Kemarahan Kim

1747 Kata
“Siapa kamu berani menyentuh kekasihku?!” bentak seorang gadis berusia 23 tahun tersebut kepada Sheilla. Kim yang menyaksikan kejadian itu lantas menarik lengan kekasihnya cukup keras. “Apa yang kau lakukan?!” tanya Kim. Dia tidak pernah menduga ini akan terjadi, bahkan kedatangan Rin pun tidak disadarinya. Rin menatap Kim penuh emosi. “Apa yang aku lakukan? Justru apa yang kamu lakukan sekarang, Mas? kenapa dia ada di rumahmu dan berani memegang tanganmu seperti tadi?!" Kim mendadak terpancing emosi melihat kemarahan Rin yang meledak-ledak tanpa alasan jelas. Dia pun akhirnya meraih lengan gadis itu agar bisa membawanya menjauh dari tempat Sheilla berada. Sejauh yang dikenalnya, Rin memang memiliki emosi yang terkadang tidak terkendali, tetapi Kim tidak pernah mengira akan sampai sejauh ini kelakuan gadis keturunan Korea tersebut. Sesampainya di luar, Rin tampak heran karena dibawa ke sana oleh kekasihnya sendiri dan malah membiarkan Sheilla ada di dalam sana. “Kenapa malah aku yang dibawa ke sini, Mas? Perempuan itu yang seharusnya kamu usir!” ujar Rin lebih tidak sabar lagi. “Karena urusanku denganmu, Rin.” Kim berkata sambil menahan emosinya lebih dalam lagi. “Apa kamu sadar dengan sikapmu ini, hah? Kenapa kamu berani melakukan itu kepada orang yang sama sekali belum kamu kenal?” “Kamu bertanya begitu, apa aku tidak boleh kesal? Coba kamu bayangkan bagaimana hatiku saat lihat perempuan itu menyentuh milikku seenaknya. Aku tidak peduli siapa dia, yang aku mau sekarang kamu usir dia dari sini, atau aku yang akan menyeretnya keluar, Mas!” “Tapi tidak begitu caranya!” Suara Kim mengeras sampai Rin tertunduk karena saking kagetnya, ini pertama kali mereka bertengkar hebat sampai Kim hilang kesabaran. “Apa sikapmu selalu begini kepada orang lain? Menghargai orang lain saja kamu tidak bisa, bagaimana aku bisa berpikir positif lagi tentangmu?” “Kamu marah sama aku, Mas? Kenapa kamu memarahiku dan bukan perempuan itu? Dia yang salah, seharusnya dia tidak boleh memegangmu seenaknya seperti tadi.” Kedua mata Rin kini mulai basah menyadari kemarahan Kim yang sesungguhnya, dia sadar sudah salah langkah, tetapi enggan mengakui itu. Kim adalah miliknya, dan akan selalu begitu sampai kapan pun, itulah anggapan Rin selama hubungan mereka terjalin. “Apa kamu sungguh tidak mau mengakuinya? Perbuatanmu kepada Sheilla itu sudah sangat keterlaluan, Rin. Aku mungkin bisa menerima kemanjaanmu yang berlebihan, atau permintaanmu yang tidak bisa ditolak. Tapi kali ini, aku harap kamu bisa meminta maaf kepada Sheilla atas kesalahanmu barusan,” ujar Kim tidak ragu lagi mengatakannya. “Apa? Aku tidak mau!” Rin menolak keras sambil menyilangkan lengan di perut dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Tentu saja hal itu memantik kemarahan Kim lebih jauh, lelaki itu berpikir tidak akan ada lagi perbuatan Rin yang jauh lebih buruk dari mempermalukan Sheilla beberapa waktu lalu. Namun, faktanya membuktikan hal lain. “Tidak mau?” tanya Kim sekali lagi, kemudian menghela napas panjang sejenak. “Baiklah, aku tidak akan memaksamu dalam hal ini, tapi jangan juga memaksaku untuk menerimamu di rumah ini sebelum kamu menyadari kesalahan itu dan meminta maaf pada Sheilla.” Suara Kim memang tidak lagi keras, dia juga tidak akan bertindak lebih dari ini jika Rin tidak memulainya lebih dulu. Sepertinya gadis itu pun cukup mengerti maksud perkataan Kim barusan, hingga dia menoleh kembali ke arah kekasihnya dengan kernyit di kening. “Apa maksudnya itu? Apa sekarang kamu ... Mas? Mas!” Kim tidak ingin mendengar lagi, akhirnya dia melangkah masuk kembali dan menutup pintunya rapat-rapat sehingga Rin kesulitan mengikutinya. “Kenapa kamu malah meninggalkanku begini?!” Kim pura-pura tidak mendengar itu, dia tetap melangkah menjauh dari orang yang membuat tensi darahnya naik pagi ini. ***  Sementara itu di tempat lain, Sheilla memilih tetap melakukan pekerjaannya di rumah Kim tanpa memedulikan perasaannya sekarang, tanpa memedulikan seberapa banyak air mata yang telah dia keluarkan. Sheilla merasa, percuma saja dia mengeluh. Tidak ada seorang pun di tempat ini yang dikenalinya kecuali Kim dan Woo Jin. Gandi sangat jauh, jika pemuda itu ada di sini, Sheilla pasti akan banyak bercerita tentang kemalangannya pagi ini. Ya ... sebuah kemalangan yang terus-menerus terjadi, ketika sekarang Sheilla mencoba memperbaiki kehidupannya. Sheilla yang berada di kamar mandi pun membuang air cuciannya, dan hendak menjemur pakaian di luar. Dia masih mencoba mengalihkan kesedihannya dengan menggunakan rasa lelah. Selalu saja begitu setiap kali diserang kesedihan, tidak ada tempat untuk mengadu di sini. Apa yang bisa diperbuat? “Apa kamu mencuci semua itu dengan tangan?” “Astagfirullah!” Sheilla terkejut bukan main mendengar suara Kim mendadak muncul dari arah belakang. “Tuan? Ma—maaf, tadi Tuan bicara apa? Ella nggak dengar.” Dia bertanya sekali lagi sebab tidak terlalu mendengar ucapan Kim barusan. Lelaki itu pun menunjuk ke arah satu bak berisi cucian baju yang berada di lantai kamar mandi. “Itu ... apa kamu mencucinya dengan tangan?” Sheilla menoleh sebentar. “Iya, kenapa? Ella salah lagi, ya?” “Tentu saja.” Sheilla tertunduk, bahkan air matanya saja masih belum mengering dan sekarang dia sudah melakukan kesalahan lagi. Apa hidupnya ini selalu penuh kesalahan? Batinnya bertanya, seba dia mulai berpikir kehidupan orang lain sepertinya tidak begini. “Kayaknya Ella selalu melakukan kesalahan, ya. Kalau begitu, Ella mau pulang saja ke desa. Ella nggak mau membuat Tuan merasa terbebani, apalagi kekasih Tuan juga jadi marah gara-gara Ella,” ujar Sheilla. “Melakukan kesalahan bukan berarti menghilangkan maaf.” Sheilla terdiam, dia malah sedikit terkejut saat Kim melangkah mendekat padanya dan mengambil bak cucian tadi. “Itu mau dibawa ke mana?” tanya Sheilla heran. “Ke tempat yang seharusnya.” Sheilla pun menuruti langkah Kim ke sebuah mesin yang cukup besar di kamar mandi tersebut. Lalu memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam mesin tersebut, sampai putarannya berakhir, Kim mengambil sebuah keranjang untuk menyimpan pakaian yang sudah dikeringkan. “Apa ini? Bajunya jadi nggak basah lagi, apa di dalamnya ada kantong Doraemon apa gimana? Kok, ajaib banget mesinnya!” Sheilla takjub, dia memegang salah satu pakaian dalam keranjang dan melihat itu hampir mengering. “Kau lebih ajaib dari kantong Doraemon,” ujar Kim sambil menggelengkan kepala pelan, dia pun melanjutkan mengeringkan pakaian selanjutnya hingga selesai, lalu melihat ke arah Sheilla kembali. “Apa kamu tidak pernah menggunakan mesin cuci?” “Menggunakan apa, punya saja enggak. Tapi Ella tahu mesin cuci! Jadi jangan anggap Ella katro juga, dong!” Sheilla berusaha menyembunyikan rasa malu di hadapan Kim sekarang, tapi nyatanya lelaki itu malah menatap datar tanpa berkata apa-apa hingga membuat Sheilla cepat sadar. “Hhh ... iya, iya. Ella tahu, tapi nggak tahu gimana cara pakainya. Tuan ini lihatnya begitu banget sama Ella, ih. Jadi malu.” Sheilla melihat Kim menghela napas pelan, entah sudah berapa kali lelaki itu menghela napas begitu pagi ini. Sheilla cukup merasa bersalah. Niat awalnya datang ke tempat ini untuk memperbaiki hidupnya, sekarang malah mengubah hidup orang lain.  “Bukan itu maksud saya.” “Apa?” Sheilla sedikit mengernyit. Tidak terlalu mengerti apa maksud perkataan majikannya itu, Kim bahkan hanya terdiam setelahnya, membuat Sheilla bingung sendiri.  “Tidak jadi, lanjutkan saja pekerjaanmu. Hanger bajunya ada di belakang,” ujar Kim seraya berbalik arah meninggalkan Sheilla begitu saja. “Cuma begitu? Kenapa Tuan aneh banget, ya?” Sheilla melihat kepergian Kim yang menyisakan segudang tanya baginya. Sheilla sekarang hanya mengangga sikap Kim ini pasti berkaitan dengan kekasihnya tadi. ***  Siang harinya, seperti biasa Kim akan menyiapkan makan siang selagi menunggu Woo Jin pulang dari sekolahnya. Ada banyak bahan makanan di meja dapur, rencananya dia akan memasak sayur sup ayam, tempe goreng, sambal, telur dadar spesial kegemaran putranya, sekaligus membuat beberapa potong ayam goreng crispy.  Di dekatnya, Sheilla hanya membantu mengiris beberapa bahan sayuran, serta pekerjaan lainnya agar bisa membantu. Sheilla yang sekarang sedang mengiris wortel pun sesekali mantap punggung Kim, lelaki yang mengenakan celemek berwarna biru muda tersebut tampak seksi di mata Sheilla. Aroma menggiurkan dari ayam crispy menyeruak, membuat  Tidak banyak kalimat yang keluar dari mulutnya, hanya pergerakan pasti dan sangat lihai dalam hal memasak membuat Sheilla begitu kagum. Di desanya, jarang sekali lelaki bisa memasak seperti Kim, kebanyakan dari mereka hanya para lelaki pekerja atau pengangguran yang selalu ingin dilayani oleh wanita. “Apa Tuan bisa masak dari dulu? Tuan belajar sama siapa?” tanya Sheilla penasaran dengan keahlian Kim yang satu ini. Kim tidak menjawab. “Woo Jin pasti sangat menyukai masakan Tuan, kan? Ah, Ella rasanya mau belajar masak yang lain juga. Apa Tuan pernah buat rendang? Ella mau sekali belajar masak itu, dari dulu Ella belajar tapi hasilnya beda dari yang biasanya ... aneh gitu rasanya.” Sheilla berkata lagi. Kim memilih diam lagi, hingga membuat gadis di belakangnya cemberut kecil karena kecewa. Sejak pagi sampai siang, Sheilla tidak berhenti bertanya dan mengganggu ketenangan Kim yang biasa didapatkan setiap hari. Mulai dari pertanyaan apa makanan kesukaan Woo Jin sampai bertanya bagaimana caranya membuka usaha dari nol. “Dulu sebelum mimi kena alzheimer, mimi tuh dikenal sama masakannya yang paling enak. Setiap ada acara hajatan, mimi pasti diundang buat jadi juru masak. Semuanya suka masakan mimi, Ella juga suka—“ “Tolong ....” “Tolong apa? Gantian Ella yang goreng ayamnya?” tanya Sheilla ketika Kim mulai bersuara. “Tolong diam.” Sheilla cemberut lagi, sikap lelaki itu dingin sekali seperti es balok. Bahkan tidak menoleh sama sekali saat bicara. “Tuan suka begitu, ih. Nggak asyik tahu, kita ini cuma berdua di rumah, kalau nggak ngobrol apa nggak membosankan?” Kim seketika berbalik arah dan melihat ke arah Sheilla dengan tatapan datarnya yang khas. Namun, gadis polos itu tetap balas melihat tuannya yang tampak kesal.  “Ella cuma mau ngajak ngobrol, masih salah juga?” tanya Sheilla bernada pelan. Dia lihat lelaki itu berbalik arah lagi dan fokus ke arah masakannya kembali. Mengabaikan setiap ucapan yang dilontarkannya. Sheilla mungkin baru mengenal Kim sebentar, lelaki itu cenderung irit bicara dan memiliki sifat dingin, walau terkadang kebaikannya datang tanpa terpikirkan. Namun, Sheilla merasa kali ini kediaman majikannya itu adalah karena dirinya. “Ella juga mau minta maaf. Gara-gara Ella, Tuan jadi berantem sama perempuan tadi. Dia kekasihnya Tuan, kan? Ella merasa bersalah banget, nanti-nanti nggak akan lagi Ella pegang tangan Tuan sembarangan.” “Itu bukan salahmu.” Kim menjawab singkat dan jelas. “Tapi tetap saja Ella merasa bersalah. Tuan bahkan sampai bertengkar tadi pagi, Ella dengar itu.”  Prak!  Kim meletakkan spatulanya sedikit kasar di atas kuali, kemudian kembali menatap Sheilla lebih datar dari sebelumnya. Sheilla di hadapannya tertunduk, sungguh ... dia cukup mendapat tekanan walau hanya melihat tatapan itu. Apa Kim marah karena dia membahas kejadian tadi pagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN