Kekecewaan itu asalnya ...

1094 Kata
Kim mengikuti langkah Woo Jin dari belakang, anak itu sedang berjalan bersama Sheilla yang terus merangkul pundaknya sejak tadi, mengelilingi ke hampir setiap sudut pasar malam yang mereka datangi. Anak berusia 7 tahun itu tertawa, raut wajahnya cerah dan ceria, seakan tidak ada lagi yang bisa membuatnya sesedih tadi sebelum bertemu dengan Sheilla. Hal itu justru menekan perasaan Kim sekarang, ada rasa sakit, ada rasa senang, ada rasa gelisah yang bercampur menjadi satu. Satu sisi, dia cukup senang karena ternyata masih ada yang bisa membuat senyum putranya kembali. Sisi lainnya, dia merasa ada sebuah kesalahan di sini. Di mana sekarang dia hanya bisa menyaksikan tanpa ikut andil dalam kebahagiaan putranya. “Apa dia merangkap sebagai pengasuh juga?” tanya Rin yang ada di samping Kim. “Tidak.” “Terus kenapa dia ada di sini dan bermain dengan Woo Jin? Sepertinya dia ingin sekali mencari perhatian padanya.” Kim terdiam, dia rasa bukan itu tujuan Sheilla sebenarnya. Gadis desa itu, walau hanya sebentar pertemuan mereka hingga detik ini, tidak ada sedikit pun garis tujuan tertentu yang diperlihatkan Sheilla.  “Apa kamu tidak berniat mendekatinya?” tanya Kim. “Apa?” Rin sedikit mengernyit. “Woo Jin ... apa kamu tidak berniat mendekatinya? Kamu selalu mengatakan ingin menikah denganku, hal pertama yang haus kamu lakukan adalah mendekatinya. Aku tidak ingin Woo Jin merasa asing dengan ibu sambungnya sendiri,” ujar Kim lagi menjelaskan kepada Rin. Gadis itu terdiam, melipat kedua lengan di d**a seraya menatap ke arah Woo Jin. “Kamu tahu sendiri, Woo Jin selalu ketus padaku. Bagaimana aku bisa mendekatinya?” “Tapi Woo Jin lebih lama mengenalmu dibanding Sheilla, aku rasa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kalau ada usaha lebih giat lagi.” Rin berhenti melangkah, kemudian menatap Kim tajam. “Kamu membandingkanku dengannya, Mas?” “Tidak ... aku hanya memintamu berusaha lebih keras lagi. Jika orang lain saja mampu, kenapa kamu tidak bisa? Woo Jin hanya seorang anak yang hanya mengerti sebuah perhatian dan kasih sayang, tidak ada lagi yang lebih dibutuhkannya selain dari itu. Kamu harus mengerti hal-hal kecil yang berkaitan dengannya.” “Tapi, Mas. Itu semua tidak mudah kalau dia terus tidak memberi kesempatan padaku, sekarang dia bahkan memilih pergi dengan orang lain dan mengabaikanku. Apa itu tidak cukup jelas menggambarkan kalau Woo Jin ingin menjauhkanku darimu?” ujar Rin. Lalu mengalihkan pandangan ke arah lain karena raut wajah Kim mulai berubah datar. “Tapi baiklah, aku akan melakukannya. Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku akan melakukan apa pun untuk kamu.” Kim tidak menjawab apa pun atas pernyataan Rin sekarang. Cinta? Dia sekarang bahkan  Belum merasakan apa-apa kepada gadis yang ada di hadapannya ini. Namun, Kim masih berusaha menumbuhkan cinta lagi dalam dirinya ... jika bisa. Menyimpan seluruh kenangan bersama mendiang Anita, lalu menjalani kehidupan baru bersama keluarga baru. Alasan Kim masih mempertahankan hubungannya dengan Rin hanya itu, tidak ada yang lain. Walau faktanya cinta itu belum berani menyentuh hatinya selama beberapa bulan ini. “Jadi apa sekarang kamu sudah tidak marah?” tanya Rin. “Tentang apa?” “Kejadian tadi pagi, katamu aku tidak boleh menemuimu sampai aku meminta maaf ke perempuan itu. Tapi sekarang nyatanya kamu masih mau berbicara padaku, itu artinya kamu sudah tidak marah lagi, kan?” Rin melingkarkan lengannya di lengan Kim bersama senyum lebar. “Tidak, tapi kamu tetap harus meminta maaf padanya. Tadi pagi Sheilla hanya berterima kasih karena aku akan menggajinya.” “Oh ... ya, nanti aku minta maaf sama dia. Asal kamu jangan marah seperti tadi pagi lagi, itu membuatku takut.” Kim tidak memberi respons banyak, hanya membiarkan gadis itu terus bergelayut manja padanya suda cukup membuat kekasihnya mengerti, ada kata maaf di sana. ***  Tepat di jam setengah sepuluh malam, Kim, Woo Jin dan Sheilla kembali ke rumah. Namun, sebelum mereka berpisah, Woo Jin lebih dulu memberikan sebungkus mie ayam yang baru dibelinya di jalan tadi. Itu adalah janji mereka saat akan menaiki permainan kora-kora. Ternyata Woo Jin akhirnya menjadi yang paling keras berteriak sampai Sheilla harus memeluknya di atas permainan tersebut. “Ini mie ayamnya, awas jangan nggak dimakan, loh,” ujar Woo Jin. “Sudah dibilang nggak perlu, masih dibeli juga. Bawa saja ke rumah, gih, kamu yang makan biar makin tambah tembam.” Sheilla mencubit pelan kedua pipi Woo Jin dengan disertai senyum manisnya. “Ini adalah janji, kata appa janji itu harus ditepati. Buat Kakak pokoknya jangan ditolak, ya. Nanti kita main lagi, biar lain kali aku yang akan menang dari Kakak!” Woo Jin menyerahkan mie ayamnya ke tangan Sheilla, walau gadis itu menerimanya dengan keragu-raguan. “Hmh, baiklah. Kakak terima ini, terima kasih ya.” Sheilla mengusap puncak rambut Woo Jin lembut. “Sekarang pulang dan tidurlah, semoga malam ini kamu mimpi indah, Anak Tampan.” Woo Jin tertawa kecil saat Sheilla malah mengacak rambutnya, dia tidak marah. Sampai Sheilla memasuki tempat tinggalnya, sekarang hanya ada Kim dan Woo Jin di sana. “Woo Jin!” panggil Kim ketika putranya melangkah begitu saja menuju rumah mereka yang ada di lantai dua toko elektronik. Anak itu pun menoleh. “Apa kamu marah ke appa?” “Enggak.” “Lalu kenapa kamu mendiami appa begini kalau tidak marah?” “Cuma kecewa aja, sedikit,” ujar Woo Jin sangat jelas di telinga sang ayah. “Aku mau langsung tidur. Besok sekolah.” Woo Jin kembali melanjutkan langkahnya, dia tidak lagi menoleh dan menunjukkan kepada Kim seberapa besar kekecewaan yang dimilikinya. Kim yang mengikuti langkah sang anak pun sampai di depan pintu kamar Woo Jin. Namun, tidak biasanya pintu itu terkunci dari dalam. Itu semakin membuat Kim merasa bersalah. Apa ada yang salah dalam dirinya? Apa sebegitu marahnya Woo Jin karena malam ini mereka pergi dengan Rin? Atau ada alasan lain yang membuat anaknya semurung ini di belakang Sheilla. “Woo Jin, apa kamu sudah tidur?” tanya Kim seraya mengetuk pintu kamar Woo Jin, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Sampai dua kali dia bertanya, tetap tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya Kim menunda niatnya yang ingin berbicara dengan Woo Jin sampai besok. Lelaki jangkung tersebut kembali ke kamarnya dan duduk di tepian tempat tidur. Sesekali menghela napas agar dadanya tidak terlalu sesak, memang bukan sekal dua kali anak itu marah atau merasa kecewa. Namun, rasa sakit di dadanya ini seakan tidak pernah berkurang jika dihadapkan dengan situasi sekarang. “Sepertinya aku masih belum menjadi ayah yang baik bagi anak kita, Anita. Apa yang harus kulakukan? Kalau saja kau ada di sini, kau pasti akan menangani semuanya. Aku merasa masih tidak bisa menggantikanmu sesempurna itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN