Keputusan Pertama Sheilla

1518 Kata
Sheilla menangis seorang diri di belakang rumah pemilik acara pernikahan, orang-orang yang melihatnya bertanya kenapa? Tapi Sheilla enggan menjawab. Dia diam bersama sekelumit kesedihan dalam dirinya yang belum hilang. Sheilla sempat berpikir, kenapa hidupnya terus begini? Kemalangan demi kemalangan terjadi, orang tercinta di sekitarnya pergi, dan sekarang hidup sebatang kara. Saudara jauh, tidak ada yang peduli. Ke mana lagi Sheilla akan mengadukan beban hidup yang begitu berat untuk dipikul ini? “Apa Ella harus mati saja? Ella mau ikut Mimi, supaya bisa ketemu sama Mama, Abah juga.” Sheilla berkata begitu pelan sambil menyeka air mata, sedikit busa-busa dari sabun cuci piring bahkan ikut menempel di pipinya. Dia tidak menyadari itu, pikirannya kacau balau, tapi dia sudah berjanji akan bekerja hari ini. Sheilla sudah tidak ada pegangan uang sama sekali, dan memaksakan diri tetap berada di sini. “Itu boddoh sekali, apa kamu benar mau melakukannya?” “Ya, ampun! Kaget sekali ....” Sheilla terkejut karena mendengar sebuah suara menyambung kalimat yang diucapkannya barusan, dia menoleh dan langsung menangkap sesosok lelaki jangkung berkemeja abu tua berdiri di sebelahnya.  “Akang? Kenapa Akang ada di sini?” tanya Sheilla heran, sebab yang dilihatnya adalah Kim.  “Mau cuci tangan, tidak ada air di depan.” “Oh ...” Sheilla pun membuka kran air dan membiarkan lelaki itu mencuci tangannya. Jujur saja, Sheilla sedikit malu jika bertemu dengan Kim, sebab pertemuan mereka yang selalu datang di waktu tidak tepat. “Apa kamu bersedih karena ucapan Rin tadi?”  “Apa?” Sheilla berusaha menajamkan pendengarannya saat Kim berbicara. “Nggak, Ella biasa saja. Sudah biasa juga dimarahi orang.”  “Oh.” Sheilla cemberut, respons Kim ternyata hanya sebegitu singkat padahal kekasihnya sudah memarahi Sheilla di depan umum tadi. Lelaki itu pun berbalik badan setelah membasuh tangannya, lalu menatap Sheilla. “Pakai ini, wajahmu kotor sekali.” “Kotor?” Sheilla mengusap pipinya dengan punggung tangan, tapi berakhir dengan sabun cuci piring yang menempel di sana. Kim pun langsung memberikan sapu tangannya ke telapak tangan Sheilla agar bisa mengelapnya dengan cepat sebelum sampai mata. “Makasih, ini Ella kembalikan.” “Untukmu saja.” Kim menolak sapu tangan yang dikembalikan oleh Sheilla. “Kenapa? Takut sapu tangannya nggak higienis, ya? Kalau begitu nanti Ella cuci dulu biar bersih. Baru Ella kembalikan,” ujar Sheilla. “Kamu sensitif sekali,” ujar Kim. “Tapi ... apa tidak ada yang mengganggumu akhir-akhir ini?” “Mengganggu? Nggak ada.” Sheilla awalnya heran dengan pertanyaan Kim, tapi dia seketika sadar maksud yang sebenarnya. “Ya, ampun. Apa Akang masih penasaran sama kejadian minggu kemarin?” Kim terdiam. “Itu mah sudah pasti kecelakaan, Kang. Semua lelaki begitu kalau dekat sama Ella, makanya sekarang Ella minta Akang pergi saja, daripada kena sial lagi. Nanti Akang sendiri yang menyesal,” ujar Sheilla, dia pun kembali melanjutkan aktivitasnya mencuci piring dan gelas kotor, berusaha mengabaikan Kim di belakangnya. “Saya tidak mempercayai hal-hal seperti itu. Dan seharusnya kamu juga jangan mempercayainya.” “Akang mudah ngomong begitu karena nggak mengalaminya, tapi Ella mengalami. Apa Akang pikir gagal nikah beberapa kali itu nggak sakit? Sakit, Kang. Apalagi ditambah omongan sama perlakuan orang ke Ella yang sinis. Itu jadi beban buat Ella,* ujar Sheilla yang melihat ke arah Kim kembali. Kim terdiam sebentar sebelum menjawab semua perkataan Sheilla untuknya. “Kalau begitu ... apa kamu mau mencari tempat bersembunyi? Kalau kamu mau, ikutlah dengan saya.” “A—apa maksud Akang? Ella nggak bisa sembarangan ikut sama orang asing, kalau Ella diculik bagaimana?!” “Apa saya terlihat seperti seorang penculik?” Sheilla terdiam, memperhatikan Kim dari ujung rambut hingga alas kaki yang digunakannya. Lelaki itu cukup menarik perhatiannya dari pertama bertemu, apalagi bibbir itu ... pikiran Sheilla mendadak melayang ketika matanya melihat ke arah bibbir seksi milik Kim. Dia ingat betul mereka pernah bersentuhan, dan rasanya ... Sheilla lantas menggelengkan kepala cepat, menyingkirkan pikiran selanjutnya yang sangat menyebalkan. Kim pun mengeluarkan sebuah kartu nama, lalu diberikannya kepada Sheilla. “Kalau kamu ada menginginkan pekerjaan, datanglah ke tempat saya. Saya sedang mencari orang untuk menjaga toko yang saya miliki,” ujar Kim. “Kau juga akan mendapatkan tempat tinggal di sana.” Sheilla menerimanya, ragu-ragu. Apa ini akan berguna atau tidak baginya di kemudian hari? Untuk itu dia masih diam sampai Kim selesai lalu pergi dari sana tanpa berbicara apa-apa lagi. Sheilla memandangi kembali kartu nama milik Kim, dia merasa lelaki itu cukup baik walau sikapnya begitu dingin. **  Beberapa hari berlalu, Sheilla mulai berpikir bagaimana cara bertahan dalam kehidupan yang cukup keras ini. Dia memandangi gubuk yang ditinggalinya sekarang, ini penuh dengan kenangan bersama Nenek Murti. Walau jauh dari kata layak, dia tidak pernah sekalipun bersedih atau mengeluh. Baginya, sesuatu yang didapatkannya hari itu adalah sebuah takdir yang harus dihadapi. Sekarang Sheilla seorang diri, tidak ada lagi orang yang sering dilihatnya tidur meringkuk di satu-satunya ranjang tidur mereka setiap malam. Dia juga kehilangan seseorang yang selalu mengoceh bila sudah menonton sinetron di televisi milik tetangga. “Apa Ella pergi saja dari sini dan menemui akang itu? Sepertinya dia orang baik,” gumam Sheilla. Dia melihat kembali kartu nama dari Kim, menimbang-nimbang apa dia akan menerima tawarannya bekerja di toko. “Tapi bagaimana kalau tawarannya sudah hangus? Nanti Ella malah malu sendiri lagi.” Sheilla masih maju mundur, niatnya itu terhalang oleh lamanya waktu yang terlewat setelah Kim memberikan kartu nama ini. Sheilla khawatir kalau Kim sudah mendapatkan orang untuk bekerja di tokonya. “Ah, tapi Ella harus coba dulu. Siapa tahu masih ada, Ella nggak boleh begini terus.” Sheilla pun beranjak dari kursi, lalu mempersiapkan tas yang berisi seluruh pakaiannya. Dia bertekad akan mengubah kehidupannya menjadi lebih baik, mencoba terlepas dari bayang-bayang kutukan yang melekat padanya selama ini Sampai pagi tiba, Sheilla akhirnya siap untuk pergi. Pagi-pagi sekali Sheilla sudah menenteng tas hitam yang cukup besar, dia pun menunggu sebuah bis antar kota yang biasa lewat di jalan besar desanya setiap pukul 6.30. itu adalah kendaraan satu-satunya yang hanya lewat sekali setiap pagi, sebab desanya memang sangat jauh dari kota. Pada saat menunggu di tepi jalan, Sheilla melihat Gandi yang mengendarai motornya menghampiri. Pemuda jangkung berkulit putih dengan rambut sedikit ikal itu mengernyit melihat barang bawaan Sheilla. “Kamu mau pergi ke mana, Gan? Sudah gaya begitu pagi-pagi,” sapa Sheilla seperti biasa dengan senyum ramahnya. “Mau kerja, dong. Kamu sendiri mau ke mana bawa tas sebesar itu, La? Kamu diusir sama Pak Jumsari?” “Bukan, tapi Ella mau pergi cari kerja ke kota. Minggu kemarin dapat tawaran kerja di toko,” jawab Sheilla. Gandi turun dari motor dengan cepat sambil menatap Sheilla heran. “Kerja di kota? Di mana? Sama siapa?” “Oh itu ... Ella ada kenalan, namanya Kim. Menantunya Bu Sarinah itu, apa kamu kenal? Akang Kim mengajak Ella kerja di tokonya, lumayan kan, siapa tahu gajinya lebih besar dari jualan getuk,” jawab Sheilla. “Loh? Kamu terima? Kenapa kamu nggak bilang dulu sama aku, La?” “Memangnya kenapa Ella harus bilang dulu ke kamu, Gan?” tanya Sheilla heran. “Ya, masalahnya kamu menolak tawaran kerja dari aku, tapi malah menerima tawaran orang lain. Kim itu siapa? Kamu baru kenal sama dia kan? Kalau ternyata di Cuma memanfaatkan kamu bagaimana, La? Aduh ... kamu itu kenapa polos banget sih!” “Gandi marah sama Ella, ya?” tanya Sheilla yang melihat sahabatnya itu tidak lagi sabar saat bicara. “Kan sudah Ella bilang alasan Ella menolak tawaran kamu. Ella nggak mau kita kena masalah, sudah cukup hidup Ella saja yang penuh masalah. Kamu jangan, Gan.” “Aku nggak keberatan sama sekali, La. Aku ini laki-laki, ada perbedaan pendapat sama orang tua itu biasa. Tapi kamu—“ Sebuah mobil bus datang dan berhenti tepat di dekat mereka saat Gandi belum selesai bicara. Sheilla pun segera menenteng tas besarnya, kemudian melihat ke arah Gandi. Dia tahu pemuda itu sangat peduli padanya, dan justru karena alasan tersebut Sheilla memilih bekerja di tempat Kim sekarang. Sheilla tidak ingin Gandi mendapat masalah karena terus-menerus membantunya. “Maaf, Gan. Ella harus pergi dulu. Terima kasih atas kebaikan kamu selama ini, Ella bersyukur masih ada orang yang peduli seperti kamu,” ujar Sheilla. Dia pun melangkah dan benar-benar menaiki mobil busnya, mencari tempat duduk yang nyaman selama satu jam ke depan. Di luar sana, Sheilla melihat Gandi berlari sambil berteriak ke arah mobil bus yang ditumpanginya. Sheila pun segera membuka kaca jendela mobil tersebut. “Ella, jangan pergi! Aku masih bisa carikan pekerjaan lain buat kamu, aku janji!” Sheilla terdiam sejenak, begitu tersentuh dengan kepedulian Gandi padanya. “Nanti kapan-kapan Ella pulang ke sini, kok. Kamu jangan sedih, Gan. Ella nggak akan lupa sama kamu! Jaga kesehatan, ya. Awas, jangan kangen sama aku!” Sheilla melambaikan tangan ketika mobil busnya mulai bergerak menjauh. Namun, dia lihat Gandi masih saja berlari mengejarnya. “Ella ... Ella, jangan pergi!” Setelah Gandi tertinggal cukup jauh, Sheilla duduk kembali di kursinya. Dia sangat sedih melihat Gandi begitu, tapi sungguh tidak ada pilihan lain. Sheilla tidak bisa bertahan lebih lama di desa Sindang, berada dalam tekanan kutukan yang terus saja melekat padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN