untuk anak Ibu, sekarang perawat saya akan menyediakan tempat untuknya.” Dokter itu pun beranjak dari tempatnya untuk mempersiapkan keperluan Woo Jin yang akan menginap di kliniknya selama beberapa waktu ke depan. Sementara Woo Jin sendiri sudah ketakutan hingga memegang erat tangan Sheilla di sebelahnya. “Enggak mau diinfus. Pulang saja ah, aku takut banget. Nggak mau pokoknya!” ujar Woo Jin dengan air matanya yang sudah mengalir deras. “Ini tidak akan lama, Woo Jin. Tenanglah, ada appa di sini,” ujar Kim. “Tapi aku takut banget, Appa. Nggak mau, maunya pulang saja sekarang.” “Jangan dong, masa pulang. Nanti kapan sembuhnya?” ujar Sheilla. Dia pun menyeka basah air mata Woo Jin walau itu tetap mengalir banyak. “Kamu jagoan, pasti bisa, kok. Nanti kalau kamu sembuh, kamu boleh minta makanan atau yang lain ke kakak. Atau kita akan pergi ke pasar malam lagi? Kakak temani kamu.” Woo Jin yang semula terisak menangis pun mulai luluh perlahan. “Tapi kalau pasar malamnya keburu tutup gimana?” “Kita pergi ke tempat lain. Sebut saja tempat yang kamu mau, kakak temani! Kebetulan kakak habis gajian dari appa-mu tadi sore. Dompet kakak masih tebal, lumayan buat jajanin kamu sampai puas.” Sekilas senyum Woo Jin tampak dari bibirnya yang pucat. “Beneran, ya?” “Janji.” Sheilla menyodorkan jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian, Woo Jin lantas menyambut itu dengan cepat. Kim yang berada di dekat mereka tidak memberikan komentar apa-apa. Mulutnya rapat, seketika hatinya pun terenyuh melihat senyum di bibirr putranya kembali karena sebuah pengalih perhatian kecil dari Sheilla. Dalam kondisi begini, lagi-lagi Kim merasa bahwa memang benar perhatian seorang ayah tidak akan perah sama dengan wanita. Di mana terkadang dia selalu buntu dalam mengambil sikap terhadap Woo Jin. Sampai Woo Jin akhirnya mendapat tempat untuknya menginap di klinik ini, dia terus lengket dengan Sheilla seakan tidak ingin membiarkan gadis desa itu pergi jauh darinya. Sheilla pun meminta izin untuk menemui Gandi sebentar karena semakin tidak nyaman. Rasa bersalahnya pada pemuda itu membengkak saat terus-menerus menempatkan Gandi di posisi ke dua. “Jadi apa kita nggak bisa pergi, La? Sebentar lagi aku mau pulang, mungkin juga kita nggak bisa ketemu dalam waktu dekat,” ujar Gandi sekaligus bertanya. “Aku sebenarnya masih mau ngobrol banyak sama kamu.” Sheilla terdiam sebentar. “Ella juga sama, Gan. Tapi mau gimana lagi, Woo Jin minta Ella ikut menginap malam ini, Ella nggak enak buat nolak.” “Nggak enak apa kamunya memang nggak mau?” “Nggak enak, Gan ... beneran. Ella kasihan, dia udah nggak punya ibu sama kayak Ella. Tahu rasa sakitnya di posisi itu.” Gandi menghela napas berat. “Kamu itu terlalu baik sama orang, La. Makanya mudah banget dimanfaatkan. Coba lain kali jangan pakai perasaan, kamu harus bisa tegas.” “Tapi dia kan masih kecil, Ella mana tega begitu,” jawab Sheilla. Kemudian memegang sudut jaket Gandi disertai raut wajah memelasnya. “Gandi jangan marah sama Ella dong, nanti Ela sedih banget tahu.” Gandi tidak menjawab, membuat Sheilla sedih dan merasa bersalah sendiri. “Gandi ....” “Aku nggak marah, cuma kecewa sama kamu,” ujar Gandi pada akhirnya dan berhasil membuat Sheilla berderai air mata dengan cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN