Kesedihan Sheilla

2256 Kata
Malam hari setelah pengajian digelar, Sheilla duduk di sebuah kursi tua yang sering diduduki oleh Nenek Murti. Dia teringat, neneknya itu akan berada di sini selama berjam-jam dengan lamunannya sendiri. Sementara Sheilla di tempat lain memilih memasak makanan untuk dijualnya setiap hari. Sheilla tidak memungkiri bahwa dirinya berasal dari keluarga miskin dan penghasilannya bahkan sangat jauh di bawah rata-rata. Namun, selama belasan tahun hidupnya tidak pernah menyesali hal tersebut. Yang Sheilla tahu hanya bagaimana cara bertahan hidup bersama neneknya yang semakin renta. Sheilla menyadari, jika terlalu banyak mengeluh hanya akan membuat lelah, tanpa bisa memperbaiki keadaan. Sekarang alasan yang menjadi penyemangat Sheilla menghilang, dia seakan tidak ada tujuan hidup lagi. Sheilla bahkan tidak peduli bagaimana perih perutnya karena belum makan seharian, atau memikirkan kulit telapak kakinya yang lecet setelah berjalan jauh demi mencari neneknya kemarin, dia tidak berniat apa pun dan melakukan apa pun untuk sekarang. Air matanya sudah mengering, tetapi hatinya terus dirundung sakit. Sudah pukul sebelas malam, Sheilla masih bertahan di sana. Pikirannya pun terus berputar mengingat masa-masanya bersama Nenek Murti. “La? Apa kamu di dalam? Ini aku ....” Mendadak sebuah suara muncul dari balik pintu, lamunan Sheilla pun terpecah. Dia pun beranjak dari kursinya dan berjalan lemas menuju sumber suara. Entah siapa yang datang, terlalu banyak yang ada di pikiran Sheilla sekarang. Sesaat setelah pintu terbuka, sekelebat bayangan tiba-tiba memasuki rumahnya tanpa permisi dan langsung menutup kembali pintu tersebut. Sheilla jelas sangat terkejut, dalam cahaya tipis lampu minyak rumahnya, Sheilla melihat ada seorang pemuda berdiri di hadapannya. Sheilla tahu itu adalah Gandi—sahabatnya. “Gandi? Kenapa kamu datang malam-malam begini ke rumah Ella? Nanti ada masalah lagi, cepat pulang sana,” usir Sheilla tanpa basa-basi sambil mendorong tubuh jangkung Gandi, tetapi pemuda itu menolak. “Aku nggak bisa pulang, Ella. Aku terus kepikiran sama kamu. Apa kamu sudah makan? Aku bawa makanan dari rumah, ini enak banget buatan ibu,” ujar Gandi. Dia memeriksa tubuh Sheilla dari ujung rambut hingga ujung kaki, gadis cantik berambut hitam panjang tersebut kelihatan menyedihkan. Sheilla hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan dari Gandi dia justru menangis lagi karena terlalu sedih, sebab saat seperti ini masih ada orang yang memikirkannya seperti Gandi. Pemuda itu pun tampaknya kebingungan melihat Sheilla yang mendadak menangis di hadapannya. “Kenapa kamu malah nangis, Ella? Apa ada yang sakit? Aku dengar kemarin kamu pingsan di jalan. Kenapa tadi siang kamu nggak ngasih tahu aku, La? Aku malah dengar ini dari Bi Asti tadi siang pas mau pulang.” Sheilla masih menangis. Gandi memang sempat menjemputnya di makam siang tadi, menemaninya sebentar di rumah, dan langsung pergi tanpa tahu apa-apa mengenai Sheilla kemarin. “Ella terlalu sedih buat ngomong sama orang. Sekarang saja Ella malas, jadi lebih baik kamu pulang saja, Gan. Apalagi kalau nanti ada yang lihat, kamu bisa dimarahi sama Pak Lurah. Ella nggak mau itu terjadi,” ujar Sheilla. Dia bukan tidak mau menerima kedatangan Gandi, melainkan status sahabatnya itu yang memberatkannya. Gandi adalah seorang anak dari lurah desa tempat Sheilla berada, dan ayahnya itu tidak pernah suka jika Gandi bertemu dengan Sheilla yang hanya seorang anak yatim piatu. “Kamu masih saja takut sama begituan, Ella. Yang dimarahi itu aku, bukannya kamu,” jawab Gandi seadanya. “Kalau begitu kamu duduk dulu, biar aku menyiapkan makanannya. Kamu pasti belum makan, kan?” Gandi pun menuntun Sheilla duduk di sebuah kursi, sementara dirinya mengambilkan sendok dan air minum. Pemuda itu pun bisa melihat tidak ada makanan sama sekali di gubuk ini. Hanya ada air putih, dan nasi sisa yang sudah mengeluarkan bau tidak sedap di atas meja. “Makanlah, jangan biarkan perutmu kosong, Ella.” Sheilla melihat makanan dalam rantang yang dibawa Gandi, itu berisikan ikan goreng, semur ayam, dan nasi. Dari aromanya itu sudah pasti enak, tetapi Sheilla sama sekali tidak tertarik menyentuhnya. “Apa perlu aku suapin? Biar kamu bisa makan makanan ini,” ujar Gandi lagi. “Ella nggak nafsu makan.” “Terus yang bisa bikin nafsu makan kamu muncul lagi, apa?” “Ella maunya mimi ada di sini.” Ella berkata cukup pelan. “Kamu mau mimi bangkit dari kubur?!” “Kamu kok, ngomongnya begitu sih?! Bukan itu maksud Ella tahu ....” “Ya, kamu sendiri ngomongnya begitu! Horor amat,” ujar Gandi. “Mimi sekarang sudah tenang, Ella. Sudah nggak sakit, urusannya juga sudah selesai di dunia. Kamu yang masih hidup juga harus tetap bertahan buat mewujudkan harapan mimi, itu adalah pernikahanmu sama orang yang benar-benar mencintai kamu, La.” Seketika Sheilla terbungkam, suatu beban berat baginya jika membicarakan hal tersebut. Sebab semua orang di desa Ranting, Desa Sindang hingga desa lainnya tahu mengenai kutukan yang melekat kepada Sheilla. Kutukan itu berasal dari pernikahan-pernikahannya yang gagal beberapa kali. Pertama, Sheilla pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki bernama Rudi selama 6 bulan, dan mereka memutuskan menikah dalam waktu dekat. Namun, siapa sangka Rudi mengalami kecelakaan yang menyebabkan nyawanya melayang seketika. Kedua, Sheilla pun dijodohkan oleh seorang anak pemilik peternak sapi, tapi lagi-lagi dia tidak bisa menikah karena sang calon suami mendadak gila akibat banyak sapinya mati tersambar petir. Begitu pun seterusnya, hubungan Sheilla tidak pernah berakhir ke jenjang pernikahan. Ada saja musibah yang menimpanya dan membuat rencana pernikahannya batal. “Itu nggak akan pernah terjadi. Pernikahan buat Ella Cuma mimpi, apalagi sampai bisa mewujudkan harapan mimi.” Sheilla menggelengkan kepala, dia sudah menyerah dengan keadaan, terlebih jika membahas tentang pernikahan. “Akan ada orang yang mencintai kamu dengan tulus, Ella, percayalah.” “Contohnya siapa?” “Aku misalnya,” jawab Gandi sambil tertawa kecil. Sheilla mencebik. “Nggak lucu. Ella juga sudah berhenti berharap bisa menikah, mana ada juga yang mau menikah sama Ella? Semua orang tahu, selain ada kutukan, Ella juga nggak punya kelebihan yang bisa dibanggakan. Nggak pernah bisa merawat diri, nggak cantik, rumah Ella juga Cuma sumbangan dari orang. Bisa diusir kapan pun,” ujarnya kemudian. “Kalau begitu tinggal saja di rumahku, La. Apa kamu mau? Kamu bisa bantu bersih-bersih rumah ibu, aku jamin ayah nggak akan marah.” “Apa?” Sheilla mengernyit sebentar. “Itu mah, sama saja menyuruhku bunuh diri. Apa kamu mau aku ditelan hidup-hidup sama ayahmu itu?” ujarnya lagi tidak habis pikir. “Terus apa rencana kamu ke depannya, Ella? Apa kamu masih mau tinggal di gubuk ini selamanya sampai nenek-nenek?” “Ella nggak tahu. Nggak ada lagi yang bisa bikin Ella bersemangat semenjak mimi pergi, nggak mati besok saja rasanya sudah bagus.” Sheilla menjawab sekenanya, sebab itulah fakta yang dia hadapi sekarang. **  Seminggu berlalu setelah itu. Rin yang rencananya akan mengajak Kim pergi ke sebuah acara pernikahan pun dibuat cukup sibuk membujuk Woo Jin agar bisa ikut bersama mereka. Hal itu dikarenakan persyaratan dari Kim sendiri, jika Rin berhasil membujuk putranya ikut. Maka rencana mereka akan disetujui. Namun, faktanya. Kemudahan tidak selalu datang kepada orang cantik dan kaya raya. Rin sudah membawakan makanan kesukaan Woo Jin, berikut mainan baru, tetapi masih saja anak itu menolak ajakannya. “Ayolah, masa kamu tidak mau ikut? Apa kamu tidak tertarik jalan-jalan? Nanti papa sama tante akan mengajakmu ke taman bermain sehabis pulang dari acaranya,” ujar Rin kepada Woo Jin yang sedang bermain game di ponselnya. “Masih nggak mau juga. Kalau mau pergi, ya pergi saja. Biar aku di rumah, lebih enak dan nggak panas kayak di luar,” ujar Woo Jin. “Terus kamu tinggal di rumah sendiri, dong. Memangnya kamu tidak takut hantu? Siapa tahu ada hantu yang lagi lihat kamu sekarang.” “Biarin! Biar aku ketemu sama hantunya, terus aku suruh dia panggil mama supaya datang ke sini sekalian. Aku akan bilang ke mama kalau Tante sudah memaksaku pergi, padahal aku nggak mau!” Woo Jin mengeluarkan suara agak keras, jelas sekali dia menolak ajakan dari Rin hari ini. Gadis itu pun menghampiri Kim dengan bibir cemberut. “Mas, kamu lihat sendiri. Dia terus menolak ajakanku sejak tadi. Ini sudah siang, kita hampir terlambat,” adu Rin kepada Kim yang berdiri di dekatnya sekarang. “Kamu hanya butuh sedikit usaha lagi, Rin.” “Usaha seperti apa lagi? Aku sudah bicara panjang kali lebar sejak tadi sampai mulutku berbusa, tapi dia tetap menolakku,” ujar Rin lagi seraya menggenggam lengan Kim. “Kali ini, kamu yang coba bujuk dia, ya. Besok-besok aku akan berusaha lebih keras lagi, aku janji.” Kim pun menghela napas tipis, melihat gadis itu sudah merias diri begitu cantik dengan penuh semangat datang ke rumahnya, Kim akhirnya memilih melangkah menghampiri Woo Jin. “Jangan begitu sama Tante Rin, kamu terima ajakannya hari ini ya.” “Aku nggak mau, Pa. Lagi malas gerak hari ini, kalau mau pergi ya pergi saja. Biar aku sendiri di rumah,” ujar Woo Jin. “Kau tahu? Tempatnya berdekatan dengan rumah nenek, nanti sekalian kita ke rumah nenek kalau kamu tidak mau ikut sama appa ke acaranya. Daripada kamu sendirian di sini, jangan buat appa khawatir, sekarang ini ada banyak hal terjadi. Appa tahu kamu tidak takut hantu, tapi yang appa takutkan adalah bagaimana kalau ada orang jahat datang ke rumah?” Woo Jin akhirnya terdiam sambil menatap Kim yang cukup sabar menghadapinya. “Jadi, kamu mau ikut appa, ya?” Woo Jin pun mengangguk pelan, Kim tersenyum tipis sambil mengusap rambut hitam putranya. Dia tidak pernah mau memaksakan kehendak sebenarnya, tetapi bagaimana pun dia sudah terikat oleh Rin, gadis yang sekarang menjalin tali kasih dengannya. Sebisa-bisa mungkin Kim akan terus mencari kebahagiaan untuk anaknya, agar Woo Jin mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan sejak dulu, yaitu kasih sayang seorang ibu. **  Kim pun menghadiri sebuah acara resepsi pernikahan salah seorang teman Rin di Desa Sindang, dan Woo Jin terpaksa dititipkan sementara di rumah ibu mertuanya. Kim cukup mengerti anak itu tidak pernah suka keramaian, sama seperti dirinya. “Rin?!” seru seorang mempelai wanita dari kejauhan ketika melihat kehadiran Kim dan Rin di sana. Rin pun menyambut seruan itu dengan melambaikan tangannya dari kejauhan, kemudian menyeret lengan Kim agar ikut dengannya menghampiri sepasang pengantin baru tersebut. Gadis itu cukup bangga berjalan sambil menggandeng Kim bersamanya, sebab lelaki berusia 33 tahun tersebut masih tampak gagah dan tampan. Kulit putih bersih murni keturunan negara ginseng tersebut pun menyempurnakan penampilannya. “Kenapa kamu lama sekali, humh? Aku kira kamu tidak datang hari ini.” “Iya, maaf. Tadi ada sedikit masalah, tapi yang penting aku datang kan?” jawab Rin. “Selamat atas pernikahan kalian berdua, ya.” Rin berkata lagi sambil memeluk singkat sahabatnya itu. “Terima kasih, tapi ... apa ini adalah kekasihmu?” “Ya, tentu saja! Dia adalah kekasih sekaligus calon suamiku, perkenalkan namanya Kim.” Rin menjawab penuh semangat mengenalkan Kim yang sejak tadi diam di sebelahnya. “Dia tampan sekali, kalian berdua pasangan yang serasi.” Rin tersipu malu menanggapi pernyataan sahabatnya itu. “Kalau begitu aku oergi menemui yang lain dulu, ya. Nanti kita foto bareng, oke?” “Siap!” Kim lagi-lagi mengikuti langkah Rin yang mengajaknya ke sebuah tempat di mana teman-temannya yang lain berada. Ada cukup banyak pasang muda mudi dari mereka yang datang, menikmati momen penting dari salah seorang sahabat mereka hari ini. Namun, pandangan Kim justru malah berpusat pada gerakan aktif seorang gadis muda dengan setelan rok panjang dan kaus putih polos sederhananya. Gadis itu tampak begitu sibuk berjalan ke sana-kemari membereskan piring-piring kotor bekas makanan para tamu undangan, juga pekerjaan lainnya yang cukup melelahkan. Ya, gadis itu adalah Sheilla. Seseorang yang dikenal Kim sekitar seminggu lalu. Gadis berambut panjang dengan bando hitam bermata bunga-bunga kecil tersebut tampak terlihat kurus hanya dalam waktu singkat, dan Kim cukup mengerti penyebabnya. “Apa Mas mau minum? Biar aku panggilkan orang untuk mengambilkannya,” ujar Rin sekaligus bertanya. “Boleh.” “Hei, kamu!” seru Rin kepada Sheilla yang tidak jauh dari tempatnya berada. “Ella?” “Iya, kamu! Siapa lagi memangnya?” Sheilla pun menaruh sebentar gelas kotor yang ada di tangannya demi menghampiri Rin, gadis itu juga tampak cukup terkejut ketika melihat Kim berada di sana, tetapi dia tidak berkata apa-apa seakan tidak saling mengenal satu sama lain. “Tolong ambilkan dua gelas air minum buat kami, kalau bisa gelasnya cuci lagi sebelum dipakai, biar higienis.” “Apa? Ma—maksudnya? Ella nggak mengerti,” ujar Sheilla. “Kamu ambil gelas baru di dapur, tapi cuci lagi sebelum dipakai. Yang bersih! Apa masih tidak mengerti juga?! Aku tidak mau gelas bekas pakai orang dan disuguhkan dalam keadaan tidak bersih.” “Tapi gelas yang dipakai di sini bersih-bersih, kok. Ella sendiri yang cuci, kenapa harus dicuci lagi?” “Kamu berani mempertanyakan perintah tamu?!” mendadak suara Rin mengeras, membuat orang-orang di sekitarnya memperhatikan mereka. “Aku Cuma minta hal kecil, tapi kamu berani bilang begitu! Apa kamu mau mencari masalah denganku?!” Sheilla langsung tertunduk mendapat bentakan keras Rin barusan. Dia sedih, padahal hari ini dia datang untuk mendapatkan uang lebih dari pekerjaannya, tapi siapa sangka dia akan mendapat bonus omelan dari orang yang tidak dikenal. Kedua mata Sheilla memanas, air matanya menumpuk seketika sebab masih belum kering kesedihannya menangisi kepergian Nenek Murti. “Rin, sudahlah. Apa kamu harus memarahinya begitu?” Kim berbicara kepada Rin atas emosi tidak terduganya. “Tapi aku kesal sekali, dia sangat menyebalkan padahal aku Cuma meminta hal kecil.” “Apa kamu tidak bisa menahannya sedikit? Ini tempat umum, dan kau sudah—“ Sebelum Kim melanjutkan ucapannya, Sheilla sudah meninggalkan mereka berdua bersama tangis yang ditahannya cukup kuat. Melihat kepergian gadis itu, niat Kim menegur Rin lebih jauh jadi sirna. Suasana hatinya mendadak buruk, sebab Rin nyatanya tidak mampu mengubah sikap kekanakannya di tempat umum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN