Kecemburuan Kecil

1887 Kata
Kim bertahan di kamar putranya setelah kepergian Sheilla. Perasaannya tidak menentu saat ini, ada rasa tidak nyaman tanpa alasan di dadanya yang tidak bisa dia temukan jawabannya. Di depannya, Woo Jin tampak terlelap tenang. Wajah pucatnya yang sedikit berkeringat membuat Kim memiliki kecemasan tersendiri yang sulit untuk dijelaskan. Mungkin saja dia memang terlalu perasa untuk urusan Woo Jin, termasuk saat ingatannya berpindah pada perlakuan hangat Sheilla pada putranya beberapa waktu sebelumnya. Gadis itu begitu peduli kepada Woo Jin walau mereka terbilang masih baru mengenal satu sama lain. Di sisi lainnya, Kim pun melihat perubahan sikap Woo Jin ketika bersama Sheilla. Dalam ingatannya sejauh ini, anak itu agak sulit bercerita atau mengutarakan perasaannya. Dia cenderung diam, paling tidak suka berkata banyak jika benar-benar ada yang mengganjal dalam hatinya. Bahkan sering kali Kim harus memutar pikiran dan menari cara agar anaknya mau bercerita. Namun, Sheilla bisa menangani itu. Dia mampu memberikan kenyamanan walau Woo Jin tidak berkata banyak mengenai kegelisahannya. “Tapi kalau kamu merasa ingin menangis karena hal itu, keluarkanlah. Atau kamu bisa cari kakak, kakak akan temani kamu.” Ujaran Sheilla terngiang jelas di telinga Kim, belum lagi kelembutan perlakuannya terhadap Woo Jin yang sempat dilihatnya dari ambang pintu. Selama ini Kim sendiri tidak pernah berkata demikian untuk Woo Jin. Kim merasa, semakin ke sini dia semakin sadar bahwa peran menjadi seorang ibu tidaklah mudah. “Lagi-lagi aku hanya mengingatnya ....” Kim mengusap wajah pelan, dia berusaha menghindari pikiran terhadap Sheilla. Sudah berulang kali bayangan gadis itu seperti penyusup yang masuk dalam kepalanya. Namun, beberapa saat kemudian Kim teringat sekarang Sheilla tengah bertemu sahabatnya. Hati lelaki jangkung itu mendadak tidak nyaman, entah kenapa kegelisahan itu terus datang mengingat mereka hanya berdua saja. “Kau ini bodoh sekali!” Kim geram sendiri, akhirnya dia beranjak dari kursi dan memastikan Woo Jin tidur nyaman di kasurnya sebelum pergi. Kim pun keluar rumah dan menuruni anak tangga, dia lihat tokonya sudah mulai sepi pengunjung karena masuk jam pulang. Kim pun meneruskan langkahnya ke tempat Sheilla berada, hingga kedua mata sehatnya itu melihat langsung keakraban Sheilla dan Gandi di ruang kecil tersebut. Mulai ada letupan-letupan kecil kemarahan Kim tanpa diundang, dia amat tidak menyukai pemandangan ini dan membuatnya menyesal karena sudah datang memeriksa. “Menyebalkan sekali ...” Kim mengerang kecil, dia geram sendiri karena tidak bisa mengontrol emosinya melihat pemandangan itu. *** Satu jam berlalu. Gandi masih berada di tempat Sheilla dan berencana akan pulang malam nanti. Perjalanan dari kota tempat Sheilla berada sekarang memang cukup jauh, memakan waktu satu jam untuk sampai. Namun, pemuda itu seperti tidak peduli siang atau malam. Sheilla cukup mengerti, kesempatan mereka bertemu hanya sebentar. Gandi tetaplah Gandi, si anak semata wayang kesayangan ayahnya yang melarang berteman dengan Sheilla. Sampai detik ini, Sheilla terkadang bingung menghadapi keseriusan pemuda yang terus saja ingin menjadi sahabatnya dalam suka dan duka itu. Ah, ya. Karena sudah terlalu dekat, sejak dulu Sheilla selalu bersikap manja pada Gandi. Sheilla merasa nyaman berada dekat dengan pemuda itu, sebab Gandi sudah seperti seorang kakak sekaligus saudara yang ada dalam harapannya. Gandi sering mengusap puncak rambut Sheilla saat menangis atau senang, sering juga berada di posisi paling depan saat Sheilla diganggu oleh orang lain. Sheilla benar-benar dibuat merasa diberi perlindungan oleh pemuda tersebut. Namun, setelah Sheilla mendapat omelan dari Kim, dia mulai berpikir. Apa dia benar-benar sudah salah memeluk Gandi? Apa benar itu terlihat seperti tidak memiliki harga diri? “La, apa kamu beneran betah tinggal di sini?” tanya Gandi. Lamunan Sheilla langsung buyar, dia hampir saja lupa kalau Gandi masih ada bersamanya sekarang. “Ella betah, kok. Memangnya kenapa, Gan?” “Ah, enggak. Cuma mau memastikan saja. Aku khawatir kamu di sini dijahati orang. Kalau di desa masih ada aku yang akan bela, kamu ada di sini aku bisa apa? Kita jadi jauh begini, aku nggak bisa memastikan kamu baik-baik saja, La.” “Ella baik-baik saja, Gandi nggak perlu khawatir. Kamu kayak nggak tahu Ella saja, Ella nggak akan pernah menyerah dalam keadaan apa pun,” ujar Sheilla. Dia mengerti kekhawatiran Gandi padanya, tapi tetap tidak mau terlalu sering merepotkan pemuda itu. “Mulut dan hati kadang nggak sejalan, La. Justru karena aku tahu kamu, makanya aku tanya terus-menerus soal keseriusan kamu.” Sheilla tersenyum tipis. “Ella serius, Gan. Ella harus bisa mandiri dan nggak bergantung terus sama kamu. Ke depannya kamu juga akan punya kehidupan lain, punya pacar, terus menikah dan punya anak. Kalau nggak belajar dari sekarang, mau dimulai kapan? Usia kita juga semakin bertambah, lambat laun semuanya akan berubah.” “Kamu berpikir sampai sejauh itu, La?” Sheilla mengangguk pelan. “Gandi sekarang sudah punya pacar? Ella dengar kamu lagi didekatkan sama yang namanya Rumi. Ayah kamu pintar cari gadis cantik, ya. Kamu pasti suka sama Rumi, dia cantik dan berpendidikan. Siapa lelaki yang nggak suka?” Gandi sedikit terperanjat. “Dari mana kamu tahu? Aku nggak pernah tuh suka sama si Rumi!” ujarnya sedikit sewot. “Banyak tetangga yang ngomong. Sudah jadi rahasia umum juga, tapi Ella malas bahas saja kemarin-kemarin. Nanti kalau Ella kepo, malah disangka mau ikut campur urusan ayah kamu,” jawab Sheilla. Dia pun kemudian menatap Gandi disertai senyum lebarnya. “Kalau suka juga nggak apa-apa kali. Rumi itu cantik, cocok sama sahabatku yang paling ganteng ini!” Gandi berdecap, kesal. “Aku sudah cinta sama orang lain, mana bisa suka sama dia, asal kamu tahu itu,” jawabnya tegas dan membuat kening Sheilla seketika mengernyit. “Cinta sama orang lain? Siapa?” tanya Sheilla sangat penasaran. Selama dia bersahabat dengan Gandi, tidak pernah sekalipun terdengar pemuda itu menyebut nama seorang gadis, atau berpacaran dengannya. Ini adalah momen langka yang diberikan Gandi, di mana Sheilla akhirnya bisa tahu siapa gadis idaman sahabatnya. Sementara itu Gandi tidak menjawab, bibirnya cukup rapat untuk mengatakan kejujuran itu. “Gandi, ayo cepat bilang siapa orangnya? Apa Ella kenal? Aahh ... dia pasti sangat cantik sampai bisa memikat hati kamu.” Sheilla gemas sendiri karena Gandi masih tidak mau menjawab. Brak! Sheilla dan Gandi dibuat terkejut bersamaan ketika mendengar sebuah suara entakkan telapak tangan di daun pintu kamar. Di sana, terlihat sosok lelaki bertubuh jangkung dengan tatapan dinginnya yang khas ke arah Sheilla. Pintu tempat Sheilla tidur memang sengaja dibuka agar tidak menimbulkan fitnah, tapi majikannya itu mengeluarkan sedikit tenaga hanya untuk menggedor pintu. Hal tersebut membuat Sheilla bingung sendiri. “Tuan?” Sheilla yang duduk di atas karpet pun lantas beranjak dengan cepat. “Maaf, di sini Ella sama Gandi nggak lagi ngapa-ngapain, kok. Tuan jangan salah paham, ya.“ “Bukan itu ... saya cuma mau memintamu mencarikan kemeja batik saya. Besok mau saya pakai.” Sheilla mengernyit. “Kemeja batik? Bukannya itu sudah Ella simpan di lemari?” “Saya tidak menemukan itu. Cepatlah cari sekarang!” “Tapi nanti Gandi gimana?” tanya Sheilla pada Kim, tetapi lelaki itu hanya memberikan tatapan datar seakan tidak ingin dibantah. “Iya, iya. Ella cari sekarang.” Sheilla pun melihat ke arah Gandi sebentar. “Gandi tunggu di sini dulu, ya. Ella nggak akan lama, kok,” ujarnya kemudian. Dia merasa tidak enak meninggalkan sahabatnya yang sudah jauh-jauh datang itu, tapi perintah Kim adalah kewajiban baginya sekarang. “Iya, aku tunggu.” Gandi mengeluarkan senyum terpaksa. Sheilla pun berjalan mengikuti langkah lebar Kim ke arah rumah. Lalu mencari kemeja yang dimaksud oleh majikannya itu dalam lemari pakaian. Namun, Sheilla ternyata tidak menemukannya, padahal dia ingat betul sudah mencuci hingga menyetrikanya sangat rapi. Sheilla mencari sampai ke lemari yang lain, tapi tetap tidak menemukannya. Kim pun membuntutinya sampai ke arah sebuah tempat di mana Sheilla biasa menyimpan pakaian kering yang akan disetrika, hasilnya tetap nihil. Alhasil Sheilla hampir putus asa mencari. Tempat terakhir yang diperiksanya adalah mesin cuci, lalu ternyata kemeja itu ada di sana dalam kondisi basah dan kotor. “Ella ingat kalau sudah disimpan di lemari. Tapi kenapa jadi ada di sini, ya? Mana kotor banget lagi.” Sheilla mengeluh sambil membuka lebar kemeja Kim yang kotor tersebut. “Jadi menurutmu pakaian itu lari sendiri ke tempat ini, begitu?” “Ya, ampun. Tuan ngomongnya horor banget! Ya, bukan begitu juga maksud Ella.” “Lalu?” Sheilla jadi berpikir keras bagaimana bisa pakaian ini sampai ada di mesin cuci kembali. Namun, dia tidak bisa memikirkan apa pun. “Iya, deh. Mungkin Ella yang lupa cuci. Nanti Ella cuci lagi, ya. Tapi sekarang Ella mau pulang dulu, takut Gandi nunggu lama,” ujar Sheilla. “Eh, siapa bilang kamu boleh pergi? Cuci dulu sampai bersih, lalu keringkan itu. Bukannya sudah saya katakan mau memakainya besok? Lupa?” “Tapi masalahnya Gandi nanti—“ “Cuci itu sekarang, saya tidak suka banyak alasan.” Sesudah mengatakan perintahnya. Kim langsung melenggang pergi meninggalkan Sheilla dan duduk di sebuah kursi agar bisa memastikan gadis itu mengerjakan perintahnya. Sementara itu Sheilla terpaksa melaksanakan perintah dari Kim. Dia tidak tahan karena Kim terus mengawasinya. Di sisi lain, dia juga tidak tenang karena teringat Gandi. “Semoga saja Gandi nggak marah sama Ella ... aaah! Tuan lagi kerasukan apa sih, hari ini?!” Sheilla membatin sambil mencuci manual dengan tangan kemeja Kim di kamar mandi. Usai memastikan kemeja tersebut benar-benar bersih dan kering, Sheilla segera menghampiri Kim yang masih duduk santai di kursinya bersama sebuah ponsel di tangan. Lelaki itu baru menoleh ketika Sheilla berada dalam jarak dekat. “Sudah Ella jemur pakaiannya. Apa sekarang Ella boleh pergi?” tanya Sheilla. “Hmh ... tapi tolong buatkan saya minuman dulu. Saya mau meminum teh jahe hangat.” Kim berkata datar sambil tetap memainkan ponselnya. “I—iya, Tuan.” Sheilla langsung berlari cepat ke arah dapur dan membuatkan pesanan Kim. Segelas teh jahe hangat dibuatkannya, lalu diantarkan ke tempat majikannya berada. “Ini teh jahenya. Apa sekarang Ella boleh pergi?” “Silakan ....” Sheilla tersenyum lega, akhirnya dia bisa juga menemui Gandi. “Makasih banyak, Tuan! Ella pergi dulu, ya!” “Appa ... Appa!” Kim dan Sheilla menoleh bersamaan ketika mendengar Woo Jin berteriak dari kamarnya. Kim merespons paling cepat dengan lebih dulu melangkah menghampiri putranya, sementara Sheilla pun mendadak mengikuti tanpa berpikir panjang lagi. Sheilla lupa, jika ada yang menunggunya di luar sana. Sesampainya di kamar, Woo Jin menangis kecil di atas kasurnya. Anak lelaki tersebut tampak memuntahkan makanan yang ditelannya beberapa waktu lalu. Hal itu tentu saja membuat Kim dan Sheilla cemas bukan main. “Appa, perutku sakit.” Woo Jin masih merintih dan menangis sambil memegangi perut ketika Kim berada di dekatnya. “Mual banget rasanya.” “Kita pergi ke dokter sekarang, ya. Kamu harus turuti appa,” ujar Kim, lalu disambut anggukan kecil Woo Jin. “Tunggu sebentar, kamu harus tetap hangat sebelum pergi.” Sheilla pun tidak tinggal diam, dia mengambil minyak kayu putih dan langsung membalurkannya ke area perut, d**a, hingga punggung kecil Woo Jin. Tidak lupa sebuah jaket dipakaikannya agar anak itu tetap hangat. “Tolong kamu bersihkan ini, saya akan membawanya ke klinik terdekat dulu,” ujar Kim kepada Sheilla seraya menggendong Woo Jin di kedua lengannya. Sheilla hanya mengangguk pelan, hingga dia lihat langkah cepat Kim sudah membawa Woo Jin keluar dari kamar. “Apa dia akan baik-baik saja? Ella jadi nggak tenang begini.” Gumam Sheilla saat sedang membersihkan kotoran dari muntahan Woo Jin di lantai. Dia tidak merasa jijik sama sekali, malah terus terpikir bagaimana keadaan anak itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN