Kehadiran Sheilla

1745 Kata
Sore hari ketika Kim baru saja kembali dari tokonya, dia melihat anaknya tengah menonton televisi ditemani camilan kecil berupa keripik kentang dalam sebuah stoples. Bocah lelaki bermata bulat besar itu pun menoleh ketika mendengar suara pintu rumah terbuka, kemudian memberi sebuah senyum penuh siasat dan keinginan yang langsung dirasakan oleh sang ayah. “Appa, aku boleh beli itu nggak?” tanya Woo Jin seraya menunjuk ke arah sebuah iklan di televisi yang menunjukkan promosi es krim cokelat varian terbaru. “Tadi siang kamu baru saja membeli es krim,” jawab Kim tanpa memberikan jawaban iya atau tidak. Dia pun berniat mandi membersihkan badannya setelah berada di toko seharian, tetapi anak itu tampaknya masih penasaran saja. “Tapi tadi siang kan variannya beda, Pa. Ini keluaran terbaru, aku belum coba rasanya.” “Kalau appa tidak kasih izin, apa kamu mau menuruti appa?” tanya Kim balik kepada Woo Jin. “Mau itu ... boleh, ya. Hari ini baru sekali aku beli es krim, nggak akan sakit perut juga. Aku sehat, kok!” Kim tersenyum tipis, kemudian menghampiri putra semata wayangnya itu. “Baiklah, nanti kita pergi beli. Tapi kamu harus janji ke appa kalau ini yang terakhir, dan jangan membelinya dalam jumlah banyak atau kita tidak akan membelinya sama sekali,” ujarnya. Anak itu tampak berpikir sejenak, Woo Jin memang tipikal anak yang sangat menyukai es krim sejak mengenal makanan itu di usia 3 tahun. Varian yang digemarinya adalah cokelat, dia tidak akan pernah melewatkan kesempatan emas ketika melihat es krim kegemarannya itu meluncurkan varian terbaru.  “Boleh, deh. Tapi janji ya, kita beli sekarang?” “Iya, tapi tunggu appa selesai mandi.” Woo Jin hanya mengangguk, tetapi jelas sekali dari raut wajahnya bahwa dia sangat senang dengan izin yang diberikan Kim. Lelaki bertubuh jangkung itu pun segera berangkat ke kamar mandi, alih-alih membuat anaknya menunggu terlalu lama. Hari ini dia juga merasa begitu lelah dan membutuhkan udara segar di luar pekerjaan yang menguras pikiran serta tenaga. Kim keluar dari kamar mandi sekitar 10 menit kemudian, tetapi tidak menemukan keberadaan Woo Jin di tempat terakhir kali anak itu duduk. Sofa cokelat yang berada di tengah rumahnya itu kosong, padahal televisinya masih dalam keadaan menyala. “Di mana anak itu?” gumam Kim. Masih dengan posisi mengenakan setelan kaus putih polos dipadu celana chinos selutut, dia melangkah ke arah pintu depan sambil mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk. Kim berniat mencari keberadaan Woo Jin di balik pintu tersebut sebentar. Ketika Kim mulai membuka pintunya, orang yang pertama kali dia lihat adalah sesosok gadis muda dengan senyum khasnya yang manis. Gadis cantik yang mengenakan setelan kaus sederhana dipadu rok panjang itu tampak membawa sebuah tas besar yang masih dijinjingnya dengan tangan sendiri. Di samping gadis itu, barulah Kim menemukan Woo Jin. “Kau?” Kim mengernyit. Merasa heran dengan kedatangan Sheilla di tempatnya tanpa memberitahu terlebih dulu. “Akang, akhirnya Ella bisa ketemu Akang juga. Dari tadi siang Ella nyasar ke mana-mana karena nggak tahu rumah Akang yang mana,” ujar Sheilla. Kim melihat penampakan gadis desa itu cukup lusuh. Keringat sudah membasahi sebagian kausnya, terik sinar matahari siang ini juga tampaknya sudah membuat Sheilla kepanasan. Entah dia menemukan makanan atau minuman di jalan, atau tidak. Pastinya keberadaan Sheila hari ini cukup mengejutkannya. “Ayo masuk, Nuna!” Woo Jin lantas menarik lengan Sheilla masuk dalam rumah tanpa persetujuan Kim lebih dulu. “Eh, tapi—“ Kim sempat terpaku di tempatnya, melihat kelakuan anak itu yang begitu bersemangat menyambut kehadiran Sheilla di rumah mereka. Namun, Kim tidak memikirkan hal lain selain sebuah pertanyaan kenapa Woo Jin bersikap demikian. Akhirnya, Kim memilih mengikuti langkah keduanya dari belakang. Sheilla sendiri tampak ragu-ragu ketika sudah sampai di ruang tengah rumah ini. Bahkan ketika disuruh duduk pun cukup enggan menurut, Sheilla malah menatap Kim sambil menaruh tasnya di lantai. “Nuna mendingan duduk dulu, kasian banget kelihatannya cape begitu. Mau minum nggak? Aku ambil di dapur sebentar,” ujar Woo Jin menawarkan kebaikannya. “Ah, nggak usah repot-repot. Tadi kakak sudah beli minum di jalan, ini masih ada sisanya dalam tas,” jawab Sheilla. “Nggak repot sama sekali, cuma minum saja. Tunggu sebentar, aku ambil dulu.” Woo Jin pun melangkah menuju dapur meninggalkan Sheilla dan Kim berdua di sana. Gadis itu menatap Kim sebentar, kemudian tertunduk seakan ragu dan menahan kalimat yang akan keluar dari mulutnya. “Katakanlah, apa tujuanmu ke mari?” tanya Kim pada akhirnya membuka percakapan mereka. Dia cukup penasaran hal apa yang membawa Sheilla datang dan meninggalkan rumahnya di desa kecil itu. Padahal terakhir kali mereka bertemu, Kim ingat sepertinya Sheilla tidak begitu menyetujui ajakan pekerjaan darinya. “Itu ... Ella mau menerima pekerjaan dari Akang minggu kemarin. Apa masih ada?” tanya Sheilla ragu-ragu. “Oh, yang kemarin. Posisinya sudah diisi dengan orang lain. Saya pikir kamu tidak akan datang ke sini.” “Apa?” Sheilla terkejut, terlihat dari raut wajahnya yang menunjukkan sedikit kecewa dan rasa sedih. “Sudah diisi, ya? Kalau begitu, apa Akang tahu lowongan pekerjaan di area sini? Ella butuh pekerjaan, pekerjaan apa pun itu pasti Ella terima.” Sekali lagi Kim melihat gerak tubuh gadis itu, dia masih ingat beberapa kemalangan yang menimpa Sheilla belakangan ini. Berbagai ujian datang dalam waktu berdekatan, apalagi ditambah kesulitan ekonomi yang dialaminya membuat hati kecil Kim seakan bertentangan dengan pikirannya. Kim ingin menolak, tapi mulutnya malah berkata lain. “Saya masih ada satu pekerjaan lain untukmu,” ujar Kim tanpa sadar. Beberapa detik kemudian, dia baru menyadari ucapannya itu sedikit keliru di masa sekarang. Namun, sepertinya ucapan Kim menjadi angin segar bagi Sheilla. “Pekerjaan apa itu, Kang?” “Bersih-bersih di rumah ini, cuma itu. Ya ... cuma itu saja.” Kim ragu juga mengatakannya, sebab pekerjaan yang disebutkan ini mendadak muncul dalam pikiran. Padahal, dia sendiri tidak terlalu membutuhkan orang untuk membantu membersihkan rumah. “Alhamdulillah, ternyata Ella masih dapat pekerjaan juga!” sahut Sheilla bersemangat. “Terima kasih banyak ya, Kang. Ella jamin pokoknya rumah ini beserta isinya pasti bersih nggak ada kuman sedikit pun!”  Sheilla meraih tangan Kim, senyum lebarnya mengisyaratkan kebahagiaan besar. Apa langkahnya ini benar? Kim sempat membatin, tapi semua sudah telanjur terjadi. Dia tidak bisa menarik ucapannya kembali dalam waktu cepat. “Jadi Nuna mau kerja di sini?” tanya Woo Jin ketika baru kembali dari dapur bersama segelas minuman rasa jeruk di tangannya. Sheilla mengangguk cepat. “Kalau begitu, bisa dong antar aku ke minimarket deket sini? Aku lagi mau jajan es krim.” Woo Jin berkata lagi sambil tersenyum garing. “Woo Jin, kamu pergi sama appa. Jangan mengganggunya begitu.” “Aku nggak ganggu, cuma mau minta antar. Kalau pergi sama Appa nggak asyik, nanti belum juga sentuh es krimnya malah disuruh cepat pulang. Aku nggak mau diburu-buru,” ujar Woo Jin. Seketika itu juga dia mengulurkan tangan ke hadapan sang ayah. “Mau minta uangnya saja, nanti aku yang beli sama Nuna.” “Kamu tetap pergi sama appa, oke? Sekarang biarkan dia istirahat dulu, besok-besok baru appa kasih izin kamu,” ujar Kim sekali lagi dengan tegas. Woo Jin tampak cemberut di hadapannya, sebelum anak itu semakin meminta hal aneh lagi, Kim segera mengajak Sheilla keluar dari rumah. Kim mengajak Sheilla ke sebuah ruangan yang ada di dalam toko kosmetik miliknya. Ruangan itu memang tidak besar, tidak pula terdapat barang lain kecuali sebuah kasur, bantal, dan selimut. Lemari kecil cukup muat untuk pakaian yang dibawa Sheilla. Kim sengaja membawa gadis itu ke sana karena ruangan tersebut kosong, pegawai sebelumnya memilih untuk pulang pergi ke toko yang dimiliki oleh Kim. “Kalau kau mau, kau bisa tidur di sini,” ujar Kim. “Ella mau, di sini juga nggak apa-apa. Tapi apa Ella harus bayar tinggal di sini, Kang?” “Tidak perlu, tempat ini memang khusus untuk pegawai saya.” “Alhamdulillah! Akang baik banget sama Ella! Sekali lagi terima kasih, Kang. Ella bersyukur banget sudah dibantu banyak seperti ini.” Sheilla begitu senang, sampai dia spontan menggenggam tangan Kim cukup kuat. Namun, senyum lebarnya itu sepertinya tidak cukup memicu senyum juga di bibir pria berusia 33 tahun tersebut. Kim pun melepaskan pegangan Ella padanya. “Ada satu lagi yang harus kamu tahu kalau mau bekerja di tempat saya,” ujarnya lagi. “Apa itu?” “Berhenti panggil saya dengan sebutan akang, panggil saja saya sesukamu asal jangan sebutan itu. Apa kau mengerti?” “Hah?” Sheilla mengernyit. “Memangnya ada yang salah gitu? Akang itu sebutan sopan buat orang yang lebih tua. Ella mau menghargai Akang aja,” ujarnya. Namun, Kim tidak berkata apa pun dan hanya menatap Sheilla datar seperti sebelum-sebelumnya hingga dia berjalan ke arah pintu hendak meninggalkannya. “Beristirahatlah, kau bisa bekerja mulai besok.” “Iya, Kang ... eh, Ella harus manggil apa atuh kalau Akang ... eh, salah lagi, kan.” Sheilla mengejar langkah Kim sampai ke pintu, lelaki itu tidak menoleh lagi. “Ya, sudah. Kalau begitu Ella panggilnya Tuan, ya?! Biar agak gaya sedikit!” Teriakan Sheilla masih bisa didengar oleh Kim yang telah berjalan menjauh dari sana. Tidak ada tanggapan apa pun, tapi pria jangkung itu cukup setuju daripada sebutan Akang tersemat lagi padanya. ***  Sebelum terbit matahari, lebih tepatnya di pukul 04.30. Kedua mata Kim mulai terbuka perlahan ketika mendengar suara Azan Subuh berkumandang. Suara-suara dari kendaraan di jalan pun sudah cukup ramai, mengingat tempat tinggalnya bertepatan di pinggir jalan area pasar. Kim sendiri bukan seorang muslim. Ketika dia menikahi Anita, dia masih memeluk agamanya sendiri yaitu Kristen. Di Indonesia, pernikahan beda agama jelas tidak pernah diizinkan. Atas dasar itu, Kim menikahi istrinya tersebut di negaranya sendiri. Sampai detik ini lelaki itu masih terus memperhatikan dan belajar dari orang-orang muslim di sekitarnya sebelum dia benar-benar akan memeluk agama tersebut.  Lelaki jangkung itu pun melangkah menuju dapur, tenggorokannya cukup kering dan ingin mengambil air minum di sana. Kim membuka kulkas dan mengeluarkan teko berisi air dingin, kemudian menutupnya kembali untuk mengambil sebuah gelas di rak. “Tuan sudah bangun di jam begini?” “Uhukk!” Kim mendadak tersedak air minumnya sendiri ketika tiba-tiba mendengar seseorang berbicara di sebelah. Dia baru menoleh dan melihat sesosok gadis dengan dress putih selutut, rabut hitam sepinggang itu dibiarkan tergerai begitu saja. Dalam sekilas penglihatannya, gadis itu seperti penampakan hantu.  “Kau ... ngik. Kenapa bisa ... ngik.” Kim menutup mulutnya dengan tangan, dia mendadak cegukan karena saking kagetnya melihat keberadaan Sheilla yang mendadak di dalam rumah. Sementara Sheilla malah menahan tawa melihat wajah Kim yang mulai kemerahan karena malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN