Gadis itu mengernyit mendengar sebuah kalimat langka yang dilontarkan Kim padanya. Hal tersebut cukup membuat heran karena Kim terus bersikap dingin. Sheilla berpikir Kim tidak pernah mengenal kata terima kasih dan maaf dalam hidupnya.
“Terima kasih buat apa?” tanya Sheilla.
“Untuk yang kamu lakukan hari ini, saya tidak tahu lagi kalau sampai tidak ada kamu di jalan tadi. Saya pasti akan menyesal seumur hidup.”
Sheilla tersenyum.
“Ah, itu. Sama-sama, Tuan. Ella cuma kebetulan lewat juga tadi,” jawabnya kepada Kim. “Yang penting sejarang Woo Jin sudah bisa tidur, nanti Ella buatkan bubur untuk makan malamnya, ya. Apa Woo Jin suka bubur?”
Kim mengangguk pelan.
“Kalau begitu Ella pamit dulu, hampir saja lupa kalau Ella tadi diminta beli gorengan sama teman. Mereka sudah menunggu lama.”
Kim tidak menjawab, tapi dia mulai menyingkirkan tubuhnya dari hadapan Sheilla. Namun, baru beberapa langkah diambilnya, Kim kembali memanggil.
“Sheilla!”
Sheilla menoleh. Dia kembali tersenyum, rasanya senang sekali saat ada orang yang memanggil namanya dengan lengkap seperti ini. Kim adalah satu-satunya orang yang terus memanggilnya begitu.
“Sejak kapan kamu menggunakannya?”
“Maksud Tuan? Menggunakan apa?” Sheilla sedikit mengernyit.
“Wajah dan rambutmu itu, kamu pantas memakainya.”
Senyum Sheilla melebar, dia pun mengusap lembut pipinya dengan tangan. Kemudian menatap ke arah Kim, malu-malu. Walau tidak secara langsung lelaki itu memuji Sheilla cantik, tapi ucapannya sudah cukup membuat gadis polos di hadapannya bahagia.
“Benarkah? Apa sangat pantas?” tanya Sheilla memancing agar Kim memujinya.
“Ya.” Kim menjawab singkat, padat, dan jelas.
Setelah menunggu beberapa detik, ternyata Kim tidak melanjutkan ucapannya lagi. Sheilla maklum, orang dengan sifat dingin cenderung datar itu tidak mungkin juga akan bereaksi lebih dalam hal-hal semacam ini.
Sheilla menghela napas, pelan. “Terima kasih. Tapi ... apa Ella boleh minta sesuatu?”
“Katakanlah.”
“Ella boleh minta gaji di depang, nggak? Uang pegangan Ella tinggal sedikit lagi, takut nggak cukup buat sebulan.” Sheilla sebenarnya ragu sekaligus malu untuk mengatakan ini, tapi dia tidak ada pilihan lain. Lama-kelamaan uangnya akan habis terpakai, dia juga akan lebih tidak enak jika harus meminjam kepada teman barunya.
“Hmh, baiklah. Tunggu sebentar ....”
Sheilla hanya mengangguk pelan, dia menunggu di tempatnya sampai Kim kembali dengan membawa sebuah amplop berwarna cokelat. Kim pun langsung memberikannya setelah dihitung kembali dan dirasa cukup.
“Pergunakanlah dengan baik.”
“Ah ... Tuan baik sekali! Terima kasih banyak, ya!” Sheilla terlonjak senang. Bagaimana tidak? Seumur-umur dalam hidupnya, tidak pernah dia memegang uang berjuta-juta begini. “Pokoknya kalau Tuan butuh apa-apa, jangan sungkan panggil Ella! Ella pasti datang buat Tuan.”
Kim tidak menjawab dengan sebuah kalimat, dia hanya menggunakan sebuah kode dengan tangan agar Shella cepat pergi dari hadapannya. Gadis itu pun menurut saja, Sheilla tampaknya bergembira sekali sampai meloncat-loncat kecil saat berjalan.
Kim yang melihat tingkah lugu Sheilla dibuat tersenyum setelah gadis itu menghilang dari pandangan. Namun, senyum tersebut ternyata tidak hilang dalam beberapa detik ketika ingatannya kembali tertuju kepada wajah cantik Sheilla hari ini. Mata bulat besar yang indah menggunakan lensa berwarna kecokelatan, rambut panjangnya yang disulap menjadi lebih segar dan enak dipandang. Dipadu polesan make up sesuai jenis warna kulitnya yang sedikit gelap, semua itu mengingatkan Kim pada riasan seorang wanita terpenting dalam hidupnya ... ya, dia adalah Anita.
“Apa yang sedang kupikirkan sekarang?” Kim buru-buru menyadarkan diri. Menghentikan pemikirannya kepada Sheilla dan memilih membuka pintu kamar Woo Jin untuk memastikan keadaan putranya. Dia harus tetap ingat bahwa di kehidupannya sekarang ada seorang gadis yang sudah menjalin hubungan dengannya selama berbulan-bulan, itu adalah Rin.
***
Sore harinya, Sheilla kembali berada di rumah Kim untuk menyelesaikan pekerjaan hari ini. Pakaian yang menunggu disetrika, lantai yang ingin dibersihkan, dan pekerjaan lainnya diselesaikan Sheilla dengan cepat. Namun, meskipun jam kerjanya sudah habis dia masih berada di rumah Kim untuk merawat Woo Jin.
Sheilla merasa dia ada tanggung jawab kepada anak lelaki tersebut. Melihat Woo Jin yang sedang sakit, anak itu pasti membutuhkan uluran tangan seorang wanita dewasa di dekatnya. Sheilla bisa mengerti semua itu karena lebih dulu berada di posisi Woo Jin yang kehilangan ibu sejak kecil.
Sekarang, Sheilla sengaja memasak bubur lebih awal agar Woo Jin bisa memakan itu kapan pun yang diinginkannya. Gadis tersebut cukup khawatir karena siang tadi Woo Jin hanya makan sedikit.
“Woo Jin, apa kakak boleh masuk?” tanya Sheilla sambil mengetuk pintu kamar Woo Jin.
“Masuk saja, nggak dikunci juga.”
Sheilla membuka pintu perlahan disertai senyum manisnya ketika melihat anak itu sedang bersandar di tepian tempat tidurnya.
“Hai, Kakak Cantik. Bawa apa lagi sekarang?” tanya Woo Jin. Sebab sebelumnya Sheilla sering datang dengan membawa makanan untuknya seperti biskuit, wafel, teh manis, hingga kue nastar.
“Bawain kamu bubur, ini baru banget matang. Dimakan ya, mumpung masih hangat.” Sheilla duduk di tepian tempat tidur Woo Jin. Anak itu tidak protes sama sekali, bibir pucatnya tampak memaksa tersenyum setelah mendapat perhatian dari Sheilla.
“Aku belum lapar, Kak. Simpan dulu saja, nanti aku makan kalau sudah lapar.”
“Belum lapar gimana? Kakak bawain kamu makanan dari tadi, nggak ada tuh yang kamu makan,” ujar Sheilla. Kemudian mengambilkan sesendok bubur untuk Woo Jin. “Kakak yang suapin biar kau makan banyak. Ini enak banget tahu.”
“Lagi nggak mau makan, Kak.”
“Kamu mau bikin kakak sedih?”
“Sedih kenapa?”
“Sedih ... kakak sudah bikin bubur ini selama satu jam lebih pakai perasaan dan cinta, tapi kamu nggak mau makan. Kakak jadi sedih tahu,” ujar Sheilla. Dia memasang wajah sedih di hadapan Woo Jin. “Betulan nggak mau dimakan, nih? Kakak pergi saja kalau begitu—“
“Eh, iya jangan pergi juga dong. Aku mau makan deh,” sela Woo Jin seraya menahan gerak tubuh Sheilla yang ingin pergi.
“Nah, kalau begitu kan, asyik! Makan sampai habis, ya.” Sheilla mulai menyuapi Woo Jin sampai beberapa sendok bubur tertelan oleh anak itu. “Gimana? Enak, kan?”
Woo Jin mengangguk pelan.
“Oh, ya. Kakak baru ingat mau menanyakan ini sama kamu. Kemarin-kemarin kamu sempat undang kakak ke sekolah, katanya ada lomba baca puisi. Kenapa nggak jadi?”
“Oh ... itu. Aku mengundurkan diri jadi peserta lomba.”
Sheilla mengernyit. “Mengundurkan diri? Kenapa? Jangan bilang kalau kamu menyerah sebelum tampil.” Dia penasaran, sebab terakhir kali Woo Jin begitu bersemangat mengajaknya. Sekarang anak itu malah kelihatan murung ketika membahas hal ini.
“Aku emang nggak bisa dan menyerah duluan. Karena isi puisinya harus tentang ibu, aku mana tahu yang begitu. Anak-anak lain enak ada ibu, mereka bisa tulis apa saja tentang senangnya punya ibu. Aku nggak punya, jadi apa yang mau kutulis?”
Pergerakan tangan Sheilla melambat, hatinya mendadak perih mendengar ungkapan Woo Jin yang sebenarnya. Anak lelaki tampan itu sangat malang, tidak tahu rasanya peluk cium dari seseorang yang sangat berarti dalam kehidupannya.
Raut wajah murung Woo Jin terus menyadarkan Sheilla. Bahwa mereka memiliki keadaan hati serupa. Mereka seakan haus akan kasih sayang yang tidak akan pernah didapat selama sisa hidup dari seorang ibu. Orang lain mungkin bisa mengaku mampu menggantikan, tapi rasanya tidak akan pernah sama.
“Apa kamu masih bersedih karena itu?” tanya Sheilla.
“Cuma sedikit.” Woo Jin menjawab singkat.
Namun, Sheilla mengerti Woo Jin merasakan sedih lebih dari pada ucapannya. Dia pun menaruh buburnya di atas meja, lalu ingin merengkuh tubuh kecil anak itu.
“Kemarilah.” Sheilla menarik pelan Woo Jin agar lebih dekat dengannya, hingga dia bisa lebih leluasa memeluknya dengan dialiri kasih sayang tulus. “Sedih yang banyak juga nggak apa-apa. Kakak temani sampai kesedihan kamu berkurang dan menghilang. Anak-anak seperti kita itu spesial, apa kamu tahu itu?”
“Spesial? Sungguh?” Woo Jin bertanya dengan suaranya yang mulai gemetar. Tangis kecilnya tidak terbendung lagi ketika ada orang yang memberi perhatian padanya sampai sejauh ini.
“Ya, spesial. Karena kita bisa lebih kuat dari mereka yang memiliki ibu, kita bisa melakukan apa pun sendiri yang bahkan anak-anak lain tidak bisa melakukannya. Jadi jangan bersedih atau putus asa karena hal ini lagi, ya. Tapi kalau kamu merasa ingin menangis karena itu, keluarkanlah. Atau cari kakak kapan pun itu, kakak akan temani kamu,” ujar Sheilla berusaha membuat beban di hati anak ini berkurang. Dia terus mengusap punggung kecilnya, kemudian memberi sebuah kecuppan singkat di puncak kepalanya.
Sheilla juga ikut tersentuh dan menangis walau tidak tersedu seperti Woo Jin.
“Apa kamu mengerti itu?” tanya Sheilla sambil melepaskan pelukannya, lalu menyeka basah air mata di pipi putra majikannya.
“Iya, aku mengerti.”
“Syukurlah.” Sheilla tersenyum lega. “Kakak senang kalau kamu mau berbagi kesedihan dan kesenangan ke kakak. Pokoknya kamu jangan sungkan cari kakak, ya.”
Woo Jin mengangguk pelan, senyumnya mulai mengembang kembali. Kesedihannya pun terhapus seketika. Dia bahagia, ternyata masih ada orang yang peduli padanya dengan tulus selain sang ayah.
“Apa kau sudah selesai makan?”
Suara Kim mendadak muncul dari ambang pintu.
Sheilla dan Woo Jin pun menoleh bersamaan, mereka lihat lelaki berusia 33 tahun tersebut menenteng sebuah kantung plastik berisi makanan. Sheilla ingat, sebelum ini Kim sempat berpamitan untuk membeli roti tawar dan selai cokelat di minimarket.
Sheilla lantas beranjak dari tempat tidur karena Kim terus menatapnya tanpa cela. Entah dia melakukan kesalahan apa lagi, tatapan datar majikannya itu bisa memiliki banyak arti.
“Sebenarnya belum. Tapi karena Tuan sudah datang, Ella akan pergi. Permisi ....”
“Kakak mau pulang, ya? Apa nggak bisa tidur di sini semalam? Aku mau ditemani Kakak,” ujar Woo Jin sekaligus bertanya.
“Biar appa yang menemanimu, dia tetap harus pulang. Kalian bisa bertemu lagi besok,” jawab Kim menyela. “Sekarang kamu pergilah. Ada yang mencarimu di depan toko kosmetik.”
“Cari Ella? Siapa?”
“Mana saya tahu. Cepatlah pergi!”
Sheilla pun mengangguk dan segera pergi ke arah luar rumah. Dia penasaran siapa yang mencarinya, mengingat hanya sedikit orang mengenalinya di tempat ini. Langkah Sheilla akhirnya sampai di depan toko kosmetik.
Di sana, Sheilla bisa melihat sebuah motor sport berwarna hitam terparkir dengan seorang pemuda berjaket denim di sampingnya sedang mengok ponsel. Debar jantung Sheilla mendadak cepat, langkahnya segera mendekati pemuda yang tidak lain tidak bukan adalah Gandi.
“Gandi?!” seru Sheilla keras hingga Gandi menoleh. Pemuda itu tersenyum lebar, apalagi saat Sheilla menyambar tubuh jangkungnya dengan pelukan. “Gandi datang ke sini? Cari Ella, ya?”
“Siapa bilang cari kamu? Jangan geer!” Gandi sengaja melepas pelukan Sheilla padanya.
“Terus cari apa atuh di depan toko kosmetik? Kamu mau beli bedak?”
Gandi tertawa renyah. “Iya, iya. Aku lagi cari orang yang namanya Sheilla Khairina. Apa ada?”
“Ada! Ini yang di depan kamu, sih?”
“Ini mah, bukan Ella. Kamu siapa coba? Ella yang kukenal nggak cantik—“
“Gandiiii ....” Sheilla mencubit kecil pinggang pemuda itu hingga Gandi sedikit meringis kesakitan.
“Eh, iya, iya, iya. Kamu cantik, pake banget! Kalah artis-artis Korea sama kamu!” ujar Gandi.
“Beneran?” tanya Sheilla. Sekarang pemuda itu malah menatapnya tanpa berkedip, Sheilla jadi salah tingkah sendiri. “Gandi kenapa lihat Ella begitu? Kalau mau minta tanda tangan tinggal bilang, nanti Ella kasih satu buku tanda tangan Ella semua.”
Kali ini Gandi hanya terkekeh kecil. Kemudian memutus pandangan dari wajah cantik Sheilla. “Aku jauh-jauh ke sini bukan buat minta tanda tangan. Tapi mau ketemu sama sahabatku yang hilang di kota.”
“Aku nggak hilang!”
“Nggak hilang, terus kenapa nggak pulang ke desa? Aku pikir kamu lupa sama aku sampai nggak kasih kabar sama sekali. Padahal kamu punya nomer hp ku, kan? Kenapa nggak telpon?"
Sheilla menghela napas pelan, dia memang merasa belum mengabari Gandi soal keberadaan dan kabarnya sekarang. Sampai Gandi datang ke tempat ini hanya untuk mencarinya, Sheilla benar-benar merasa dipedulikan.
“Maaf, Ella di sini nggak tahu mau menghubungi pakai apa. Tapi apa kamu tahu? Sekarang Ella punya teman! Mereka baik banget sama Ella, Gan.”
“Kebaikan mereka nggak akan sama kayak aku, La.”
Sheilla cemberut, tapi tidak marah karena Gandi terus membanggakan dirinya. “Ya, sudah. Gimana kalau kita cari tempat buat ngobrol. Gandi pasti cape banget habis nyetir jauh,” ajak Sheilla.
Sheilla pun membawa Gandi ke tempat tinggalnya di belakang toko. Sebuah tempat terpencil dan cukup kecil itu adalah pilihan terbaiknya untuk saat ini, hingga mereka bisa mengobrol banyak setelah hampir 3 minggu terpisah.
Gandi mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tinggal Sheilla, ukurannya hampir sama dengan rumah Sheilla sebelumnya. Namun, ini lebih baik karena tidak ada atap berlubang, atau dinding yang terbuat dari anyaman.
“Sempit, ya tempatnya. Tapi di sini Ella tinggal gratis, Tuan Kim kasih izin Ella menempatinya. Tuan Kim orangnya baik, walau ekspresinya datar-datar saja kalau ngobrol,” ujar Sheilla sambil membersihkan karpet yang akan diduduki Gandi.
“Apa tuanmu itu orang messum?”
“Heh?! Gandi, ih. Kenapa ngomong begitu?”
“Ya siapa tahu, kan? Aku dengar dia duda anak satu. Biasanya duda itu semuanya messum kalau lihat cewek cantik, apalagi polosnya minta ampun kayak kamu.”
Sheilla cemberut, lalu ingin mengambil dompet yang ada dalam lemarinya. Namun, dia baru ingat dompetnya tertinggal di keranjang baju rumah majikannya. “Tuan Kim nggak begitu. Dia orangnya sopan, kok. Ella suka kerja di sini,” ujarnya. “Ella pergi keluar sebentar ya, mau cari camilan sama minuman buat kamu. Awas jangan pergi ke mana-mana!”
Sheilla pun melangkah pergi meninggalkan Gandi di sana, berniat mencari makanan kecil dan minuman di minimarket terdekat kalau sudah mengambil dompet di rumah Kim. Langkahnya terburu-buru karena tidak ingin membuat Gandi menunggu lama, terlebih dia juga ingin bercerita banyak kepada sahabatnya itu.
“Kau ...”
“Astagfirullah, bikin kaget!” Sheilla mengelus dadanya karena Kim mendadak muncul dari arah belakang. Dia lihat Kim berdiri sambil melempar tatapan datarnya yang khas, mengerikan. “Kenapa, Tuan? Apa Tuan butuh sesuatu?”
“Tidak, tapi saya tidak suka melihat sikapmu yang berlebihan itu.”
“Apa?” Sheilla mengernyit.
“Apa kamu tidak punya harga diri? Kenapa kamu sembarangan memeluk lelaki di depan umum seperti itu? Berlakulah sewajarnya saja, jangan menyambutnya berlebihan walau dia adalah sahabatmu! Kalau banyak orang yang melihat, apa tanggapan mereka nanti? Di sini tidak sama seperti di desa, semua kelakuan orang akan menjadi bahan gosip. Apa kamu mau digosipkan yang tidak-tidak seperti dulu?”
Sheilla terkejut. Sekalinya Kim berbicara sangat banyak, itu hanya karena dia melihatnya memeluk Gandi di depan toko. Usai berbicara, Kim lantas meninggalkan Sheilla begitu saja sambil menggerutu kecil.
“Menyebalkan sekali.”
Kalimat tersebut masih terdengar oleh Sheilla dari mulut Kim. Namun, Sheilla hanya terdiam karena terlalu kaget mendengar omelan pria dingin itu.