Hari Pertama Bekerja

1858 Kata
 “Ini ... diminum dulu, kasian banget sampai cegukan begitu. Kaget ya, lihat Ella tiba-tiba ada di sini?” tanya Sheilla ambil memberikan segelas air dingin baru untuk Kim. Lelaki itu menerima kebaikan Sheilla, meneguk minumannya sampai habis tidak tersisa hingga cegukannya mereda. Sesaat kemudian, seulas senyum ditunjukkan Sheilla sambil mengambi gelas di tangan tuannya. “Sudah lebih baik? Syukurlah, lega. Maaf karena Ella muncul nggak kasih aba-aba dulu,’ ujar Sheilla lagi kepada Kim. “Bagaimana kau bisa masuk rumah saya? Apa yang kau lakukan di sini?”  “Oh, itu. Ella dapat kunci rumah dari Woo Jin kemarin sore waktu Tuan lagi di kamar. Kenapa? Ella salah, ya?” tanya Sheilla. Dia merasa bersalah karena tidak mengkonfirmasi lebih dulu kepada Kim jika ingin masuk rumah pagi ini. Apalagi Kim menurutnya adalah seorang lelaki super dingin dan tidak pernah menunjukkan ekspresi sama sekali. Raut wajahnya saat marah atau kecewa pasti begitu-begitu saja. “Ya.” Kim berkata sangat singkat. “Maaf, Ella nggak berniat apa-apa, kok. Cuma mau kerja, ini juga baru selesai cuci piring sama ngepel. Beneran!” Sheilla mengangkat jari tengah dam jari telunjuknya demi meyakinkan Kim. Kim sendiri melihat sekeliling. Cucian piring di wastafel memang sudah menghilang, padahal semalam tampak masih menggunung karena dia belum sempat mencucinya. Lantai pun juga tampak mengilat bersih tidak ada noda sedikit pun. Sepertinya Sheilla benar-benar melakukan pekerjaan dengan sangat baik. “Oh ....” “Apa Tuan masih marah sama Ella?” “Tidak. Lakukanlah pekerjaanmu dengan baik,” ujar Kim seraya hendak melangkah pergi ke kamarnya lagi. Sekarang dia malah tidak tahu harus berbuat apa, pekerjaannya diambil alih oleh Sheilla. Entah ini sebuah keringanan atau akan cukup membosankan ketika berada di rumah nantinya karena dia terbiasa melakukan semuanya seorang diri selama bertahun-tahun.   “Eh, tunggu dulu sebentar! Ada yang mau Ella tanyakan.” Sheilla mengejar langkah Kim dan berdiri di hadapannya. “Apa lagi?” “Itu ... Ella mau masak nasi. Tapi kenapa di sini nggak ada langseng, ya?” tanya Sheilla ragu-ragu. “Langseng?” Kim mengernyit, cukup asing dengan benda yang disebutkan Sheilla. “Iya, itu panci yang buat masak nasi. Ella nggak nemu itu di sini.” Kim menghela napas, berat. “Astaga Ella. Apa kau tidak lihat itu?” ujarnya kemudian seraya menunjuk ke arah sebuah rice cooker yang ada di meja. “Masak nasi pakai itu saja. Jangan mempersulit hidupmu.” Sheilla melihat penanak nasi tersebut sebentar, dia sebenarnya sudah melihat itu sejak tadi, tapi enggan menggunakannya. “Tapi ... Ella nggak mengerti cara pakainya,” ujarnya kemudian seraya tertunduk, malu. “Apa?”  Akhirnya, Kim mengajari Sheilla cara menggunakan rice cooker dari awal sampai akhir. Menjelaskannya secara detail agar gadis tidak lagi kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya. “Jadi apa kamu sudah mengerti? Ini sangat mudah sekali, tinggal cuci beras dan masukkan ke sini. Kalau lampunya sudah berubah warna, itu artinya nasi sudah matang.” Kim menjelaskan sekali lagi, Sheilla di sebelahnya pun memperhatikan dengan senyum semringahnya yang tidak menghilang sejak tadi. “Iya, Ella mengerti,” jawab Sheilla. Dia pun melihat ke arah Kim. “Sekarang canggih-canggih, ya. Tinggal cuci dan taruh di situ, jadi matang. Ella di rumah nggak bisa gitu, pakai kayu bakar kalau ditinggal lama, nanti apinya mati. Terus kalau kelupaan apalagi, pasti airnya habis dan bikin pancinya gosong.” “Makanya kamu harus banyak belajar, lebih giat bekerja agar bisa memperbaiki kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Kim. Lelaki jangkung itu pun berniat kembali ke kamar setelah memastikan Sheilla benar-benar paham akan pekerjaannya. “Kerjakan tugasmu yang lainnya, saya mau kembali ke kamar. Jam 6 nanti Woo Jin bangun, tolong siapkan sarapan untuknya. Pagi ini saya akan pergi ke pasarentar.” “Baik, Tuan!” sahut Sheilla bersemangat. Kim berdeham kecil. Rasanya aneh sekali melihat kesenangan sederhana gadis itu hanya karena melihat cara memasak menggunakan barang elektronik.  “Baiklah ....” Kim pun melangkah menjauh dari tempat Sheilla. Kembali ke kamar untuk memburu bahan makanan segar di pasar. Membiarkan Sheilla seorang diri bersama pekerjaan lainnya yang sudah menanti. ***  Sekitar jam 6.20 pagi, Kim baru tiba di rumah setelah memborong dua kantong plastik belanjaan berupa sayuran dan daging. Tidak lupa dia juga membeli bumbu dan rempah yang memang sudah hampir menipis di rumah. Selama 7 tahun dia melakukan rutinitas yang satu ini, lelaki jangkung itu bahkan sampai dikenali oleh para pedagang langganannya. Ketika dia baru membuka pintu, keadaan rumah sudah sangat berbeda. Barang-barang sudah tertata begitu rapi, bahkan lebih rapi dari yang biasa dia lakukan. Tidak ada kotoran sedikit pun menempel dalam setiap barang di rumahnya. Beberapa detik kemudian, Kim mendengar dua orang yang berbicara dari arah ruang makan. Itu adalah milik Woo Jin dan Sheilla, dia pun melangkah menghampiri sumber suara tersebut seraya berniat menyimpan barang belanjaannya di dapur. Rumahnya ini memang tidak terlalu luas, dapurnya berdekatan dengan meja makan hingga dia bisa memastikan Woo Jin setiap saat ketika memasak. Sesampainya di sana, dia lihat putranya tengah menikmati sarapan yang dimasak Sheilla. Gadis itu tampak memasak nasi goreng irisan ayam dan sosis. “Makan lagi yang banyak, nanti kakak bikin lagi kalau kamu suka, ya,” ujar Sheilla sambil menambahkan satu centong nasi gorengnya ke piring Woo Jin. Itu adalah nasi tambahan setelah porsi sebelumnya sudah habis. “Makasih banyak, Kak. Ini enak banget, aku nggak pernah merasa masakan nasi goreng seenak ini. Nanti siang bikin lagi, ya. Tapi daging sama sosisnya yang banyak, aku suka itu.” “Iya, nanti kakak buatkan lagi.” Sheilla mengusap puncak kepala Woo Jin dengan senyum manis di bibirnya. “Oh, ya. Apa kamu sudah siapkan buku sekolahnya? Biar kakak siapkan kalau belum.” “Nggak usah. Sudah disiapkan dari tadi malam, kalau nggak begitu nanti dimarahi appa.” “Oh, gitu ... syukurlah. Kamu pasti pitar banget ya, di sekolah? Ketahuan kalau anak pintar itu pasti gantengnya kayak kamu.”  Sheilla yang duduk di kursi sebelah Woo Jin tampak menggoda anak itu dengan ucapannya. Sampai Kim melihat tawa kecil putranya yang tidak pernah dia dapat ketika sedang bersama Rin. Bahkan sebutan putranya kepada Sheilla sudah berganti, menunjukkan kalau dia sudah menerima keberadaan gadis tersebut. “Ya, iyalah. Aku pasti pintar, siapa dulu mama sama papanya? Appa itu dulunya sering dapat piagam penghargaan di sekolah kalau ikut lomba cerdas cermat atau lomba sains. Aku mau pintar kayak appa.” “Kamu pasti bisa, jangan sampai putus sekolah dan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu punya. Kalau kamu bisa jadi anak pintar terus sekolah yang tinggi, kamu bisa kejar apa pun yang kamu mau. Appa sama mama kamu pasti bangga, percaya deh.” “Gitu, ya? Appa juga sering bilang itu ke aku. Tapi aku kadang sengaja pura-pura nggak dengar, appa ngomongnya hampir setiap hari, sih. Sekarang malah ada Kakak juga ingetin aku lagi,” ujar Woo Jin. Sheilla terkekeh kecil. “Pasti appa sayang banget sama kamu, makanya diingatkan berkali-kali,” ujarnya kemudian dengan senyum yang mulai menipis. “Gunakan kesempatan kamu baik-baik. Berbakti sama orang tua selagi ada, karena kalau orang tua sudah nggak ada, kamu akan merindukan semua tentang mereka.” Entah apa yang dirasakan gadis itu sekarang, wajah cantiknya yang berubah sendu membuat Kim terus terpaku di tempatnya. Tidak ada pergerakan sedikit pun dari lelaki jangkung terebut, sebab dia cukup tertarik dengan percakapan antara putranya dan Sheilla. Beberapa detik kemudian, Woo Jin menyelesaikan sarapan. Bocah kecil itu pun melihat ke arah Sheilla sepenuhnya. “Iya, aku tahu. Aku juga suka sedih kalau ingat sama mama. Teman-temanku semua di sekolah di antar mamanya, ada yang ditungguin segala sampai jam sekolah selesai. Cuma aku sendiri yang nggak begitu,” ujar Woo Jin. Dia pun mengubah raut wajah yang semula menunjukkan kesedihan menjadi keceriaan kembali. “Oh, ya. Besok lusa di sekolahku ada acara lomba puisi. Apa Kakak mau datang?” “Apa?” Sheilla menggelengkan kepala. “Enggak, ah. Kamu ajak appa kamu saja, jangan ajak kakak. Mana boleh kakak pergi sembarangan, apalagi kakak juga baru mulai kerja. Apa kamu kakak dipecat sama appa kamu itu, hmh?” “Nggak akan dipecat, aku yang jamin! Aku yang minta ke appa nanti supaya Kakak ikut ke sekolah. Jadi mau, ya? Awas loh, kalau nggak datang. Aku marah, nih!” “Ya, ampun. Pintar banget maksanya, uh? Anak kalem, coba sini lagi mau cubit pipinya sedikit!” Sheilla mencubit gemas kedua pipi Woo Jin sampai anak itu tertawa renyah dibuatnya. Kim yang sedari tadi menyaksikan mereka pun mulai merasa ada yang salah. Woo Jin sama sekali tidak bercerita apa pun tentang acara yang disebutkannya barusan, lalu kenapa anak itu malah mengajak Sheilla? Akhirnya, Kim mulai berjalan mendekat ke tempat mereka dan bertindak seolah-olah baru tiba di sana. “Apa kau sudah selesai? Ini sudah siang,” ujar Kim seraya menaruh barang belanjaannya di atas meja, Sheilla pun seketika beranjak dari kursi melihat kehadiran Kim di sana. “Ah, iya. Kalau gitu aku pergi berangkat sekolah dulu.” Woo Jin pun beranjak sekaligus mengambil tas yang menggantung di kursinya. “Dah, Appa!” teriaknya setelah berjalan menjauh. “Ya—“ “Hai-hati di jalan! Jangan lupa bekalnya dimakan pas istirahat, ya!” seru Sheilla tanpa menyadari Kim di sebelahnya juga ingin menyambut seruan Woo Jin. Sesudah itu, dia melihat pekerjaan tambahan berada di atas meja. “Ini mau disimpan di mana, Tuan? Biar Ella yang simpan.” “Di kulkas.” Kim lantas menjawab spontan pertanyaan Sheilla. Gadis berambut hitam panjang itu pun segera merapikan meja makan dan mulai menata belanjaan Kim ke dalam kulkas. Memperhatikan kesigapan Sheilla dalam urusan pekerjaan rumah, Kim mulai merasa kalau keputusannya menerima Sheilla di rumah ini tidak salah. Apalagi Woo Jin juga tampak menerimanya dengan baik, entah apa yang dilakukan gadis itu sampai membuat luluh hati putranya yang sekeras batu jika menyangkut perempuan dewasa. “Apa kamu tidak akan menanyakan soal gaji ke saya?” tanya Kim ketika Sheilla masih sibuk. “Apa?” Sheilla sedikit mengernyit. “Gaji, ya. Terserah Tuan saja, Ella nggak akan menuntut banyak. Sudah dikasih pekerjaan dan tempat tinggal saja Ella sudah bersyukur, ternyata di dunia ini masih ada orang baik selain Gandi.” “Gandi?” “Iya, dia sahabat Ella satu-satunya. Nanti kalau Tuan ke Desa Sindang lagi, Ella kenalkan sama Gandi. Dia orangnya baik banget.” Kim mengangguk pelan menanggapi perkataan Sheilla barusan. “Bagaimana kalau saya gaji kamu 3 juta per bulan? Apa itu cukup?” “Astagfirullah!” Kedua mata bulat besar Sheilla terbelalak, dia bahkan sampai menutup mulut setelah mendengar Kim berkata. “Apa itu terlalu kecil?” “Ya, enggak atuh! Itu mah besar banget buat Ella. Ella pikir gajinya nggak sampai berjuta-juta begini, Ya Allah. Terima kasih karena sudah pertemukan Ella sama orang baik, ganteng, dan pengertian sama Ella!” Kim menahan tawanya melihat respons Sheilla yang begitu polos. “Sekali lagi terima kasih. Pokoknya Tuan jangan khawatir, semua pekerjaan rumah beres sama Ella!” ujar Sheilla sambil meraih tangan Kim untuk mewakili rasa terima kasihnya.  Namun, seketika pegangan Sheilla terlepas. Lengannya ditarik oleh seseorang cukup kasar ditambah sebuah tamparann keras yang mendarat di pipinya. Sheilla pun memegangi pipinya yang terasa memanas dan perih, air mata juga mulai banjir berjatuhan tidak dapat terbendung. “Siapa kamu berani menyentuh kekasihku?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN