Kim terdiam dan terus melihat ke arah Sheilla yang masih tertunduk takut padanya. “Apa kamu sudah bosan kerja di sini?” tanyanya kemudian dijawab Sheilla dengan gelengan kepala pelan. “Kalau begitu berhentilah bicara dan lakukan saja pekerjaanmu.”
“Oh ... ya, baiklah. Ella nggak akan bicara lagi. Maaf kalau ucapan Ella tadi sudah ganggu Tuan.” Sheilla sejenak membalas tatapan Kim padanya, kemudian melanjutkan pekerjaan tanpa berbicara apa-apa lagi.
Gadis itu benar-benar melakukannya selama mereka memasak, tidak ada obrolan secuil pun keluar dari mulutnya. Bibir tipisnya merapat, tangan yang terus bekerja dengan sangat cekatan dalam mengolah bahan makanan,
Namun, selain dari itu. Kim malah merasa risi melihat wajah sendu Sheilla di sana. Lelaki jangkung tersebut merasa bahwa dirinya sudah cukup keterlaluan menolak permintaan maaf Sheilla, tapi semuanya sudah telanjur. Kim juga tidak ingin melibatkan Sheilla lebih jauh ke dalam masalahnya dengan Rin.
“Appa! Aku pulang!”
Terdengar suara pintu rumah terbuka dibarengi teriakan keras Woo Jin. Anak itu tiba setelah masakan yang dibuat Kim dan Sheilla selesai, kemudian tersaji di atas meja makan.
Kim menoleh menyambut kedatangan putranya yang berlari kecil ke arahnya penuh semangat. Sungguh, tidak ada obat terbaik untuk luka hati kecuali melihat senyum Woo Jin berkembang sempurna.
“Kamu telat 10 menit, ada apa? Apa ada masalah di jalan?” tanya Kim kepada Woo Jin.
“Itu, tadi aku habis dari lapangan Gandasari, Pa. Nengok wahana permainan yang lagi dirancang buat nanti malam. Seru banget, Pa! Permainannya banyak,” ujar Woo Jin.
“Apa? Itu cukup jauh dari sekolah, kenapa kamu nekat pergi ke sana, hmh? Lain kali jangan diulangi, appa tidak mau kamu pergi ke mana pun tanpa pengawasan appa.”
Woo Jin sedikit cemberut, tapi juga memeluk pinggang ayahnya. Dia pun menengadah melihat kecemasan di wajah sang ayah.
“Maaf ... tapi aku mau pergi ke sana ya, nanti malam. Kayaknya seru, Pa. Aku mau naik komidi putar sama kuda-kudaan. Boleh nggak?”
“Kalau tidak hujan, kita pergi. Kalau hujan, kamu jangan menangis. Masih ada besok untuk pergi.” Kim tidak tega melihat raut wajah itu, sebab seluruh bagian dari fisik putranya memiliki kesamaan dengan mendiang Anita. Ketika dia melihat wajah itu murung, dia seakan sudah melukai istri dan putranya sekaligus.
“Asyik! Makasih banyak, Appa! Pokoknya Appa paling terbaik di seluruh dunia, deh!”
Kim tersenyum tipis, putranya sangat senang sekali mendapat izin darinya. Sampai anak itu melihat ke tempat Sheilla yang berada di dapur, dia lantas menghampirinya.
“Kak, pergi ke pasar malam, yu! Mau, nggak?” tanya Woo Jin.
Sheilla yang sedang mencuci piring hanya melirik bocah lelaki itu, lalu berkata singkat, “Nggak bisa.”
“Nggak bisa kenapa?” Raut wajah Woo Jin mulai menunjukkan kekecewaan, tapi Sheilla seperti tidak mau melihatnya lagi.
“Kakak di sini kerja, bukan buat main. Kamu pergi saja sama appa kamu, kakak nggak akan pergi,” ujar Sheilla. Usai mengelap bersih perabotan yang telah dicucinya, dia meletakkan kembali semua itu ke tempatnya semula. Dia pun masih belum melihat ke arah Woo Jin yang terus mengikuti langkahnya.
“Emang kerjanya sampai malam, ya?”
“Iya.”
“Masa, sih? Semua yang kerja di Appa pulangnya jam 4 sore.”
Sheilla terdiam.
“Kak ... ayo, dong ikut sama aku. Nggak kasihan apa, aku udah melas-melas begini mukanya.”
Ketika pekerjaannya selesai, Sheila baru menanggapi ajakan Woo Jin padanya. “Maaf, kakak tetap nggak bisa. Kamu perginya sama appa saja, ya,” ujarnya seraya mengusap bahu anak itu disertai senyum tipis, kemudian pergi dari dapur tanpa berkata banyak lagi.
Kim pun mendekati Woo Jin yang masih bertahan berdiri di tempatnya sambil memandangi kepergian Sheilla.
“Pergi sama appa saja sudah cukup, Woo Jin. Sekarang kamu ganti pakaian, nanti cepatlah kembali dan kita makan siang bersama,” ujar Kim.
“Appa kok, begitu sih?”
Kim mengernyit mendapat pertanyaan tersebut.
“Semua karyawan Appa di toko pulangnya jam 4 sore, kenapa Kak Ella kerjanya sampai malam? Nggak adil.” Woo Jin berkata lagi, sesudah itu melenggang pergi meninggalkan sang ayah di sana dengan raut wajah masam.
Kim yang menyaksikan perubahan itu sampai langsung bisa mengartikan penyebabnya. Woo Jin adalah tipikal anak yang perasa, menangkap seluruh keadaan di sekitarnya dengan hati. Jadi ketika dia dihadapkan dengan sebuah kekecewaan, itu tertera jelas di gerak tubuh dan responsnya.
Namun, kenapa harus Sheilla? Sementara Kim menginginkan Woo Jin lebih dekat dengan Rin.
***
Malam harinya, Kim dan Woo Jin akan berangkat ke pasar malam sesuai rencana mereka siang tadi. Anak itu masih tampak bersemangat walau sesekali menanyakan keberadaan Sheilla, dia masih ingin menajak gadis itu pergi bersama menikmati malam mereka yang menyenangkan.
Namun, sayangnya Kim tidak bisa mewujudkan keinginan putranya. Dia tidak bisa mengajak Sheilla sebab Rin sudah berkata akan datang malam ini ke rumahnya. Niat Rin diketahuinya ketika mendapat pesan singkat dari gadis tersebut. Sebenarnya, Kim juga tidak membalas pesan itu, karena dia juga masih mengingat pagi ini mereka bertengkar hebat karena kelakuan Rin sendiri. Hanya saja, Kim sudah bisa mengira kekasihnya itu akan datang sesuai janji.
“Pa, ke tempatnya Kak Ella dulu, yu. Aku mau ngajak sekali lagi, siapa tahu bisa ikut kita,” ungkap Woo Jin. Dia yang sudah tampan dengan setelan sweater rajut berwarna biru muda itu pun kembali mengajak Kim menemui Sheilla.
“Tidak perlu, dia tidak akan ikut. Bukannya ajakanmu tadi siang ditolak? Kita pergi sekarang saja, ya. Nanti kemalaman.” Kim mengajak Woo Jin, menuntunnya keluar rumah walau pandangan anak itu masih saja mengarah ke tempat tinggal Sheilla di belakang toko mereka.
“Beneran nggak mau diajak, Pa? Biar asyik kalau ada Kak Ella.”
“Kim Woo Jin, sudah berapa kali appa bilang. Dia tidak akan ikut bersama kita, jadi bersenang-senanglah malam ini tanpa memikirkannya lagi.” Kim mempertegas ucapannya, anak itu hanya cemberut. Ada kekecewaan yang masih menempel di wajahnya, tapi Kim berharap itu akan hilang ketika mereka sudah sampai di pasar malam.
Sampai beberapa saat kemudian, sebuah mobil datang di depan gerbang. Itu adalah mobil milik Rin, Woo Jin juga sudah hafal betul warna dan jenis mobilnya. Gadis yang mengenakan setelan atasan kaus putih dengan rok pendek tersebut keluar dan langsung menghampiri kekasihnya disertai senyum lebar.
“Hai! Kalian sudah siap, ayo pergi!” ujar Rin seraya merangkul lengan Kim seakan melupakan masalah mereka pagi ini.
“Pergi? Memangnya Tante ikut juga? Aku nggak ajakin Tante buat ikut, tuh!”
“Iya, sih. Tapi tante mau ikut sendiri, biar bisa main bareng kalian. Sepertinya seru juga pergi ke pasar malam,” ujar Rin menanggapi ucapan Woo Jin.
Woo Jin terdiam, dia hanya menatap sinis ke arah Rin sebentar kemudian melangkah pergi lebih dulu.
“Woo Jin!”
“Sudah, di mungkin hanya tidak sabar mau cepat datang ke sana, Mas.” Rin menahan langkah kaki Kim yang ingin mengejar putranya.
Kim melepas pegangan gadis tersebut di lengannya, dia tidak mungkin lupa bahwa hukuman Rin masih berlaku. Namun, sepertinya Rin tidak terlalu menggubris kemarahan Kim dan terus menempel padanya hingga mereka sampai ke pasar malam yang terjangkau walau dengan berjalan kaki.
Sesampainya di pasar malam, Woo Jin terlihat lebih antusias dari sebelumnya. Dia bersemangat menarik lengan Kim dan mengajaknya menuju ke sebuah wahana permainan komidi putar.
“Appa, mau naik ini ... naik ini! Ayo, Pa temani aku naik ini,” ajak Woo Jin seraya menarik-narik kecil sudut pakaian Kim.
“Iya, iya. Tunggu sebentar, appa belikan karcis dulu, ya.” Kim pun membeli dua buah karcis naik wahana tersebut, tapi hal itu langsung diprotes oleh Rin di sebelahnya.
“Kenapa cuma dua? Aku juga mau naik itu,” ujar Rin.
“Beli sendiri.” Kim meninggalkan Rin di depan loket pembelian karcis, lalu mengajak Woo Jin menaiki anak tangga menuju wahana permainannya. Di sana, ternyata Rin sudah membeli karcisnya sendiri dan menyerobot tempat duduk di sebelah Kim.
Woo Jin yang ingin duduk di sebelah ayahnya hanya bisa cemberut dan mengalah, dia pun duduk menyendiri walau mereka berada di tempat yang sama.
“Duduklah sendiri, biarkan Woo Jin duduk bersamaku,” ujar Kim. Sekali lagi dia melepas pegangan Rin di lengannya, tapi gadis itu kembali memegangnya.
“Tidak mau. Aku takut sekali ketinggian, tapi aku penasaran juga. Aku ingin duduk d sampingmu agar mengurangi ketakutanku, Mas,” jawab Rin. Dia pun menyandarkan kepala di pundak kekasihnya. “Aku rasa Woo Jin lebih berani dariku. Benar begitu, kan? Apa kamu menyukai permainan ini?”
“Enggak sama sekali.” Woo Jin menjawab dengan nada datar, pandangannya hanya tertuju ke arah luar. Melihat banyaknya cahaya lampu disertai orang-orang yang datang. Tidak ada senyum sedikit pun, sebab dia sudah bisa menebak ini akan terjadi.
Beberapa menit kemudian, mereka turun dari komidi putar. Woo Jin pun lantas menarik tangan Kim dan mengajaknya ke sebuah permainan kuda putar.
“Pa, temani aku naik itu, dong. Aku mau naik kuda-kudaan,” ajak Woo Jin.
“Tapi—“
“Tapi itu kan permainan anak kecil. Lihatlah, yang naik anak-anak seusiamu semua, tidak ada orang dewasa di sana. Kamu naik sendiri saja ya, nanti appa sama tante tunggu di sini,” sela Rin.
“Oh ....” Woo Jin melihat ke arah wahana permainan yang diinginkannya, memang tidak ada orang dewasa naik di sana. Hanya sekumpulan anak dengan membawa permen kapas yang juga diinginkannya. “Ya, baiklah. Terserah kalian.”
“Jangan marah, nanti appa temani kamu pergi ke permainan lainnya, ya. Bersenang-senanglah sana,” ujar Kim seraya memberikan karcisnya kepada penjaga. Woo Jin pun menaiki permainan itu dengan raut wajahnya yang murung, tidak ada kebahagiaan di sana. Membuat Kim serba salah, masalahnya dia tidak tahu harus berbuat apa jika dihadapkan dengan permainan anak-anak.
Beberapa putaran berlalu, Kim sesekali melambaikan tangan ke arah Woo Jin. Berharap anak itu memberi seulas senyum yang diharapkannya saat masih di rumah tadi. Namun, putranya tidak melakukan itu, dia seakan tidak bersemangat lagi.
“Apa kamu haus, Mas? Aku haus sekali, kita beli minum dulu, yuk!” ajak Rin kepada Kim.
“Pergilah sendiri, putraku masih belum selesai.”
“Mas, ayolah. Sebentar saja, lagi pula Woo Jin juga belum selesai. Kita bisa kembali secepatnya.”
“Tidak.”
“Pokoknya kamu harus antar aku!”
Lengan Kim diarik cukup keras dan diajaknya menuju ke sebuah tempat penjual minuman, memang tidak jauh. Kim masih bisa melihat ke tempat putranya berada. Uda besi itu masih berputar ketika Kim masih memperhatikan dari kejauhan.
“Kamu mau rasa apa, Mas? Cokelat atau alpukat?” tanya Rin.
“Aku tidak haus.”
“Kalau begitu apa Woo Jin suka es cokelat? Biar aku membeli satu untuknya.”
“Ya, terserah saja.” Kim melihat permainan yang dinaiki putranya mulai berhenti berputar, anak-anak pun mulai berhamburan turun dari sana menemui keluarga mereka. Kim cemas, sebab dia tidak melihat Woo Jin karena terhalang orang-orang.
Setelah menunggu sebentar, Kim mengambil pesanan Rin untuk putranya. Kemudian melangkah cepat menuju ke tempat Woo Jin. Dia berharap anak itu masih berada di tempat dan menunggu kedatangannya.
“Woo Jin?” Kim cemas, setelah kerumunan orang-orang mulai menyusut, dia malah tidak menemukan keberadaan Woo Jin. “Mas, maaf. Apa kau melihat putraku? Dia memakai sweter rajut warna biru.”
Kim bertanya kepada seorang penjaga permainan ini.
“Wah, maaf, Mas. Di sini ada banyak anak-anak tadi, mana saya ingat salah satu dari mereka.”
Mendapat jawaban kurang memuaskan, Kim berjalan cepat ke sembarang arah. Mendatangi setiap tempat yang akan didatangi putranya. Setiap ada pasar malam di daerah ini, Woo Jin memang selalu menjadi seperti raja dalam semalam. Dia akan menaiki hampir seluruh wahana permainan hingga lelah.
Rin juga sudah tertinggal jauh entah di mana. Kim tidak sempat memikirkan itu, yang ada dalam pikirannya adalah putra semata wayangnya.
Setelah berkeliling, akhirnya Kim menemukan keberadaan Woo Jin. Anak itu tampak terduduk sambil memeluk lutut di samping pagar besi pembatas permainan kora-kora. Kedua pipi putranya itu sudah banjir air mata, menangis seorang diri tanpa memedulikan yang lain. Kim yang menyaksikan itu merasa seperti ada sayatan kecil dalam hatinya. Tampaknya malam ini dia sudah melakukan kesalahan hingga membuat anak itu pergi dan menangis.
“Apa kamu mau permen kapas?!”
Kim yang hendak melangkah, mendadak dikejutkan oleh kehadiran seseorang di hadapan putranya. Sampai anak itu sedikit menengadah, melihat siapa yang mendekatinya.
“Kakak punya permen buat anak manis seperti kamu. Mau nggak? Mumpung gratis, nih. Kakak juga beli yang warna biru, biar lebih manis kayak kamu.”
Sheilla sedikit membungkuk sambil menyodorkan sebuah permen kapas besar di tangannya. Membuat es cokelat di tangan Kim seakan sia-sia karena anak itu tampak tersenyum menyambut kehadiran gadis itu.
“Mau ....”
“Peganglah ... kenapa kamu malah nangis di sini? Nggak takut diculik genderuwo?” Sheilla membantu Woo Jin berdiri sekaligus menyeka air matanya dengan punggung tangan.
“Aku nggak takut hantu. Tadi cuma kelilipan saja, bukan nangis.” Woo Jin tersenyum tipis. “Katanya Kakak nggak bisa datang. Kok sekarang ada di sini?”
“Berubah pikiran. Ternyata tempat ini ramai juga, kakak jadi penasaran, makanya datang nyusul kamu,” jawab Sheilla. “Apa kamu mau coba naik ini? Takut nggak?”
“Siapa takut! Ayo, naik! Nanti kalau ada yang teriak paling keras, berarti harus traktir mie ayam, ya.”
“Mie ayam doang? Kecil itu! Kamu mana tahu kakak paling berani di antara teman-teman kakak.”
“Bohong, paling nanti teriak paling kenceng.”
“Kita buktikan nanti.” Sheilla mencebik, sesudah itu lantas memesan dua karcis untuk mereka berdua.
Sebelum mereka naik wahana tersebut, Kim lebih dulu menghadang langkah keduanya. Sheilla pun meminta Woo Jin naik lebih dulu, sementara dirinya bertahan di sana untuk menghadapi raut wajah datar Kim di hadapannya.
“Maaf, Ella nggak bermaksud ganggu, Tuan. Ella nggak akan berisik dan ngajak ngobrol Tuan lagi, sekarang cuma lagi mau main aja sama Woo Jin. Mudah-mudahan Tuan bisa mengerti, ujar Sheilla.
“Kakak, ayo naik!” seru Woo Jin dari atas perahunya.
“Baik! Tunggu kakak!”
Sheilla pun langsung berjalan cepat ke tempat Woo Jin berada. Mengabaikan Kim dengan setumpuk pertanyaan dalam dirinya.