05

1791 Kata
Arlyn melingkarkan tangannya di lengan Reymond. Bertumpu di sana, sembari menunggu jawaban dari suaminya itu. Reymond menaruh ponsel, sedikit menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Arlyn. “Bagaimana denganmu? Apa kamu mencintaiku Arlyn?” tanya Reymond melemparkan pertanyaan yang sama. “Aku mencintaimu, Suamiku,” bisiknya di telinga Reymond. Reymond semakin tidak bisa mengontrol hasrat yang berkecamuk di dalam dadanya. Sadar betul, jika celananya mulai terasa sesak. Dia pria normal, dan suara Arlyn seolah menariknya untuk melakukan sesuatu. Bukan hanya itu, gaya bicara dan bahasa tubuhnya sangat menarik, membuatnya mudah terpesona. Pria itu menahan nafas mengendalikan nafsunya. Sementara Arlyn bisa melihat gairah yang membara suaminya. Arlyn memberanikan diri melingkarkan tangannya di leher Reymond. Menatap tajam suaminya. Lampu kamar yang remang dan bau lilin aroma jasmine yang berpendar di seluruh ruangan. Merasuk ke indra penciuman Sang Pria. Semakin tak bisa mengelak lagi, dari godaan yang di hadapannya. Reymond sangat membenci Arlyn, sangat membencinya karena setiap melihat Arlyn dia hanya akan teringat akan balas dendam. Namun, wajah Arlyn yang cantik, senyuman yang memikat dan bentuk fisik sempurna dambaan semua pria. Reymond membalas pelukan Arlyn, melingkarkan kedua tangan di tulang punggung istrinya itu. Kedua mata mereka saling menatap. Penuh getaran dan kode-kode, hanya mereka berdualah yang paham. “Kita akan melakukan sekarang?” tawar Arlyn mendaratkan ciuman di bibir Reymond. Pria itu tidak menjawab. Satu tangannya meraih ikatan di sisi kanan gaun malam istrinya. Satu tarikan saja, membuat baju Arlyn terurai. Dering ponsel dengan volume penuh memenuhi seisi ruangan. Suasana romantis dan panas berubah menjadi canggung. Arlyn beranjak dari pangkuan Reymond, membenarkan tali bajunya. Dia membenarkan posisi tubuhnya miring membelakangi Sang Suami. Reymond meraih ponsel di atas nakas ada panggilan dari Faris. “Halo,” sapa Reymond setelah menggeser layar ponselnya. “Tuan, saya sudah menerima beberapa rancangan bangunan untuk hotel baru,” jelas sekretarisnya. “Oh, baik!” sahut Reymond. “Arsitek dari perusahaan konstruksi sudah mengirimnya ke alamat e-mail Anda,” katanya. “Ok, nanti aku cek!” jawab Reymond. “Sudah, cuma itu saja yang bisa saya sampaikan!” kata Faris. “Iya,” jawab Reymond datar. Ekspresinya benar-benar tidak terbaca “Selamat malam Tuan, selamat beristirahat!” pamit Faris, tidak sadar bahwa dia telah mengganggu Quality Time, bosnya bersama Sang Istri. “Sebentar!” cegah Reymond. “Mulai sekarang kamu har7a melihat jam ketika ingin menelefonku!” tegas Reymond. Klik! Panggilan telefon diakhiri begitu saja oleh Reymond tanpa mendengar jawaban dari sekretarisnya. Reymond menaruh kembali ponselnya. Ada rasa tak terjemahkan yang tertahan di dadanya. Kemudian, ia melangkah menuju pintu kamar. Membukanya, membiarkan udara malam masuk ke dalam. Hanya berdiri di balkon. Menatap kosong, memahami apa yang di rasakannya malam ini. Lima belas menit kemudian, Reymond memutuskan kembali masuk ke dalam kamar. Mengunci pintu lalu berjalan menuju tempat tidur. Ia memutuskan untuk berbaring, beristirahat di samping istrinya yang sudah tidur meringkuk terlebih dahulu. Reymond menaikkan selimut, tidak membiarkan Arlyn kedinginan. Ia pun tertidur dengan satu tangan yang bertengger di atas tubuh istrinya. ** Pagi hari Arlyn bangun terlebih dahulu. Ia mandi dan membuatkan coklat hangat untuk suaminya. Jadi, mulai sekarang setiap hari ia akan turun ke dapur yang berada di lantai bawah dan kembali naik dengan secangkir coklat hangat. Ia pergi ke balkon menikmati udara pagi yang masih bersih. Dia memperhatikan kakinya yang nyaman berdiri di atas lantai kasar. Pandangannya tertuju pada secarik kertas usang. Arlyn memungutnya, membuka setiap lipatan kertas itu. Meski samar wanita itu dapat membaca goresan tinta yang tertulis di atas kertas. “Reymond Erkananta Ricardo,” gumam Arlyn pelan. Ia menggeleng penuh tanya. Pasalnya selama ini ia hanya tahu jika nama suaminya Reymond Erkananta. “Ricardo,” lirihnya seolah mendapat petunjuk untuk menyelidiki suaminya dan misi sebenarnya menikahi dirinya. Arlyn segera memasukkan kertas itu dalam saku celananya setelah mendengar langkah Reymond masuk ke kamar mandi. Tak ingin membuat kesalahan Arlyn segera menyiapkan baju kerja untuk suaminya. Setelan jas berwarna abu tua dengan kemeja warna putih dan sasi bergaris. Ia juga menyiapkan sepatu hitam mengkilap di pagi hari ini. Beberapa saat kemudian Reymond keluar dari kamar mandi, bertelanjang d**a dengan ikatan handuk di bawah perut. Memperlihat roti sobeknya. Otot lengannya juga tak terlewat dari pandangan Arlyn. Proporsional, pikir wanita itu. Arlyn mengalihkan pandangan ke arah lain. Mengutuki dirinya sendiri yang sangat memuja Reymond. Ya! Itu semua karena pria itu datang di saat yang tepat dengan sejuta perhatiannya. “Apa kamu tak suka melihatnya!” tanya Reymond berjalan mendekati Arlyn. “Bukan, begitu sayang,” jawabnya. Ia berjalan ke sisi ranjang yang lain, pura-pura menyiapkan tas kerjanya. Reymond mengenakan bajunya dengan cepat, paham betul jika Jenny dan David sudah menunggu mereka di meja makan. Setelah selesai bersiap, Reymond dan Arlyn berjalan berdampingan menuruni tangga menuju ruang makan. Tebakannya benar jika kedua orang itu sudah di meja makan dan menunggu mereka. Reymond duduk, diikuti Arlyn yang duduk di sebelahnya. Mereka berempat mulai makan. “Reymond,” panggil Auntie Jenny. “Iya,” jawab Reymond melihat ke arah wanita itu. “Kita berdua akan pulang pagi ini, juga,” jelasnya. “Iya, Auntie,” sahutnya masih sibuk dengan makanan di piringnya. “Oh iya, biarkan Justine tinggal di sini dan membantumu di perusahaan ya?” pinta Auntie Jenny mendadak. “I-iya,” Reymond hanya mengiyakan, ia tak dapat menolak jika itu pemintaan wanita yang selama 18 tahun ini sebagai pengganti ibunya. Justine, si pembuat keributan yang tidak pernah serius bekerja akan membantunya mengurus perusahaan? Yang benar saja, Reymond mulai ragu. “Mungkin besok dia baru akan tiba di sini karena sekarang dia masih menikmati liburannya,” tambah Auntie Jenny. Reymond mengangguk lemas. Si pembuat onar di sekolah. Si pelanggar peraturan dan pembuat keributan akan tinggal bersamanya di rumah ini. Pria itu hanya berharap semoga dua tahun ini sepupunya itu sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi. Arlyn hanya menyimak pembicaraan. Pikirannya sibuk tentang pertemuannya dengan Nicholas hari ini. Selesai makan Jenny dan David berpamitan. Mereka akan berangkat ke bandara sekarang juga agar tidak telat. Reymond berangkat kerja dengan Faris sekretarisnya yang sudah stand by menunggunya sejak pukul tujuh. Arlyn berangkat ke toko buku, tentu saja dengan dua pengawal yang di tugaskan suaminya. ** Ketika Arlyn tiba, Rina sedang duduk, di atas mejanya ada catatan kecil mengenai pertemuan Arlyn dan Nicholas hari ini. “Pagi, Mbak Arlyn,” sapanya. “Pagi juga, Rin,” jawabnya. Arlyn duduk dengan terus merenung, pikirannya tidak tenang jika harus bertemu dengan Nicholas, ya pria yang ada di blacklist urutan pertama orang yang tidak akan pernah ia temui! Namun, demi membuka semua teka-teki ini Arlyn sedang mempersiapkan diri menemui pria itu. “Tadi saya sudah menghubungi asisten Pak Nicholas, Mbak, beliau hanya ingin membantu jika Anda yang berbicara langsung kepadanya!” kata Rina. Arlyn mengangguk. “Ini, ada nomor dan nomor unit apartemen tempat Pak Nicholas tinggal,” jelasnya. Arlyn menerima selembar kertas itu. Lalu melihat nomor ponsel yang tertera di sana. Sejenak ia berpikir. Kemudian, ia menekan nomor dan menghubungi nomor Nicholas. Panggilan terhubung. “Halo,” sapa Nicholas. Untuk pertama kalinya setelah enam bulan peristiwa menyakitkan itu Arlyn kembali mendengar suara dari pria yang telah menyakitinya. “Ini, aku Arlyn,” sahutnya. “Sudah lama aku menunggu panggilan telefon darimu, Arlyn,” katanya terdengar begitu nyaring. “Tolong, bantu aku!” pinta Arlyn. “Aku, akan membantu sebisaku, jadi apa yang bisa aku lakukan?” tanya Nicholas. “Aku hanya ingin kamu membantuku mendapatkan surat kabar di tahun 2001 sampai dengan 2002,” jelas Arlyn. “Oh, itu mudah! Jadi siang ini temui aku di restoran tempat biasa kita bertemu dulu, kamu masih ingatkan?” Nicholas memastikan. “Iya,” jawab Arlyn. Permintaannya itu terlalu mudah untuk Nicholas. Pria itu juga bisa membayar detektif untuk membantunya. Namun, Arlyn tidak mau Nicholas ikut campur dengan urusannya. “Okay, aku menunggumu di sana jam makan siang!” kata Nicholas. “Baik!” sahut Arlyn. Panggilan telefon ia akhiri begitu saja. ** Arlyn di antar dua pengawalnya masuk ke dalam sebuah restoran dengan gaya klasik. Termasuk restoran kelas menengah atas. Dengan makanan mahal yang berkelas. Arlyn berjalan menuju tempat di mana Nicholas sudah menunggunya. Ia duduk dan mulai memesan makanan. Nicholas hanya melihatnya dengan tatapan yang sama dengan enam bulan yang lalu, penuh cinta dan kagum dengan Arlyn. Hanya saja wanita itu kini sudah berstatus menjadi istri orang lain. Arlyn tak sekali pun membalas tatapan Nicholas, sudah tak memiliki perasaan apapun terhadap pria itu. Dia juga sadar ada dua pengawal yang akan melaporkan semua kegiatannya pada Reymond. “Bagaimana kabarmu, Arlyn,? Tanya Nicholas. “Baik,” jawab Arlyn singkat. Nicholas sebenarnya ingin menjelaskan kejadian enam bulan lalu pada Arlyn, hanya saja ia merasa percuma karena Arlyn pasti tidak ingin membicarakan hal itu. Mereka mulai berbicara hal-hal ringan. Sementara itu, salah satu dari dua pengawal itu mendapat panggilan telefon dari Reymond. “Halo,” sapanya. “Apa yang sedang di lakukan Arlyn sekarang?” tanya Reymond. “Nona Arlyn sedang makan siang, Tuan,?” jawabnya. “Dimana?” tanya Reymond penasaran. “Di Restoran A,” “Dengan siapa?” “Dengan pria yang bernama Nicholas,” sahutnya yakin. “Nicholas?” Reymond memastikan. “Iya, Tuan!” jawabnya tegas. “Baiklah terus awasi Arlyn, dan terus ikuti semua aktivitasnya, kalau bisa tolong cari tahu apa yang dibicarakan Arlyn dengan Nicholas!” titah Reymond. “Baik, Tuan,” jawabnya. Panggilan telefon berakhir. Kedua pengawal itu terus mengawasi Arlyn dan mencoba mendengarkan pembicaraan wanita itu dengan pria yang bernama Nicholas. Namun, tidak semudah itu karena Arlyn sangat berhati-hati dan tidak ceroboh. Sementara itu Reymond yang sedang duduk di singgasananya merasa marah. Ia melempar ponselnya begitu saja. “Beraninya kau!” gumamnya sambil mengepalkan jemari tangan. Tidak percaya Arlyn menemui Nicholas tanpa meminta ijin terlebih dahulu darinya. Reymond melempar tumpukan kertas di mejanya. Hatinya amat panas! Tidak menyangka Arlyn berani menemui mantan pacarnya bahkan baru dua hari setelah hari pernikahan mereka. “Dasar murahan! Lihat apa yang akan aku lakukan padamu, aku akan membuatmu lebih menderita lagi!” lirih Reymond, bibirnya menyeringai terlihat dingin dan menakutkan. Terlihat jelas rencana kejam yang berkelibat di benaknya. Sudah tidak sabar ingin membalas tindakan lancang yang dilakukan istrinya itu. Arlyn ternyata lebih pemberani darinpada yang ia duga. Bersambung. ==❤== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. dreams dejavu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN