Perawatan di Salon

1098 Kata
"Memangnya salon kecantikan ini milikku?" tanyaku setibanya di dalam, setelah Stevanie dan teman-temannya telah pergi. "Bukan, tapi kalau kamu mau, aku bisa membelikannya untukmu." "Lalu ngapain tadi kamu membohongi Stevanie dan teman-temannya?" "Menyombongkan diri pada orang-orang sombong itu perlu, agar mereka sadar diri." Aku menghela napas mendengar jawabannya, lalu tiba-tiba beberapa wanita yang mengenakan seragam salon tersebut mendatangi kami lalu menawarkan perawatan. "Berikan perawatan yang terbaik untuknya, dari ujung kaki hingga kepala," ucap Pangeran. Lalu mereka mempersilahkanku masuk ke sebuah ruangan. "Kamu sendiri gimana?" tanyaku. "Aku ada urusan di kantor, nanti akan ada sopir yang menjemputmu." "Bayarannya?" "Gunakan black card yang kuberikan," sahutnya hingga para karyawan salon itu tersenyum dan saling melirik. Terserah jika mereka menganggapku norak, karena jujur saja aku masih belum terbiasa dengan kehidupan ini. Setelah itu mereka menyuruhku membuka seluruh pakaianku, lalu aku benar-benar dimanjakan layaknya seorang putri. Lumayan lama mereka memanjakan diriku, dari mulai masker, lulur, creambath, waxing, message bahkan hingga manicure dan pedicure. Setelah melakukan aneka perawatan yang membuatku lupa waktu, aku ditunjukkan sebuah bill yang membuat mataku terbelalak dan mulut yang menganga saat mengetahui jumlah fantastic yang harus kubayar. Nominam yang tertera di bill tersebut mungkin jika dipakai untuk biaya hidupku akan cukup selama dua bulan bahkan lebih. Tiba-tiba aku teringat kartu berwarna hitam yang beberapa waktu yang lalu diberikan Pangeran, lalu tiba-tiba dengan kartu tersebut semuanya selesai, bahkan para karyawan salon kembali bersikap ramah dan menawarkan agar aku kembali. Meski semuanya terasa aneh, tapi aku mulai merasa senang saat melihat banyak orang tersenyum ramah dan mrnghormatiku. Setelah puas memanjakan diri di salon kecantikan, akhirnya aku melenggang keluar dan merasa bahwa diri ini terasa jauh lebih cantik dari sebelumnya. Hingga tiba-tiba seorang sopir yang biasa mengantar Pangeran langsung melambaikan tangan lalu mempersilahkan ku masuk ke mobil. "Silahkan, Non Indira," ucapnya dengan penuh hormat. "Terima kasih, Pak," sahutku lalu masuk mobil. "Ngomong-ngomong Non Indira mau diantar kemana?" tanyanya. "Pak sopir mamanya siapa? Biar saya lebih enak kalau manggil." "Saya Hartono, Non, panggil saja Pak Tono, Non Indira lupa ya sama saya?" Entahlah, aku tidak merasa lupa, karena memang sebelumnya kami tidak pernah saling mengenal. "Apa saja yang Pak Tono tahu tentang saya?" Aku mencoba mengetesnya. "Saya tahu dimana tempat tinggal Non Indira yang lama, saya tahu dimana Non Indira kuliah, saya juga tahu dimana Non Indira dulu bekerja part time." "Ngomong-ngomong, Pak Tono tahu gak kenapa aku dan Pangeran bisa pacaran?" "Saat itu Non Indira diganggu preman, lalu Den Pangeran menghajar para preman itu, setelah itu saya sering mengantar Den Pangeran untuk bertemu dengan Non Indira di sebuah taman." "Taman?" tanyaku dengan wajah bingung. "Akan saya tunjukkan taman tersebut, siapa tahu Non Indira mengingatnya." Setelah itu ia melajukan mobilnya ke sebuah taman. Setelah itu Pak Tono mengajakku masuk ke taman tersebut. Aku menurut saja karena di taman itu ramai, jadi tak mungkin Pak Tono berbuat macam-macam padaku. "Lihat pohon itu!" ujarnya sambil menunjuk sebuah pohon lalu mengajakku ke sana. Tiba-tiba aku terkejut saat melihat ukiran nama di pohon tersebut. Di pohon itu terukir namaku juga Pangeran. Jadi, benarkah aku dan Pangeran memiliki hubungan spesial? Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya penjual mawar datang menghampiriku. "Pacarnya kemana, Mbak? Biasanya dia memborong mawar-mawar saya," ucap lelaki paruh baya itu. Aku mengernyitkan dahi lalu menoleh ke arah Pak Tono. "Iya, Den Pangeran selalu memborong mawar-mawar Bapak ini," ujarnya hingga membuatku semakin bingung. "Masa, sih?" tanyaku dengan dahi mengkerut. Tiba-tiba seorang pedagang balon datang. "Lama gak kelihatan, Mbak, biasanya Mbak dan pacar Mbak memborong balon saya?" Aku semakin bingung saat mendengar penuturan tukang balon itu, lalu kuputuskan untuk meminta Pak Tono untuk mengantarku pulang karena kepalaku kembali terasa sakit. "Maafkan saya, Non," ujarnya yang tampak merasa bersalah saat aku memegangi kepalaku. Aku mengangguk lalu segera berjalan menuju mobil. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Pangeran mengirimkan chat agar aku segera berdandan cantik, karena ia akan mengantarku hingga ke kampus. Beberapa waktu kemudian setelah berdandan cantik, tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu. "Tiap pagi kamu kesini, emang kamu gak sibuk?" "Sibuk sih, tapi buat kamu apa sih yang tidak bisa." "Sebenarnya aku ingin bertanya, bagaimana bisa lelaki seusiamu mencintai gadis seumuranku. Kenapa kamu gak pacaran sama sekertaris atau wanita seusiamu? Aku juga masih merasa aneh mengapa tiba-tiba aku memutuskan untuk menikah padahal usiaku masih 20 tahun." "Kamu berbicara seolah-olah aku ini seorang lelaki tua, padahal usiaku denganmu hanya beda lima tahun. Saat itu kita memutuskan untuk segera menikah, karena kita sama-sama takut kehilangan. Kamu takut jika aku menikahi wanita lain, begitu pula denganku, aku juga sangat takut jika kamu menikah dengan lelaki lain." Aku menghela napas saat mendengar jawabannya, karena semua yang ia ucapkan tak cukup membuat rasa penasaranku puas. Setelah itu aku dan Pangeran segera berangkat menuju kampus. Beberapa waktu kemudian, kami pun tiba di sebuah kampus ternama di kota Jakarta. "Apakah sebelum ini kamu pernah mengantarku ke kampus ini?" tanyaku. "Sering, tapi tak pernah sampai ke depan kampus seperti sekarang, karena dulu kita sempat menyembunyikan hubungan kita." "Jadi, teman-teman di kampusku tak ada yang mengetahui hubungan kita?" "Iya, tapi mulai hari ini akan aku umumkan pada mereka semua bahwa kita telah pacaran bahkan akan segera menikah." Setelah itu ia langsung keluar dari mobil lalu membukakan pintu untukku. Tiba-tiba semua mata langsung menatap ke arah. Mereka tampak tercengang saat melihatku turun bersama Pangeran. "Hai Indira, sudah lama kamu gak kuliah?" tanya Nita dan Lia, dua orang gadis yang pernah menjadi sahabatku, tetapi tiba-tiba mereka menjauhiku setelah mengetahui bahwa aku bekerja part time sebagai pembantu. "Kalian teman Indira? Ini undangan untuk kalian ke pernikahan kami, belum saya kasih nama," ujar Pangeran. "Ja-jadi, Indira akan segera menikah?" tanya mereka. "Iya, sekitar tiga Minggu dari sekarang." Tiba-tiba mata mereka langsung menatapku dengan tatapan kagum setelah membaca undangan yang diberikan Pangeran, entah apa yang mereka pikirkan. "Sayang, aku pergi ke kantor dulu, ya. Undangan ini sekalian kamu bagikan ke teman-temanmu," ujarnya sambil menyerahkan surat undangan tersebut lalu mengusap rambutku dengan lembut. Aku mengangguk lalu setelah itu ia masuk mobil dan bergegas meninggalkan kami. "Indira, kami minta maaf ya karena dulu pernah meninggalkanmu," ucap mereka. Aku langsung melenggang pergi meninggalkan mereka, aku tidak dendam, tetapi menurutku seseorang yang memandang orang lain hanya dari kasta sosialnya tidak layak untuk dijadikan sahabat. Selain Nita dan Lia, banyak teman-teman lainnya yang tiba-tiba mendekatiku setelah aku membagikan undangan pernikahanku, padahal dulu mereka sering merendahkan dan membullyku. Entah kesaktian apa yang terkandung dalam surat undangan itu hingga pandangan mereka seketika berubah terhadapku. Apakah aku harus bahagia dengan semua ini? Aku hanya takut jika terlalu menikmati semua ini lalu tiba-tiba semua ini hanyalah prank dari Pangeran. Jika semua itu terjadi, mungkin aku akam merasa jauh lebih hancur dari kehidupanku yang sebelumnya. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN