Membungkam Mulut Stevanie

1136 Kata
"Kamu gak mencintaiku, kan? Kamu cuma memperalatku, kan?" tanyaku di dalam mobil. Pangeran menghentikan mobilnya, lalu menatapku dengan tatapan pilu. "Aku ngerti kamu hilang ingatan, aku mencoba memaklumi saat kamu melupakanku dari sekian orang yang kamu kenal, tapi bisakah kamu berhenti untuk mencurigaiku?" Ia menatapku dengan tatapan nanar, seolah ucapanku benar-benar telah menyakitinya. "Tapi, aku--." "Aku hanya manusia biasa, aku juga punya perasaan. Rasanya sangat menyakitkan ketika seseorang yang sangat aku cintai melupakanku bahkan terus menerus mencurigaiku." Tiba-tiba bulir bening itu berjatuhan dari pelupuk matanya, membasahi wajahnya yang tampan rupawan itu. Aku tak menyangka, lelaki bertubuh kekar itu bisa juga menitikkan air mata, apa karena sikapku yang sudah keterlaluan? "Pangeran, aku minta maaf, tapi--." "Aku antar kamu pulang saja, ya, semoga setelah kamu beristirahat kamu bisa dengan cepat mengingatku." Aku mengangguk, meski tanda tanya besar masih berputar-putar di kepala. Beberapa waktu kemudian, kami telah tiba di apartemen. Ia mempersilakan ku untuk masuk lalu bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku segera menaruh sepatu high heels yang mulai menyakiti kaki ini, seumur hidupku baru kali ini aku mengenakan sepatu juga pakaian ini. Kulepaskan semuanya lalu segera mencari pakaian tidur. Lagi-lagi aku merasa asing dengan semua pakaian yang tertata rapi di lemari, semua pakaian ini bukanlah milikku, tapi anehnya semua pakaian itu begitu pas di tubuh ini. Aku segera menghilangkan makeup dan mencuci muka. Setelah itu aku langsung membaringkan tubuh ini di tempat tidur. Lagi-lagi puluhan tanda tanya memenuhi kepala. Benarkah aku hilang ingatan? Benarkah aku dan Pangeran adalah sepasang kekasih? Kuraih ponsel yang ia berikan, lalu kubuka galeri. Betapa terkejutnya aku saat melihat foto-foto mesraku bersama Pangeran. Benarkah itu aku? Tapi, mengapa semua foto tersebut tampak seperti editan? Kuperhatikan secara seksama semua pakaian yang aku kenakan. Semua pakaian itu sama dengan pakaian yang ada di dalam lemari. Aku menghela napas panjang, semua ini membuat kepalaku terasa sangat sakit. Kuputuskan untuk memejamkan mata lalu masuk ke alam mimpi. Keesokan paginya, saat aku masih terlelap, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Aku segera beranjak dari tempat tidur menuju pintu. "Ngapain pagi-pagi kesini? Apa kamu gak punya pekerjaan?" tanyaku saat melihat Pangeran tengah berdiri di depan pintu dan berpakaian rapi. "Sesuai janji, aku akan mengantarmu ke pemakaman kedua orangtuamu. Meski sebenarnya aku punya banyak pekerjaan di kantor." Lelaki itu begitu baik dan perhatian, meski aku terus bersikap ketus padanya. Kupersilahkan ia masuk, lalu aku segera mandi dan berganti pakaian. Beberapa waktu kemudian, setelah berpakaian rapi, aku segera keluar kamar dan menemuinya. "Ayo sarapan dulu!" ujarnya. Tampak beberapa hidangan sarapan pagi telah terhidang di meja, tampaknya ia memesan makanan saat aku tengah mandi. "Makanan ini kesukaanmu, kan?" tanyanya sambil menunjuk sarapan yang ia sediakan untukku. "Bagaimana caranya kamu tahu bahwa aku biasa sarapan ketoprak?" "Sebagai calon suamimu, aku pasti mengetahui semua yang kamu sukai dan tidak kamu sukai." Aku hanya menanggapinya dengan senyuman, aku tak berani untuk mengungkapkan kecurigaanku, karena takut ia kembali menitikkan air mata seperti semalam. Selain itu aku berniat untuk berpura-pura mempercayainya sambil mencari kebenaran tentang semua ini. Setelah selesai sarapan, kami bergegas menuju sebuah pemakaman. Aku sangat terkejut karena kedua orangtuaku dimakamkan di pemakaman elite yang biayanya pasti cukup fantastis. "Ini makam kedua orangtuamu, aku sengaja memakamkan mereka berdampingan," ujarnya. Aku meraba batu nisan yang bertuliskan nama juga tanggal lahir kedua orangtuaku. Semuanya sangat tepat, sehingga aku yakin jika kedua makam ini benar-benar makam kedua orangtuaku. Tiba-tiba bulir bening berjatuhan dari pelupuk mataku, aku benar-benar tak menyangka jika pada akhirnya mereka meninggalkanku seorang diri di dunia ini. "Kamu jangan sedih, karena masih ada aku yang akan menjaga dan melindugimu," ujarnya sambil mengusap rambutku dengan lembut. Aku sangat terkejut saat mendengar ucapannya, bagaimana bisa ia mengetahui apa yang tengah kupikirkan? Setelah lumayan lama berada di sana, ia langsung mengajakku pulang. Aku mengangguk dan mengikutinya menuju mobil. "Ngomong-ngomong, kapan kamu kembali kuliah?" tanyanya. Aku langsung termenung, hingga tiba-tiba aku teringat bahwa aku sudah tak memiliki lagi beasiswa setelah Stevanie memfitnah dan mengerjaiku habis-habisan hingga beasiswaku dicabut. "Aku sudah tak bisa lagi kuliah, karena beasiswaku dicabut." "Hahahaha sudah kuduga, kamu pasti lupa jika semua biaya kuliahmu sudah kulunasi." "Apa? Benarkah? Apa dulu aku sematre itu hingga uang kuliahpun kamu yang menanggungnya?" "Bukan matre, sebagai calon suamimu, aku pantas melakukan semua itu." Sebenarnya aku masih belum bisa mempercayai semua ini, bagaimana bisa tiba-tiba aku memutuskan untuk menikah, padahal dulu aku memiliki prinsip untuk wisuda terlebih dahulu lalu mencari pekerjaan yang bagus, lalu setelah itu barulah aku memikirkan pendamping. Namun, bagaimana bisa tiba-tiba aku memutuskan untuk menikah dan menumpang hidup pada calon suamiku. Aku memang menginginkan semua ini, tapi aku bukanlah wanita matre, aku ingin menggapainya dengan kerja kerasku sendiri. "Bagaimana jika sekarang aku menemanimu belanja pakaian yang akan kamu kenakan ke kampus?" tanyanya. "Bukankah lemari di apartemen sudah terlalu penuh dengan pakaian bagus? Mau sebanyak apa lagi?" "Gak apa-apa, kita belanja saja, menurut artikel yang k*****a, cara menyenangkan seorang wanita adalah belanja." "Aku gak mau, melihat deretan pakaian yang tergantung dan dilipat di lemari saja aku sudah pusing, apalagi jika harus menambahnya." "Baiklah, kalau begitu kita ke salon saja, buat spa dan memanjakan diri, gimana?" Salon? Seumur-umur aku belum pernah ke salon, kecuali salon rambut, itu pun milik tetangga. Akhirnya Pangeran melajukan mobilnya, hingga kami tiba di sebuah salon kecantikan yang sangat besar dan mewah. Mungkin gajiku selama sebulan saat menjadi pembantu akan langsung habis jika digunakan untuk biaya perawatan di sana. "Ayo, Sayang!" ujarnya sambil menggandeng tanganku. Tiba-tiba tiga orang gadis keluar dari salon itu. "Loh, Indira, lama gak ketemu? Mau ngelamar kerja di salon ini?" tanya Stevanie dan dua orang temannya sembari tersenyum sinis. "Sayang, kamu kenal mereka?" tanya Pangeran. "I-ya, mereka adalah teman satu kampus denganku." "Kenalkan, saya Pangeran, saya calon suami Indira." Tiba-tiba mereka menatap Pangeran dari ujung kaki hingga rambut sambil menganga. "What? Lo calon suaminya Indira?" "Oh, ya, ini kartu nama saya, siapa tahu kalian butuh." Tiba-tiba Pangeran memberikan kartu nama, aku melirik tulisan di kartu nama itu, disana tertera bahwa dia seorang CEO di sebuah perusahaan besar. "Pa-pangeran Antonio? CEO di perusahaan Antonio grup?" Stevanie tampak tercengang saat membaca tulisan di kartu nama tersebut. "Karena kalian teman Indira, next time kalian boleh datang kembali ke salon miliknya tanpa biaya." "Mi-miliknya?" tanya Stevanie dengan mulut menganga. "Iya, salon ini saya hadiahkan untuknya sebagai hadiah ulang tahunnya." Stavenie tampak menatapku juga Pangeran tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia tampak terkejut dan bingung, hingga tak mampu untuk berkata-kata lagi. "Bolehkah kami untuk masuk? Kalian menjalani jalan kami?" Mereka yang sejak tadi berdiri mematung langsung menyingkir dan memberi jalan untuk kami. Setelah itu kami bergegas masuk meninggalkan mereka yang masih menganga. "Dia Stevanie yang sering kamu ceritakan padaku, kan? Cewek sok kaya yang selalu membullymu?" tanyanya setelah kami berada di dalam salon. Bagaimana bisa dia mengetahui bahwa gadis tadi bernama Stevanie? Padahal aku atau Stevanie belum sempat menyebutkan namanya. Lalu bagaimana bisa Pangeran mengetahui bahwa Stevanie sering membullyku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN