Beberapa hari berlalu bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga, Sheilla sudah mulai bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Di sela-sela kesibukannya bekerja, Sheilla juga mulai mendapat teman dari para pegawai toko yang dimiliki oleh Kim. Pembawaannya yang memang selalu ramah terhadap semua orang membuatnya tidak kesulitan berbaur dengan yang lain. Mereka yang melihatnya, bisa menerima Sheilla dengan baik.
Seperti sekarang, Sheilla yang merasa pekerjaannya selesai pun iseng mendatangi toko kosmetik milik Kim. Di sana, ada beberapa orang yang bekerja. Di antaranya adalah Yuni, Rima, Indi dan Zena.
“Ella! Ke sini, cepatlah!” seru seorang gadis bernama Yuni ketika melihat kedatangan Sheilla di pintu toko kosmetik.
“Ok, hadir!” Sheilla pun berlari kecil menghampiri mereka yang tengah mengobrol sambil menjaga toko. Satu-satunya pemuda di antara mereka pun melihat Sheilla dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu memberikan komentarnya.
“Nah, kan. Udah gua bilang kalau dia tuh dasarnya putih, coba kalau dia rutin pakai body lotion nggak akan begini ceritanya ye, kan.” Indi tiba-tiba memegang lengan Sheilla dan menunjukkannya kepada teman yang lain.
“Hah? Maksudnya apa? Ella nggak ngerti.” Sheilla sedikit mengernyit, dia memang merasa kulitnya gelap karena terlalu sering berada di bawah sinar matahari. Berjualan keliling desa sampai barang dagangannya habis adalah yang paling penting dibandingkan memikirkan warna kulit.
“Maksudnya, kamu itu cantik, Ella. Coba lain kali kamu dandan pakai make up, pakai hand body, siapa tahu nanti kamu dapat jodoh orang ganteng dan kaya raya. Iya nggak?” sambut Yuni kepada Sheilla.
Sheilla hanya bisa tersenyum tipis menanggapinya, dia tidak bercerita sama sekali tentang pengalaman pahitnya menikah dengan seorang lelaki. Bahkan sampai sekarang, rasanya dia tidak bersemangat lagi mencari jodoh untuknya.
“Heh! Siapa bilang dia boleh ketemu cowok lain? Dia udah gua andain sebagai calon bini.” Indi pun tersenyum manis kepada Sheilla. “Sekarang kamu bilang aja mau make up jenis apa, aku beliin! Tinggal tunjuk aja mau yang mana.”
Pemuda berusia 23 tahun tersebut sedikit menggoda Sheilla, membuat orang di sekitarnya tertawa renyah. Mereka merasa lucu sebab Indi adalah pemuda dengan kepribadian yang mengarah kepada perempuan. Memiliki tubuh tinggi kurus berwarna kulit kecokelatan dengan rambut ikal tidak menghalanginya untuk membeli produk kosmetik perempuan.
“Bibi lu aja masih licin gitu, Anjir. Yang ada nanti elu malah saingan sama Ella siapa yang paling jago ngedempul!” seru Zena bersama tawa renyahnya.
“Bestie koplak, lu emang nggak ngedukung banget lu sama gua!”
Sheilla pun ikut tertawa kecil melihat tingkah mereka. Ini seperti mimpi, dia memiliki banyak teman yang tidak menjauhinya karena sebuah kutukan. Di desa tempat tinggalnya, Sheilla termasuk orang yang tidak memiliki teman sebaya kecuali Gandi.
“Ella nggak ngerti pakai make up. Makanya Ella nggak pernah pakai, lagi pula Ella juga nggak terlalu berminat pakai yang begituan,” ujar Sheilla.
“Belum berminat karena belum terbiasa, Ella. Apa kamu mau mencobanya? Aku pengen lihat kamu pakai make up. Pasti cantik banget,” balas Rima seraya menggenggam tangan Sheilla.
“Coba apa? Tapi Ella nggak punya make up.”
“Masalah gampang itu,” jawab Rima, kemudian menoleh ke arah Indi. “Zena, keluarin harta karunmu!”
“Ahsiap!”
Sheilla bingung sendiri, dia pun dituntun duduk di sebuah kursi, sementara mereka mengambil Zena mengambil kosmetik terlengkap miliknya. Tidak lupa dia pun mengambil spons baru untuk bedak yang akan digunakannya nanti.
Sekarang Sheilla merasa seperti bahan percobaan teman-teman barunya itu. Wajah dan rambutnya dipermak habis, padahal dia sama sekali tidak pernah terbiasa memoles wajah selama ini.
Apa ini yang dinamakan berteman? Sheilla akhirnya bisa merasakan kebahagiaannya, satu hal yang tidak pernah didapat selama tinggal di desa Sindang.
***
Sementara itu di tempat lain, Kim baru saja melihat putranya pulang dari sekolah. Namun, beberapa hari ini Kim seakan kehilangan keceriaan anak berkulit kuning langsat tersebut. Woo Jin jadi jarang berbicara jika di rumah, juga tidak meminta dibelikan es krim lagi seperti biasanya.
Anak itu masih menjaga jarak, entah apa penyebabnya.
“Apa hari ini sekolahmu lancar?” tanya Kim seraya mengambil alih tas milik Woo Jin ke tangannya.
“Biasa saja.”
“Oh ... kalau begitu apa ada PR hari ini? Biar nanti appa membantumu mengerjakannya.”
“Nggak perlu. Cuma PR Matematika, aku bisa kerjakan sendiri.” Woo Jin berbicara sambil membuka kulkas dan mengambil sebotol air minum di sana. Dia masih belum mau menoleh ke arah Kim, padahal sang ayah sudah mengikutinya sejak dari pintu depan.
“Baiklah, sekarang kamu ganti pakaian. Appa tunggu di meja makan, hari ini appa masak banyak khusus buat kamu,” ujar Kim seraya mengusap puncak rambut hitam putranya.
“Iya.” Woo Jin pun mengambil kembali tasnya yang dipegang oleh sang ayah. “Biar aku yang simpan, sekalian ke kamar.”
“Tunggu!” Kim menahan langkah Woo Jin. Dia memegang lengannya dan memastikan putranya tidak menghindar lagi. Namun, setelah itu Kim baru sadar ternyata anaknya sedang demam. Terbukti dari lengan Woo Jin yang mengeluarkan suhu hangat. “Ya, ampun. Kamu demam? Sejak kapan? Kenapa kamu tidak bilang ke appa kalau sedang sakit?”
“Nggak penting banget, sih. Cuma demam sedikit harus bilang Appa.”
“Tapi appa khawatir. Nanti kita ke dokter ya ....” Kim yang cemas kembali mengecek suhu tubuh anaknya, dan ternyata memang benar Woo Jin diserang demam. Namun, anak itu tidak lagi berkata banyak. “Kamu sebenarnya kenapa? Akhir-akhir ini kamu tidak pernah main, appa juga jarang melihatmu tersenyum untuk appa. Coba katakan yang sejujurnya yang kamu mau, biar appa bisa mengerti masalahnya.”
“Nggak ada masalah apa-apa, kok.”
“Tapi kemarin-kemarin kamu bilang kecewa sama appa, apa sekarang masih kecewa juga? Appa minta maaf kalau appa ada salah sama kamu, ya asal kamu jangan diamkan apa begini,” ujar Kim berusaha hati-hati dalam berbicara.
“Appa nggak salah, jangan minta maaf ke aku. Sekarang aku cuma lagi malas ngapa-ngapain ... ya, cuma itu.”
“Bohong sama appa, humh?” tanya Kim lebih dalam lagi. Dia tahu ketika Woo Jin berkata jujur atau berbohong, itu terlihat dari raut wajahnya yang masih tetap murung. Sekarang anaknya terdiam, seakan ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya.
“Aku cuma mau minta sesuatu, boleh nggak?” tanya Woo Jin balik.
“Katakanlah, appa akan melaukannya untukmu.”
“Jangan menikah sama Tante Rin, aku nggak suka.”
Tiba-tiba saja kalimat itu terlontar dari mulut sang anak, Kim hampir tidak percaya. Lelaki jangkung tersebut memang tidak pernah lupa bahwa Woo Jin selalu bersikap ketus setiap kali Rin datang, tapi tidak pernah sampai mengutarakan kejujuran yang memberatkan Kim ke depannya.
“Apa alasannya, humh? Tante Rin itu baik, dia menyayangi kamu seperti appa menyayangi kamu. Percayalah,” ujar Kim meyakinkan putranya sekali lagi.
“Aku tetap nggak suka Tante Rin,” jawab Woo Jin. “Aku nggak suka! Tante Rin nggak pernah sayang aku.”
“Kamu cuma belum mengenalnya, Sayang. Coba lain kali kamu bisa terbuka sama Tante Rin, kamu akan tahu kalau dia sebenarnya baik dan menyayangi kamu. Appa harap kamu bisa—“
“Aku bilang nggak suka ya, nggak suka. Aku nggak mau dipaksa!” Woo Jin melepaskan pegangan tangan Kim cukup kasar, kedua matanya pun mulai basah hingga air bening itu menetes banyak dari sana. “Appa masih mau menikah sama Tante Rin?”
“Woo Jin, dengarkan appa. Jangan marah begini, appa tahu kamu tidak suka. Tapi appa masih berharap kamu mau menerima Tante Rin untuk ke depannya. Kapan pun itu appa tunggu sampai kamu siap menerima Tante Rin di tengah-tengah kita berdua.” Kim memegang kedua bahu putranya, berusaha berbicara dari hati ke hati antara dia dan Woo Jin.
Walau Kim masih belum mencintai Rin sesungguhnya, tapi dia masih memiliki keyakinan cinta itu akan datang satu hari nanti selama mereka terus bersama. Menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain, juga saling melengkapi hati yang kosong.
“Appa jahat ....”
“Woo Jin—“
“Appa jahat, Appa jahat, Appa jahat!” Woo Jin berteriak keras sambil melempar tatapan tajam kepada sang ayah, sesudah itu berjalan cepat melewatinya begitu saja membawa kemarahannya.
Kalimat yang dilontarkan Woo Jin seakan bagai pisau tajam yang menghunjam d**a, ada rasa sakit yang teramat sangat di hati Kim, tapi kesakitan itu bukan berasal dari sebuah kebencian. Melainkan karena Kim sadar sudah salah mengambil arah pembicaraan mereka.
“Woo Jin ... Woo Jin!” Kim cemas. Dia pikir Woo Jin akan berlari ke arah kamarnya, tapi ternyata tidak. Anak itu melangkah pergi keluar rumah sambil menangis kencang. Kim segera menyusul, kecemasannya semakin menjadi besar ketika putranya berniat pergi ke luar gerbang toko.
“Woo Jin, berhenti!” Kim semakin mempercepat langkah menyusul Woo Jin, anak itu sepertinya sudah dikuasai kesedihan mendalam sampai mengabaikan keadaan sekitarnya. Bahkan dia tidak melihat ada banyak kendaraan lewat dengan kecepatan tinggi di jalan besar.
Woo Jin terus berlari menuju tengah jalan, air mata yang sudah banjir membuat pandangannya terhalang. Dia terlalu sedih karena sang ayah tidak mau mengerti permintaannya.
Kim melihat dari arah kanan putranya ada sebuah mobil kol buntung dengan kecepatan tinggi mengarah ke tubuh putranya. Dia pun menambah kecepatan berlarinya, dia berusaha meraih anak itu, tapi usahanya keburu didahului oleh seseorang.
Suara klakson berbunyi sangat keras dan panjang, belum lagi ada teriakan dari sang sopir yang memaki tidak jelas karena hampir menabrak seorang anak.
Sementara Woo Jin sekarang sudah berada di dalam dekapan seseorang. Anak itu masih menangis walau orang itu terus memeluknya sambil mengusap punggung kecilnya cukup sering agar bisa lebih tenang.
“Semuanya sudah baik-baik saja, jangan menangis lagi.”
Kim melihat orang itu tidak lain adalah Sheilla. Dia hampir tidak mengenalinya sebab rambut hitam lurus Sheilla sekarang sedikit keriting di ujungnya, belum lagi dengan polesan make up di wajahnya membuat aura kecantikan Sheilla muncul lebih tajam. Gadis tersebut begitu tanggap berusaha menenangkan Woo Jin. Walau anak yang berada dalam dekapannya masih betah menangis.
“Kemarilah ... kita kembali ke rumah sekarang, ya.” Kim pun mendekati Woo Jin, lalu menarik pelan lengan anaknya dari Sheilla.
“Enggak mau!” Woo Jin menolak keras.
“Woo Jin!” Kim tidak sengaja berteriak keras, dia hampir terbawa emosi karena kesabarannya terus diuji sejak tadi. Sekarang anaknya semakin tertunduk sambil memeluk Sheilla, itu membuat Km merasa bersalah.
“Jangan memaksanya,” ujar Sheilla pelan. “Izinkan Ella yang membujuknya kali ini, Ella janji dia akan baik-baik saja.”
Kim terdiam, hal tersebut pun dijadikan sebuah kesempatan oleh Sheilla yang langsung melepaskan pelukan Woo Jin padanya. Sheilla berjongkok di hadapan Woo Jin sambil menyeka basah air di pipi anak laki-laki itu.
“Jangan menangis lagi, kakak antar kamu ke kamar. Kita ganti baju dulu, nanti badan kamu bisa gatal-gatal karena keringat kalau pakai baju ini terus. Mau, ya?” ajak Sheilla.
Woo Jin hanya mengangguk pelan. Kemudian memberikan keleluasaan kepada Sheilla menuntun tangannya dan berjalan masuk rumah kembali.
***
Kim masih berdiri di depan pintu kamar Woo Jin ketika Sheilla dan putranya berada di dalam sana sudah hampir satu jam lamanya. Kim tidak sabar menunggu. Dia ingin masuk, tapi khawatir membuat anaknya marah dan tidak bisa berhenti menangis. Akhirnya dia memilih berada di sana seorang diri dan memastikan tangisan Woo jin benar-benar berhenti, apalagi sebelum ini dia sempat tahu kalau anak lelaki semata wayangnya tersebut tengah demam.
Sekarang hanya Sheilla yang berada di dalam sana, entah sedang apa mereka.
Sesaat kemudian, pintu baru dibuka dari dalam oleh Sheilla, lalu ditutupnya secara perlahan. Tidak ada sepatah kata pun dari mulutnya dalam beberapa detik, Kim juga tidak memberi respons berlebih kecuali gerak tubuhnya yang menghalangi Sheilla pergi.
“Woo Jin sudah tidur, tadi Ella sudah kasih obat juga. Semoga demamnya bisa turun beberapa jam lagi,” ujar Sheilla, lalu baru bisa membalas tatapan dingin Kim padanya. “Ella nggak akan banyak bertanya apa yang sebenarnya terjadi, Ella cuma berharap Woo Jin baik-baik saja. Itu sudah cukup buat Ella.”
Sheilla kembali ingin berjalan pergi dari hadapan Kim, khawatir keberadaannya hanya akan menjadi pengganggu untuk lelaki keturunan Korea tersebut. Namun, tampaknya Kim tidak mengizinkannya pergi, terbukti lelaki itu menghalangi Sheilla dengan tubuh jangkungnya.
“Ella buat salah lagi, ya? Kenapa Tuan nggak kasih Ella jalan?” tanya Sheilla sedikit heran.
“Saya cuma mau bilang ... terima kasih.”
“A—apa?”
Gadis itu mengernyit mendengar sebuah kalimat langka yang dilontarkan Kim padanya. Hal tersebut cukup membuat heran karena Kim terus bersikap dingin. Sheilla berpikir Kim tidak pernah mengenal kata terima kasih dan maaf dalam hidupnya.